
Kesya menatap wajah sang suami yang tengah tertidur dengan posisi terduduk dan kepala tertunduk di dekat tangan Kesya di atas tempat tidur.
Perlahan tangannya terangkat dan mengelus rambut Arka. "Maafin aku ya Mas, yang kurang hati-hati" Lirih Kesya.
Arka terbangun saat mendengar suara salam dari Mami Laura dan Papi Farel.
" Baru bangun? Kesya gimana?" Tanya Mami Laura saat melihat Arka sedang merenggangkan ototnya.
" Udah mendingan Mi" Arka pun menatap ke arah Kesya dan mengelus punggung tangannya.
" Mami bawain pakaian ganti, sebaiknya kamu bersihin diri dulu, lalu sarapan bersama. Kebetulan Mami belum sarapan." Ujar Mami Laura
Arka menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kekamar mandi dengan membawa paper bag yang di bawa oleh Mami Laura.
Tak berapa lama kelopak mata Kesya bergerak, dan Kesya membuka matanya. Pertama yang dilihatnya adalah Mami Laura dan Papi Farel.
" Mami"
" Eh, sayang. Kamu udah bangun?". Mami Laura berjalan menghampiri sang menantu.
" Mas Arka mana?"
" Lagi di kamar mandi. Kamu mau minum?"
Kesya menggelengkan kepalanya. " Mau pipis" Ujar Kesya malu dengan sedikit berbisik.
Mami Laura tersenyum. "Tunggu Arka ya."
Tak berapa lama Arka keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar.
" Kamu udah bangun sayang?"
Kesya menganggukkan kepalanya. " Mas"
Arka mendekat kearah Kesya, dan duduk di tepi tempat tidur.
" Mau pipis" Bisik Kesya.
Arka tersenyum, dengan perlahan arka menggendong Kesya. Mami Laura dengan sigap langsung memegang tiang infus. Selesai buang air kecil, sikat gigi, dan membersihkan wajah, Arka kembali menggendong Kesya dan merebahkannya kembali di tempat tidur. Tak berapa lama Gilang dan Mila pun datang.
" Gimana keadaan Lo Key?" buru Gilang.
Kesya yang baru saja melepas pelukan dari Arka, langsung menoleh.
" Pengantin baru ngapain pagi-pagi ke sini?"
" Lo gak pa-pa, Kponakan gue baik-baik aja kan?" Tanya Gilang, tanpa memperdulikan pertanyaan Kesya.
Kesya berdecak kesal.
" Kalian udah sarapan?" Tanya Mami Laura.
"Tadi di depan rumah sakit beli bubur Mi, sekalian untuk sarapan bersama." Ujar Mili.
" Mami juga bawain sarapan"
__ADS_1
" Yah, kebanyakan dong ni" Ujar Mili Lagi.
" Gak pa-pa, bisa di kasih ke pengawal di luar."
" Mereka udah Mili suruh beli sarapan juga tadi"
" Yaa udah, Nanti bisa kita kasih ke perawat atau ke juru parkir." Ujar Mami Laura.
Sifat Mili yang tidak ingin menyisakan makanan, persis seperti sifat Kesya. Perlahan Kesya tersenyum menatap dua wanita yang berbeda generasi itu.
" Woy, gue nanya eh malah dia senyum-senyum" Ujar Gilang kesal.
Arka sudah melipat kedua tangannya di atas dada, dan menatap tajam ke arah Gilang. Gilang yang merasa mendapat sorotan tajam langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Arka. Seakan tersadar jika dirinya memiliki salah, Gilang langsung nyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe, kakak ipar. Selamat pagi. Apa kabar?" Ujar Arka dan menyalami tangan Arka, namun Arka tidak meresponnya, karena ada yang lebih tua yang harus di salaminya dulu. Gilang melihat kearah lirikan Arka, dan kemudian mata Gilang langsung membesar karena melihat ada mertuanya di sana. Saat masuk tadi Gilang tidak menyadari keberadaan mertuanya. Fokus Gilang hanya kepada Kesya.
"Eh, Ada mertua." lirih Gilang sambil nyengir salah tingkah. Dan perlahan berjalan kearah papi Farel.
" Assalamualaikum, Selamat pagi Pak?" Ujar Gilang.
" Walaikumsalam salam, Panggil Papi, bukan Pak" Ujar Papi Farel dengan tersenyum.
Setelah mencium punggung tangan Papi Farel, Gilang menuju kearah Mami Laura, di liriknya Mili untuk menanyakan panggilan sang wanita cantik yang sudah tidak muda itu.
"Mami" Ujar Mili dengan gerakan bibirnya.
" Assalamualaikum Mami, Selamat pagi"
" Walaikumsalam salam. Pagi nak Gilang"
" Segitu paniknya ya, Sampai gak gak liat kalo mertuanya ada di sini" Goda Mami Laura.
Gilang menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya Mi, soalnya selesai acara baru dapat kabar kalo Kesya keracunan. Makanya pagi-pagi buta udah siap-siap buat ke sini"
" Seharusnya gak perlu segitunya juga, kalian kan baru nikah" Ujar Papi Farel.
" Kesya udah saya anggap adik saya Pi, makanya jika sesuatu terjadi sama Kesya, saya langsung panik."
Papi Farel dan Mami Laura pun memakluminya. Karena mereka sudah tau latar belakang Gilang, dan bagaimana dia bisa dekat dengan Kesya dan Puput.
Tak berapa lama pintu terketuk, dan menampilkan sesosok pria tampan yang dulu pernah singgah di hati Mili. Entah kenapa jantung Mili masih berdebar kuat saat melihat pria itu, Arka yang melihat wajah Mili berubah langsung paham, jika di hati Mili masih ada pria itu. Mili belum sepenuhnya cinta dengan Gilang. Dan semoga saja Mili bisa mencintai Gilang dengan sepenuhnya.
"Ayo cepetan" Ujar pria itu dan menarik tangan wanita yang berada di belakangnya.
Mili melototkan matanya saat melihat Pria yang dicintainya itu menggandeng seorang wanita, yang Mili baru ketahui jika dia adalah sahabat sang suami.
" Ngapain Lo tarik-tatik tangan Puput" Tanya Gilang dingin.
" Gue dan Puput udah resmi Pacaran, gak salah kan gue pegang tangan dia" Ujar pria yang baru masuk itu yang ternyata Fadil, sambil melirik kearah Mili.
" Salah banget, bukan Muhrim" Ujar Puput.
Fadil tau, jika dulu Mili menyukainya. Walaupun Mili tidak pernah mengungkapkannya, tetapi buku diary milik Mili, di temui oleh Arka. Dan saat itu Arka memperingatkan Fadil agar tidak memberi Mili harapan, jika pria itu tidak menyukainya. Fadil pun hanya menganggap Mili sang adik, tidak lebih. Tetapi walau bagaimana pun, perasaan Mili terhadap Fadil seakan semakin bertambah. Dan dengan kehadirannya Gilang, semoga saja perasaan Mili untuk Fadil musnah.
" Serius put?" Tanya Gilang.
__ADS_1
" Terpaksa gue" Jawab Puput pelan.
Dilepasnya tangan Fadil, dan menghampiri Mami Laura dan Papi Farel. Mencium punggung tangan kedua orang tua tersebut.
" Semoga cepat nyusul ya sama nak Fadil" Ujar Mami Laura tersenyum jahil kepada Puput.
" Kalo ada yang lain, mending sama yang lain aja deh Mi" Ujar puput.
Langsung saja Fadil yang mendengar itu menatap Puput tajam, sedangkan yang di tatap tidak peduli.
" Gimana Key? Udah enakan?" Tanya Puput dan menghampiri nya.
" Alhamdulillah put. Eh, kalian udah sarapan?" Tanya Kesya.
" Belum, tu si beruang maksa gue pagi-pagi ke sini" Gerutu Puput. Kesya hanya terkekeh melihat Puput dan Fadil yang tidak pernah akur. Mengingat akan dirinya dan Arka yang selalu saja berdebat. Bedanya Arka lebih lembut dari pada Fadil.
" Ya udah, kita sarapan dulu yuk, tadi Mili beli lebih bubur" Ajak Mami Laura.
Arka langsung saja mengambil satu bungkusan bubur yang di bawa oleh Mami Laura.
" Aku makan sendiri aja Mas, Jadi Mas juga bisa ikut makan" Tolak Kesya.
" Mas makan setelah kamu makan" Titah Arka yang terdengar lembut tetapi tidak ingin di bantah.
Kesya pun menganggukkan kepalanya, dan menerima suapan demi suapan dari Arka. sedangkan di meja makan yang terletak di dalam kamar rawat inap Kesya, Mili sesekali melirik kearah Fadil. Pria itu terlihat semakin tampan, Mili menghela napasnya, dan menatap sang suami.
' suami ku juga tak kalah tampan' Batin Mili dan kemudian tersenyum.
" Kenapa?" Tanya Gilang yang menyadari Mili melihatnya kemudian tersenyum.
" Hah? Enggak kok, gak kenapa-napa" Jawab Mili dan kembali menyibukkan dirinya dengan memberikan Air minum kepada Gilang.
Bukan tak tahu, Fadil tahu jika Mili tadi menatapnya, maka dari itu Fadil tidak memperdulikannya. Entah kenapa Fadil merasa ada rasa cemburu melihat Mili melayani Gilang dengan baik, sedangkan wanita yang berada di sampingnya hanya sibuk dengan dirinya sendiri, terutama tentang perutnya. Jangankan segelas air, menawari sendok yang berada di depan dirinya pun dia tidak.
'Hah, gimana bisa gue tertarik sama ni cewek.' Batin Fadil, dan entah kenapa dia melirik kerarah mili. ' makin cantik aja kamu Mil' Batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
Ow..oww..ow.. Ada apa nih sama Mili dan Fadil?. Ikutin terus ya kisah mereka..
Dukung terus ya cerita author.
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..