KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 193


__ADS_3

Quin memandang seluruh keluarganya yang tengah berkumpul. Ada Sifa juga di sana.


"Mbak butuh sesuatu? Biar aku ambilin," ujar Sifa kepada Quin.


"Sifa, boleh Mbak minta sesuatu kepada kamu?" tanya Quin.


"Boleh, Mbak mau minta apa?" tanya Sifa.


"Itu, tolong ambilin selimut, Mbak rasanya kedinginan," ujar Quin yang duduk di bantal kursi karena tak di izinkan gerak oleh sang suami dan keluarga besar lainnya.


"Siap Mbak," Sifa pun mengambil selimut dan memberikannya kepada Quin.


"Makasih," ujar Quin dengan tersenyum.


"Sama-sama Mbak,"


Sifa pun melanjutkan kembali pekerjaannya. Gadis itu sungguh sangat rajin dan cekatan.


"Lihat apa?" tanya Abi kepada Quin.


"Lihat mereka," ujar Quin sambil menunjuk ke arah Sifa, Arash, dan Abash.


"Apa terlihat seakan cinta segitiga? tanya Abi.


"Entahlah, semoga saja tidak," ujar Quin sambil memeluk tubuh sang suami, mencari kehangatan.


"Duh, enak banget yang pelukan." ledek Fatih dan duduk bergabung bersama Abi dan Quin.

__ADS_1


"Nikah, Tih. Nikah," ujar Quin.


"Gue mau aja. Tapi Layca tuh yang belum bisa di nikahi," kekeh Fatih.


Quin menggelengkan kepalanya. Kemudian wanita itu menoleh ke arah Kakek yang baru saja tiba dengan Oma.


"Apa kakek terlambat?" tanya Kakek menyapa semuanya.


"Tidak, sini kek," Quin menyuruh suster untuk mendorong kursi roda kakek ke dekat Quin.


"Ada Sifa juga?" ujar Kakek.


"Iya, kenapa?" tanya Quin.


"Panggilan dong, kakek pingin di pijit kaki ya dengan dia,"


"Kakek panggil Sifa? Ada apa?"


"Kakek mau kamu pijitin kaki kakek, kamu gak keberatan kan?" ujar Kakek dengan lemah.


"Enggak kok."


Sifa duduk di atas karpet dan mulai memijit kaki kakek Farel.


"Jadi, kamu pilih Arash atau Abash?" tanya Kakek tiba-tiba yang mana membuat Sifa tersedak ludahnya sendiri.


Malam semakin larut, satu persatu orang tua telah tertidur di ruang keluarga. Di mana sengaja di bentang ambal untuk mereka tidurin bersama. Dari yang tua hingga yang muda sekalipun. Kecuali kakek Farel dan Oma Laura.

__ADS_1


"Awww.. " Quin meringis saat perutnya di tendang oleh baby twins.


Abi langsung berlari mendekati sang istri, namun sayangnya keduluan dengan Fatih dan Lucas.


"Bisa gerak gini ya, ajaib. Gak sabar lihat kamu hamil, Layca," ujar Fatih sambil mengelus perut Quin dan mengedipkan matanya sebelah kepada Raysa.


"Gue juga gak sabar pingin ngelus perut istri gue. Tapi pertanyaannya gue mau nikah sama siapa?" ujar Lucas yang mana membuat semua orang tertawa.


"Minggir kalian, gue bapaknya," ujar Abi dengan wajah cemberut yang mana membuat semua orang tertawa.


Fatih dan Lucas pun bergeser, kedua pria itu berjalan mendekati Anggel.


"Apa? binik gue ini, jangan coba berani sentuh," ujar Lana dengan galak.


"Pelit amat," gerutu Fatih dan beralih ke dekat Raysa.


"Pindah kamu dari situ, sebelum Daddy patahi tulang jari kamu," ancam Daddy Bara sehingga membuat Fatih pun kembali menjauh dari pujaan hatinya.


"Nasib jomblo, ngenes," ujar Fatih kepada Martin dan Lucas.


"Chating sama siapa dia? Senyum-senyum gitu? tanya Fatih kepada Lucas sambil menunjuk Martin.


"Asal gak serupan aja," jawab Lucas santai.


Setelah acara barberque selesai, mereka mengistirahatkan tubuh di ruang keluarga hingga pagi.


"Serem gue lihat si Owil." ujar Fatih sambil menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


Gimana gak seram? Owil seakan menatap dirinya dan memutar kepalanya hingga 180 derajat. Serem kan.


__ADS_2