
Sebelum berangkat kota B, Veer singgah ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Masih ada 2 jam lagi untuk keberangkatan. Lagipula mereka menggunakan pesawat pribadi milik perusahaan Moza.
Di tempat lain, Nafi sudah kesal dengan Veer. Seenak jidatnya memutuskan menggunakan pesawat pribadi, padahal dia sudah memesan tiket untuk clas VIP.
" Dasar playboy kampret, seenak jidatnya aja membuat keputusan." Gerutu Nafi di dalam mobil.
Nafi menunggu Veer di cafe yang berada di dekat bandara pribadi milik perusahaan Moza. Nafi tidak berhenti menggerutu dan memaki Veer. Hingga Tata merasa kupingnya sudah terasa panas.
Yang di tunggu pun tiba, Veer dengan santai menyapa Nafi dan Tata dengan ramah.
" Apa Anda bisa menghargai waktu orang lain?" kesal Nafi.
Veer menaikkan alisnya sebelah. Kenapa dengan wanita ini, apa dia sedang PMS?.
" Maksdunya?"
Nafi berdiri, " Anda tahu? Saya sudah memesan tiket VIP untuk penerbangan kita, tapi tanpa konfirmasi anda seenaknya saja mengatakan jika kita berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi? Apa Anda tahu seberapa mahal tiket VIP? Itu sungguh membuang uang." Kesal Nafi menggebu-gebu.
Veer terkekeh, Seingatnya dia sudah mengkonfirmasi ini dengan Duda. Untuk menyuruh mengabarkannya kepada Tata. "Orang kaya yang hartanya gak akan habis tujuh turunan mempermasalahkan tentang uang yang hangus?" Veer seakan meledek Nafi.
Tata dan Dedi hanya menjadi penonton atas perdebatan bos mereka. Untungnya Nafi selalu menggunakan privat room, jadi tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
" Apa Anda tau? Uang segitu bisa saya kasih ke orang yang lebih membutuhkan dari pada harus hangus begitu saja. " Nafi sudah kesal, dia melirik arloji di tanganya.
Nafi mengambil tas dan melangkah meninggalkan Veer. Veer menaikkan alisnya sebelah, dia merasa Nafi mirip dengan seseorang. Veer tersenyum miring. " Quin!!"
Veer menatao Dedi. " Maaf Bos, paket saya habis."
Veer menatap tajam kepada Dedi, gara-gara dia, Veer harus mendapatkan keluh kesah Nafisa.
Sesampainya di bandara pribadi, seorang wanita tersenyum ramah dan menegur Veer.
" Hai Veer, eh maaf. Pak Veer."
Veer membalas senyuman wanita yang bernama Lala dengan tak kalah ramahnya. "Hai, panggil Veer aja, seperti biasa."
" Gak enak ah, kamu kan Bos aku"
Terjadi lah obrolan singkat di antara Veer dan Lala. Hingga Nafi berdehem mengintruksi Veer untuk mengakhiri obrolan mereka.
" Aku pergi dulu yaa, sudah mau take off."
" Hati-hati Veer."
Veer tersenyum dan membalas lambaian tangan Lala.
"Lihat, Dasar Playboy kampret'" Bisik Nafi kepada Tata.
Tata tidak tau harus berkata apa. Bos nya ini memiliki masa lalu yang terbilang sulit dalam menjalin hubungan dengan seorang pria. Tata juga tidak tau apa itu, yang jelas, setau Tata, Bos nya itu dulu sangat ramah. Tata sudah ikut bersama Nafi semenjak dirinya SMP, jadi Tata tau sifat Nafi sebenarnya seperti apa. Tapi tidak dengan 2 tahun terakhir ini.
Sesampainya di dalam pesawat, Nafi langsung menutup matanya.
" Dasar pemalas " Gumam Veer yang melihat Nafi lebih memilih tidur dari pada menggunakan waktunya untuk membaca laporan.
Entah kenapa Veer tak bisa lepas memandang Nafi dan Tata. Mungkin karena Veer kesal dengan Nafi yang lebih memilih tidur dari pada membaca laporan yang di berikannya tadi. Veer mengernyitkan keningnya saat melihat Tata menggenggam erat tangan Nafi, bahkan sampai merangkulnya saat lepas landas.
'Jangan-jangan mereka? Ah, itu bukan urusan gue' Veer bergidik negri saat fikirannya membayangkan jika Nafi----
Nafi meminum air mineral yang diberikan oleh Tata. " Makasih Ta" ujar Nafi lembut dan tersenyum manis. Mereka sudah tiba di Bandara Kota B.
__ADS_1
"Sama-sama Non."
Veer melihat senyum Nafi yang sangat lembut kepada Tata. Veer kembali bergidik ngeri.
" Amit.. amit deh.." Gumam Veer.
" Ya Bos?"
" Saya gak ngomong sama Kamu."
Mobil jemputan mereka pun tiba, Dedi duduk di kursi penumpang di sebelah supir. Pastinya setelah memastikan Bosnya masuk dan duduk dengan aman.
" Kamu gak masuk?" Veer melihat Nafi yang terlihat ragu untuk duduk di sebelahnya, sedangkan Tata sudah duduk di kursi penumpang bagian paling belakang.
Nafi naik dan memilih duduk bersama Tata, daripada harus duduk di sebelah Veer. Veer mengendikkkan bahunya. Terserah dia mau duduk di mana, bukan urusan Veer.
Suara kikikan dari belakang membuat Veer penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Veer pun mencuri pandang dari spion depan. Veer kembali bergidik ngeri saat melihat Tata dan Nafi duduk berdempetan sambil berbisik-bisik dan tertawa.
" Dasar aneh.. Lindungi Hamba ya Allah." Doa Veer dalam hati.
" Kalian bisa beristirahat dulu selama dua jam. Kita akan bertemu lagi setelah itu, untuk membahas keberangkatan kita ke Pulau Senja."
Nafi langsung melenggang setelah ucapan Veer selesai, dengan Tata yang mengikutinya sambil membawa koper Nafi dan dirinya. Hingga pihak Hotel mengambil alih barang bawaan Tata.
Nafi sudah membersihkan dirinya, rasanya sangat bosan jika dia harus berdiam diri di dalam kamar selama dua jam. Bukannya Nafi tidak ingin mempelajari berkas yang diberikan Veer saat sebelum mereka berangkat, tapi Nafi sangat lapar, dan dia tidak akan fokus jika perutnya kelaperan.
Ceklek
Tata membuka pintu kamarnya saat ada seseorang menekan Bel.
" Aku mau cari makan, kamu ikut?"
" Okee, istirahat yaa.. Aku pergi dulu. "
" Yakin non pergi sendiri?"
" Iya, kamu istirahat aja yaa.."
Nafi berjalan di koridor hotel. Tubuhnya yang tinggi, langsing dan seksi mengundang para kaum Adam untuk memandangnya dengan lapar. Padahal Nafi tidak menggunakan baju seksi, hanya setelan kaos dan jelana jeans yang pas body aja. Tapi memang Tubuh Nafi yang bagaikan biola, membuat siapapun tak bisa berhenti melepas pandangannya.
"Aaw..." Nafi terpekik saat seorang pria sepertinya sengaja menabraknya dan menumpahkan makanannya hingga mengenai Nafi.
" Maaf, saya tidak sengaja." Pria itu mengambil tisu dan membantu membersihkan baju Nafi.
Plaak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi pria itu.
" Kau??" Pria itu menunjuk ke arah Nafi.
" Apa? Dasar brengsek. &&$-#& " Umpat Nafi dengan segudang makiannya. Tajam bener dah mulut Nafi.
" Dasar jalang." Pria itu melayangkan tangannya kearah Nafi.
" Aaa.." Nafi melindungi wajah nya dengan tangannya.
'Tunggu, kenapa tidak terjadi apa-apa?' batin Nafi.
Nafi menurunkan tangannya, dan melihat jika Veer sudah mencengkram kuat tangan pria itu. Terlihat dari otot-otot tangan Veer yang bangun.
__ADS_1
Buug...
Dalam sekali gerakan Veer menghempaskan tangan pria itu dan memukulnya hingga tersungkur. Manajer hotel langusng mendatangi Veer dan Nafi.
" Maaf Tuan, apa yang terjadi?"
" Bagus kamu datang, wanita dan pria ini harus kamu usir dari hotel ini."
Manager tersebut langsung menelan ludahnya. 'Apa-apaan anak dari direktur hotel ini, apa dia tidak tahu siapa pemilik hotel ini? Pemiliknya ya Tuan Muda Veer, dan ayah pemuda itu hanya bawahan. Ingat, bawahan.'
" Maaf Tuan, tapi kami tidak bisa__"
" Apa kamu mau aku pecat?" Ujar Pria itu galak.
Veer menaikkan alisnya sebelah. Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak dan memamerkan kekayaannya.
" Pecat saja, dan panggil direktur kalian sekalian. Dan pecat manajer ini di depan saya." Ujar Veer menantang pria itu.
" Kau tidak tau siapa aku? Baiklah." Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ayahnya.
Manager sudah keringat dingin dan panik. Bagaimana jika dirinya benar-benar di pecat?. mau makan apa anak dan istrinya, mana lagi hamil tua.
" Ada apa ini?" Suara pria paruh Baya memekakkan telinga.
" Ayah, pecat manager ini, dan usir pria dan wanita ini. Mereka sudah mempermalukan aku ayah." Ujar pria itu manja.
Pria paruh baya itu awalnya ingin marah, namun saat melihat wajah Veer, pria paruh baya itu langsung menelan ludahnya kasar dan membungkukkan tubuhnya di hadapan Veer.
" Tuan V-Veer" Ujar Pria paruh baya itu bergetar.
" Aku yang akan memecat mu? Atau kau akan mengajari anak mu sopan santun." Terdengar suara Veer sangat dingin dan menakutkan.
Nafi yang mendengarnya juga merasa merinding. Bisa juga playboy ini menyeramkan.
" Maafkan perlakuan anak saya. Maafkan anak saya, maafkan saya." Pria paruh baya itu beralih menatap sang anak. " Cepat minta maaf Jojo." Perintah Pria paruh baya itu.
" Ayah, dia?"
" Apa kau tau? Beliau pemilik hotel ini." Geram sang Ayah.
Pria bernama Jojo itu membelalakkan matanya. " Maafkan saya tuan. maafkan saya, jangan pecat Ayah saya. Maafkan saya." Ujar Jojo sambil membungkukkan tubuhnya.
" Saya tidak mau ini terulang kembali. Saya tidak ingin mendengar kabar pelecehan seperti ini lagi."
Veer membuka jasnya, dan membungkus tubuh Nafi. Awalnya Nafi menolak, namun Veer menggenggam erat bahu Nafi dan membawanya pergi dengan merangkul Nafi.
Nafi sudah mengepalkan tangannya erat, hingga buku-buku tangannya memutih. Rasanya dia ingin menghempas tubuh Veer, tapi dia tahu, jika itu akan membuat harga diri Veer jatuh. Nafi tidak sekejam itu.
Sesampainya di depan kamar, Nafi langsung menghempas tangan Veer kasar hingga jas yang berada di bahunya pun ikut terjatuh. Air mata Nafi tiba-tiba saja mengalir mulus di pipinya, Veer tercengang melihat itu.
" Jangan pernah menyentuh aku. Aku jijik dengan kalian, dasar pria brengsek."
satu kalimat makian Nafi membuat jantung Veer berdebar kuat. " jijik? Brengsek?" Beo Veer setelah pintu kamar hotel tertutup dengan bantingan yang kuat.
IG ; RIRA SYAQILA
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan. Salam KeSar..