KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 120


__ADS_3

Zein terlihat sangat tampan dengan kemeja batik yang seragam dengan Kayla. Wajah Kayla bersemu merah di saat melihat Zein menghampiri nya dengan senyum yang lebar.


“Kamu cantik.” Bisiknya kepada Kayla.


“Kakak juga tampan.” Balas Kayla berbisik.


“Udah ya bisik-bisiknya, sekarang kita foto dulu.” Ujar Mami Vina.


Mereka pun mengabadikan moment yang berharga tersebut. Seluruh keluarga terlihat heboh untuk menggoda kedua pasangan tersebut.


“Ah, jadi rindu Layca,” seru Fatih yang mendapatkan sorakan dari seluruh keluarga.


“Dasar bucin.” Ujar Daddy Bara.


“Kayak yang bilangnya kagak.” Jawab Fatih, yang mana mendapatkan pelototan tajam dari Daddy Bara.


Fatih hanya bisa meringis dan menggaruk kepalanya.  Oma Rosa mempersilahkan seluruh tamu dan keluarga untuk mencicipi hidangan yang tersedia.


“Lo gak pingin ngobrol dengan Anggel?” bisik Fatih kepada Lana.


“Bodyguard nya serem.”


Fatih dan Lana pun terkikik, tanpa mereka sadari jika Anggel memperhatikan mereka dengan tatapan sendu. Anggel berfikir jika Lana tak merasakan kesedihan seperti apa yang Anggel rasakan.


“Mungkin emang dia nya gak benar-benar cinta kali ya.”Batin Anggel dengan menatap sendu


kearah Lana.


Anggel meringis di kala merasakan kepalanya sakit, namun Anggel menahannya. Bagaimana tak sakit. Semenjak keputusan pernikahan dirinya dengan Martin, Anggel sengaja tak menyentuh makanan. Di meja makan pun Anggel hanya sarapan dengan roti, siangnya Anggel juga mengisi perutnya dengan roti. Hanya roti yang masuk kedalam tubuh Anggel, sehingga membuat tubuh Anggel pun menjadi lemas.


Veer mulai menunjukkan sifat protektifnya kepada nafi. Lihat saja, Veer mulai melarang Nafi untuk tidak banyak bergerak.


“Veer, aku mau itu.” Ujar Nafi manja yang mana membuat Veer semakin bersemangat untuk


melayaninya.


“Baiklah, kamu tunggu di sini ya.”


Veer mengambilkan beberapa cemilan untuk Nafi. Dengan senyum yang melebar Veer membawakan sepiring cake dengan berbagai macam.


“Cake nya buatan siapa? Enak banget.” Tanya nya kepada Naya yang memang duduk di sebelah Nafi.


“Buatan Bunda Sasa, ada juga yang buatan Mama Kesya.”


“Enak banget, Bunda pintar masak juga ya?”


“Iya, semua wanita yang ada di keluarga kami pintar-pintar memasak.”


Tanpa Naya ketahui jika Nafi merasa sedih dan merasa jika dirinya semakin tak sempurna. Wajah murung Nafi pun langsung tertangkap oleh Naya yang memang kuliah di jurusan psikologi.


Baru saja Naya ingin membuka suaranya, Veer sudah menghampiri dan menanyakan keadaan sang


istri yang terlihat murung dan sedih.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Veer.


“Gak papa, Veer.”


“Gak papa kok nangis?”


“Maaf Mas, mungkin salah Naya ya. Maaf ya kak, gak maksud untuk menyinggung perasaan kak Nafi.”


“Gak papa kok, kamu gak salah.” Ujar Nafi sambil menghapus air matanya yang mengalir


tanpa ia inginkan.


“Emang kamu ngomong apa?” Tanya Veer.


“Em, tadi Kak Nafi tanya siapa yang memasak kue-kue itu. Aku bilang Bunda dan Mama. Terus aku bilang kalo wanita di keluarga kita semuanya bisa memasak. Maaf ya Mas, mungkin Kak Nafi tersinggung dengan ucapan aku.”


“Kamu tersinggung sayang?” Tanya Veer yang juga tak megerti kenapa hrus tersinggung dengan ucapan Naya.


“Enggak, Cuma aku merasa sedih aja, karena aku gak bisa masak. Seharusnya kamu menikah dengan wanita yang pintar masak.” Ujar Nafi di sela tangisnya.


Veer tersenyum, kemudian ia melihat karah Naya dan mengatakan ‘tak apa-apa’.


“Kamu bisa belajar sama Mama. Kamu tau, kamu orang spesial dan beruntung yang dapat belajar memasak dari Mama, Bunda, dan Mami. Aku yakin, masakan kamu suatu saat pasti sangat lezat.”


Nafi menganggukkan kepalanya.


“Tapi satu hal yang harus kamu ingat, aku cinta sama kamu bukan karena kamu bisa masak atau tidak. Tapi aku melihat hati kamu yang sangat baik dan tulus kepada orang lain. Aku menyukai kamu karena kesederhanaan kamu. Kalo masalah kamu bisa masak atau tidak, itu urusan belakangan, yang pasti aku percaya jika kamu akan


mendidik anak-anak kita dengan attitude yang baik. Itu yang terpenting.” Ujar Veer sambil mencuil hidung Nafi.


“Beneran kamu gak marah kalo aku gak pintar masak? Dan kalo masakan ku gak enak, kamu gak akan berpaling kan?” tanya Nafi sambil menatap mata Veer dengan tatapan sendu.


“Aku gak akan pernah meninggalkan mu.” Veer memeluk Nafi dan mengecup pucuk kepalanya.

__ADS_1


*


Quin dan  Anggel menghampiri Kayla dan Zein yang baru saja selesai berfoto dengan tetangga mereka yang juga berpamit untuk pulang.


“Selamat Aunty kecil ku.” Ujar quin sambil memeluk Kayla dengan sayang.


“Makasih Quin.”


Quin pun merelai pelukannya dan membiarkan Anggel untuk mengucapkan selamat sekali lagi kepada Kayla.


“Selamat Kay, semoga kamu bahagia selalu.”


“Kamu juga harus bahagia.” Balas Kayla kepada Anggel.


Anggel kembali meringis dan memegangi kepalanya. Tadi Anggel meminum minuman dari sari jeruk yang di campur dengan soda. Perut Anggel yang kosong sudah pasti akan bereaksi dengan minuman tersebut.


“Kamu kenapa?” tanya Kayla khawatir.


“Gak papa, Cuma sedikit pusing aja.” Ujar Anggel degan memegang kepalanya.


“An, kamu baik-baik aja?” tanya Lucas yang sudah berada di belakang Anggel.


“Hmm, aku—“


Belum sempat Anggel menyelesaikan ucapannya, Anggel merasa kepalanya semakin pusing yang di sertai dengan tatapan nya yang memudar. Perlahan Angel merasa semuanya menjadi gelap.


Untungnya Lucas berada di belakang Anggel dan langsung menangkap tubuh Anggel. Lucas langsung membopong tubuh Aggel dan membawanya kedalam kamar Kayla. Lucas baringkan Anggel di atas kasur dan langsng memeriksa keadaan tubuh Anggel.


“Bagaimana Luc?” Tanya Oma Mega yang terlihat sangat khawatir.


“Anggel baik-baik aja, hanya tekanan darahnya saja yang turun. Sepertinya Anggel tak memakan makanannya


dengan benar.”


“Pi, gimana ini?” tanya Oma Mega kepada sang suami.


“Naya, ambil perlengkapan dokter Opa ya di ruang kerja.” Titah Opa Bram.


“ Iya Opa.” Naya pun bergegas pulang dan mengambil perlengkapan dokter milik sang kakek.


Lana memandang wajah Anggel yang terdapat rasan tebal dengan lipstik pink terang yang mana membuat orang terkecoh dengan penampilanya yang sebenarnya.


Tak berapa lama Naya datang dengan membawa tas besar dan memberikannya kepada Lucas. Lucas langsung memberikan cairan infus kepada Anggel agar tubuh Anggel medapatkan cairan dan vitamin.


“Kita biarin Anggel istirahat dulu ya.” Ujar Lucas.


Semua orang pun keluar dari dalam kamar. Lana yang memang berdiri di depan pintu kamar hanya menahan air matanya agar tak jatuh.


“Oma, izinkan Lana menemani Anggel.” Pinta Lana kepada Oma Mega saat Oma mega melewatinya.


“Kamu harus janji, kamu tetap harus menepati janji kamu ke Oma.”


“Iya Oma, Lana Janji.’


Lana pun masuk kedalam kamar. Quin menoleh dan tersenyum.


“Aku keluar ya,” Quin memberikan waktu kepada Lana dan Anggel.


Pintu kamar memang sengaja di buka, karena tak ingin mendatangkan fitnah untuk Anggel.


“Maafin Aku.” Lirih Lana yang sudah duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam tangan Anggel


yang terasa dingin.


Lana menangis sambil mencium punggung tangan Anggel.


"Maafin aku An, maafin aku." lirihnya.


Lana menghentikan tangisnya di saat merasakan gerakan dari jari jemari Anggel. Lana mendogakkan kepalanya untuk menatap wajah Anggel. Perlahan mata yang tertutup itu pun terbuka.


"Na," lirihnya.


"An, kamu udah sadar?" seru Lana.


Lana ingin bangkit untuk memanggil Lucas, namun Anggel menahannya.


"Jangan pergi, jangan tinggalin aku." lirih Anggel.


"Aku hanya memanggil Lucas sebentar."


"Kamu tau maksud aku Na, jangan tinggalin aku." lirihnya lagi.


"Aku akan kembali, kamu tunggu sebentar ya."


Lana pun melepaskan genggaman tangannya kepada Anggel. Lana keluar kamar dan memanggil Lucas. Tak berapa lama Lucas, Oma Mega, Opa Bram, dan yang lainnya pun ikut masuk kedalam kamar Kayla. Lucas memeriksa keadaan tubuh Anggel.


"Kamu harus makan, kalo gak kamu bakal terkena magh."

__ADS_1


"Aku gak laper, dan gak mau makan."


"Jangan keras kepala, An."


"Aku gak mau makan kalo bukan Lana yang suapi." Uajr Anggel menatap kearah sang Mami.


Terlihat Oma Mega menghela napasnya, "Mami ambilin ya nasi nya."


Oma Mega pun keluar kamar dan mengambil sepiring nasi beserta dengan lauk pauknya. Oma Mega memberikan piring tersebut kepada Lana.


"Tolong kamu suapi Anggel, ya."


Lana menerima piring tersebut, ia berjalan mendekati tempat tidur. Lucas membantu Anggel untuk duudk dan bersandar di kepala ranjang.


"Sebaiknya kita keluar." Titah Opa Bram.


Tinggallah Anggel dan Lana berdua di dalam kamar.


Lana menyuapi Angeel suapan demi suapan.  "Na, tak bisakah kamu berjuang demi aku?" pinta Anggel.


Lana menghela napasnya, "Maaf, aku gak bisa. Mungkin Mami kamu akan luluh dengan kondisi kamu seperti ini, tapi bagaimana dengan Mama aku?"


Lana benar, Oma Mega mulai luluh dengan kondisi Anggel saat ini, dan mungkin saja karena melihat kondisi Anggel seperi ini, Oma Mega akan merestui hubungannya dengan Lana. Anggel terdiam mendengar ucapan Lana. Apa yang di katakan Lana tentang Mama Puput juga ada benarnya. Anggel hanya memikirkan tentang Mami nya, tapi Anggel tak memikirkan tentang Mama Puput. Pasti Mama puput sangat sakit hati sekali dengan dengan perrkataan sang Mami. Mungkin memang mereka tak akan pernah brsama, sekeras apapun mereka mencoba.


*


Sudah dua hari berlalu sejak pertunangan Zein dan Kayla. Walaupun mereka sduah resmi bertunangan, mereka masih saja terlihat malu-malu.


"Kak, aku nebeng ya." Ujar Anggel yang  hari ini mulai kembali bekerja.


"Gak minta di antar supir aja? Kakak mau pergi sama Ila.'


"Oh gitu ..." rajuk Anggel.


"Hmm, ya udah deh. Ayukk ..."


Anggel berseru senang dan langsung naik ke bangku penumpang bagian belakang. Zei mengeluarkan mobilnya dari bagasi dan menuju rumah Kayla yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumahnya.


"Eh, ada Anggel." seru Kayla terkejut saat melihat Anggel duduk di bangku penumpang bagian belakang.


" Aku bareng kalian gak papa kan ya?"


"Gak papa kok." Kayla tersenyum manis.


Sepanjang jalan Anggel hanya menatap kearah luar. Ia ingat pecakapanya kepada Lana tempo hari lalu.


"Aku pria brengsek yang gak pantas untuk bersanding dengan kamu. Martin pria yang baik, aku udah menyelidiki latar belakangnya. Kamu harus mencoba untuk mencintainya dan menerima kenyataan bahwa kalian akan segera menikah."


Anggel menatap kearah cincin yang di kenakannya saat ini. cincin yang di berikan oleh keluarga Martin untuknya saat makan malam mereka pertama kalinya. Anggel menghela napasnya dengan sedikit kuat, membuat Zei dan Kayla menoleh dan saling memandang.


"An, kamu baik-baik aja?" tanya Kayla.


"Apa kak Zein ikut mengantar Lana ke bandara?" tanyanya dengan tatapan masih melihat ke jalanan raya.


"Enggak."


Anggel kembali menghela napasnya, ia menutup matanya dan membiarkan air matanya jatuh melalui sudut matanya dan membasahi pipi nya.


"Kenapa nasib aku gak sebaik kalian sih?" Gumamnya.


*


Anggel tak fokus dengan pekerjaannya hari ini, ia banyak melamun memikirkan Lana yang tak memberikan kabar keapdanya. Bahkan Lana telah memblokir semua akses yang bisa Anggel hubungi.


"Kamu jahat banget sih, Na."


 


Yuukkk..


follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa


Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya


juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling


berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN

__ADS_1


KHILAF


__ADS_2