KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 157


__ADS_3

Hari keberangkatan Quin dan Anggel pun tiba. Mereka memang berangkat pada hari yang


sama, namun jam yang berbeda. Keberangkatan mereka hanya berselisih satu jam.


Abi dan Quin menggunakan pesawat pribadi milik Abi, sedangkan Lana dan Anggel


menggunakan pesawat pribadi milik Martin, yang sebenarnya juga milik Lana.


 Abi dan Quin bertujuan ke German, dengan menempuh waktu perjalanan udara sekitar


lebih kurang 16 jam perjalanan. Untungnya pesawat milik Abi sudah di desain


dengan sebuah kamar yang mewah. Kamar yang bisa membuat Quin dan Abi nyaman


dalam penerbangannya.


 Begitu pun dengan Lana dan Anggel, penerbangan mereka bertujuan ke India. Anggel


langsung mengurus surat izin sekolahnya untuk lanjut S3 di India. Sekolah


sambil menemani sang suami bekerja, tidak ada salahnya kan. Sebenarnya Anggel


tak berniat menyambung S3, namun inilah jalan yang harus ia tempu. Dari pada ia


bosan di rumah menunggui Lana yang pulang terlambat, mendingan ia menuntut ilmu


lagi kan?


 “Hmm, gak nyangka kalo kalian akan berangkat. Sedih deh, ntar aku mainnya sama


siapa?” uajr Nafi dengan manja.


“Kan ada Kayla dan Desi. Lagian, mulai sekarang Desi di tugaskan untuk mengawal kamu,”


ujar Quin kepada kaka iparnya yang lagi dalam mode manja tersebut.


 “Beneran?” tanya Nafi dengan senang dan menoleh kepada sang suami.


“Iya sayang, jadi kamu bakal ada teman seharian jika aku sedang pergi kekantor,”


ujar Veer.


“Yeey, akhirnya aku punya teman ngobrol lagi.” Nafi memeluk sang suami dengan manja.


 Siapaun yang melihat pemandangan tersebut pun merasa iri. Terutama yang belum menikah


seperti Fatih, Raysa, Zein, dan juga Kayla. Kalo Jo dan Desi sih, sepertinya


masi lama. Jo baru saja mendaftarkan dirinya untuk kenaikan pangkatnya di


akademi militernya.


“Quin, Anggel,” panggil kakek Farel.


 “Iya, kek.” Jawab Quin dan Anggel secara bersamaan. Quin dan Anggel pun berlutut di


hadapan sang kakek.


“Ingat pesan Kakek. Kalian harut nurut dan dengar apa kata suami. Jika suami kalian


berada di jalan yang salah, maka kalianlah yang harus membimbing sang suami


untuk kejalan yang benar.”


 “Iya Kek.” Jawab Quin dan Anggel berbarengan lagi.


 “Kakek gak tahu sampai kapan umur kakek akan bertahan, kakek harap, kakek dapat


mendengar kabar baik dari kalian.”


Quin sudah menundukkan kepalanya, menandakan jika saat ini ia tengah menangis


mendengar kalimat yang di ungkapkan oleh sang kakek.


 “Kakek, jangan bicara seperti itu,” ujar Anggel sambil menahan bulir bening yang siap


mengalir membasahi pipi nya.


Kakek Farel pun tersenyum dan mengusap lembut kepala Quin dan Anggel. Tangannya yang


terasa bergetar di atas kepala mereka pun, akhirnya membuat tangis keduanya pecah.


“Kakek, hiks ... maafin Quin ... hikks ... Quin sayang kakek,” ujar  Quin yang sudah menangis tersedu-sedu diatas


pangkuan sang kakek.


 “Anggel juga, hiks ... maafin Anggel, Kek. Hiks ... Kakek harus tetap sehat. Hiks .. Anggel sayang Kakek.”


 “Kakek juga sayang kalian berdua. Cucu-cucu kakek yang hebat.”


 Jadwal keberangkatan Quin pun tiba. Quin harus berpamitan dengan seluruh keluarganya.


 “Jaga diri kamu ya, jangan lupa kasih kabar. Baik-baik selalu dengan suami kamu, ya


sayang,” ujar Mama Kesya sambil mencium kening, mata, dan pipi Quin. Mama Kesya


memeluk Quin dengan sayang.


 Air mata Mama Kesya tak terbendung.  Mama Kesya pun menangis dalam pelukan Quin, begitu pun dengan sebaliknya. Setelah berpamitan dengan semua orang, Quin pun melangkahkan kakinya menjauh dari semuanya.


 “Quin,” panggil Kakek Farel.


 Quin berbalik dan melihat kearah sang kakek yang tersenyum kepadanya.


 “Kamu harus pulang dengan membawa cicit kakek di perut, Kamu.”


 Quin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kakek melambaikan tangannya menyuruh Quin dan Abi untuk segera masuk kedalam bandara.


Setelah 30 menit Quin dan Abi masuk, panggilan untuk keberangkatan Lana dan Anggel pun


tiba. Mereka juga berpamitan kepada seluruh keluarga.


“Oma, kami pamit ya,” ujar Lana kepada Oma Mega.


 “Oma? Siapa yang kamu panggil Oma?” ujar Oma Mega dengan galak.


 Lana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kebiasaannya memanggil dengan panggilan


Oma belum bisa di ubahnya.


“Maaf Mi. Maksudnya Mami. Kami pergi dulu,” pamitnya kembali.


“Hati-hati, jaga Anggel di sana, jangan buat dia menangis, dengar?” ujar Oma Mega sambil mengacungkan jari telunjukknya ke depan wajah Lana.


“Iya Mi, Lana janji gak akan buat Anggel menangis lagi.”


 “Anak pintar.” Oma Mega pun mencubit hidung Lana dengan gemas sehingga membuat ia memekik kesakitan.


“Mami,” lirih Anggel dan memeluk sang Mami.


 “Maafin Anggel, udah banyak so’uzon dengan Mami,” ujarnya sambil menangis dalam pelukan sang Mami.


 "Iya, udah Mami maafin kok, Maafin Mami juga ya, sayang.”


 "Iya Mi.”


Sama halnya seperti Quin, Anggel juga mendapatkan pesan dari sang Kakek untuk pulang  kembali dengan membawa cicit di dalam perutnya. Wajah Anggel pun merona saat mendengar permintaan sang kakek,


sedangkan Lana langsung berseru kencang mengatakan jika ia akan berusaha pagi siang dan malam sampai Anggel menganduk anaknya.


 *


Dalam pesawat Quin dan Abi.

__ADS_1


 ‘Sayang, perjalanannya masih lama. Kamu mau istirahat di kamar?” tawar Abi.


“Pingin, tapi Aku lapar.”


 “Aku akan menyuruh pramugari untuk membawa makan ke dalam kamar.”


 “Hmm, Baiklah.”


Abi pun menuntun Quin untuk masuk kedalam kamar yang tak luas namun terlihat nyaman untuk mereka beristirahat. Quin langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menepuk kasur di sebelahnya memberikan kode kepada Abi untuk berbaring di sebelahnya.


 Tak menunggu waktu lama, Abi langsung membaringkan tubuhnya di sebelah Quin.


“Empus gimana kabarnya?” tanya Quin.


Abi terkekeh, ia berfikir jika Quin akan melakukan adegan romantis kepadanya.


“Empus baik-baik saja. Bahkan empus gak mau jauh-jauh dari kekasihnya.”


 “Benarkah? Waah, sebentar lagi pasti empus akan mendapatkan keturunan. Kita akan menjadi oma dan opa,” ujar Quin yang mana membuat Abi tertawa.


“Kenapa?” tanya Quin heran.


“Bagaimana kalo kita membuat anak yang sesungguhnya?” ujar Abi sambil mengelus perut datar Quin.


 “Abi, aku masih datang bulan.” Ujar Quin dengan sendu.


 Abi menjatuhkan kepalanya dengan lesu, sehingga itu membuat Quin terkekeh. Tak berapa lama pintu di ketuk, siapa lagi yang mengetuknya jika bukan pramugari yang akan mengantarkan makanan mereka.


Abi bangkit dari tidurnya dan membuka pintu. Abi meraih troli yang di bawa oleh Pramugari, ia tak memberi izin bagi siapapun untuk masuk kedalam kamarnya jika ia sedang berada didalam kamarnya.


 “Waah, sepertinya lezat dari wanginya.” Quin duduk dan mendekat kearah Abi.


 “Ayi, silahkan makan my Quin,” ujar Abi sambil menirukan suaranya seperti seorang pramugara.


Quin terkekeh dan mencubit hidung Abi dengan gemas.


 “Seneng deh, punya suami yang lucu kayak Kamu, Jadi aku bisa awet muda.”


 “Aku juga seneng punya istri yang cantik seperti kamu.” Ujar Abi sambil mencuri ciuman dari Quin.


 “Ih, sempat-sempatnya deh nyium-nyium,” ujar Quin dengan merajuk.


Abi terkekeh dan kembali mengecup bibir Quin yang sedang belepotan saus spageti.


 “Abiii .....” rengek Quin.


“Ya sayang,”


 “Aku mau makan.”


“Aku juga, ayo kita makan bareng. Satu piring berdua.”


 Abi langsung mengambil garpu dan menyendokkan spageti milik Quin. Quin menggelengkan kepalanya dan ikut menikmati kembali makanannya.


Siapa yang menyangka, jika adegan dalam film saat ini sedang terjadi kepada mereka.


DI mana mereka memakan ujung mie yang berbeda dari satu mie yang sama. Quin dan


Abi pun tersenyum sambil menyeruput mie tersebut hingga bibir mereka bertemu


dan saling mencecap rasa bumbu dari mie pgatei tersebut.


 Hingga akhirnya mereka larut kedalam ciuman panas mereka dan melupakan mie yang tersisa.


*


Dalam pesawat Anggel dan Lana.


 “An, Aku solat zuhur dulu ya. Kamu mau istirahat di dalam kamar?” tanya Lana.


 Memang sedari tadi mereka masih duduk di bangku penumpang sambil bercerita dengan ajri


yang saling menaut.


 “Aku ikut.”


kedalam kamar mandi karena ia kebelet pipis, setelah pipis, Anggel langsung


mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat. Anggel melupa dengan aktingnya


yang berpura-pura sedang datang bulan.


Anggel keluar dari dalam kamar mandi, Lana pun langsung masuk tanpa memperhatikan


wajah sang istri yang sudah basah dengan air wudhu. Saat Lana keluar dari dalam


kamar mandi, Lana terkejut karena melihat Anggel telah siap dengan mukenanya.


 “Kok bengong? Ayo solat bareng,” ujar Anggel menyadarkan keterpanaan Lana.


Bukan terpana sebenarnya An, tapi terbengong, karena setahu Lana, kamu ini sedang


datang bulan. Kok baru 3 hari udah habis ya? bukannya seminggu?


Lana pun mendekat kearah Anggel yang sedang tersenyum manis kepadanya.


 “Kamu bohongi aku?” tanya Lana dengan nada yang sangat rendah dan terdengar menakutkan.


 Anggel mengerjapkan matanya. “Bohongin kamu? Bohongi apa?” tanya Anggel dengan wajah polosnya.


Seketika Anggel teringat akan kebohongannya. Anggel menutup mulutnya yang terbuka dengan


mata yang terbelalak.


 “Sorry...” cicitnya.


Anggel menurunkan tangannya kemudian memasang wajah jutek. “Itu hukuman untuk Kamu.”


 Lana menghela napasnya pelan sambil menundukkan wajahnya.


“Oke, kita lanjutkan pembahasan ini lagi nanti. Sekarang, mari kita solat dulu,” ujar


Lana dengan senyum miring diwajahnya yang penuh arti.


Anggel menelan ludahnya dengan kasar. Kemudian ia mengambil posisi di belakang Lana


untuk melaksanakan solat berjamaah. Setelah solat, Lana memposisikan duduknya


menghadap Anggel. Anggel mencium punggung tangan Lana untuk pertama kalinya


setelah mereka melaksanakan solat berjamah.


 “An,” panggil Lana dengan suara yang rendah dan berat.


 Anggel menundukkan wajahnya sambil memilin mukenanya. “Hmm.”


 “Kamu gak mau minta maaf sama Aku?”


“Maaf, tapi aku terlanjur kesel, hiks ... habisnya Kamu bener-bener jengkelin sih.


Hikss ... Kamu gak tau gimana sakitnya hati aku saat itu.” Anggel sudah


menangis tersedu-sedu.


 Lana menghela napasnya pelan dan meraih tubuh Anggel kedalam pelukannya. “Maafin


Aku. Maafin Aku udah bikin kamu menderita kemarin-kemarin. Aku janji, Aku gak


akan buat kamu mennagis lagi. Maafin Aku.”


Anggel mendongakkan kepalanya. “Kamu gak marah sama Aku?” tanyanya dengan air mata


yang masih membasahi pipinya.

__ADS_1


“Enggak. Aku tau, kamu melakukan ini karena kamu kecewa sama aku kan?”


Anggel menganggukkan kepalanya. “Makasih karena udah gak marah sama Aku.”


Lana tersenyum, “Apa itu artinya kita bisa ehem-ehem sekarang?” tanya Lana dengan


nada yang menggoda.


“Ehem-ehem? Apaan tuh?” tanya Anggel dengan bingung.


 “Itu loh, gantiin malam pertama kita.”


 Anggel membolakan matanya, “Sekarang? Di sini? Di pesawat?”


“Heum, kan beda dari yang lain? Mau yaa....”


Anggel menelan ludahnya kasar. Perlahan ia menganggukkan kepalanya lagi, dari pada


dosa kan ya? Nolak hak nya suami.


Lana membuka mukena Anggel dengan perlahan. Dengan mengucap bismillah, Lana


menempelkan bibirnya yang mana langsung di sambut hangat oleh Anggel. Ciuman


mereka yang perlahan pelan pun semakin lama semakin panas, hingga Lana


mengangkat tubuh Anggel dan membawanya ke atas tempat tidur.


 Lana benar-benar membalas dendam malam pertamanya, tak sedikitpun ia membiarkan


Anggel untuk bernapas dengan lega. Lana terus mencumbui Anggel, menyusu


bagaikan bayi besar yang sangat haus, sehingga meninggalkan bekas cinta di


sekujur leher dan dada Anggel. Anggel brkali-kali memekik setiap Lana mengh*sap


jellinya, sehingga bagian atas Anggel pun entah lepas dan terlempar ke mana.


 Ciuman Lana perlahan semakin turun keperutnya, dan menarik celana yang di kenakan oleh


Anggel serta menyisakan penutup terakhirnya. Lana meraba sedikit bagian itu


sehinga membuat napas Anggel kembali tersendat karena menahan sesuatu yang geli


dan memabukkan.


Saat Lana mulai menurunkan hal yang terakhir itu, Lana mengernyit saat melihat tanda


kecoklatan di sana.


 “An, ini kok ada lendir yang berwarna coklat ya?” tanyanya dengan menunjukkan kain


segitiga itu kepada Anggel.


Anggel yang tadinya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya langsung menatap


apa yang Lana pegang. Dengan cepat Anggel meraih kain kecil yang menggoda itu


dan bangkt dari tidurnya serta berlari menuju ke kamar mandi. Tak lupa Anggel


mengunci pintunya.


“An, kamu baik-baik aja?” tanya Lana dari luar kamar mandi.


 “Ya, Aku baik-baik saja.”


 Anggel pun mengecek bagian bawahnya, benar saja, saat ini ia benar-benar mendapatkan


menstruasinya. Anggel menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan terkikik.


Sepertinya Lana memang mendapatkan kutukan malam pertama.


 *


Lana merasa jantungnya berdetak dengan cepat, ia bukan pria yang muda yang tak tahu


apa arti dari warna coklat yang menempel di kain penutup tadi.


‘Jangan bilang kalo Anggel benar-benar menstruasi.’ Batinnya.


 Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan anggel yang sudah


menggunakan handuk kimono. Wajah Anggel terlihat sendu dan tak berani menatap


wajah Lana.


“An, jangan bilang kalo kamu beneran menstruasi sekarang?” tanyanya dengan sukar.


 Tanpa melihat wajah Lana, Anggel menganggukkan kepalanya, dan itu cukup buat Lana


mendesah frustasi.


 “Ya ampu, kenapa harus sekarang? Padahal sedikit lagi gol, hiks ..” ujar laan


berpura-pura nangis.


 Adil Lana yang berkedut pun langsung menciut, sepertinya ia juga daptat merasakan


apa yang abangnya rasakan saat ini. Adik Lana gagal mendapatkan pijitan


kenikmatan yang terasa sangat hangat.


“Huuuf, berapa lama, An?” tanya Lana.


 “Apa nya?”


 “Berapa Lama biasanya kamu datang bulan?”


 “8 hari.”


“8 hari? Jadi selama 8 hari aku harus kembali bersabar untuk melepaskan kecebongku?”


 Anggel ingin tertawa mendengar kalimat yang Lana lontarkan, namun ia takut lana


tersinggung. Anggel pun hanya menundukkan wajahnya sambil menganggukkan kepalanya.


 “Kamu menertawakan ku?” tanya Lana.


 “Tidak,”


“Lalu kenapa kamu tersenyum?”


 “Apa kamu seorang pangeran kodok?”


 “Kenapa berkata seperti itu?”


“Karena kamu mengatakan calon anakmu kecebong.”


Tawa Anggel pun pecah saat melihat mata Lana melotot kearahnya. Lana nya sungguh


menggemaskan.


“Jangan melotot seperti itu, kamu persis bapaknya kecebong.”


**


 Yuukkk.. follow IG ku..


 IG : Rira Syaqila


 jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


 Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2