KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 37


__ADS_3

Quin langsung memeluk Bunda Sasa, saat mereka tiba di Panti jompo yang yang di kelola oleh bunda Sasa.


" Bunda..."


Bunda Sasa membalas pelukan Quin.


" Duh, yang datang bareng calon suami.." Goda Bunda Sasa.


" Masih pacar Bun, lagian belum tentu jodoh juga.." Ujar Quin sendu.


" Insya Allah, Allah selalu tau apa yang terbaik buat hambanya. " Bunda Sasa menangkup wajah Quin.


" Makasih Bun, bunda orang kedua yang tau apa isi hati Quin, selain Mama."


" Karena Quin juga anak Bunda."


Quin kembali memeluk Bunda Sasa.


" Mama sama Papa gak ikut?"


" Papa sama Mama ada acara Bun, makanya gak bisa ikut." Jawab Veer, kemudian mencium punggung tangan Bunda Sasa.


Nafi juga ikut mencium punggung tangan Bunda Sasa. Bunda Sasa mencium bau-bau orang yang tengah jatuh cinta, karena Veer sedari tadi menatap Nafi dengan mata berbinar.


" Nafi baru pertama kali ke sini kan?"


" Iya Bun, biasanya Nafi ke panti asuhan anak-anak. Maka nya Nafi udah beli mainan untuk mereka "


" Gak papa, di sini terkadang ada juga yang suka mainan."


" Iya Bun.." Nafi mengernyitkan bingung, masa sih orang tua mau main mainan anak-anak?.


Abi mencium punggung tangan Bunda Sasa.


" Kamu kapan lamar anak Bunda?"


" Eh?"


" Bun, Kayla dan kak Zein mana?"


" Entahlah, tadi katanya mau nyusul kesini. Anggel sih bilangnya gak jadi, ada pasien mau OP. Lana gimana?"


" Lana sih bilangnya ada artis yang mau debut, jadi harus di dampingi."


Bunda Sasa menganggukkan kepalanya. Dan mengajam mereka untuk seger memulai tugas masing-masing.


.


.


Veer tersenyum saat melihat Nafi menghibur beberapa lansia yang sifatnya sudah seperti anak-anak. Mereka bermain maianan yang Nafi bawa, terlihat pancaran kebahagiaan di wajah mereka.


" Pipiis..pipiiiiss.." Ujar seorang lansia wanita.


" Nenek mau pipis?" Tanya Quin.


" Udah pipiiss.." Ujarnya seperti anak kecil.


" Ooh, kita bersihi di kamar mandi yuuk.."


Quin membawa lansia tersebut menuju kamar mandi. Abi menatapnya dengan takjub. bahkan Quin ikut membersihkan tubuh nenek itu.


" Waahh... nenek udah wangi, cium dulu.." Quin mendaratkan ciuman di kening sang nenek.


" Lapaaaarr.." Ujar nenek manja.


" Yuukk, bentar lagi makanannya siap. Kita main lagi ya.."


" Jangan beri harapan apapun kepada Quin. Karena itu akan melukai nya." Suara Veer mengejutkan Abi yang sedari tadi memperhatikan Quin.


Abi menatap ke arah Veer.


" Aku tau, kalo kalian bukan pasangan sesungguhnya. Quin bukan orang yang gampang menjatuhkan hatinya kepada sembarang orang, apalagi dia baru bertemu dengan orang tersebut. Aku tau kenapa kalian bisa sampai ke tahap ini."


" Maksud mu?"


" Intinya, jika aku melihat kau menyakiti Quin, maka bersiaplah berhadapan dengan ku. Dan jika kau tidak menyukainya, sebaiknya akhiri hubungan ini segera. Karena kau yang memulainya."


Abi menatap Veer dengan penuh tanya.


" Aku tau, ada wanita lain yang kau cintai. DNA aku masih berharap dengan wanita itu. Tapi ingat, Quin bukan tempat untuk kau melabuhkan hati mu sesaat, kemudian menyakitinya. Quin terlalu berharga dibandingkan wanita mu yang tak tau diri itu. Dan ingat, jika sekali saja kau membuatnya menangis, maka aku akan menghancurkan orang yang kau sayangi."


Veer pergi meninggalkan Abi yang menatapnya dengan tanya.


" Apa dia tau? Apa Quin memberi tahunya?"

__ADS_1


Mengingat Bagaimana Quin dan Veer sangat dekat. Abi mengeraskan rahangnya, dan mengepalkan tangannya.


" Baiklah, aku akan segera mengakhirinya."


.


.


Quin sedang mengumpulkan piring bekas makan para lansia, di bantu oleh Nafi dan Veer. Quin tidak melihat Abi saat makan siang tadi.


" Quin, Bantu bunda di belakang yuuk.."


Quin pun mengikuti Bunda Sasa.


" Bunda sengaja yaa, panggil Quin?"


" Iyaa, Bunda perhatikan sedari tadi mata Veer tak lepas memandang Nafi."


" Kirain cuma Quin yang menyadarinya.. " Quin dan Bunda Sasa pun tertawa.


Quin membantu bunda Sasa mencuci piring, kemudian Nafi dan Veer datang dengan membawa seember piring kotor.


" Aku bantu.." Ujar Nafi.


" Boleh.." Quin membiarkan Nafi membantunya mencuci piring. Sedangkan Veer membuang sisa makanan dipiring ke dalam plastik.


" Eemm, Abi mana yaa?. Veer tolong Nafi yaa, aku mau cari Abi dulu.." Quin mengedipkan matanya sebelah kepada Veer.


Veer melihat Nafi kesusahan mencuci piring karena rambutnya yang tergerai bebas.


" Eehh.."


Nafi terkejut saat Veer mengambil rambutnya, merapikannya, dan menggulung rambunynya menjadi satu, hingga membuat sebuah sanggulan. Jangan di tanya dari mana Veer belajar yaa, pastinya dari rambut Quin.


Nafi hanya berdiam diri dengan tangan yang penuh sabun.


" Sudah.." Veer menelan ludahnya saat menatap leher jenjang Nafi.


" Makasih.." cicit Nafi.


Veer tersenyum, dan membantu Nafi mencuci piring.


.


.


" Kenapa?"


Quin tertawa saat melihat wajah Abi belepotan dengan keringat dan debu.


" Persis kucing garong tau gak.."


Quin mengambil tisu Yang ada di atas meja, dan membersihkan wajah Abi. Abi menatap wajah Veer yang terus saja terkekeh.


" Ketahuan banget yang gak pernah kerja."


" Enak aja, aku pernah yaa.."


" Oh yaa?"


" Iyaa, tapi gak nyapu halaman sama cabut rumput juga.." Cicit Abi.


" Sini aku aja yang nyapu.."


Quin mengambil alih sapu tersebut. Lihatlah, siapapun tidak akan ada yang percaya jika Quin seorang sultan. Pekerjaan berat seperti ini saja Quin mampu mengerjakannya dengan gampang.


" Kamu sering melakukannya?"


" Apa?"


" Melakukan hal-hal seperti ini?"


" Biasanya seminggu sekali. Terkadang ke Panti asuhan, terkadang ke panti jompo. Seperti sekarang ini."


" Kamu gak lelah? atau jijik gitu saat membantu mereka membersihkan kotorannya?"


" Kenapa?, suatu saat kita akan tua, dan akan seperti mereka."


" Lalu?"


" Abi, kalo bukan kita yang memberikan perhatian, siapa lagi?, bahkan anak mereka saja tidak peduli dengan keadaan mereka. Selagi kita mampu, kenapa tidak?"


Abi teringat akan Anita, yang sangat berbeda dengan Quin.


" Honey, sudah ada Babysister yang merawat Mama Jadi, kita tidak perlu khawatir lagi. Ayoo.."

__ADS_1


Suara Anita terniang di telinga Abi, saat mereka ingin pergi ke pesta, dan Mama Anita sedang sakit. Memang, Anita berbicara lembut kepad sang Mama, saat mereka meminta izin pergi. Namun ada rasa yang berbeda, Quin lebih menghargai orang tua. Dan tidak keberatan untuk merawat orang tua.


" Abi.." Panggil Quin yang melambaikan tangannya di depan wajah Abi.


" Ehh, yaa..?"


" Sudah selesai, Ayoo kita cuci tangan."


Quin berjalan duluan, dan disusul oleh Abi.


Abi menghela napasnya saat setelah semua pekerjaan selesai. Ada rasa aneh di dalam hatinya, sebuah rasa yang tidak pernah di rasakan sebelumnya.


" Minum dulu.." Bunda Sasa memberikan segelas jus jeruk dingin dihadapan Abi.


" Makasih Tante."


" Panggil Bunda aja, sebentar lagi kan kalian menikah."


Uhukk..uhukk.. Abi terbatuk


Quin hanya menggaruk alisnya yang tidak gatal.


" Quin, Bunda. Kita harus kembali sekarang." Veer datang dengan wajah yang tegang.


" Kenapa Veer?"


" Kakek masuk rumah sakit."


Gelas Yang ada di tangan Quin pun terjatuh di atas meja, dan pecahan kacanya mengenai tangan Quin.


Abi dan Veer bergerak untkk melihat tanagn Quin, namun Abi yang posisinya lebih dekat denha Quin, lebih dulu meraih tangan Quin


" Kita pulang sekarang." Ujar Quin dengan suara bergetar.


" Kita obati dulu tangan kamu."


" Gak perlu.." Quin menarik tangannya namun Abi menahannya.


" Hanya sebentar.."


Bunda Sasa memberikan kotak P3k kepada Abi, dan membiarkan Abi mengobati tangan Quin.


.


.


Quin berlari menyusuri koridor rumah sakit.


" Quin.." Papa Arka langsung menahan Quin untuk masuk kedalam ruangan Kakek Farel.


" Quin mau lihat kakek.. Hiks.."


" Kakek lagi diperiksa, kamu tenang yaa.."


Di rumah sakit sudah ada Anggel, Kayla, Zein, Mama Kesya, Mami Vina, Papi Vano, Daddy Bara, Oma Shella, Oma Mega, Oma Rosa, Opa Roy, Opa Nazar, Tante Anggun, dan juga Aunty Risma dan Kakek Andreas.


Papa Arka memeluk Quin yang terus menangis dan berusaha ingin masuk. Tak berapa lama Lucas dan Om Leo keluar dari ruangan Tindakan Kakek Farel.


" Kakek harus segera menjalankan oprasi, dan butuh persiapan darah Om." Ujar Om Leo kepada Papa Arka.


Papa Arka, Veer, dan Arash serta Abash yang memiliki darah sama dengan kakek Farel pun langsung mengikuti Lucas dan Om Leo yang juga akan mendonorkan darahnya.


" Papa, Quin ikuut.. Hikss.."


"Quin, kamu tetap di sini yaa.."


" Papa..." Abi yang dekat dengan Quin pun menahan Quin untuk tidak mengikuti Papa Arka lagi.


" Hikss..kakek..."


Abi memeluk tubuh Quin, dan menenagkannnya.


" tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa, oke.." Abi terus menenagkan Quin yang masih sesenggukan.


Quin, cucu kesayangan kakek Farel. Quin selalu menuruti keinginan kakek Farel.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2