
Mami Mili menggerutu kesal kapada Sifa. Tak lupa Mami Mili menjewer telinga Sifa kerena membawa jengkol dan petai.
Seluruh keluarga pun tertawa melihat Sifa yang di marahi oleh Mami Mili. Bukan di marahi karena benar-benar marah, namun Sifa harus menahan telinganya mendengar MamiMili yang terus menggerutu dan sesekali mencubit gemas lengan Sifa.
Quin sduah angkat tangan saat Sifa mengatakan jika ia di suruh oleh Quin, namun Quin malah mengatakan jika Sifa yang menawarinya, sehingga Sifa kembali mendapatkan cubitan sayang dari Mami Mili. Beruntunglah Sifa anak yang tak mudah tersinggung dan bisa diajak bercanda.
Sifa mah tahan banting orang nya, dihina orang pun, di anggap sebuah pujian olehnya. Luar biasa kamu Sifa.
Di kebun kakek Farel yang berada di belakang rumahnya, terdapat pohon pisang, pohon mangga yang di cangkok, pohon jambu madu dan juga jambu biji yang di cangkok, intinya pepohonan yang menghasilkan buah yang bisa di makan dan hasil dari cangkokkan, yang manan pohon-pohon tersebut akan di tanam di dalam pot besar, sehingga pohon-pohon tersebut tak akan tumbuh terlalu besar, namun sudah menghasilkan buah yang bisa untuk di panen dan nikmati.
Intinya, rumah Kakek Farel adalah surganya dunia bagi para cucu-cucunya. Tanah yang luas membuat rumah itu bagaikan istana yang berada di tengah tanah yang luas.
“Lana, yang di ambil daun yang mana?" Tanya Abi.
“Daun yang tidak sobek, daunnya harus lebar dan besar.” Jawab Lana sambil melihat-lihat daun yang mana akan dia tebas.
“Ini bisa gak?” tanya Abi.
Lana menoleh, “Bisa.”
Abi pun mulai memotong batang daun pisang itu. Namun, cara Abi memotong batang daun pisang itu mengundang tawa dari Veer, Lana, Lucas, Jo, Arash, Fatih dan juga Zein. Martin hanya memperhatikan saja, dan tidak tahu apa yang lucu bagi mereka.
“Lo kira ini batang kayu yang harus di gergaji?” Ujar Lucas saat melihat Abi memotong batang daun pisang dengan memaju mundurkan pisaunya, layaknya seperti memotong batang kayu dengan menggunakan gergaji.
“Lalu, bagaimana caranya?” tanya Abi dengan polosnya.
“Hadeew, bisa-bisa nya si Quin kawin dengan bule berwajah indo.” Gerutu Lucas, “kebanyakan pacaran sama hewan sih, makannya gak tau berkebun.” Ejek Lucas.
Abi pun mencebikkan bibirnya dan mundur beberapa langah, memberikan ruang kepada Lucas.
Basss. ..
Dengan sekali hentakan atau kibasan pisau, batang daun pisang pun terputus. Abi sampai membuka mulutnya dan merasa takjub.
“Wow, luar biasa. Ternyata segampang itu?”
Tawa mereka pun kembali pecah, kali ini Martin juga ikut tertawa.
“Eh, bule, lo kenapa jadi ikut tertawa sekarang?” tanya Fatih kepada Martin.
“Ternyata kebiasaan orang indonesia itu benar-benar membuat aku tertarik.”
“Berarti lo harus cari binik orang Indonesia.” Ujar Lucas.
“Binik? Apa itu?” tanya Martin yang merasa asing dengan bahasa yang di ucapkan Lucas.
“Binik itu adalah istri.”
“Oooh, pasti. Aku akan mencari orang Indonesia untuk menjadi istri ku.”
Tanpa Lucas dan Martin ketahui, jika takdir akan membawa mereka kepada satu wanita.
Setelah berburu daun pisang, mereka pun kembali ke dapur. Martin merasa takjub dengan istana milik Kakek Farel, mungkin jika di Amerika, rumah kakek Farel sudah di katakan sebagai mansion mewah.
“Sayang, mana kain lapnya?” tanya Lana kepada Anggel.
“Cie ... cie ... udah panggil-panggil sayang nie yee... udah gak ngambek lagi?” goda Quin.
“Iya, kemarin ada yang bilang benci banget dengan Lana.” Tambah Kayla.
“Yaah, gak seru ah, gak jadi dapat hukuman Kak Lana nya.” Tambah Raysa.
“Ca, kamu kapan balik ke Banduang?” tanya Lana mengalihkan pembicaraan.
“Napa Lo tanya-tanya calon binik Gue?” uajr Fatih.
“Idih, tanya aja gak boleh, pelit amat.”
“Biarin.”
Martin yang melihat kebahagiaan Lana pun ikut tersenyum.
“Jadi ini mana kain lapnya?” tanya Lucas. “Mau berdebat sampai kapan sih kalian?” uajrnya lagi sambil menghampiri Anggel dan meminta kain lap.
Tak lupa Lucas mengacak rambut Anggel dengan sayang. Sengaja, kasih panas Lana, dan itu berhasil.
“Waah, gak sopan Lo sama Aunty nya, main pegang-pegang kepala.” Ujar Lana.
“Waah, ada yang ngatain kamu tua tuh, An.” Ujar Lucas yang sengaja membuat memanas-manasin Anggel.
Memang Anggel paling benci di panggil dengan sebutan Aunty atau pun Tante. Anggel pun menatap Lana dengan sudut matanya yang tajam.
“Waah, udah gak bisa dapat jatah, gak bisa dapat cium-cium nih. Ha .. ha.. ha..” uajr Fatih yang mana di sambut tawa oleh Zein, Veer, Jo, dan Abi.
Martin hanya tersenyum melihat betapa akrabnya mereka bersaudara sehingga bisa menjadi teman.
Lucas, Jo, Veer dan Abi pun sedang membersihkan daun pisang dengan kain lap yang di berikan oleh Anggel. Sedangkan Lana dan Fatih masih berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan Intinya perdebatan itu sengaja di lakukan untuk menghindari pekerjaan melap daun pisang. Karena mereka selalu bosan untuk melakukan hal
tersebut. Sedangkan Lucas, selalu memastikan tempat untuknya makan harus benar-benar bersih. Jadi bukan masalah bagi Lucas untuk melakukan pekerjaan tersebut, daripada ia muntah saat lagi makan.
“Boleh saya bantu?” ujar Martin.
Lucas menganggukkan kepalanya dan memberikan satu kain lap. Dengan tersenyum Martin pun mulai mengusapkan kain tersebut ke atas daun pisang.
Sreeet ...
Semua mata langsung tertuju kepada kain. Daun pisang yang di pegang oleh Martin sudah terbelah.
“Lakukan dengan perlahan, nak Martin.” ujar Mama Puput.
__ADS_1
Martin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Ma.”
Sreeet ...
Lagi, daun pisang tersebut pun kembali terbelah. Masalahnya mereka tak banyak mengambil daun pisang. Mereka mengambil daun pisang seperlunya saja. Dan, jika daunnya terus koyak dan kurang, betapa lelahnya kembali berjalan menuju kebun belakang rumah.
“Aku gak mau jalan lagi ke kebun, lelah hayati. Sebaiknya biar aku aja yang mengerjakan, oke.” Ujar Lucas sambil tersenyum.
Martin mengangukkan kepalanya dan membiarkan Lucas yang membersihkan daun pisang tersebut.
“Ahh, batu giling ini sungguh berat sekali. Melelahkan harus menggeprek ayam-ayam ini semua. Mana banyak lagi.” Rengek Naya.
“Biar saya yang melakukannya.” Ujar Martin.
Naya tersenyum dan memberikan batu giling tesebut kepada Martin.
Prak ... Prak .. Prak ...
Dengan sekali pukul, ayam goreng tersebut sudah penyet sehingga tulangnya mulai keluar dari daging ayam.
PRAAAKK ...
Mama Kesya dan Mama Puput pun tertawa di saat melihat wajah Martin yang ketakutan karena telah membuat batu giling itu terbelah dua. Mungkin karena tenaga yang di gunakan Martin sungguh kuat, maka batu giling itu pun sampai pecah.
“Mama, maafin Martin.” Ujarnya persis seperti anak kecil.
“Iya .. Iyaa.. itu bukan masalah besar kok, jangan sedih gitu, kamu lucu sekali.” Ujar Mama Kesya.
“Iya Ma, nanti Martin ganti yang baru.” Ujarnya lagi.
“Gak perlu, kecuali kalo kamu sendiri yang membelinya di pasar.” Goda Mama Kesya.
Martin menelan ludahnya, mana lah ngerti dia ke pasar. Bahkan turun kedapur saja ini adalah yang pertama kali baginya.
*
Quin, Kayla, dan Anggel sedang meletakkan nasi di atas daun yang sudah di susun di atas daun pisang. Raysa, Desi, Sifa dan Naya pun meletakkan lauk pauknya.
“Mami gak mau ada jengkol di tempat Mami.” Ujar Mami Mili.
“Iya Mi,” jawab Naya.
Martin dan Abi memperhatikan apa yang sedang terhidang di depan mereka.
“Sayang, kok di lantai sih tarok nasinya?” tanya Abi sambil berbisik, dan kali ini benar-benar berbisik.
“Ini yang namanya makan nasi liwet, ntar kita makannya barengan gitu.” Jawab Quin dengan berbisik juga.
“Pake tangan gitu?” tanya Abi karena di dekat tempat dudu sudah tersedia kobokan untuk mencuci tangan. Abi tahu karena ia sering melihat Quin makan seperti itu.
“Iya ....”
“Ya di coba dong sayang.”
“Hmm, gak papa kalo belepotan?” tanyanya lagi.
“Ya gak papa dong. Aduh, kamu ini harus biasa deh dengan kebiasaan orang Indonesia. Istri tercinta kamu ini asli orang Indoensia.”
“Iya sayang, Aku juga asli kok.”
Semuanya telah duduk di tempatnya masing-masing. Untuk Kakek Farel, Oma Laura, Opa Bram, Oma Mega, Opa Roy, dan Oma shella pun mereka duduk di mejamakan, namun tetap terhidang di atas daun pisang. Karena Kakek harus duduk di atas kursi rodanya.
Dengan mengucapkan bismillah, mereka pun memulai makannya.
“Ini apa?” tanya Abi yang melihat rendang jengkol.
“Itu namanya daging surgawi, cobain deh.” Ujar Quin.
Anggel, Kayla, Raysa, Zein, Fatih, Lana dan Lucas pun menunggu reaksi Abi untuk memakan rendang jengkol buatan Bunda Sasa tersebut.
Abi mulai menggigit rendang jengkol tersebut.
“Gimana?” tanya Quin dengan harap-harap cemas.
“Agak pait, tapi enak ya.” ujarnya dan mulai memasukkan lagi sisa potongan jengkol kedalam mulut.
Martin yang pensaran pun juga ikut memasukannya kedalam mulut. Rasa rendang jengkol yang sedikit pedas membuat wajah putih Martin langsung memerah. Martin memang tak tahan makanan pedas.
“Ini pedas banget...”
Lana memberikan air kepada Martin untuk di minumnya.
“Gimana?” tanya Lana. “Masih pedas?”
“Sudah lumayan.”
“Rasanya gimana?” tanyanya lagi.
“Sedikit aneh, tapi enak, tapi pedas.”
“Gimana sih, tapi enak, tapi pedas?” gerutu Quin. “enak atau pedas?” tanyanya lagi.
“Enak, tapi pedas.” Jawab Martin.
“Bumbu rendangnya di pinggirin, makannya pakai nasi bair gak pedas, cobaik lagi deh.” Ujar Quin.
Martin pun melakukan apa yang Quin katakan, dan ternyata benar, tak pedas. Martin pun terlihat semangat untuk memakannya.
“Ini apa?” tanya Martin.
__ADS_1
“itu peti bakar.”
“Cobain deh, dari pada penasaran sama rasanya.” Ujar Anggel dan mengupas kulit petai.
Yang lain sudah mengulum senyumnya. Benar-benar kolabirasi yang baik jika sudah menyangkut mengerjai orang lain. Bahkan Lana yang tak suka jengkol pun, jadi menyukai, dan itu karena Anggel dan Quin yang memaksa nya untuk makan.
Memang, saat makan tidak akan terasa baunya, tapi setelah itu? Bahkan Lana enggan untuk membuang air kecil di tempat umum. Ia rela memacu mobilnya pada saat sedang syuting menuju hotel dan memesan kamar hotel yang murah, hanya untuk membuang hajatnya. Waah, sungguh luar biasa.
“Pait banget, gak enak.” Ujar Martin.
Ya, memang tak semua orang menyukai petai. Kecuali Papa Fadil, Daddy Bara dan Papi Gilang. Benar-benar kolaborasi pemakan apapun. Bahkan kulit petai pun juga ikut di makan.
“Kalau begitu jangan di makan, sebaiknya kamu makan jengkol saja.” Ujar Anggel dan menambah rendang jengkol ke atas nasi Martin.
Martin mengangukkan kepalanya dan melanjutkan makannya dengan lahab, begitu pun dengan Abi. Tanpa mereka ketahui jika setelah ini mereka akan merasakan hal yang sangat memalukan.
*
“Sayang, napas aku bau banget ya? padahal aku udah sikat gigi loh.” Ujar Abi.
“Ya iyalah, kalo makan jengkol bakal bau mulutnya, pipisnya, kentutnya, juga pup nya.”
“Hah? Serius kamu, yank?”
“Heum.” Jawab Quin santai.
Abi mendekat kearah Quin, dan mencium napas Quin. “Kamu kok gak senyengat aku ya baunya?” tanyanya heran.
Ya iyalah mulut Quin gak bau, secara Quin langsung mengunyah perment karet berasa mint. Quin sengaja tak memberikan Abi, agar Abi tahu akibat dari makan jengkol, dan cara menanganinya.
“Aku tadi langsung makan permen karet, sayang. Nih.” Quin pun memberikan permen karet kepada Abi dengan rasa Mint.
“Kok telat banget sih ngasihnya?” ujar Abi sambil meraih satu bungkus permen karet dari tangan Quin.
“Iya, aku sengaja. Biar kamu tau akibat dari makan Jengkol, dan cara mengatasi awanya ya dengan mengunyah permen karet. Tapi ini tidak membuat pipis dan pup kamu gak ikutan bau. Kalo itu tetap bakal bau, jadi solusinya ya minum air putih yang banyak, jangan lupa siram kamar mandi dengan air sebanyak mungkin, jadi gak mau
kamar mandinya.” Ujar Quin panjang lebar.
Abi menganggukkan kepalanya dan menurut apa yang di katakan oleh sang istri tercinta. Hmm, beruntungnya jaguar saat ini, karena Quin memakan jengkol saat dirinyasedang mendapatkan menstruasi, jika tidak, mungkin Abi akan kembali uring-uringan. TapiABi harus bersabar untuk tidak mencium Quin hingga bau mulutnya benar-benar hilang. Abi tak ingin membuat Quin merasa mual dengan aroma mulutnya saat mereka berciuman.
Di tempat lain, Martin sudah muntah-muntah di hotel super mewahnya. Ia tak tahan dengan bau mulut nya sendiri.
“Jengkol sialan.” Umpatnya.
Lana yang memang merasa tak enak perasaan pun langsung menghampiri Martin di hotelnya. Lana membawakan jus buah naga untuk menyegarkan tenggorokan Martin. Martin membuka pintu kamar hotelnya dan mempersilahkan Lana masuk. Lana melihat wajah Martin sangat lah pucat.
“Kamu gak papa?”
Martin hanya menganggukkan kepalanya. Ia mals berbicara karena dapat mencium aroma mulutnya yang bau. Lana mengikuti Martin yang duduk di sofa kamarnya.
“Minum ini.”
Lana memberikan jus buah naga tersebut kepada Martin. Martin meraih minuma tersebut dan langsung menegaknya. Tak perlu di tanya, Martin sudah tau minuman apa yang di bawa oleh Lana.
“Setelah ini, banyak minum air putih. Tadi Anggel ingin memberikan inikepada kamu, tapi kamu udah buru-buru pergi.” Jelas Lana.
“Hmm ...” Martin menjawab dengan gumaman.
“Bicara saja, tak apa.”
“Aku benci baunya.” Desis Martin.
“Aku tau, maafkan Quin dan Anggel.”
Martin menghela napasnya, tapi harus ia akui jika jengkol itu memang sangat enak sekali.
“Makan permen karet ini, ini akan mengurangi rasa bau di mulut.”
Martin meraih perment karet yang di berikan Lana dan langsung memasukkannya dua sekaligus kedalam mulut.
“Ntar, kalo buang air kecil atau pun besar, jangan lupa siram yang banyak sekali, agar baunya tidak menempel di kamar mandi.” Ujar Lana.
“Baiklah.”
“Air putih juga, jangan lupa meminumnya sesering mungkin.”
“Hmm, Baiklah,” jawab Martin sambil menikmati rasa mint yang segar dari permen karet.
“Kamu menyukainya?” tanya Lana saat melihat ekspreis Martin yang begitu menikmati permen karet tersebut.
“Ini pertama kalinya Aku memakan ini.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Jangan di telan, setelah manisnya hilang buang permennya.”
“Baiklah.”
Lana tersenyum di saat melihat wajah kekanak-kanakkan Martin. Ia berharap agar Martin bisa bahagia seperti dirinya.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF