
Melihat semua orang lengah, Paula mendorong tubuh pengawal yang sedang memeganginya dengan kuat, dan mengambil pistol yang ada di saku pengawal tersebut.
"Kalian harus mati." Teriak Paula, dan ..
Dor ...
Dor ...
Pengawal yang melihat Paula menyodorkan pistolnya kearah Quin pun langsung melindungi Quin dan Abi dengan tubuhnya, sehingga dirinya lah yang tertembak.
Sedangkan Jamal langsung berlari kearah Mama Kesya dan melindungi Mama Kesya dengan tubuhnya, sehingga dirinya lah yang mendapatkan tembakan dari sang Mama tepat di dada nya.
"Aaakkkkh ..."
Paula membeku, saat melihat darah segar mengalir dari tubuh Jamal.
"Jamal." Lirih Mama Kesya dan memegang tubuhnya yang hampir jatuh.
Paula menjatuhkan pistolnya, tubuh Paula gemetar saat melihat sang putra sudah mengeluarkan banyak darah.
"Panggil Dokter." Teriak Abi sambil memeluk Quin yang sudah menangis sesenggukan.
"Bertahanlah, Agus." Ujar Abi menggenggam tangan pengawalnya.
Agus tersenyum, iantak menyangka jika Bisbnya mengetahui namanya. Dan itu adalah hal terindah yang di dengarnya di saat detik-detik kematiannya.
Para medis langsung bergerak cepat dan membawa Agus beserta Jamal keruang operasi.
Paula langsung di tahan dan di amankan oleh polisi yang ikut menyamar di sana.
"Sayang, tenanglah." Mama Kesya memeluk putri nya yang masih sesenggukan, hingga tubuh Quin melemah dan Quin tak sadarkan diri.
Abi dengan sigap langsung menggendong Quin dan membawanya keruang pengobatan. Abi tak ingin terjadi apa-apa kepada Quin.
*
Tiga jam telah berlalu, operasi Agus telah selesai, Agus dapat di selamatkan, namun satu ginjalnya harus di ambil, karena rusak dan tak dapat berfungsi akibat terkena tembakan peluru jarak dekat.
Sedangkan Jamal, Jamal masih berada di dalam ruang operasi, keadaannya kritis, Jamal terkena luka tembak di dekat jantungnya. Maka dari itu, operasi Jamal lebih lama dari Agus.
"Quin gimana?" tanya Bunda Sasa yang sempat lemas saat kembali mendengar suara tembakan.
"Quin baik Mbak, sekarang Abi lagi menemaninya. Dari tadi Quin tak ingin melepaskan pelukannya dari Abi." Ujar Mama Kesya.
Bunda Sasa pun tersenyum, akhirnya Quin bisa kembali membuka hatinya untuk Abi.
"Mbak gak papa kan?"
"Gak papa, cuma shock aja dengar suara tembakan, Mbak takut kalian yang terluka."
"Syukur Alhamdulillah Mbak, kami baik-baik aja."
" Operasi pengawal Abi gimana? Mbak dengar ginjalnya terpaksa di angkat?"
"Iya mbak, hah.." Mama Kesya menghela napas lelahnya.
Agus pria yang masih muda, bahkan umur Agus masih 26 tahun. Belum lagi Agus baru saja melamar kekasihnya, dan mereka akan segera menikah. Namun, jika begini? Bagaimana dengan nasib Agus?
Tidak, bukannya keluarga Moza atau Setyo tak ingin membiayai hidup Agus, namun, apa calon istri Agus bisa menerima keadaan Agus? Semoga saja.
Di sudut ruangan, seseorang yang sedang menyamar tersenyum miris. Keadaan penjagaan sudah kacau, semua orang sibuk dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ini kesempatan emas untuk dirinya. Di saat targetnya melemah, maka ini waktunya dia beraksi.
Pria itu menekan sesuatu yang berada di dalam telinga, benda kecil seperti earphone yang sudah tersambung dengan tim nya.
"Satu jam lagi, kita akan menyerang.
Di tempat lain, Abash mendapat sinyal asing yang masuk. Abash memanggil Farhan dan menyuruh mencari titik di mana posisi si pelaku berada.
"Gotcha." Seru nya.
Farhan dan Abash saling memandang dan tersenyum. Mereka ber tos dengan menggenggam kemenangan. Abash langsung menguhubungi Arash, untuk menggerakkan Tim bayangan. Serta Abash juga menghubungi FBi yang sudah Abi panggil minta bantuan. Tak lupa Abash memberi sinyal kepada Daddy Bara.
__ADS_1
Daddy Bara Yang sudah mendapatkan sinyal tersebut pun, langsung mengkode seluruh anak buahnya untuk siaga 2.
Desi dan Raysa sudah saling pandang, mereka pun mulai bergerak menjalankan misi nya.
*
Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruangan yang sama, agar pengawal lebih bisa menjaga mereka semua.
"Abi, apa yang terjadi?" Tanya Quin dengan berbisik, saat seluruh keluarga, terutama wanita sudah berkumpul di dalam kamar.
"Tenanglah, semua akan aman." Ujar Abi menenangkan Quin.
Namun, hati Abi merasa tak enak. Abi pun meminta sebuah borgol kepada salah satu perwira polisi yang ikut berjaga.
"Abi, kenapa tangan ku di borgol?" Tanya Quin, namun Quin mengerutkan keningnya saat borgol yang satu lagi di kaitkan ke tangan Abi.
"Tenanglah, aku hanya mengikuti insting ku."
Sungguh, saat ini benar-benar begitu menegangkan. Rumah sakit Moza memiliki ruangan khusus untuk keluarga Moza dan juga seluruh karyawan Moza jika sedang sakit. Rumah sakit khusus keluarga Moza ataupun keluarga yang bekerja di perusahaan Moza ini memiliki 5 lantai, yang teratas tempat untuk turunnya helikopter. sedangkan lantai 1 adalah tempat untuk mengurus segala administrasi.
Sedangkan untuk pasien umum yang ingin berobat di rumah sakit keluarga Moza, maka mereka akan berada di gedung yang berbeda. Gedung yang memilki tinggi 15 tingkat itu, menampung pasien umum dalam kelas terendah sampai tertinggi, dengan pelayanan yang sama.
Tak sulit mengisolasi sebagian pasien yang berada di dalam gedung khusus tersebut. Bahkan, sebagian orang yang berlalu lalang di lantai dasar tersebut adalah tim bayangan.
Inilah saat nya, saat titik itu di temukan, Pria yang memberikan sinyal itu langsung di kepung. Bukannya Takut, pria itu bahkan tersenyum dan tertawa.
"Tak ku sangka kalian secerdik ini." Ujarnya sambil menunjukkan wajah aslinya.
"Riki ...."Gumam Papa Danu yang melihat pria tersebut dari ruangan Abash yang terdapat monitor yang menunjukkan cctv yang mengarah ke Riki saat ini.
"Kita lihat, apa kalian bisa menangkap ku?"
Riki menaikkan tangannya mengarah ke telinga, dan mengucap. "Plan B."
Dalam waktu 5 menit, ruangan tersebut sudah penuh dengan asap, termasuk kamar yang terdapat seluruh anggota keluarga di sana.
*
Prang..
Abi langsung memeluk Quin dan menutup wajah Quin dengan jaket nya. Begitupun dengan Veer yang melindungi Nafi.
"Brengsek." Maki Abi saat ada orang yang menarik Quin.
Abi langsung menarik kembali Quin, untungnya tangan Quin sudah terborgol dengan tangan Abi, jadi tak sulit bagi Abi untuk menarik kembali Quin. Abi sempat melawan dan menendang orang yang ingin menculik Quin.
"Keluar semua" Teriak Daddy Bara.
Seluruh keluarga pun keluar dari kamar sambil menutup hidungnya.
"Mungil,"
"Mas."
Daddy Bara langsung melindungi Bunda Sasa di belakang tubuhnya.
"Anggel,... Anggel..." Teriak Tante Mega.
Lana langsung mengejar pria yang sudah menggendong Anggel di punggungnya. Daddy Bara langsung menoleh kearah Veer dan Nafi yang baik-baik saja. Tak menyangka, jika dugaan Desi tepat.
Riki tak lagi mengincar Nafi, melainkan Anggel yang masih Virgin. Desi sengaja membuat laporan jika Nafi tengah berbadan dua. Itu artinya Nafi sudah tak virgin lagi.
"Plan B." Ujar Daddy Bara dari Earphone nya yang tersambung ke seluruh anggotanya.
Namun, Desi memberikan Raysa kode Plan C, Yang mana akan membahayakan dirinya.
"Gak Des." Ujar Raysa mencoba menahan Desi, namun Desi terlalu lincah hingga dapat lepas dari Raysa.
" Berhenti di situ," Ujar Desi yang sudah menghalangi jalan pria yang membawa Anggel.
"Wah, lihat lah siapa Yang ada di hadapanku. Kau wanita pemberani yang membuat ku tertantang untuk memiliki mu." Ujar Riki dari belakang tubuh Desi.
__ADS_1
Desi mencoba tenang, ia berbalik dengan perlahan. Dan Desi dapat menangkap mata Riki yang berbinar kearahnya.
"Tak ku sangka kau juga cantik."
"Lepaskan dia." Ujar Desi dengan berani, namun tak ada yang tahu jika di hati Desi saat ini sudah bergemuruh takut.
"Akan aku lepaskan, setelah kau memuaskan ku."
Om Duda dan Dedi sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Cih, tak akan pernah."
"Baiklah."
Riki memberi kode untuk menurunkan Anggel, dan merobek baju Anggel. Pisau yang ada di tangan pria itu sudah menusuk kedalam baju Anggel, tinggal ia tarik dan terbukalah baju Anggel.
"Hentikan." Ujar Desi dengan jantung yang semakin bergemuruh.
"Lepaskan dia, dan aku akan turuti kemauan mu."
Riki tersenyum, tak menyangka semudah ini menaklukkan gadis singa seperti Desi.
"Baiklah, lakukan dua hal untuk ku. Yang pertama, suruh mereka semua membuang senjatanya."
Desi memandang kearah Daddy Bara, Daddy Bara menggeleng, namun dengan isyarat mata, Desi mencoba meyakinkan Daddy Bara.
"Mas, jangan." Lirih Bunda Sasa.
"Kita harus percaya sama Desi." Ujar Daddy Bara dengan nada sedikit ragu.
Daddy Bara melirik kearah Om Duda, terlihat Om Duda memalingkan wajahnya, tak ingin melihat apa yang terjadi kepada putrinya.
Daddy Bara memerintahkan semua anggota nya menurunkan senajatanya. Membuat Riki tersenyum menang.
"Baiklah, yang kedua buka baju dan cium aku sekarang."
"Dasar psikopat" Maki Dedi dan membalikkan tubuhnya tak ingin melihat. Saat ini mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena Anggel dan Desi masih dalam bahaya.
"Baiklah, tapi lepaskan dulu dia." Ujar Desi mencoba untuk tenang.
"Baiklah." Ujar Riki dan menyuruh melepaskan Anggel.
Lana langsung menarik Anggel kedalam pelukannya dan membawa Anggel menjauh dari Riki.
Dengan tangan sedikit bergetar, Desi membuka kancing kemejanya satu persatu hingga habis, dan melemparkan kemejanya begitu saja, hingga menampilkan tangtopnya yang menampilkan belahan dada nya.
Riki tersenyum melihat bukit kembar itu menonjol sangat indah, di tambah kulit Desi yang putih dan muluus.
"Mendekatkan sayang, Puaskan aku di hadapan mereka semua."
Perlahan Desi berjalan mendekat, hingga terdengar seperti suara pisau melayang diudara.
"Tak akan ku biarkan kau menyentuh nya."
Street...
"Akhh ..." Riki memegang lengannya yang tertancap pisau.
" Jo." Gumam Desi, dan langsung menganb langkah penyelamatan diri.
Dan saat itu, terjadilah perkelahian yang hebat. Jo langsung mengajar mereka bersama Fatih.
Yaa, Jika Desi memiliki Plan C, maka Jo akan memiliki Plan D.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.