
Tubuh Quin membeku saat mereka ingin keluar dari toko perhiasan tersebut. Napas Quin terasa memburu, namun cepat dia mengontrol emosinya.
" Qila." tegur Pria yang ada di hadapannya saat ini bersama seorang wanita yang tengah hamil.
Tak ada senyum di wajah Quin, dia hanya menatap ke arah tangan mereka yang sedang bertautan. Terlihat jika wanita itu risih akan perlakuan sang suami.
" Qu--"
" Sudah siap?" Tanya Quin yang memotong pembicaraan Abi. Quin langsung tersenyum manis dan menggandeng tangan Abi dengan mesra.
Abi pernah melihat dua orang yang saat ini berada di hadapan mereka, dan Abi sepertinya mengerti jika mereka adalah orang dari masa lalu Quin.
" Qila, kamu baru memesan cincin?" tanya Wanita yang tengah hamil itu. Terlihat dari matanya ada kerinduan yang dalam menatap Quin.
" Hmm, maaf, kami harus segera pergi."
" Qila, apa bisa kita berbicara?" Arumi, wanita hamil itu berusaha untuk menghentikan langkah Quin.
" Maaf, tunanganku hanya seorang pegawai swasta biasa, jadi aku hanya memiliki waktu yang singkat bersamanya. Dan aku ingin menikmati waktu itu bersamanya."
Quin menarik tangan Abi dan meninggalkan Jamal dan Arumi yang saat ini memandang punggung Quin yang semakin menjauh.
" Seharusnya aku tak jatuh cinta sama kamu kak." Lirih Arumi.
" Maaf." Jamal mengelus punggung tangan Arumi dan membawanya masuk kedalam toko perhiasan.
.
.
Abi menoleh kerah Quin yang masih setia menatap kearah jalanan.
" Abi, ada tahu Sumedang, makan yukk.."
Abi terkejut saat mendengar suara Quin yang tiba-tiba sangat bersemangat.
" Emang ada?" Tanya Abi.
" Ya adalah, tu.. Yukk, tepi-tepi."
Abi pun menepikan mobilnya. Quin membuka seatbelnya yang mana di ikuti oleh Abi.
" Yuukk.." Quin menarik tangan Abi.
" Aku kira kalo mau makan tahu Sumedang harus ke Sumedang dulu." Goda Abi.
" Iihh, kamu ini.. Ya gak gitu juga. Jadi kalo mau makan Bika Ambon, harus ke Ambon gitu?"
" Bila Ambon bukannya khas Medan ya, bukan nya dari Ambon?" tanya Abi polos.
" Nah, itu tau..."
Abi dan Quin pun terkekeh sambil berjalan mendekati mang-mang tukang tahu Sumedang.
" Enak.." Puji Abi yang terus memasuki setiap potongan tahu kedalam mulut nya.
" Enak kan, makanya, jangan taunya makanan mewvah aja.. jajanan pinggir jalan gini enak juga loh."
" Iyaa..."
Quin dan Abi menikmati tahu Sumedang tersebut, hingga Abi meminta nambah satu porsi lagi.
" Doyan apa lapar?" Tanya Quin sambil tersenyum.
__ADS_1
" Lapar.." Bisik Abi, dan mereka kembali terkekeh.
Abi memperhatikan wajah Quin yang tak terlihat terlalu sedih seperti tadi. Abi ingin bertanya, namun takut jika itu membuat Quin semakin sedih.
" Tanya aja, akunakn menjawabnya." Seolah bisa membaca fikiran Abi, Quin menatap Abi dengan tersenyum.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, dan sedari tadi Abi belum melajukan mobilnya Karena harus membalas beberapa pesan dari perusahaan sang kakek.
" Aku tidak akan bertanya, jika kamu memang tidak ingin bercerita."
Abi serius, Abi menatap dalam ke mata Quin. Quin menghela napasnya.
" Yang pria itu bernama Jamal, dia mantan ku. Dan istrinya Arumi, sahabtku."
Seketika Abi membesarkan matanya, terkejut jika ternyata Quin ditikung oleh sahabatnya sendiri.
" Kenapa? udah biasa kali jaman sekarang di tikung oleh sahabat sendiri." Jawab Quin dengan cengiran.
" Tapi aku tak suka dengan cara mereka yang mempermalukan orang tua ku."
Abi mengernyit, melihat ada kilatan emosi yang terpancar dari mata Quin.
" Kamu baik-baik aja?" Tanya Abi seraya mengambil tangan Quin dan menggenggamnya.
Quin menatap tangan Abi yang berada di atas tangannya. Ada rasa hangat yang menjalar, hingga membuat satu tetes air mata Quin jatuh.
" Quin.."
Quin menoleh saat Abi menghapus air matanya.
" Ada aku di sini, dan aku janji, gak akan pernah menyakiti kamu"
Quin mengernyit, apa Abi sadar dengan apa yang di ucapkan nya?.
" Aku sadar, dan aku serius ingin membuka lembaran baru dengan kamu."
" Abi, gak segampang itu.."
" Kenapa? kamu belum bisa melupakan dia?"
" Bukan, bukan itu. Tapi... " Quin menghela napasnya. Quin menatap mata Abi dalam.
" Abi, bagaimana jika aku cinta dengan mu, dan saat itu, Anita kembali?"
Abi sempat terkejut dengan pertanyaan Quin, atau pernyataan yang Quin berikan?
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Abi, Quin pun tersenyum. Dalam hati Quin memuji betapa besarnya cinta Abi untuk Anita.
Bolehkah Quin berharap ada seorang pria yang akan mencintainya seperti itu?.
Tentu saja ada, Lana mencintai dengan tulus. Tapi Quin tak bisa menerima. Anggel mencintai Lana dengan segenap hatinya, sedangkan Quin tidak. Alangkah baiknya jika Lana bersanding dengan Anggel bukan?
" Bisa kita jalan?" Tanya Quin memecah lamunan Abi.
" Maaf.."
" Tak masalah, lagi pula aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai aku dengan tulus, dan juga aku tidak bisa dengan mudah mencintai seseorang. Kamu tenang aja, aku tidak akan mudah untuk jatuh cinta dengan kamu. Jadi, jika pun Anit mmppp"
Quin mengerjap saat Abi meletakkan jari telunjuknya di bibir ranumnya.
" Kasih aku kesempatan, Aku tidak tau kapan perasaan ini muncul, tapi satu hal yang kamu harus tau Quin, Alam bawah sadar ku selalu ingin berada di dekat mu, dan selalu ingin melindungi mu. Aku tau, jika aku mulai jatuh dalam pesona mu, Quin."
Abi menatap mata Quin dalam, perlahan Abi mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Drrtt.... Drrtt ...
Quin menahan dada Abi agar tidak semakin dekat dengannya.
" A-aku..."
Ponsel Quin kembali berbunyi. Abi pun sudah kembali duduk di kursinya, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Assalamualaikum.."
Quin menggaruk alisnya saat mendengar suara tangisan dari orang yang ada di seberang panggilan.
" Kamu di mana? Aku kesana sekarang."
Quin mengakhiri panggilannya, dan menoleh kearah Abi.
" Eemm, kamu mau antar aku atau?"
" Aku antar kamu, katakan, kamu mau ke mana?"
Abi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah apartemen.
" Kamu ikut turun?"
" Tentu, aku akan menjaga mu"
" Lana gak akan melukai aku."
" Tapi tetap saja, aku tidak suka cara dia memandang mu."
" Waah.. apa kau mulai menjadi pencemburu?"
" Entah lah, tapi aku tak ingin dia memenangkan hati mu."
Quin hanya menggeleng mendengar ucapan Abi.
" Kamu lebay, Abi"
" Gak masalah, jika aku bisa membuat kamu mencintai aku."
Quin memutar bola matanya.
Quin dan Abi pun sampai di depan pintu apartemen Lana, tanpa menekan Bel, Quin langsung masuk karena Quin sudha tau pasword aparatemen Lana.
" Quin... Huaa....." Lana langsung merengek saat Quin tiba.
" Ayo lah Lana. Jangan seperti anak kecil." Quin duduk di sebelah Lana.
" Kamu tau Quin, betapa besarnya cinta aku kepada kamu, tapi kamu sungguh tega setuju nikah dengan dia.. Huaa..."
Abi menggeleng pelan saat melihat kelakuan Lana yang seperti anak-anak.
" Apa aku harus menelpon Anggel saat ini?"
" Quinn...."
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.