
Veer mengepalkan tangannya, ternyata bajingan yang pernah melecehkan Nafi sudah mulai bergerak. Bahkan tak hanya nyawa Nafi yang terancam melainkan nyawa Quin juga ikut terancam.
"Brengsek ..." Maki Veer sambil memukul dinding
Darah segar pun mulai mengalir dari jari-jari Veer. Dedi langsung menarik tubuh Veer dan menahan pergerakannya untuk kembali memukul dinding.
"Tenanglah Bos, Aku sudah menyuruh Abash menyelidiki semuanya, dan Abi juga sudah mengerahkan anak buahnya."
"Bagaimana aku bisa tenang Ded? BAGAIMANA AKU BISA TENANG???" teriak Veer dengan suara yang sangat menggelegar.
Tiiittt ... Tiiitt ...
Terdengar suara dari ponsel Veer dan Dedi. Itu tanda jika Nafi menekan alarm sensor nya. Veer dan Dedi langsung berlari menuju ruang inap Tata.
Jantung Veer sudah berdegup kencang saat mendapatkan suara panggilan darurat dari Nafi, di buka nya pintu ruang inap Tata dengan kasar.
Veer langsung menatap tajam kearah pria berbaju perawat yang ternyata sudah membuat Nafi pingsan.
"Brengsek ..." Maki nya dan langsung melayangkan tendangan mautnya.
Pria berbaju perawat itu langsung tersungkur dan mengeluarkan pisau dari saku baju nya. Dedi yang memang selalu membawa air softgun pun langsung melepaskan tembakan ke pria tersebut sehingga pria itu jatuh pingsan setelah menahan rasa sakit.
Pengawal yang berjaga di luar langsung bergegas masuk kedalam saat mendengar suara tembakan. Mereka langsung menahan pria berpakaian perawat tersebut.
"Sayang ..." Panggil Veer yang sudah memeluk tubuh Nafi.
Veer langsung menggendong Nafi dan membawanya keruangan dokter. Veer meminta dokter sendiri yang menangani Nafi, tanpa bantuan dari perawat. Polisi langsung datang ke rumah sakit dan meminta keterangan dari Dedi dan Veer.
"Bagaimana?" Tanya Veer kepada dokter yang menangani Nafi, dengan bahasa Inggris.
"Nyonya Veer hanya tertidur setelah mendapatkan suntikan bius. Kita tunggu sampai Nyonya Veer sadarkan diri."
Veer meminta beberapa polisi juga ikut berjaga di rumah sakit.
"Katakan kepada Abash, rahasiakan ini dari Quin, Mama, dan Papa."
"Siap Bos."
Veer mengusap wajahnya kasar. Ia tak menyangka jika bajingan itu sangat licik dan mampu menerobos penjagaannya.
Di Negara lain, Quin di larang oleh Abi untuk ke toko, sehingga membuat Quin menggerutu kesal.
"Quin, kamu harus mendengarkan suami kamu."
"Quin hanya ke toko Pa, lagian toko Quin bersebelahan dengan klinik Abi."
"Kamu lebih aman di rumah, Quin." Ujar Abi lembut.
"Tetap aja Aku___"
"Quin," Tegur Papa Arka dengan mimik yang serius. Quin langsung terdiam dan menundukkan wajahnya.
Mama Kesya yang merasa ada sesuatu yang aneh, hanya bisa memperhatikan semuanya. Belum lagi Abash meminta izin kepada Papa Arka untuk menambah penjagaan di rumah mereka. Bahkan Mama Kesya pun harus di kawal ketat jika ingin keluar rumah.
*
"Pa, sebenarnya ada apa sih?" Mama Kesya membenarkan dasi Papa Arka.
" Tidak ada apa-apa Ma."
__ADS_1
" Papa jangan bohong, Mama bisa lihat dari mata Papa yang menghindar untuk tak melihat Mama."
Papa Arka menghela napasnya. "Quin dalam bahaya, Mama tau kan?"
"Iya, Mama tau, lalu? kenapa sampai menambah penjagaan? terus? kenapa Mama juga ikut di kasih penjagaan sih?"
"Papa hanya tak ingin Mama berada dalam bahaya."
"Penjagaan biasa kan juga sudah cukupPa. Kenapa harus di tambah maksud Mama?"
Papa Arka menarik pinggang Mama Kesya dan mengikis jarak di antara mereka.
"Kamu tau kan, Jamal dapat berbuat nekad terhadap Quin." Papa Arka meletakkan dagunya di atas kepala Mama Kesya.
"Aku hanya tak ingin seluruh permata intan berlian ku terluka. Aku tak akan pernah memaafkan diri aku sendiri jika kalian terluka. Untuk itu aku memberikan penjagaan yang ketat terhadap kalian."
Mama Kesya menyandarkan kepalanya di dada bidang Papa Arka dan memeluk tubuhnya erat.
"Maaf, sudah membuat kamu khawatir, Mas."
"Sudah tugas ku menjaga mu, dan juga anak-anak ku."
*
"Abi, kamu serius?" Quin sedang merayu Abi untuk mengizinkan dirinya bekerja.
"Hanya beberapa hari, Quin."
"Tapi, kita akan berangkat ke German kan? bagaimana dengan toko kue ku?"
"Toko akan tetap beroperasi, Papa sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk memantaunya."
"Kamu bisa membuatnya di kantor ku nanti. Ah, rasanya aku tidak sabar menantikan hari itu. Haruskah kita mempercepat keberangkatan kita?"
Quin mencebikkan bibirnya, ia lepaskan tangannya dari lengan Abi.
"Menyebalkan." Kesalnya dan melipat kedua tangannya di dada dengan posisi membelakangi Abi.
Abi tersenyum melihat Quin sedang merajuk pada dirinya. Abi suka Quin yang manja seperti ini. Abi kira, Quin adalah gadis yang mandiri dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, ternyata Abi salah, Quin adalah sosok yang manja, jauh dari sifat yang biasa ia tunjukkan keorang-orang.
"Baiklah, aku akan mengizinkan kamu pergi."
Quin membalikan tubuhnya dengan senyum yang mengembang.
"Kamu serius?"
"Hmm ... Tapi ada syaratnya."
"Syarat? Apa syaratnya?"
Abi menunjukkan jarinya kearah bibir. "Kiss."
Quin membelalakkan matanya, tentu saja Quin menolak untuk mencium Abi. Quin mencebikkan bibirnya dan menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan Abi.
Abi terkekeh melihat tingkah Quin yang sangat menggemaskan. Dan Abi semakin suka untuk menggoda Quin.
"Dasar mesum." Gerutu Quin sambil meraih ponselnya.
"Mesum sama istri sendiri gak salah kan?"
__ADS_1
Quin memberikan tatapan tajam kepada Abi. Abi sungguh membuatnya kesal. Adakah yang di takuti Abi? Mungkin Quin bisa membalasnya, tapi sayangnya Abi tak takut dengan hewan apapun. Quin semakin kesal.
Kemudian, ia memiliki ide cemerlang, mungkin ini akan membuatnya sedikit murahan, tapi gak ada salahnya kan jika istri mencium suami nya sendiri? Toh orang aja bisa menulis tawa tapi sebenarnya tak ketawa, menulis emo tangis, tapi sebenarnya mereka tertawa, mengatakan cinta, tapi sebenarnya tak cinta. Apa bedanya dengan status mereka saat ini? Menikah tanpa saling mencintai.
"Abi ... " Panggil Quin saat Abi ingin menekan daun pintu.
"Ya ..."
Quin berjalan kearahnya dengan senyum yang melebar. Quin menarik dasi Abi, kemudian mendaratkam bibirnya di bibir Abi. Abi membeku, ia tak menyangka jika Quin akan melakukannya.
Quin menjauhkan dirinya setelah kecupan singkat yang ia berikan untuk Abi.
"Jadi, aku boleh ke toko kan?"
Nyawa Abi belum kembali ke tubuhnya.
"Abi ..." Panggil Quin lembut dan melambaikan tangannya di depan wajah Abi.
"Hah? yaa??"
"Kamu udah janji, jika aku mencium kamu, maka kamu akan mengizinkan aku ke toko."
Abi merasa gugup, ciuman Quin bemar-benar membuat fokusnya hilang.
Hei Abi, ayo lah ... Itu hanya sebuah kecupan. Apa yang kamu fikirkan?
Rasa basah dari bibir Quin masih terasa dan menempel di bibir Abi.
"Abi," Panggil Quin kembali.
"Eng ..."
"Kamu udah janji, jadi kamu harus menepati nya."
Abi menghela napas, sepertinya ia kalah kali ini dengan Quin.
"Baiklah, tapi kamu harus tetap melaporkan semua kegiatan kamu, dari kamu keluar ruangan, masuk ruangan, siapapun yang bersama kamu, kamu lagi apa, ka___"
"Abi, aku bukan tahanan ..." Rajuk Quin dengan kesal.
"Maaf ... Aku gak bermaksud begitu. Aku hanya tak ingin terjadi apapun kepada kamu."
Abi mendekat, dengan cepat tangan Abi meraih pinggang Quin dan mengikis jarak di antara mereka.
"Aku mencintai kamu, Quin. Dan aku tak ingin kehilangan kamu. Aku bersumpah, bahkan aku rela mati untuk kamu."
Quin menatap dalam ke mata Abi, ia melahap kejujuran yang terpancarkan. Namun hati kecil Quin kembali berbisik, bagaimana jika Anita kembali?
Quin kembali menyadarkan dirinya, untuk tidak jatuh kedalam pesona Abi.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.