
Hai readers.. Jangan lupa mampir yaa ke lapak Bara dan Sasa..
Kalo udah mampir, jangan lupa like dan tinggali jejak yaa..
Salam SaBar ( Sasa Bara )
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Arka sudah datang. Pagi-pagi Arka sudah bersiap untuk pergi kerumah orang tuanya Roy.
" Sayang, cepetan " Ujar Arka.
" Iya sayang, ini udah siap kok." Kesya keluar dari kamar dengan menggunakan baju casualnya.
Rumah orang tua Roy berada di Bogor. Maka dari itu selepas solat subuh Arka dan Kesya sudah bersiap, begitupun dengan Duda dan Jodi.
Duda yang sudah standby langsung membukakan pintu untuk Arka, sedang Jodi membawa barang bawaan Kesya dan Arka. Duda membawa mobil dengan kecepatan sedang, berhubung masih subuh, Arka membuka jendela dan menikmatinya udara suhuh yang menerpa wajahnya.
Setelah menempuh waktu sekitar 3 jam yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 2 jam, Akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Roy. Salahkan Duda yang salah mengambil jalan saat mengikuti arahan Gogo Map. Arka sudah sangat kesal dengan Duda. Lihat saja, Arka kan mengerjai Duda. Seringai licik Arka pun muncul saat menatap Duda. Duda hanya bisa menelan ludahnya kasar, sedangkan Jodi hanya mampu mengelus punggung Duda.
" Wah, nak Arka sudah sampai. mari masuk." Ujar Pak Ali, ayah nya Roy.
Arka mencium punggung tangan Pak Ali, begitupun dengan Kesya. Tak berapa lama keluar lah wanita manis yang sudah paruh baya, Bu Aisyah, mama nya Roy.
" Duh, nak Kesya ini makin cantik aja. " Ujar Bu Aisyah dan mencium kedua pipi Kesya. " kamu juga Nak Arka, makin ganteng semenjak punya istri"
" Makasih buk"
" Ayo masuk, kalian sudah sarapan?
" Sudah buk, tadi di jalan" Jawab Arka sopan.
" Yah, padahal ibu sudah masak Nasi goreng ikan Asin loh"
Tetiba Arka menelan ludahnya, Nasi Goreng Ikan asin buatan Bu Aisyah memang sangat Mak nyos.
" Boleh deh Buk, saya kok jadi lapar dengernya" Ujar Arka.
Buk Aisyah tersenyum lebar, dan menyuruh Arka dan Kesya Masuk, begitupun dengan Duda dan Jodi. Arka tidak keberatan jika harus berbagi meja dengan Duda dan Jodi, saat sarapan tadi, mereka juga makan berempat di meja yang sama. Inilah salah satu sifat Arka yang di senangi oleh Duda dan Jodi, ada saatnya mereka di perlakukan seperti seorang teman.
Duda yang memang doyan makan, menghabiskan hingga 3 Piring, sedangkan Arka sudah menyeringai jahil melihat Duda. Nasi goreng buatan Buk Aisyah memang sayang untuk tidak di habiskan, kapan lagi bisa makan nasi goreng ikan asin. Mana ikan asinnya lembut banget dagingnya, terus rasa asinnya itu pas di mulut. Bumbu nasi gorengnya sepertinya juga di tambah terasi. Wah, maknyus lah pokoknya. Di temani dengan minuman Teh hangat yang dari aromanya saja sudah sangat nikmat. Eemm, Jiwa kesadaran Duda jika sudah dihadapkan dengan sesuatu yang lezat. Masih ingatkan dengan kopi buatan Mami Shella, yang tanpa malu Duda meminta di buatkan kopi.
" Gimana? Enak?" Tanya Buk Aisyah.
" Enak banget buk, saya sampai lupa diri, habis 3 piring. He..he..he" Ujar Duda tanpa malu.
" Alhamdulillah kalo Nak Duda suka"
" Oh ya buk, pohon mangganya sebelah mana ya?" Tanya Arka langsung, karena dia sudah tidak tahan untuk memakan mangga cengkeh tersebut.
" Di belakang, ayok" Ajak Pak Ali.
Kesya, Arka, Duda, dan Jodi pun mengikuti Pak Ali ke halaman belakang rumah mereka. Rumah orang tua Roy memang tidak besar, walaupun sudah di rehab oleh Roy, namun orang tua Roy mengatakan untuk tidak memperbesar rumah mereka, karena hanya ada mereka berdua di rumah. Tapi jika anak, cucu, dan menantu pulang, ada satu ruangan besar tanpa sekat yang memang sengaja di sediakan untuk tempat berkumpul dan tidur bersama di sana. Agar lebih dapat keakrabannya.
Mata Arka berbinar saat melihat mangga-mangga yang bergantungan di pohonnya. Langsung saja Arka melihat ke arah Duda. Duda yang di berikan tatapan laser bak superman pun langsung menelan ludahnya kasar.
" Tunggu apa lagi?" Tanya Arka.
" Saya yang manjat Bos?"
" Lalu? saya?"
" Gak Bos, biar saya aja"
__ADS_1
Duda mengelus Dada hingga perutnya, merasakan kekenyangan yang luar biasa, dan sekarang harus memanjat pohon mangga yang besar dan tinggi. Jodi hanya menatap iba kepada Duda, dia hanya bisa membantu dengan doa.
Arka sangat antusias saat Dodi melemparkan satu rangkai mangga kepada Jodi. Tanpa mengupas kulitnya dan langsung mencuci satu buah mangga hingga bersih, Arka langsung menggigit mangga tersebut.
" Eemmm, nikmat banget" Ujar Arka dengan mulut yang penuh dengan gigitan mangga.
Duda merasa puas melihat wajah Bos nya itu terlihat sangat bahagia. Karena penasaran, Duda ikut memakan satu buah mangga yang baru dianpetik, dan menggigitnya langsung dengan berbekal membersihkan mangga dengan melap nya di baju.
Kletak..
" Wooow, benar-benar manis. " Sorak girang Duda dari atas pohon.
Arka menatap Duda dari bawah, melihat Duda yang sangat menikmati makan mangga di atas pohonnya. Bertengger di dahan sambil menikmati tiap gigitannya.
" Mas mau ngapain?" Tanya Kesya saat sudah melihat Arka membuka sepatunya.
" Mau manjat"
"Buat apa? Kan udah ada Bang Duda"
" Lihat deh, enak banget kan dia makan di atas pohon, Mas pingin juga"
" Ya Ampun Mas, emangnya Mas bisa manjat pohon?"
" Tinggal manjat aja, apa susah nya sih. Ya udah, Mas mau manjat ya, kamu doa in agar Mas gak jatuh ya" Ujar Arka dan mengecup kening Kesya.
Kesya hanya melongo melihat suami nya itu berusaha untuk memanjat pohon mangga.
" Bapak mau ngapain?" Tanya Duda dari atas saat melihat Jodi sudah berjongkok dan siap menahan bobot tubuh Arka.
" Mau nyusul kamu" Ujar Arka enteng.
" Salah gue apa lagi kali ni?" Gumam Duda.
" Cepat, ambilin saya mangga satu" Titah Arka.
Dengan gugup Duda mengambil satu buah mangga dan memberikannya kepada Arka.
" Kamu makannya gak di cuci dulu?" Tanya Arka.
" Saya bersihi di baju aja Bos"
" Kalo gitu bersihi nih"
Dengan menahan kesal Duda mengambil buah mangga tangan Arka dan membersihkannya di bajunya. 'Untung baju gue cuma 50 ribu' Batin Duda.
Kletak.
Arka menggigit buah mangga muda itu. Arka sangat antusias saat merasakan nikmatnya makan langsung di atas pohonnya.
" Kamu kok gampang banget sih manjatnya tadi" Tanya Arka sambil menikmati tiap gigitan di mulutnya.
" Di kampung permainan saya ya manjat pohon Bos, Pohon mangga, Jambu, rambutan, cuma pohon toge aja yang saya gak sanggup panjat Bos, takut jatuh saya kalo panjat pohon Toge."
" Ya kamu nya aja yang gila kalo panjat pohon toge, secara toge gak ada pohon nya"
" He..hee...he.., canda Bos biar lucu."
" Nak Arka, Nak Duda, Ayo turun, kita makan siang dulu" Ujar Pak Ali.
" Ya pak" Serentak Arka dan Duda.
" Kamu turun duluan, saya mau lihat cara kamu turun" titah Arka.
" Siap Bos"
__ADS_1
Duda pun dengan perlahan melangkahkan kakinya di tiap dahan pohon hingga sampai ke bawah. Arka memperhatikannya agar bisa mengikuti cara Duda.
" Duda, ini gimana? Ke mana lagi?" Teriak Arka,
" Kaki kirinya ke dahan yang itu Bos" Teriak Duda.
" Duda, kaki saya gemetar, gimana ini. Saya gak bisa turun" Teriak Arka.
Duda dan Jodi berpandangan, ingin ketawa takut di pecat.
" Apa perlu saya naik keatas dan saya gendong Bos?" Teriak Duda.
" Kamu fikir saya anak kecil. Cepat cari tangga, saya sudah gemetaran ini gak bisa gerak" Teriak Arka.
Kesya yang tadinya di dalam bersama Buk Aisyah, mendengar suara teriakan Arka dan Duda pun akhirnya keluar, melihat apa yang terjadi.
" Ya Allah Mas, ngapain gelantungan gitu?" Pekik Kesya.
" Key, Mas gak bisa turun ini, kamu Doain Mas ya, Agar gak jatuh"
Kesya menganggukkan kepalanya, dan kemudian berdoa agar suaminya baik-baik saja.
Pak Ali, Duda, dan Jodi kembali dengan membawa tangga yang di pinjam dari tetangga nya.
" Ayo Bos, turun" Teriak Duda.
" Gimana Cara nya?"
" Kaki nya Bos yang di turunin. ayo Bos, kamu pasti bisa" Teriak Duda.
" Duda, bantuin Saya, saya gak bisa gerak ini" Teriak Arka.
Wajah Arka sudah pucat dan keringat dingin sudah bercucuran hingga membasahi seluruh baju Arka. Duda menaiki tangganya, sedangkan Jodi dan Pak Ali memegang tangga.
" Ayo Bos, pelan-pelan" Ujar Duda saat sudah sampai di atas.
" Kamu pegangi saya, awas, jangan sampai jatuh" Ujar Arka dengan bergetar.
Dengan berpegangan dengan Duda, akhirnya Arka bisa turun secara perlahan dengan menggunakan tangga.
" Alhamdulillah, " Ujar Kesya saat Arka langsung memeluk tubuhnya. " Kamu sih Mas, gak pernah manjat pohon sok-sokan"
" Aduh sayang, jangan marahi aku dulu ya. Masih gemetar ini" Ujar Arka merebahkan kepalanya di bahu Kesya.
Di rumah Pak Ali, terdapat lesehan bambu di bawah pepohonan antara pohon jambu dan pohon mangga. Jadi Pak Ali menyarankan agar makan di lesehan tersebut, agar terasa segar dan lebih nikmat.
" Waah, saya jadi keingat masa kecil saya pak" Ujar Duda.
" Kenapa masa kecil kamu?" Tanya Arka.
" Waktu kecil, saya dan teman-teman sering makan di bawah pohon, kadang kami sampai manjat pohon dan memakannya di atas sana. seruu"
" Iya, saya juga Bos, dulu masih kecil-kecil sering makan di atas pohon juga."
" Kalo di kampung mah itu sudah biasa di lakukan oleh anak-anak."
Arka hanya mendengus kesal, rasanya ingin kembali kecil dan menikmati masa-masa hidup bermain dengan alam. Sedangkan Arka, masa kecilnya di habiskan dengan Belajar, dan mainan mahal.
.
Hai readers...
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.
__ADS_1