
Quin merenggangkan tubuhnya sebelum ia membuka mata, kemudian ia kembali memeluk guling. Terdengar suara kekehan di sebelahnya, Quin pun membuka sedikit matanya untuk mengintip, lalu ia terkejut saat mendapati Abi sedang menatap sambil tersenyum.
" Ngapain kamu?" Pekik Quin sambil menarik selimut hingga leher.
Abi menunjuk jam yang ada di dinding dengan dagu nya. Quin tiba-tiba membelalakkan matanya, dan langsung loncat dari atas tempat tidur.
" Kenapa gak bangunin aku sih.." Gerutu Quin sambil meraih sendal kamar nya dan berlari ke kamar mandi.
" Semua salah kamu, karena aku bangun telat." Teriak Quin dari dalam kamar mandi.
" Loh, kok salah aku?" Abi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Di dalam kamar mandi, Quin terus saja menggerutu. Ia kesal kepada dirinya dan juga Abi. Namun tetap saja ia harus menyalahkan Abi, karena Abi, Quin sampai tak bisa tidur terus saja menatap Abi dari kejauhan.
Sungguh menyebalkan.
Quin selesai dengan mandinya, dengan cepat Quin meraih mukena nya dan melaksanakan solat subuh.
Abi tak lepas memandang gerak gerik Quin, hingga Quin pun selesai dengan sholat nya.
" Huaamm... Ngantuk banget.." Gumam nya..
" Ngantuk ya tidur aja lagi.."
" Ide bagus. Tapi kamu ngapain di situ?" Ujar Quin karena Abi masih terlihat duduk santai di pinggir tempat tidur.
" Aku lagi ngecek kerjaan yang bakal aku handle."
Quin menautkan kedua alisnya, ia berjalan mendekati Abi.
" Kerjaan? Bukannya kerjaan kamu cuma ngurusin hewan-hewan yaa.."
" Itu kerjaan sampingan aku, dan itu salah satu hobi aku yang pecinta binatang." Abi membenarkan kacamata bacanya, dan menatap Quin dengan intens.
" Quin, ada yang mau aku omongin sama kamu."
Quin menaikkan alisnya sebelah, " Mau ngomong apa?"
" Quin, Alasan terbesar aku ingin menikah dengan mu adalah, karena aku ingin membawa kamu ke German."
" German?"
" Ya, ada pekerjaan yang harus aku handle di sana, dan ini pekerjaan yang penting. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 2 atau 3 bulan. Maka dari itu aku ingin membawa kamu segera, untuk menjadi pendamping Aku. Katakan aku lebay, tapi aku bersungguh-sungguh, kalo aku tak ingin berada jauh dari kamu."
Quin masih diam dan menatap kedalam mata Abi.
" Quin.." Abi meraih tangan Quin, dan menggenggamnya.
" Aku sudah mengurus semua nya, mAaf jika ini membuat kamu terkejut dan tak nyaman, tapi aku sungguh ingin kamu berada di samping aku, dan menemani aku. Aku ingin mengatakan pada dunia, jika aku memiliki seorang wanita hebat yang saat ini mejadi istri aku."
" Abi, kamu tau kan.. Aku.. Empuuss.."
" Aku sudah mengaturnya. Lagi pula Empus tak bisa selamanya tinggal di sini. Empus perlu tempat tinggal yang memang layak untuk nya."
__ADS_1
" Maksud kamu?"
" Quin, Empus itu hewan yang membutuhkan alam bebas. Aku sudah mengurus semua nya, Empus akan berangkat bersama kita, tapi Empus melalui jalan laut. Aku sudah berbicara kepada Papa, dan Papa setuju, tinggal kamu saja yang aku butuhkan persetujuannya."
" Abi, kamu tau, aku mendapatkan Empus itu sangat sulit.."
" Aku tau, maka dari itu aku sudah membeli hutan khusus untuk Empus. Aku juga sudah meminta bantuan teman ku untuk mencarikan Empus pasangannya."
" Kapan kita berangkat?"
" Dua Minggu lagi, tapi Empus kemungkinan seminggu lagi, yang penting semua ngabisin dari kamu "
" Bagaimana jika aku merindukannya?"
" Hutan itu aku beli untuk kamu, jadi kamu bebas kapanpun ingin melihat Empus "
" Lalu, apa yang akan aku lakukan di sana? aku tidak ingin hanya duduk diam dengan menunggu kamu di rumah."
" Mama pernah cerita, pada saat mengandung kamu dan Veer, Mama sering menemani Papa di kantor, dan Mama berekspresi di ruangan Papa. Aku juga membuat dapur dadakan untuk kamu, di ruangan aku."
" Itu terlalu berlebihan."
" Tidak, aku bahkan ingin membawa mu selalu ke kantor ku. "
Quin terdiam, sanggupkah dia menjalani kehidupan pernikahannya yang akan jauh dari orang tua nya, dan orang-orang yang di sayangi nya?
" Quin.." Abi mengambil kembali perhatian Quin.
" Kamu mau kan?"
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu mengambil atensi Quin dan Abi. Abi melepaskan genggaman tangannya dan berjalan membukakan pintu.
" Maaf Tuan Abi, sudah di tunggui Tuan Besar di bawah." Ujar salah satu pelayan.
Abi menganggukkan kepalanya, dan menutup kembali pintu kamar setelah pelayan tersebut pergi.
" Seperti nya kita terlalu lama mengobrol. Ayo, mereka sudah menunggu."
Quin mengangguk dan menghampiri Abi. Saat Quin ingin melewati Abi, Abi menahan lengan Quin.
Cup..
Quin membolakan matanya, terkejut dengan apa yang Abi lakukan.
" Morning kiss" Ujar nya dan tersenyun kepada Quin.
Bluuss..
Quin merasa pipi nya memanas dan memerah dengan perlakuan Abi. Yang benar saja, bagaimana bisa Quin secepat ini terpesona dengan perlakuan Abi. Bahkan apa yang Lana lakukan dulu saja, tak ada arti nya bagi Quin. Bukan hanya Lana, banyak lagi pria-pria yang mencari perhatian Quin, dengan memberikan bunga, coklat, kue, bahkan hadiah-hadiah mewah lainnya. Tapi semua itu tak membuat Quin tersipu.
Quin menyapa seluruh keluarga dengan eria seperti biasa. Quin juga mendaratkan kecupan di pipi Veer, Abash, Arash, dan Shaka. Juga kepada Papa Arka, Mama kesya, Kakek Farel, dan juga Oma Laura.
__ADS_1
" Bunda dan Daddy udah pulang?"
" Iya, mereka harus menyiapkan keperluan Raysa."
Quin mengernyitkan keningnya, kenapa harus Bunda Sasa dan Daddy Roy yang menyiapkan peralatan Raysa?
Lalu, Opa Roy dan Oma Shella mana? Oma Rosa dan Opa Nazar juga tak terlihat.
" Assalamualaikum."
Baru saja Quin ingin bertanya di mana keberadaan Opa Roy dan Oma Shella, mereka sudah muncul di hadapan Quin.
" Walaikumsalam."
" Oma dari mana?" Tanya Quin.
" Dari jalan pagi. Biasa, kegiatan pagi Opa Roy."
Tak berapa lama muncul Oma Rosa dan Opa Nazar yang sepertinya juga ikut berjalan pagi tanpa menggunakan alas kaki.
Sarapan pagi ini di pimpin doa oleh Abi. Awalnya Abi kikuk, namun tatapan teduh dan menenangkan Mama Kesya membuat Abi menjadi relaks dan memimpin doa makan sebelum mereka memulai sarapan.
*
Quin membuka mulut nya tak percaya. Yang benar saja, dirinya, Kayla, Anggel, Raysa, Fatih, Lana, dan juga Zein dihukum untuk membersihkan halaman dan juga kolam renang tanpa bantuan mesin pencabut rumput.
" Papa becanda?" Tanya Quin tak percaya.
" Tidak, Papa serius dengan hukuman yang Papa berikan untuk kalian."
Quin menghela napas, dan mendengkus kesal. Pasalnya hanya dirinya yang tak memiliki pasangan, sedangkan yang lainnya sudah di pasangkan. Quin menatap Abi dengan puppy eyes nya.
" Maaf, aku di larang membantu kamu." Ujar Nya kepada Quin.
Quin mencebikkan bibirnya. Sudahlah dirinya kurang tidur, dan saat ini ia harus memotong rumput dan membersihkannya. Hah, betapa malang nasib nya hari ini.
Quin melirik kearah Zein dan Kayla yang terlihat tersenyum malu. Anggel dan Lana yang terlihat wajah Anggel sangat kesal karena di sandingkan dengan Lana. Dan juga Fatih dan Raysa yang terus saja berdebat sedari tadi. Lalu, dirinya harus sendiri mengerjakan semuanya.
Huuff...
Quin kembali menatap Abi, dan memberikan Puppy eyes nya. Papa Arka langsung berdiri di hadapan Abi, sehingga Quin kembali menundukkan wajahnya.
Hah, sepertinya sudah nasib nya menderita. Lagi pula ini sudah menjadi kesalahannya.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.