KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 38


__ADS_3

Quin menggenggam tangan Kakek. Tangan keriput yang terasa dingin dan pucat.


" Hikss.."


Quin terus mengecup punggung tangan kakek Farel.


" Quin.." Veer memegang bagi Quin.


" Veer.. Hiikss.." Quin langsung memeluk pinggang Quin, dan menenggelamkan wajahnya di perut kotak-kotak Veer.


" Makan dulu yuuk, kamu dari semalam belum makan Quin."


" Aku gak lapar.."


Veer menangkup wajah Quin. " Makan yaa.. kamu gak mau kan, kalo kamu sakit, terus gak bisa jagain kakek. "


" Tapi..."


" Yuukk, biar Papa yang gantian jaga Quin."


Veer menarik tangan Quin lembut. Di luar ruangan Kakek, seluruh keluarga sudah kumpul. Berhubungan kamar yang di tempati oleh kakek adalah kamar privat khusus keluarga Moza, jadi ruangan Kakek dan ruang tamu menyatu, namun di batasi lagi oleh pintu kaca.


" Sini Quin.." Mama Kesya langsung mempersilahkan Quin untuk duduk.


Quin menyantap makanannya dengan tidak berselera.


" Udah Ma, Quin kenyang."


" Baru Lima suap Quin, makan lagi yaa.."


" Quin kenyang.."


Veer mengambil alih piring tersebut, " Aaa Quin.."


" Kenyang Veer.."


" Ayoo lah, tiga suap lagi.."


Quin menghela napasnya, dengan terpaksa Quin membuka mulutnya.


.


.


" Kakeekk.. hikss.."


Quin terus menciumi punggung tangan Kakek Farel. Sudah setengah jam yang lalu kakek Farel sudah sadar, dan sudah diperiksa oleh tim dokter.


" Ka-kek ba-ik-ba-ik aja Qu-in." Kakek membalas genggaman tangan Quin.


" Ada yang mau Papa sampaikan sama kamu, dan juga Abi."


Quin menghapus air matanya, dan menatap Papa Arka dengan penuh pertanyaan. Disana juga sudah hadir Kakek Andreas, Aunty Risma, dan juga Abi. Abi juga sudah mencium sesuatu yang tidak beres di sini.


" Jadi, sebelum kakek masuk rumah sakit, Kakek meminta kepada Papa untuk menyampaikan pesan ini."


Papa Arka menatap kearah Quin, Abi, Kakek Andreas, dan juga Kakek Farel. Kakek Farel menganggukkan kepalanya, memberi tanda jika Arka melanjutkan pesannya.


" Kakek mau, Quin dan Abi segera menikah."


Quin langsung menatap Papa Arka dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Quin menggeleng, air matanya kembali jatuh. Pernikahan bagi Quin bukan sesuatu yang mudah, Quin pernah gagal untuk sampai ke titik itu. Quin tidak ingin jatuh sakit untuk yang kedua kalinya, apalagi Quin tau, jika Abi tidak mencintainya. Quin sadar, jika Abi mulai tertarik dengannya, tapi sifat itu hanya sementara, cinta Abi terlalu besar untuk Anita. Quin sudah membentengi dirinya. Quin sudah mengecewakan Papa dan Mama nya sekali, bahkan saat ini Quin kembali mengecewakan semuanya dengan status palsu nya. Quin yidka ingin berbohong lebih jauh lagi.


" Enggak... Quin gak mau.." ujar Quin tegas dengan air mata yang berderai.


Sontak semua orang menatap Quin dengan heran. Bukan kah Quin dan Abi saling mencintai?.


" Quin??."


" La, pernikahan bukan hal yang gampang untuk dijalani. Pernikahan bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk selamanya. Untuk seumur hidup. Quin ingin punya suami yang mencintai Quin, seperti Papa mencintai Mama, dan seperti Daddy mencintai Bunda. Quin ingin menua bersama pasangan Quin, seperti Oma dan Opa. Quin gak mau nikah sama Abi."


Abi sudah menatap Quin dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa Quin berkata seperti itu di saat kakek nya sakit seperti ini?. Itu bisa saja membuat kakek Farel menjadi drop.


" Quin, Bukankah kalian saling mencintai?, jadi apa salahnya?. Cinta kalian Yang akan membawa pernikahan kalian bertahan hingga akhir."


" Cinta?, Apa Quin terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta?. Ma, Quin gak mau menikah atas pemaksaan."


" Quin.. Abi mencintai kamu, tidak ada yang memaksa."


Veer sudah was-was dengan apa yang akan di katakan Quin. Saat ini Quin sedang tidak baik-baik saja, Veer tau.. Ada yang mengganggu fikiran Quin, Veer sudah merasakannya saat Quin memeluk Bunda dengan wajah sendu.

__ADS_1


" Abi? Cinta sama Quin?, Sebaiknya Mama dan Papa bisa tanyakan langsung kepada Abi. apakah Dia mencintai Quin?". Quin menghapus air matanya kasar.


" Kakek, maafin Quin. Quin belum siap untuk menikah. Quin sayang kakek, apapun yang kakek minta, akan Quin turuti, tapi Quin mohon, tidak untuk pernikahan. Hikss.." Quin mendaratkan ciuman di kening kakek, dan punggung tangannya.


" Quin.." Veer memegang bahu Quin, namun Quin menepisnya.


Quin pun berjalan keluar meninggalkan ruangan Kakek, Veer pun mengejar Quin, begitu pun dengan Abi.


" Quin.."


" Lepas Veer.."


" Quin dengarkan aku..


" Aku tidak ingin mendengarkan apapun Veer. Biarkan aku sendiri..Hiks..." Teriak Quin.


Veer melihat ke sekelilingnya. Beberapa orang sudah menatap mereka. Veer menarik Quin dan memasuki ruangan Om Leo. Abi juga masih mengikuti mereka.


" Quin.. Dengarkan aku."


" Veer, ini sangat menyakitkan.. Hiks.. Aku mohon, hikks.. " Quin sudah meremas dada nya. Rasanya sakit, Ingatan itu kembali bagaikan puzzle yang tersusun rapi.


" Quiin.. Sssuutt.. tenang lah.." Veer memeluk Quin.


Sudah 15 menit Quin menangis dalam pelukan Veer. Quin sudah terlihat tenang.


" Apa aku bisa bicara sekarang?" Tanya Veer, dan Quin mengangguk.


" Maafkan aku Quin, untuk kali ini. Ikutilah permintaan Kakek."


" Veer.."


" Aku akan berbicara dengan kakek, jika kamu akan menikahi Lana, bukan Dia." Veer manatap Abi tajam.


" Apa maksud mu Veer."


" Aku tau, jika hubungan kalian hanya pura-pura. Aku akan mengatakannya dengan kakek, dan pilihannya hanya satu, Kamu menikah dengan Lana."


" Gak Veer, aku gak mau.."


" Kamu akan mencintainya, seiring dengan berjalannya waktu Quin."


" Lalu, apa kamu akan menikah dengannya?. Pria yang hanya bisa melihat kepada satu wanita?. Quin, Lana lebih baik."


" Veer, aku tidak akan menikah dengan siapapun, mau itu Lana, atau Abi." Ujar Quin menatap nyalang kearah Veer.


Veer meremas rambutnya dan menggeram. "Quin, cobalah berfikir tenang. Apa yang terjadi jika kamu mengatakan kepada semuanya, jika hubungan kalian hanya pura-pura?, bukan hanya Kakek, tapi Oma juga akan terkena serangan jatung. Kamu tau?, kebohongan yang kalian buat ini sungguh fatal. Mereka yang berada di ruangan itu, sudah mengharapkan hal yang diluar nalar kalian. Mereka berfikir kalian sungguh saling mencintai, dan berharap kalian segera akan menikah. Status mu Quin, sudah saatnya kamu menunjukkan siapa Ratu Moza sebenarnya. Kami gak selamanya menjaga kamu, satu-satunya jalan yaitu dengan kamu menikah."


" Aku bisa menjaga diriku sendir Veer."


" Quin ___"


" Maaf, bisa aku berbicara?"


Suara Abi mengambil atensi Quin dan Veer.


" Apa yang ingin kamu katakan?, langsung sjaa, tidak usah basa basi. " Tanya Quin.


Abi menarik napasnya, lalu membuangnya pelan.


" Ayo kita menikah."


" Kau gila?"


" Aku serius."


" Tapi aku tidak."


" Quin, fikirkan tentang kakek mu__"


" Apa kamu pernah berfikir tentang kakek mu?" Tanya Quin balik.


" Bagaimana jika aku katakan, jika aku mulai tertarik dengan mu?" Abi menatap tepat di mata Quin.


" Kamu fikir ketertarikan itu akan berubah cinta?, kamu fikir jika kamu mencintai aku, kamu bisa melupakan Anita mu itu?, tidak Abi, kamu salah."


" Quin, kasih aku kesempatan. Izinkan aku mencoba mencintai mu."


" Dasar brengsek.."

__ADS_1


Buug...


Satu bogem mentah Veer daratkan di wajah tampan Abi. Abi tersungkur dengan sudut bibir yang sobek.


" Veer.." Pekik Quin.


" Jangan pernah kau berfikir untuk menjadikan Quin pelarian mu, brengsek."


Abi menyeka darah yang mengalir.


Quin sudah menangis melihat darah yang mengalir. Dengan cepat Quin mencari kotak P3k di ruangan Om Leo, dan mencari kasa untuk menghapus darah di sudut bibir Abi.


" Apa yang kau lakukan Quin?, dia hanya memanfaatkan mu." Veer menahan tangan Quin untuk mengobati Abi.


" aku hanya mengobatinya. hiks.."


Veer mengambil kasa yang ada di tanagn Veer, dan melemparnya kepada Abi.


" Kau seornah dokter, pastinya bisa membersihkan luka di bibir mu."


Ponsel Veer berdering, Veer meraih ponsel Yanga da di kantong celananya, dan melihat ID si pemanggil.


" Halo Naf."


"......"


" Apaa?"


" Ada Veer?" Tanya Quin panik saat melihat raut wajah Veer berubah.


" Kakek drop, dan Kakek Andreas terkena serangan jantung."


" Apa?


" Apa?" Pekik Quin dan Abi bersamaan.


Mereka bertiga pun langsung berlari menuju ruang kakek Farel, karena Kakek Andreas juga berada di sana.


" Quin.." Panggil Mama Kesya.


" Ma, hiks..kakek.."


Mama Kesya memeluk Quin, dan mengecup pucuk rambutnya.


" Ini salah Quin, hiks.. Salah Quin.."


" Tidak, ini bukan salah Quin."


Setelah satu jam Kakek Andreas dan Kakek Farel di tangani oleh Tim Dokter. Quin dan Abi pun masuk untuk melihat kakek mereka.


" Quin, Abi. Papa mau bicara dengan kalian."


Quin dan Abi pun mengikuti Papa Arka, menuju ruangan Om Leo.


" Ini bukan kesalahan kalian, ini kesalahan kami, para orang tua. Seharusnya kami tidak memaksa perjodohan ini. Dan seharusnya kalian tidak perlu berpura-pura menjadi pasangan." Papa Arka menatap Quin dan Abi bergantian.


" Menikahlah, berikan harapan untuk Kakek kalian, atau akhiri hubungan ini. Dan kalian tau sendiri apa konsekuensi yang telah kalian perbuat."


" Pa,.."


" Papa bisa menebak jika kalian tidak saling cinta, Tapi papa masih berharap, jika cinta itu akan tumbuh di hati kalian berdua. Kalian Menikah ataupun tidak, semuanya ada konsekuensi nya, sebaiknya kalian bicarakan ini berdua, secara baik-baik."


Papa Arka berdiri, dan meninggalkan Abi dan Quin dalam keterdiaman.


" Ayo menikah." Ujar Quin.


" Kamu yakin?"


" Dengan syarat."


" Baiklah, aku setuju.."


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2