
"Tidak ... Jangan ... Lepaskan ... Tidak ... TIDAAAAKKK ..." teriak Nafi sambil terduduk dan memberontak.
"Sayang ... Tenanglah." Veer mencoba menenangkan Nafi, namun Nafi malah mendorong tubuh Veer.
"Jangan mendekat ... brengsek ... Pergi ... pergi ..." Nafi turun dari tempat tidurnya. Ia berlari ke kamar mandi, dan menguncinya dari dalam.
Nafi membuyur seluruh tubunya, karena merasa jijik. Bayangan itu kembali lagi muncul kedalam benaknya.
"Aaa ... menjijikkan ... Aaa ..." Teriak Nafi sambil mencakar seluruh tubuhnya. Menggosok mulutnya hingga muntah, seolah ingin mengeluarkan apa yang pernah di telannya.
"Nafi ... Buka pintu nya sayang ... ini aku, Veer ..."
Nafi masih berteriak tanpa memperdulikan ucapan Veer yang meminta pintu di buka. Veer yang tak sabar akhirnya Mendobrak pintu itu hingga terlepas engselnya.
"Sayang ..."
Veer melihat mulut Nafi yang sudah berdarah akibat Nafi mencakarnya. Tubuh Nafi juga sudah memerah akibat cakaran kukunya.
"Pergiii ..." Teriak Nafi dan melemparkan gayung kepada Veer.
Untungnya Veer cepat mengelak. Ia langsung menarik Nafi dan memeluk tubuh istrinya itu.
"Lepas brengsek ..." Berontak Nafi.
Tak berapa lama Om Leo datang dan langsung menyuntikkan obat penenang kepada Nafi.
"Om .." Pekik Veer saat melihat Nafi di suntik dan tak berapa lama tubuhnya lemas tak berdaya, hingga matanya kembali tertutup.
"Tenanglah ..."
Veer langsung membopong tubuh Nafi, dan kembali ke kamar. Semua orang keluar kecuali Quin yang juga ikut berlari saat mendengar laporan dari pengawal yang menjaga pintu ruang inap Nafi, di mana Nafi sudah sadar dan mengamuk.
"Aku akan membantu menggantikannya baju."
*
Papa Arka yang mendapatkan kabar jika Nafi sudah sadar dan mengamuk pun langsung mengajak Mama Kesya untuk berangkat ke rumah sakit.
Mama Ayu sudah menjerit histeris saat mendapatkan kabar jika Riki telah keluar dari penjara, dan ingin mencelakai Nafi kembali.
"Anak kita Pa ... Hiks .. Anak kita ... Huaaa ...." Mama Ayu menangis sambil memukul dada nya yang terasa perih.
Ingatan Mama Ayu saat Nafi baru saja mengalami pelecah tersebut kembali. Melihat penampilan Nafi yang berantakan dan hanya mengenakan jas yang di berikan oleh pengawal pun membuat hati Mama Ayu tercabik-cabik.
"Gimana ini Pa? Kenapa Si brengsek itu bisa lepas? hiks ..."
"Papa juga gak tau Ma. Papa sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Mama tenang yaa, kita harus ke rumah sakit sekarang."
"Hiks ... iya Pa .."
*
Quin memandang wajah Nafi. Memang tak ada satu orang pun yang tahu apa yang telah di lakukan oleh Riki kepada Nafi. Pengawal yang menyelamatkan Nafi pun hanya mengatakan jika Riki hampir saja memasukinya.
"Apa yang terjadi Naf? Kenapa kamu sampai seperti ini?" Quin membelai wajah Nafi yang terluka akibat dirinya sendiri.
Sudut bibir Nafi robek, pipinya terkena cakaran. Leher, dada, perut, paha, hampir seluruh tubuh Nafi terdapat cakaran. Quin menghela napasnya pelan.
"Sayang ..."
Quin menoleh saat Mama Kesya menegurnya.
"Ma." Quin bangkit dan mencium tangan Mama Kesya. Quin juga memeluk Mama Kesya dan mencium pipi nya.
"Gimana Nafi?"
"Hmm ... Masih tidur."
Mama Kesya menggenggam tangan Nafi, setets air mata Mama Kesya jatuh membasahi Pipi.
"Nafi ..." Pintu terbuka dan menampilkan Mama Ayu yang sudah berlinang air mata dan berlari memeluk Nafi yang masi setia menutup matanya.
"Mbak Ayu, yang sabar ya ..." Mama Kesya mengusap punggung Mama Ayu.
"Mbak ... Hiks ..." Mama Ayu beralih memeluk Mama Kesya.
Papa Danu dan Papa Arka pun masuk berbarengan bersama Veer. Nafi masih di bawah obat penenang yang di suntikkan oleh Om Leo.
Veer mendekat kearah Nafi, dan menggenggam tangannya erat.
"Sayang, Bangun ..."
Veer mengecup punggung tangan Nafi dan menempelkannya pipinya.
Quin sudah berbalik badan, namun saat mendengar erangan Nafi, Quin kembali berbalik.
"Sayang ..." Panggil Veer.
Nafi perlahan membuka matanya, pertama kali yang di lihatnya adalah Veer. Spontan saja Nafi terduduk dan berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Veer.
Nafi meneteskan air matanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Pergi kamu, Hiks... Jangan sentuh Aku ... hiks ... Pergi ..."
Tangis Mama Ayu kembali pecah dalam pelukan Mama Kesya. Quin menarik Veer pelan untuk mundur. Saat Quin berada di dekat Nafi, Nafi langsung menarik Quin dan memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Suruh dia pergi Qila, Hiks ... Suruh dia pergi ... Hikss ... Suruh mereka semua pergi ..."
Quin menghela napasnya pelan. Quin pun memberi kode kepada Veer dan Papa Arka untuk keluar dari ruangan Nafi. Veer menghela napasnya pelan.
"Sayang ..." Panggil Veer lagi, mencoba agar Nafi mau menerima uluran tangannya.
"Aku mohon, pergilah ... Hiks ..."
Veer menghela napasnya pelan, ia pun meluruhkan bahu nya dan keluar dari ruang inap Nafi.
"Hei, tenanglah ... " Quin mengelus punggung Nafi.
"Apa salah ku? Hiks ... Kenapa tak sekalian saja membunuh ku? Hiks ..."
"Sayang, jangan berbicara seperti itu ..." Mama Ayu berlari dan memeluk Nafi.
"Ma, bajingan itu kembali ... hiks, dia kembali ..."
"Iya sayang, Veer, Papa, dan Papa Arka akan memberikan nya pelajaran."
"Veer?" Seru Nafi.
"Ya, Veer, suami kamu."
"Suami?"
Quin dan Mama Kesya langsung saling pandang. Apakah trauma yang di alami Nafi membuat sebagian memorinya hilang?
"Iya sayang, suami. Kamu sudah memiliki suami. Kamu sudah menikah. Lihat !!" Mama Ayu menunjukkan cincin yang di kenakan oleh Nafi.
"Menikah? Aku? Kapan?"
Mama Ayu merasa bingung dengan ucapan Nafi.
"Nafi, Kamu tau siapa Gadis di sebuah kamu?"
Nafi mengangguk. "Dia Qila, sahabat rahasia ku."
Quin menghela napasnya, sepertinya dugaan Quin benar. Trauma yang berat bisa membuat sebagian ingatan Nafi menghilang.
"Kamu tau siapa saya?" Tanya Mama Kesya menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Nyonya Arka."
Mama Kesya tersenyum dan berjalan mendekat kepada Nafi. Di genggamnya tangan Nafi.
"Sekarang, Nyonya Arka ini sudah menjadi mertua kamu. Dan Qila, adalah adik ipar kamu."
"Mertua? Adik ipar?"
Tak berapa Lama Leo masuk dengan beberapa perawat. Nafi terlihat sedikit ketakun.
"Ma, bisakah aku menggunakan jasa dokter perempuan?"
Om Leo menaikkan alisnya sebelah. Tak berapa Lama Anggel dan Lucas masuk untuk melihat keadaan Nafi.
"An, bisakah kamu menerima Nafi?"
Anggel mengerutkan keningnya, kemudian melihat kode mata Quin, Anggel pun mengangguk dan memeriksa Keadaan Nafi.
"Hai Naf, gimana keadaan kamu, apa yang kamu rasakan?"
"Saya baik dok, cuma sedikit pening."
Anggel menghentikan pergerakan tangannya. Ia melirik kearah Quin, dan dengan memberikan bahasa isyarat menggunakan jarinya, Anggel mengerti.
"Nafi, apa kamu ingat siapa aku?"
Nafi menggeleng. Om Lucas pun langsung menanggapi apa yang di derita oleh Nafi.
"Baiklah, apa yang terakhir kali kamu ingat?"
Nafi terlihat berfikir. "Aku sedang menaiki boat bersama Taya dan dua orang pria. Salah satu pria itu tadi berada di dalam kamar ini. Dan kemudian boat tersebut goyang sehingga membuat aku terjatuh kedalam laut."
Semua nya menghela napas, mereka tahu kejadian itu. Kejadian itu terjadi sebelum Veer dan Nafi menikah.
"Pria yang kamu maksud tadi adalah Veer?" Tanya Quin.
"Iya, Tuan Veer."
Anggel telah selesai memeriksa keadaan Nafi.
"Om, kita butuh Dokter Dina."
Om Leo menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menyarankan agar membiarkan Nafi beristirahat.
"Qila, bisa kah kamu menemani ku?" Pinta Quin.
"Tentu ..."
Seluruh keluarga keluar dari ruang inap Nafi. Sesampainya di luar, Veer langsung bertanya bagaimana keadaan Nafi kepada Om Leo.
"Nafi memiliki trauma yang berat. Ia kehilangan memorinya sebagian. Dan memori itu adalah, tentang kamu."
Veer merasa lemas, bagaimana bisa Nafi melupakan dirinya.
__ADS_1
"Aku mau lihat Nafi." Veer berusaha masuk ke ruang inap Nafi, namun di larang oleh Lucas.
"Jika kamu tidak ingin membuat Nafi semakin strees, maka kamu harus mendengarkan nasehat kami. Nafi memiliki trauma yang berat, dia baru saja sembuh dari trauma itu, dan saat ini trauma itu kembali bersama dengan kembalinya bajingan itu."
Veer mengeraskan rahangnya, tangan Veer juga sudah mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Lucas benar, ini semua karena bajingan itu kembali. Semua ini salah bajingan bernama Riki itu. Veer harus memberikan pelajaran yang berat untuknya.
*
Quin baru saja menyuapi Nafi makan. Dan itu pun atas rayuan Quin yang begitu keras kepala.
"Qila, bisakah aku bertanya?"
"Tentu."
"Eem, apa ... Apa benar jika aku sudah menikah?"
Quin tersenyum, "Ya, kamu sudah menikah."
"Dengan Tuan Veer?" Tanya Nafi dengan wajah memerah.
"Iya, dan kalian saling mencintai?"
"Benarkah?"
"Hmm, Kamu mencintai Veer, begitu pun dengan Veer."
"Lalu, kamu siapanya Veer?"
"Aku?"
Nafi mengangguk.
"Aku adalah adik ipar kamu, lebih tepatnya aku adalah kembarannya Veer "
Nafi membolakan matanya. "Kamu kembaran Tuan Veer? Jadi, jadi kamu adalah Quin? Wanita misterius itu?" Tanya Nafi terkejut.
"Ya, aku Quin. Dan Aku merindukan kamu memaggilku dengan sebutan Quin."
"Aku tidak percaya. Ternyata Aku bisa berteman dengan wanita hebat itu."
"Wanita hebat?"
"Hmm ... Aku pernah dengar, jika Quin itu adalah wanita yang hebat. Menuruni kepintaran Tuan Arka, dan juga kelembutan hati Nyonya Arka."
Quin terkekeh. "Aku tidak sehebat itu."
"Quin, bisakah kamu menceritakan tentang pernikahan ku dan Tuan Veer?"
"Kamu yakin ingin mendengarnya dari aku? Apa kamu tak ingin mendengarnya dari Veer sendiri?"
"a-aku malu, tapi juga belum siap bertemu dengannya."
"Baiklah, dengarkan ya ..."
Quin pun menceritakan tentang kisa percintaan Nafi dan Veer. Setidaknya Nafi melupakan sedikit kenangan buruk nya. Dan Quin berhasil mengalihkan fikiran Nafi dari masa lalunya.
*
"Bagaimana keadaan Nafi?" Tanya Abi.
"Kurang baik, Nafi melupakan kenangannya bersama Veer. Nafi mengidap amnesia disosiatif."
Amnesia disosiatif merupakan salah satu bagian dari kondisi yang bernama gangguan disosiatif (atau dikenal juga dengan sebutan kepribadian ganda). Adapun gangguan disosiatif adalah penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas, dan/atau persepsi.
Amnesia disosiatif terjadi ketika seseorang memblokir informasi tertentu. Biasanya berupa kejadian yang berhubungan dengan trauma psikologis atau stres. Hal ini membuat dirinya tidak mampu mengingat poin-poin informasi yang sebenarnya penting.
Jenis amnesia yang satu ini tentu berbeda dari kasus lupa yang biasanya terjadi. Amnesia disosiatif tidak sama dengan jenis amnesia pada umumnya, yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan, akibat dari penyakit atau cedera pada otak.
Pada amnesia disosiatif, ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat. **** begitu, ingatan tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar.
"Hmm, Trauma yang sangat berat sampai menggangu kejiwaannya."
"Nafi tak gila."
"Iya, mengganggu kejiwaan bukan berarti dia gila, sayang."
Quin merasa jantungnya kembali berdetak cepat saat Abi memanggilnya dengan kata sayang, Bahkan Abi sampai membelai rambut rambut Quin dengan sayang.
Mata Quin dan Abi bertemu, perlahan tangan Abi mengusap bibir bawah Quin dengan lembut. Abi mendekatkan wajahnya secara perlahan.
"A-aku lapar." Ujar nya sambil menoleh kearah lain.
Abi tersenyum melihat wajah Quin yang sangat imut karena malu.
"Mau eskrim? di dekat sini ada gerai eskrim yang enak."
Quin menganggukkan kepalanya tanda setuju. Abi dan Quin pun berjalan menuju gerai eskrim yang ada di dekat gedung rumah sakit. Pastinya dengan pengawalan yang ketat.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.