
Tak terasa waktu terus saja berlalu. Hari ini adalah acara turun tanah Baby Zein. Papi Farel membuat pesta yang sangat meriah, di karena kan ini adalah cicit pertamanya.
Kesya yang sedang sibuk di rumah Mami Shella, dengan di bantu Sasa dan beberapa Art yang di kirim dari rumah kediaman Moza.
" Aduuh, anak kecil kok main listrik sih" Goda Mami Shella kepada Sasa.
" Ih Tante, Sasa udah besar"
Tapi kok masih kecil gini? Kiki sama kamu aja masih tinggian Kiki"
" Ihh Tante, bisa aja dech.. Gak pa-pa Tante aku kecil, yang penting aku Gesit"
" Ya sih, kamu ini kecil-kecil cabe rawit. Mami suka, kalo Bara belum punya tunangan, udah Mami jodohi sama kamu." goda Mami Shella
Uhukkk uhukkk uhukk...
Kesya, Mami Shella, dan Sasa langsung menolehkan kepalanya ke arah Bara yang baru saja terbatuk kesedak minumannya sendiri.
" Kamu kenapa?"
" Gak pa-pa Mi" Ujar Bara sambil melirik kearah Sasa. sedangkan Sasa tidak peduli dengan keberadaan Bara.
Bara jadi ingat kejadian 2 hari lalu.
Flashback On
" Mau kemana?"
" Ya mau pulang lah, udah sana minggir"
" Temenin saya cari hadiah untuk Zein"
" Kenapa gak pergi sama tunangan Lo aja sih"
" Udah ayokk" Bara menarik Sasa masuk kedalam mobilnya.
" Mbak Lia mana? kenapa gak pergi sama dia aja?" Tanya Sasa lagi.
Saat ini mereka tengah menuju ke suatu mall untuk membeli hadia turun tanah Baby Zein.
" Dia lagi ada urusan"
Sasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Saat mereka sudah berada di basemen, Bara menghentikan gerakan Sasa yang ingin membuka seatbelt, dan memegang tengkuk Sasa seolah menciumnya. Dengan gerakan cepat tangan Sasa sudah berada di leher Bara, untuk mencekik pria itu. Mata mereka bertemu, Entah detak jantung siapa yang saat ini berdetak dengan cepat.
Bara memejamkan matanya, seolah menahan amarah yang ingin meledak. Sasa merasakan itu, Sasa membuang pandangannya keluar, betapa terkejutnya Sasa saat melihat Lia sedang bergandengan tangan dengan mesra dengan seorang pria. Sasa kembali melihat kearah Bara. Hanya satu kalimat yang di ucapkan Bara membuat Sasa merasa iba.
" Dia selingkuh. Perjuangan ku selama ini tidak berarti apapun di matanya" Ujar Bara sambil menatap mata Sasa dengan dalam.
Setelah melihat mobil yang di masuki oleh Lia dan selingkuhannya itu pergi, Sasa mendorong tubuh Bara dengan kuat.
" Gue bukan tempat pelampiasan sakit hati Lo"
Sasa turun dari mobil dan meninggalkan Bara yang tercengang sendiri melihat kepergian Sasa.
Flashback off
" Sa, tolong ambilin loyang yang di atas itu ya" Ujar Kesya.
" Oke" Sasa menarik satu kursi dan menaikinya. Sasa mengambil loyang yang di atas rak, berhubung tingginya tak seindah tinggi Kesya, Sasa harus menggunakan kursi untuk meraihnya. Tiba-tiba Kiki datang dan mengejutkan Sasa dan Kesya.
" Baaaa"
" Aaaaamp"
" SASAAA" teriak Kesya.
__ADS_1
Centlaaaang..
Sasa menutup matanya, merasa tidak ada yang sakit di sekujur tubuhnya, Sasa langsung membuka matanya. Sasa langsung membelalakkan matanya, saat mengetahui jika dirinya sudah berada dalam pelukan Bara. Ehemm, maksudnya gendongan Bara.
" Sa, kamu gak pa-pa?" Tanya Kesya panik.
Sasa langsung meminta Bara menurunkan dirinya. " Gak Pa-pa Mbak"
" Kamu Ki, lain kali gak boleh gitu ya. Bahaya ngejutin orang lagi kerja"
" Maaf Mbak, Kiki janji gak ulang lagi" Ujar Kiki dengan wajah tertunduk.
" Kak Sasa, Maafin Kiki ya"
" Iya, lain kali jangan di ulang yaa" Ujar Sasa dan mengacak rambut Kiki yang tingginya lebih sedikit dari dirinya.
Sasa mengambil loyang yang jatuh tadi, dan berjalan kearah Kesya dengan melewati Bara begitu saja.
" Hah? Gak ada terima kasih?" Batin Bara dan menatap Sasa tajam. Sedangkan yang di tatap sudah membelakangi Bara.
" Bara, ada Lia di depan" Ujar Mami Shella.
Sasa yang mendengar nama Lia, langsung melirik kearah Bara. Melihat ekspresi Bara yang seketika langsung berubah. Tapi itu bukan urusan Sasa kan?.
" Mas, perasaan aku kok aneh ya?" Ujar Kesya kepada Arka.
" Aneh kenapa?"
" Itu loh, aku kok ngerasa Mas Bara ada sesuatu dengan Sasa?"
" Maksud kamu?"
" Hmm, jadi waktu aku ke toko, aku dapat kabar kalo Mas Bara itu sering ke toko, dan sering gombalin Sasa, trus saat ada temennya yang minta nomor hape Sasa, Mas Bara bilang kalo Sasa udah punya pacar."
" Kamu siapa bilang?"
" Lena"
" Tapi kan itu bukan urusannya Mas Bara"
" Iya juga sih, ya udah kamu jangan banyak fikiran ya, ingat kata dokter, gak boleh stress, biar dedek bayinya cepat hadir."
" Iya sayang" Ujar kesya sambil memeluk lengan Arka.
Sasa sedang tertawa dengan Jodi dan Duda. Saat ini Duda ingin menjodohkan Sasa dengan Jodi. Biar jangan kelamaan jomblo si Jodi.
" Ih, bisa aja sih Bang Duda"
" Lah, Sama-sama jomblo kan. Ya gak Jod"
" Serah Lo lah"
" Seru banget, ada apa?" Tanya Bara yang tiba-tiba ikut nimbrung.
Oh ya, acara turun tanah sudah selesai, jadi saat ini Duda, Jodi dan Sasa sedang mengobrol ringan di teras rumah Vano.
" Oh, ini Mas Bara. Jodi ini kan udah kelamaan jomblo, jadi mau saya jodohi dengan Sasa. gimana menurut Mas Bara? Cocok gak?"
Bara menatap Sasa intens, tatapan Bara ke Sasa membuat Jodi, dan Duda saling berpandangan dan menatap kembali kearah Bara dan Sasa. Bara yang terlihat seperti mengeraskan rahangnya masih terus menatap Sasa. Sedangkan Sasa terlihat santai dan tidak terpengaruh dengan tatapan Bara.
" Mas Bara" Tegur Duda takut-takut.
" Gak cocok, Sasa masih kecil belum dewasa. " Ujar Bara dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
" Sa, kayaknya Mas Bara Naksir sama Lo deh" Ujar Duda yang di setujui oleh Jodi
" Kalo dia naksir gue, tunangannya mau di tarok di mana?" Ujar Sasa santai.
__ADS_1
" Buat gue aja. Ha..ha..ha.." Ujar Duda tanpa dosa.
Tanpa mereka sadari jika percakapan mereka tadi di dengar oleh Arka, dan Arka juga memperhatikan semua gelagat Bara kepada Sasa.
****
" Put, Lo kenapa lagi sama Fadil? gue dengar udah baikan dan jadian lagi? Kok sekarang malah diem-dieman?" Tanya Kesya. Saat ini mereka Kesya dan Puput berada di cafe cake.
" Hmm, gue juga gak tau. Fadil salah paham sama gue. Jadi kemarin itu gue di jemput dengan Tante Ana"
" Tante Ana?"
" Mamanya Ando"
Kesya menganggukkan kepalanya.
" Trus, Tante Ana ngajak aku dinner gitu. Eh gak taunya Tante Ana malah tinggalin aku sama Ando, dan kami berakhir dengan nonton bareng. Saat itu aku di antar pulang tuh sama Ando, rupanya Fadil udah nungguin di depan rumah aku. Dan Dia marah ke aku. Gitu loh"
" Hmm, Kamu harus jaga jarak deh dengan Ando"
" Udah, tapi gimana ya, nolak emaknya itu susah banget. Ada aja alibinya buat gue tetap ikut dia."
"Hmm, Lo harus kasih penjelasan dengan Fadil"
" Hmm, gue udah usaha buat ngomong sama dia, tapi__"
" Tu Fadil, coba deh Lo ngomong sama dia"
Puput menatap Fadil yang memang berjalan kearah mereka. " Gue pinjem puputnya boleh?"
" Tentu"
Fadil menarik dan menggenggam jemari Puput, dengan sigap Puput langsung berdiri dan mengikuti langkah Fadil yang sedikit tergesa.
Puput menatap Fadil dengan perasaan was-was. Aura Fadil saat ini sangat lain, membuatnya takut.
" Ayok kita nikah"
Puput membelalakkan matanya, saat mendengar ajakan Nikah dari Fadil. Fadil menatap mata Puput, di genggamnya tangan Puput.
" Aku gak bisa kasih kejutan yang spesial, karena aku takut semua rencana yang udah aku susun, gagal lagi seperti kemarin. Jadi aku ajak kamu nikah saat ini. Jika kamu setuju, aku akan melamar kamu malam ini."
" Jadi kamu-- maksud kamu, kamu udah pernah mau buat kejutan untuk aku?"
Fadil menganggukkan kepalanya.
" Yaa ampun, maafin aku yaa"
" Iya sayang, jadi gimana? Kamu mau terima lamaran aku?"
" Tentu, aku sayang kamu"
" Aku juga"
Fadil memeluk Puput dengan sayang.
Dan, acara lamaran Fadil dan Puput pun berjalan lancar, 2 bulan lagi mereka akan meresmikan pernikahan mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai reader..
jangan lupa tap jempolnya ya..