
Hai readers.. Seperti janji aku kemarin, Novel tentang Bara dan Sasa udah update ya.. Yukk buruan mampir ke lapak Bara dan Sasa.
Kalo udah mampir, jangan lupa like dan tinggali jejak yaa..
Salam SaBar ( Sasa Bara )
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arka memeluk tubuh istrinya itu. Tangis Kesya seketika pecah saat para pria kaya itu meninggalkan ruangan Arka. Papi Farel tidak bisa berkata apa-apa, selain meminta maaf kepada Kesya.
" Sayang, sudah ya nangisnya. Atau kamu mau pulang?"
Kesya menganggukkan kepalanya. Air matanya masih terus saja mengalir. Entahlah, Kesya hanya ingin menangis saat ini.
Arka sudah menghubungi Sasa agar tidak perlu kekantornya lagi. Arka masih memeluk Kesya saat berada di dalam mobil. Kesya masih sesenggukan. Tiba-tiba suara Kesya membuat Arka terkejut dan ingin tertawa, tapi ditahan karena takut Kesya makin ngambek.
" Sayang, batagor yang di beli Fadil untuk Sasa katanya enak, aku pingin makan"
" Ya udah, kita ke sana ya"
Arka menyuruh Duda untuk singgah ke batagor pinggir jalan namun rame pembeli itu.
" Mau makan di sini ya" ujar Kesya dengan wajah berbinar.
Arka pun menganggukkan kepalanya. Setelah puas makan batagor, mereka kembali pulang. Namun tiba-tiba gantian Arka yang kepingin memakan mangga. Arka pernah memakan mangga tersebut yang saat ini diinginkannya itu di rumah Roy. Mangganya terlihat muda dan mengkal, tetapi saat dimakan rasanya manis, dan seperti bertepung seakan sedang memakan ubi mentah. Tapi rasanya sangat enak, Arka menyukainya.
Duda terpaksa mencari penjual mangga, tapi sayangnya tidak ada yang menjual mangga yang rasanya seperti ubi. Walaupun mengkal, tapi tidak asam.
"Maaf Bos, saya jadi bingung. Jadi saya beli semua nya" Ujar Duda dengan wajah yang penuh keringat.
" Maksdunya?"
" Mangga yang Bos cari, beda-beda namanya. Ada yang bilang itu mangga manalagi, ada yang bilang mangga harum manis, dan ada yang bilang mangga apel. Jadi saya bingung yang mana mangganya, jadi saya beli semua mangga yang disebutkan tadi" Ujar Duda panjang lebar.
" Ya udah, sekarang kita pulang aja, nanti sampai rumah kita liat yang mana mangganya." Ujar Arka.
Jodi sudah menahan senyum di sebelah Duda, penampilan Duda benar-benar sudah basah dengan mandi keringat.
Sesampainya di rumah, Arka langsung menyuruh Maid untuk memotong satu persatu mangganya, dan tiap mangga di pisahkan di piring yang berbeda, serta di berikan tanda pada potongan mangga, agar Arka tau, mangga yang mana yang sesuai dengan seleranya.
Arka mengernyitkan keningnya, saat memakan mangga yang pertama, yang katanya mangga harum manis.
__ADS_1
" Bukan"
Arka mengambil sample mangga ke dua, yang bertuliskan mangga apel. Tapi hasilnya sama, tetap rasanya asam dan kecut.
" yaakkchhh aseenmm" ujar Arka sambil memicingkan matanya.
Kesya mengernyit saat Arka memasukkan mangga tersebut kedalam mulutnya, kesya yang tidak makan saja mangga itu sudah bisa merasakan bagaimana asamnya mangga itu. Cukup dari baunya saja sudah ketahuan.
" Ini yang terakhir, mangga manalagi,"
Dengan semangat Arka memasukkan potongan mangga kedalam mulut, hasilnya tetap sama. Asam dan kecut. Arka menyuruh maid memanggil Duda.
Duda dengan jantung yang sudah bertalu kencang dan berwajah pucat berdiri di hadapan Arka.
" Saya Bos"
" Habiskan semua" Ujar Arka dingin.
" Hah? Sa--saya Bos?"
Arka menganggukkan kepalanya. Duda sudah menelan ludahnya, dengan gemetar dia mengambil mangga yang bertuliskan harum manis, berharap rasa mangganya semanis namanya. Namun sayang, Duda harus mengernyit keaseman pada gigitan pertama. Karena takut dengan Bos, Duda terpaksa mengunyah dan menelan mangga harum manis yang manisnya masih nyangkut di Hongkong. Dengan tangan terkepal akhirnya Duda berhasil menghabiskan satu potong mangga harum manis sialan.
Arka memandang Duda dengan tatapan sinis. Duda kembali menulan ludahnya.
" Makan itu" Tunjuk Arka ke potongan mangga yang bertuliskan Mangga Mana apel.
" Yang terakhir, kamu habiskan" Ujar Arka dingin.
Duda melihat namanya, Mangga Manalagi, semoga saja hasilnya benar-benar 'Mana Lagi'. Dan ternyata Duda kembali salah, dia benar-benar merasakan rasa asem yabg berbeda dari setiap mangga, dan membuat lidahnya sudah tidak tahan lagi karena keaseman yang terasa.
" Bagaimana? Apa sesuai dengan yang aku katakan?" Tanya Arka dingin.
" Maaf Bos, saya akan menghajar si penjual yang sudah membohongi anda."
" Tidak perlu. Setidaknya kamu sudah merasakan apa yang saya rasakan saat memakan mangga-mangga itu."
Arka berdiri dan meninggalkan Duda yang masih mengernyit keaseman. Arka meraih tangan Kesya, dan memeluk pinggang Kesya dengan posesif.
" Harus mangga yang kamu maksud itu? "
" Hmm, Mas akan menelpon Roy, dan menanyakannya."
Di seberang panggilan, Roy sudah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Arka. Jelas saja semua mangga yang dimakannya tadi tidak akan sama dengan mangga yang dimakannya saat di rumah nya dulu. Saat tujuh bulan istrinya.
__ADS_1
" Kau beruntung Ar, kebetulan di kampung ibuku sedang musim mangga itu. Namanya Mangga Indramayu, atau Mangga cengkir, pelesetannya sering orang bilang cengkeh." Ujar Roy dengan tawa yang masih terdengar.
" Aku akan kerumah ibu mu. Kapan kau ada waktu."
" Aku tidak bisa dalam waktu dekat ini, karena ada kontes di radio. Jika kau mau, aku akan mengatakannya kepada ibuku"
" Baiklah, katakan jika aku akan datang kesana minggu ini"
Arka memutuskan panggilannya sepihak setelah menyampaikan maksdunya. Arka menggigit kuku jarinya, merasakan keinginannya yang harus tertunda. Hari ini sudah Kamis, rasa nay menunggu hari Minggu sungguh sangat lama sekali.
" Sayang, kamu kenapa?" Tanya Kesya saat melihat Arka yang duduk di pinggir temoat tidur, menggigit kukunya, sambil menggoyang-goyanggkan kakinya seperti sedang menjahit.
" Aku menunggu hari Minggu, rasanya sangat lama sekali" Ujar Arka dengan suara yang terdengar seperti seakan ingin menangis.
'Seingin itukah jika ngidam?' batin Kesya. Karena Kesya tidak merasakan mual, ataupun mengidam saat kehamilannya yang dulu.
Yang Kesya bisa lakukan saat ini adalah memeluk suaminya, dan memberikan kecuoan-kecuoan kecil di rahangnya.
" Sayang" Panggil Arka dengan suara yang mulai terdengar berat.
" Hmmm" Kesya masih saja menciumi rahang dna leher Arka. Hingga akhirnya Kesya mendorong tubuh Arka hingga tertidur, dan Kesya memulai aksinya.
Kehamilan Kesya kali ini lebih mendominan dirinya untuk melakukan hal yang menyenangkan di tempat tidur bersama sang suami.
Di tempat lain, Puput terpaksa menemani Ando untuk melihat gaun pengantinnya. Puput tidak bisa menolak, karena ada Tante Ana yang membujuknya. Puput sudah memberikan kabar ke Fadil, dengan terpaksa Fadil memberikan izin kepada Puput.
" Ini cantik bagus gak Put? sesuai dengan selera kamu gak?" Tanya Tante Ana.
" Bagus sih Tante, tapi bukan selera Puput"
" Kalo gitu coba deh kamu pilih satu, yang mana menurut kamu sesuai dengan selera kamu"
Puput mencari satu gaun yang indah, berwarna baby blue. Tante Ana setuju dengan pilihan Puput, begitupun dengan Ando.
" Coba deh kamu pakai, Tante mau lihat"
Dengan terpaksa Puput mencoba gaun tersebut, dan gaunnya sangat pas sekali di tubuh Puput. Ando bersorak bahagia di dalam hati. Tante Ana memandang Ando dengan senyum yang lebar, tetapi di dalam hati berkali-kali meminta maaf kepada Puput. Jika kakeknya tau Ando akan melakukan hal selicik ini, kakeknya akan menarik semua aset yang telah di berikan nya. Tante Ana tidak ingin melihat Ando semakin terpuruk. Cukup sekali Tante Ana melihat Ando terpuruk dan drepesi.
.
.
Hai readers...
__ADS_1
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.