KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2-SULTAN KHILAF 60


__ADS_3

Veer memandang dua wanita yang tengah tidur sambil berpelukan. Sudut bibir Veer pun tertarik membentuk sebuah senyuman. Veer bangkit dan menuju kamar mandi, tak lupa sebelumnya Veer mendaratkan ciuman di kening Quin dan Nafi. Veer membersihkan dirinya, karena ia akan pergi solat subuh berjamaah di mushola sang kakek, dengan seluruh pekerja rumah kakek Farel dan rumahnya.


Nafi merenggangkan ototnya, di saat ia terbangun. Ia menghela napas pelan dan tersenyum tipis kala mendapati Quin yang masih tertidur nyenyak. Di pandanginya wajah tenang Quin, tangan Nafi terangkat untuk membelai rambut Quin.


" Aku gak nyangka, di balik keceriaan mu ada rasa sakit yang mendalam. Aku fikir, aku adalah orang yang paling menderita dalam mencintai seseorang, ternyata aku salah, penderitaan ku tak sebanding dengan mu. "


Nafi menghapus cepat air matanya yang mulai menetes.


" Aku berdoa, agar Allah selalu menjaga hati mu untuk tak pernah lagi hancur, dan Allah mengirimkan seorang pangeran yang akan menjaga mu sepenuh jiwa dan raganya."


Nafi mengecup kening Quin, dan membelai pipi chubby nya.


.


.


" Kamu udah solat?" Tanya Veer yang melihat Nafi sedang menggunakan pelembab wajah.


" Hmmm, tadi aku juga udah bangunin Quin, tapi ia bilang sedang datang bulan."


" Hmm, aku tau."


Nafi seketika langsung menoleh menatap sang suami.


" Kamu tau?"


Veer menghampiri sang istri, " Tentu, aku sudah bersamanya selama 24 tahun." Veer menundukkan wajahnya, dan berbisik ke telinga Nafi, " Aku juga tau tanggal berapa kamu datang bulan"


" Veer..."


" Aku perlu tau sayang, jadi aku tau kapan masa subur mu, dan kita bisa melakukannya di saat itu." Veer mengedipkan matanya sebelah.


Wajah Nafi langsung merona mendengar perkataan vulgar sang suami. Padahal, selama ini Nafi belum memberikan HAK nya Veer. Ada rasa bersalah yang menggelung di hati Nafi.


Nafi sudah mencoba nya bersama Veer, namun bayangan kejadian itu kembali dan membuat Nafi kembali berteriak histeris.


.


.


Bunda Sasa tersenyum di saat melihat Abi memiliki kuda-kuda yang kuat.


" kuda-kuda yang bagus." Jodi berdiri di samping Sasa. " Hmm, namun sayang, gerakannya belum begitu cepat."


" Sudah tugas mu Bang Jodi."


" Tapi kamu ahlinya Sa."


Dari pagi hingga sore, Abi sudah standby berlatih di Dojo milik Jodi. Bunda Sasa menyarankan agar berlatih di sana, dan Bunda Sasa berjanji akan mendampingi Abi di saat Bunda Sasa memiliki waktu senggang.


" Akhh.." Abi meringis di saat merasakan sakit pada lengannya.


Bunda Sasa dan Om Jodi pun menghampiri Abi.


" " Aww... sakit Om.." Ujar Abi di saat Jodi menekan bahunya.


" Sepertinya kamu harus istirahat beberapa hari. Otot bahu mu cedera "


" Tapi Om___"


" Ini demi kebaikanmu, jika kamu memaksakan diri, maka kamu tak akan bisa melindungi Quin."


Abi menghela napas kasar, ia memang tak mendengarkan nasehat Om Jodi dan Bunda Sasa, yang mana setelah Abi sampai di rumah, Abi jangan lagi berlatih, namun Abi ngeyel dan malah berlatih hingga tengah malam. Abi benar-benar memfosir tenaganya demi bisa melindungi Quin. Bahkan perusahaan dan Kliniknya terabaikan oleh Abi.


" Berapa hari Bun?" Tanya Abi dengan lirih.


Yaa, Bunda Sasa memberi syarat kepada Abi untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda, maka Bunda Sasa bersedia untuk melatih Abi.


" Dua hari paling cepat."


" Tapi Bun___"


" Jangan ngeyel, ini demi keselamatan kamu Abi." Ujar Bunda Sasa lembut.


" Bunda, Om." Suara bariton mengalihkan perhatian Abi, Bunda Sasa, dan Om Jodi.


" Lana?"


Lana pun mencium punggung tangan Bunda Sasa dan Jodi. Namun Lana memberikan tatapan sinis kepada Abi.


"Kamu mau latihan?"


" Iya Bun, rindu sama Dojo ini.."


Bunda Sasa memperhatikan dengan seksama.


" kamu ada masalah?"


" Ehh, eem.. gak kok Bun." Lana menggaruk tengkuknya.


" Bunda selalu ada kalo Lana mau cerita."


" Iya Bun, Eem, kalo gitu Lana latihan dulu yaa.."


Bunda Sasa pun memberikan anggukan.


Abi hanya memperhatikan Lana, Abi takjub melihat gerakan Lana sangat cepat. Bahkan Lana mampu memecahkan 5 bata dalam sekali pukul.


" Lana itu dulu lemah, kamu tau kenapa Lana bisa sehebat itu?"


Abi menoleh kepada Bunda Sasa. Abi ingin tau, apa yang membuat Lana bisa sehebat itu.


" Karena Quin."


Abi mengerutkan keningnya.


" Sewaktu mereka kecil, Lana pernah di buli oleh teman sekolahnya. Quin tak suka jika ada yang membuli Lana, sehingga Quin membela Lana. Sejak hari itu, Lana semakin di buli karena di bela oleh Quin, Lana di ejek lemah. Sejak saat itu Lana berlatih keras bersama Veer dan Zein di sini. Hingga Lana menunjukan kepada tema-temannya jika Lana bisa memecahkan 3 batu bata yang tersusun dalam satu pukulan."


Abi mendengarkan cerita tentang Lana dan Quin. Ada rasa panas yang menjalar di hati Abi. selama ini, Lana selalu melindungi Quin, dimana pun Quin berada. Lana tak membiarkan sehelai daun pun menyakiti Quin.


Lana telah menghabiskan masa kecilnya hingga dewasa dengan berlatih. Sedang dirinya? Ia sangat benci dengan bela diri, Abi pernah belajar dulu waktu di German, namun Abi yang tak suka dengan olah raga bela diri, hanya belajar untuk memperkuat kuda-kudanya dan menaham serangan orang lain.

__ADS_1


Bagaimana bisa Abi menjadi sehebat Lana dalam waktu dekat? Sedangkan keselamatan Quin sedang terancam.


Bunda Sasa menepuk pelan bahu Abi.


" Bunda yakin, Abi pasti bisa sehebat Lana. Yang penting Abi bisa menjaga kesehatan Abi, dan dengarin nasehat Bunda dan Om Jodi."


" Iyaa Bunda, Maafin Abi. Abi hanya terfokus untuk menjadi hebat agar bisa melindungi Quin."


" Pasti, dan semua itu ada masanya. Yang penting Abi sabar dan fokus. itu yang penting."


" Iya Bunda."


Abi berfikir, apa dirinya bisa sehebat Lana dalam waktu dekat ini? Tidak, Abi tak ingin sehebat Lana, tapi Abi ingin lebih hebat dari Lana.


.


.


Anggel terkejut saat Lana sudah berada di dekat mobilnya.


" Kamu.."


Anggel memperhatikan penampilan Lana, Baju kaos oblong dan tas yang tersampir dibahunya.


" Buka pintunya, aku lelah."


Anggel dengan cepat membuka kunci mobilnya, dan membiarkan Lana masuk di bangku penumpang di bagian depan.


Lana menurunkan sandaran kursi, dan membuat dirinya senyaman mungkin.


" Kamu dari Dojo?" Tanya Anggel memberanikan diri.


" Hmm..."


" udah makan?"


" Belum?"


" Lalu kenapa ke sini?"


" Jemput kamu." Jawab Lana masih dengan mata tertutup dan tangan terlipat di dada.


" Dari Dojo langsung ke sini?"


" Hmm.."


" Pagi udah sarapan?"


" Udah, Cuma roti."


Anggel bingung, ia tak tau lagi ingin menanyakan apa. Semuanya terasa basi.


" Emm, mobil kamu mana?"


" Apartemen."


" kesini naik apa?"


" Taksi."


" Aku hanya ingin bersama mu."


Anggel menoleh, dan masih mendapati Lana menutup matanya.


" Aku ingin ke tempat Quin."


Tak ada jawaban dari Lana, Anggel pun kembali menoleh.


" Aku akan pergi ke tempat Quin." Ulang Anggel.


Lana membuka matanya, dan menatap ke mata Anggel.


" Aku akan ikut ke mana pun kamu berada."


" Apa maksud mu?"


" Bukankah aku sudah mengatakannya malam itu?"


Anggel mengerutkan keningnya, mengingat ucapan Lana di malam saat Lana mendatangi rumahnya.


" Apa? kamu hanya akan bilang menjemputku."


Lana menegakkan tubuhnya dan mencondongkannya ke arah Anggel, hingga Anggel memundurkan tubuhnya.


" Kamu tak ingat?"


Anggel menelan ludahnya kasar, suara Lana terdengar sangat mengintimidasi dirinya.


" Apa?" Jawab Anggel dengan suara yang pelan.


" Kasih aku kesempatan An, biarkan aku jatuh cinta kepada mu."


Anggel menatap Lana dengan tatapan bingung, mencari kebenaran di mata Lana.


" Aku serius."


Anggel menarik napasnya dalam, rasanya sangat sesak di dada. Seperti ada ribuan duri yang menusuk hatinya. Anggel memang mengharapkan Lana melihat kearahnya, namun bukan seperti ini, bukan menjadikan dirinya sebagai pelarian, yaa walaupun Anggel berharap Lana berlari kearah nya di saat Lana tak memiliki harapan bersama Quin, tapi ini.. ini rasanya sangat sakit, tak seperti yang Anggel bayangkan. Anggel tak mampu menahannya.


Anggel menarik napasnya, dada nya turun naik merasakan sesak.


" An.."


Anggel mengangkat tangannya, tak ingin mendengar ucapan Lana.


" Kenapa Na? kenapa?" bulir bening itu mengalir mulus di pipi Anggel.


" An, Aku__"


" Karena kamu sudah kehilangan Quin? karena kamu butuh pelarian? hah? iyaa?"


Anggel menghapus air matanya dengan kasar.

__ADS_1


" Kamu tau Na? aku memang pernah berharap kamu melihat ke arah aku. Bukan sebagai teman atau pun saudara, tapi sebagai seorang wanita. hikks... " Anggel menghapus kasar air matanya.


" Aku tau, kalo kamu udah lama tau jika aku suka sama kamu. Kamu selama ini diam dan pura-pura mengacuhkan perasaan ku. Kamu juga tau aku udah lama ingin lupain kamu, tapi apa Na? apa? hikkss.. Kamu selalu memberikan perhatian yang sama yang selalu membuat aku salah paham.. hikkss.."


" Dan saat ini, saat kamu benar-benar kehilangan Quin, kamu menarik ku kedalam hatimu? gak Na, gak, aku gak mau jadi pelarian mu. Aku juga seorang wanita yang ingin di cintai Na, bukan hanya perlakuan manis yang hanya kamu berikan. hikkss..."


" An, dengerin aku.."


" Aku gak mau denger lagi, Sebaiknya kamu jangan pernah menemui ku lagi." Anggel menghidupkan mesin mobilnya.


" Aku akan mengantarkan mu pulang."


Anggel terkejut di saat tubuhnya tertarik dan sudah berada di dalam pelukan Lana.


" Aku mohon An, jangan gini. Maafin aku. Aku cinta kamu, tapi aku juga cinta Quin. Maafin aku An.. Maaf..."


Anggel memberontak untuk melepaskan dirinya dari pelukan Lana.


"Lepasin aku Na.. hikss.. lepas . "


" Gaakk, aku gak mau kehilangan kamu lagi An, gak.. aku cinta sama kamu. Maafin aku An. Maaf.."


" Kamu bohong.. hiks.. "


Anggel memukul punggung Lana dengan kuat, dengan sepenuh tenaga. Lana hanya diam dan menahan pukulan dari Anggel.


Satu setengah jam lalu.


" Bunda gak tau mau bilang apa. Yang jelas kamu salah Na."


" Lana tau Bun, tapi Lana sedari kecil selalu terfokus kepada Quin. Lana mencintai Quin. setidaknya, itu yang Lana rasakan. Tapi Lana tak ingin jika Anggel menjadi milik orang lain."


" Jadi kamu sengaja masuk kedalam hubungan Anggel dan Adit? Kamu membuat mereka salah paham dan putus?"


" Lana cinta Anggel. Lagian Adit bukan pria yang baik."


" Sejak kapan?"


" Lana gak tau kapan perasaan itu muncul, yang Lana tau, jantung Lana berdetak dengan irama yang sama saat bersama Anggel dan Quin. Lana ingin memiliki Quin, tapi Lana tak ingin Anggel di miliki orang lain."


" Jadi malam itu Lana sengaja mencium Anggel? Lana sadar jika itu adalah Anggel?"


" Iya Bun, Lana sadar jika wanita itu Anggel, Lana juga sengaja menghubungi Anggel dan menyebut nama Quin. Lana ingin tau, seberapa besar cinta Anggel ke Lana?"


" Untuk apa?"


" Lana tak ingin nyakiti Anggel terlalu dalam Bun, Lana tak bisa melukai hati Anggel."


" Jadi Lana mau pergi ninggalin Anggel? tanpa memberitahu perasaan Lana sebenarnya?"


" Lana bajingan Bun, mana ada pria mencintai dua wanita di saat yang bersamaan."


" Siapa bilang gak ada? banyak kok pria yang poligami mencintai kedua istrinya, bahkan ketiga istrinya. Namun setiap cinta yang di berikan memang berbeda-beda."


" Jadi Bunda setuju dengan poligami?"


" Emangnya Bunda ada bilang kalo bunda gak setuju dengan yang namanya poligami? Gak kan? Ya kalo ada pria yang mau poligami, ya silahkan aja, ASAL BUKAN SUAMI BUNDA."


Bunda Sasa secara jelas dan menekan kata-katanya pada akhir kalimat, agar Lana mengerti maksudnya.


Lana terkekeh. " Ya sama aja Bun."


" Ya beda lah, "


Lana dan Bunda Sasa pun tertawa.


" Jadi Lana masih mau diam dna nyimpan perasaan Lana ke Anggel?"


" Anggel pasti akan berfikir kalo Lana menjadikan dia pelarian Bun."


" Tentu, tapi perempuan itu maunya di perjuangin. Dan Lana harus perjuangin Anggel kalo Lana memang cinta sama dia."


" Apa Lana gak egosi Bun?"


" Daddy Bara egois gak caranya demi dapatin Bunda? Papa Arka agois gak demi dapatin cinta Mama Kesya? Dan Papa kamu, bagaimana perjuangannya demi bersatu dengan Mama? Semua itu butuh perjuangan, dan wanita itu butuh di perjuangin."


Lana terlihag menganggukkan kepalanya. "Masa kamu kalah dengan Tante Ara, berjuang demi dapatin hati nya om Jodi. Dan akhirnya? lihat, Om Jodi sampai bucin akut dengan Tante Ara."


Lana tersenyum. Mereka memang mengetahui kisah cinta orang tua mereka. Dari Papa Arka dan Mama Kesya, Daddy Bara dan Bunda Sasa, Papa Fadil dan Mama Puput, Papi Gilang dan Mami Mili, serta Papi Vano dan Mami Vina yang berjuang dalam doa nya di setiap sepertiga malam nya.


Dari kisah orang tua mereka ,mereka dapat belajar bagaimana caranya mencintai dan mempertahankan cintanya. Dan ini, ini adalah masanya mereka ,era mereka. Ada kisah yang berbeda di setiap cerita, tapi yang namanya pejuang, tetap lah sama, karena mereka lahir dari darah seorang pejuang.


Kembali lagi ke dalam mobil, Anggel sudah tenang dan menangis pelan di dlama pelukan Lana.


" Aku benci kamu Na, hikkss.. aku benci ."


" Dan aku mencintai kamu."


" Dasar Playboy.. hiks.. buayaaa..... hikkss.."


" Yaa, dan buaya ini sudah menemukan hatinya.


" Aku gak mau sama kamu. hikkss..."


" Aku janji, gak akan poligami, kecuali kamu izinin.."


" Lanaaaa... Buaya buuusuukkk.... aku benci kamu.." Pekik Anggel dalam pelukan Lana.


" Aku becanda, tapi aku serius, Aku cinta kamu An..."


" aku gak percaya."


" Aku akan buat kamu percaya."


" Dasar Buayaaa..."


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2