
“Aku merindukan mu, Sungguh.”
“Dasar pem-hmppp----“ Belum sempat Anggel menyelesaikan perkataannya, bibir Anggel sudah di bungkam oleh Lana.
Lana melepaskan ciumannya sebelum lampu kembali hidup. “Cukup gunakan bibir ini untuk mengucap kata rindu dan cinta. Aku mencintai kamu, percayalah. Dan satu hal lagi, Kamu harus terlihat cantik besok, atau kamu akan menyesal.” Bisik Lana sebelum ia pergi melepaskan pelukannya dan membiarkan Lucas kembali berdansa dengan cintanya itu.
Lana membenarkan topinya menutupi wajahnya agar orang-orang tak menyadari keberadaannya.
Namun, Mama Puput yang sangat hafal dengan siluet Lana pun langsung bisa menebak jika pria yang sedang berlari keluar dan menyelinap dari dalam gedung adalah Lana.
"Dasar anak nakal." kesal Mama Puput.
Pesta dansa pun berakhir. Abi dan Quin sudah masuk kedalam kamar mereka. Kamar yang sengaja di desain untuk kamar pengantin. Banyak taburan kelopak bunga di atas tempat tidur.
Quin merasa gugup, seolah-olah ini adalah malam pertama mereka. Padahal mereka telah melakukannya beberapa kali? Eeng, udah masuk puluhan kali yaa?
Abi memeluk Quin dan belakang dan mengecup pindahnya yang sedikit terbuka.
"I love you." bisiknya.
Quin menengadahkan wajahnya untuk melihat Abi yang sedang memeluknya dari belakang itu. "I love you more."
Perlahan, Abi menundukkan wajahnya dan mencium bibir Quin. Quin menyambut ciuman Abi dengan lembut serta membalas setiap gerakan bibir nya.
Ting tong ...
Abi melepaskan ciumannya di saat mendengar suara bel yang berbunyi, mengganggu keromantisan yang baru saja mereka bangun.
"Aku akan membukakan pintu."
"Hmm ..."
Quin berjalan ke depan cermin dan melihat penampilannya yang masih terlihat bagaikan seorang princess. Quin tersenyum melihat betapa cantiknya ia malam ini, persis seperti apa yang Quin bayangkan dulu.
Abi berjalan mendekat ke arah Quin sambil membawa satu kotak yang terikat dengan pita.
"Apa ni?" tanya Quin seraya menunjuk kearah kotak.
"Gak tau, katanya titipan para Mama dan Oma."
Kening Quin mengkerut, ia penasaran dan mengambil alih kotak tersebut.
Quin meletakkan kotak tersebut keatas tempat tidur, dengan tak sabaran dan rasa penasarannya, Quin memuka tutup kotak tersebut.
"Ini?"
Mata Quin membulat saat melihat sebuah lingeri seksi berwarna hitam yang saat ini sedang ia amati sambil memegang bagian tali nya dan mengangkatnya ke udara.
"Wooow," seru Abi saat melihat lingeri tersebut.
Quin menoleh dan mendapati wajah mesum Abi. Quin mengerjapkan matanya dengan cepat.
"Aku ingin melihat kamu memakainya, bolehkan?" ujar Abi dengan wajah imut yang di buat-buatnya.
"I-itu ...."
"Aku mohon ...." Abi memberikan puppy eyes nya.
"Emm, ba-baiklah.
"Terima kasih, sayang. Gimana kalo kita mandi bareng sekarang?" goda Abi sambil menaik turunkan alisnya.
"Eh, itu ... A-aku mau mandi sendiri. Bolehkan? Aku benar-benar ingin mandi." pinta Quin dengan mengelas.
"Hmm, baiklah. Apa ada yang perlu aku bantu?"
"Eeng, i-ini. Bi-bisakah kamu menarik resletingnya?"
"Tentu."
Dengan gerakan menggoda dan sengaja mengusapkan telapak tangannya seringan bulu di punggung Quin, Abi menarik resleting gaun Quin sambil mengelus punggung yang terbuka.
Quin menggigit bibirnya menahan des*han yang ingin keluar. Tak hanya menggigit bibir, Quin juga menahan napasnya untuk menghentikan hasrat yang di berikan oleh Abi.
"Terima kasih ...." ujar Quin sambil berlari sebelum Abi berhasil mencium punggung terbukanya.
Abi terkekeh melihat tingkah lucu Quin. Gemesin gimana gitu, seolah ini adalah malam pertama mereka.
Abi menolehkan kepalanya ke atas tempat tidur, di mana terdapat lingeri hitam yang dikirimkan oleh orang tua mereka.
Hmm, baru membayangkannya saja sudah membuat Jaguar Abi bergerak gelisah di bawah sana.
"Huuff ... sabar ... sabar ...." Abi mengusap dadanya untuk menahan hasrat yang bangkit dengan membara hanya dengan membayangkan Quin menggunakan lingeri hitam itu.
Ahh, sudah bisa Abi bayangkan bagaimana kontrasnya warna hitam itu ke kulit Quin yang putih dan mulus.
*
Quin memegang dadanya yang berdegup kencang. Yang benar saja? ini bukan yang pertama kali mereka lakukan. Kenapa Quin merasa seolah-olah ini adalah yang pertama bagi mereka.
Quin mengatur napasnya untuk menetralkan degup jantung yang berdebar-debar hebat itu.
"Huuff, kamu pasti bisa Quin. Ini bukan yang pertama. Semangat ...."
Quin melepaskan gaunnya dan meletakkannya di keranjang kotor. Quin membuka sisa pakaiannya dan langsung berendam di dalam bathup yang sudah terisi dengan air hangat.
Sepertinya pihak hotel benar-benar menyediakan semuanya dengan baik sehingga mereka tinggal menggunakannya saja.
*
Quin keluar kamar dengan menggunakan handuk kimononya. Ia melihat Abi sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Sedang lihat apa?"
__ADS_1
Suara Quin mengambil atensi Abi yang sedang fokus menatap grafik sahamnya yang terus naik.
"Hanya melihat laporan."
"Ini malam pernikahan kita, apa kamu akan tetap sibuk dengan pekerjaan Kamu?"
"Aku hanya melihatnya saja, sayang. Sambil aku menunggu kamu selesai mandi."
"Aku sudah selesai, Kamu mandi lah, biar segar. Aku sudah menyiapkan air hangatnya di bathup."
"Terima kasih, sayang."
Abi bangkit dan memeluk pinggang Quin.
"Jangan lupa kenakan pakaian seksi itu." bisik Abi di telibga Quin.
Quin yang sudah melupakan tentang lingeri tersebut kembali di landa kegugupan.
"Eh, i-iya ...."
"Aku tidak sabar melihatnya keseksian Kamu," ujar Abi sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Abi, kamu yakin ingin aku menggunakan baju kurang bahan itu?"
Abi menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Hmm, baiklah," ujar Quin dengan lesu.
Abi tersenyum dan mendaratkan kecupan di kening Quin sebelum ia beranjak ke kamar mandi. Quin menghembuskan napasnya pelan dan memutar tubuhnya memandang lingeri yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Hikks, sungguh memalukan," gerutu Quin.
Quin berjalan mendekati tempat tidur. Mengambil ujung lingeri dengan ujung jari nya.
"Huuff, harus banget apa pake baju kurang bahan gini."
Quin pun akhirnnya meraih lingeri tersebut dan memakainya dengan cepat.
Quin memandang penampilannya yang sudah menggunakan lingeri hitam dengan belahan dada rendah yang di hiasi oleh renda-renda untuk menutupi gundukan kecil yang ada di puncak bukitnya.
"Tidak buruk, tapi ini sungguh memalukan." Quin tersenyum sambil tertawa kecil.
Mungkin malam ini akan menjadi malam penyiksaan bagi Abi.
*
Quin tersenyum lembut saat melihat Abi keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kimononya.
Abi terpukau dengan penampilan Quin yang terlihat sangat cantik dengan pakaian kurang bahan tersebut namun harganya lumayan mahal dari pada daster rumahan yang sangat nyaman di kenakan.
Quin tak hanya memakai lingeri dalam saja, namun Quin sengaja menutup nya dengan kimono lingeri karena dirinya masih malu untuk berpakaian seksi di depan kekasih halalnya itu. Tapi tetap saja Abi bisa melihat bagaimana seksinya penampilan Quin. Karena kain tipis yang membayang itu membuat kulit putih Quin sedikit terekspos. warna hitam pekat yang sangat kontras dengan kulit Quin, membuat Quin seolah bercahaya dari dalam kegelapan.
Abi menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Quin seperti itu saja sudah membuat Jaguar meronta-ronta untuk minta di pijit dan dihangatkan.
"My Quin," bisik Abi tepat di depan bibir Quin dan langsung mengecupnya dengan lembut.
Quin perlahan menaikkan tangannya dengan gerakan menggoda ke dada Abi, serta membelai leher dan telinga Abi dengan lembut sebelum ia merem*s rambut Abi dan melingkarkan lengannya di leher Abi.
Tangan Abi membuka kimono tipis milik Quin dan membiarkannya jatuh di bawah Kaki Quin. Abi melepaskan ciumannya dan menatap tampilan indah Quin yang menggunakan lingeri seksi tersebut.
Abi benar-benar berada di atas puncak gairahnya.
Tahan Abi, tahan ... nikmati secara perlahan.
"Kamu sungguh cantik." bisik Abi di telinga Quin.
Quin menggigit bibirnya dan itu membuat Quin semakin terlihat sangat seksi. Abi pun kembali mencium bibir Quin dengan sedikit kasar hingga menyelusupkan lidahnya k dalam mulut Quin.
Perlahan ciuman Abi pun turun ke leher Quin hingga tangannya mulai meraba tubuh Quin dari balik kain tipis menggoda itu.
Quin mendekatkan bibirnya ke telinga Abi dan berbisik dengan sangat seksi.
"Maaf kan Aku, sayang. Kamu harus puasa malam ini. Tamu ku datang tanpa di undang."
Abi yang baru saja ingin menghis*p leher jenjang Quin yang putih pun mengurungkan niatnya dan menatap wajah Quin dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Maksud kamu?"
"Aku lagi Menstruasi," ujar Quin penuh menggoda pada kata 'menstruasi'.
"Quin, jangan bercanda," ujar Abi dengan suara parau nya.
"Aku tidak bercanda, sayang. Tadi aku sudah katakan apa kamu yakin aku menggunakan baju ini? kamu mengatakannya dengan penuh keyakinan. Aku hanya gak tega melihat kamu yang sudah mengharapkan aku memakai baju ini."
"Sejak kapan? maksud aku, kapan kamu mulai mendapatkannya?"
"Tadi sore, Aku baru mengetahuinya saat kita berganti pakaian."
"Kenapa kamu gak bilang?" ujar Abi dengan frustasi dan menjauhkan dirinya dari Quin.
"Kamu kan gak tanya." ujar Quin dengan wajah polosnya.
"Ya Tuhan, Quin. Kamu ngerjai aku ini namanya."
"Tidak." Quin mengulum bibirnya.
Abi merengut dan membalikan tubuhnya naik keatas tempat tidur. Abi memeluk guling dan membelakangi Quin.
Ceritanya lagi ada yang merajuk nih ....
"Sayang, pakai baju mu dulu. Nanti masuk angin." ujar Quin tanpa rasa bersalah.
"Biarin." Abi menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Quin naik ketempat tidur, menopang wajahnya dibahu Abi sambil mencuil hidung Abi.
"Sayang, jangan ngambek dong. Masa malam pernikahan kita kamu ngambek? gak lucu kan?"
Abi perlahan membuka matanya dan menoleh kearah Quin.
"Kamu sengaja kan?"
"Tidak," ujar Quin dengan wajah memelas.
"Seharusnya kamu bilang sama aku, jika lagi datang bulan," ujar Abi dengan merengek.
"Maaf,"
Abi membalikkan tubuhnya dan menarik tubuh Quin kedalam pelukannya. Abi tutupi semua tubuh mereka dengan selimut. Abi tak ingin melihat tampilan seksi Quin, ini sungguh menyiksanya.
Quin menatap wajah Abi yang terlihat sayu, tak tega sebenarnya, tapi Quin terlanjut sudah menjahili sang suami. Jadi Quin ingin menikmati wajah sang suami yang tengah merajuk. Sungguh menggemaskan.
"Kamu tidak ingin memakai baju mu?"
"Biarkan seperti ini, ayo kita tidur."
Abi menarik tubuh Quin Quin kedalam pelukannya. Namun, kain tipis itu benar-benae membuat Abi dapat merasakan lekuk tubuh kulit Quin yang sangat halus. Bahkan gundukan itu terasa nyata seah tanpa berbatas. Jaguar Abi pun merengek di bawah sana untuk minta di lepaskan.
"Tidurlah sayang, aku harus melakukan sesuatu untuk menidurkan jaguarku." Abi kecup kening Quin sebelum beranjak dari tempat tidur.
Quin menahan lengan Abi sehingga Abi kembali menoleh kearahnya. "Maafin aku ya,"
Abi tersenyum dan melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar mandi.
Bukannya Quin taknm ingin membantu Abi menidurkan Jaguarnya. Hanya saja Quin benar-benar merasa lelah. Gaun yang ia kenakan terasa berat, seharian Quin terus tersenyum bahagia sehingga membuat wajahnya terasa letih. Namun Quin tak ingin membuat Abi tersiksa dengan melihatnya menggunakan pakaian kurang bahan ini. Quin memaksa tububnya untuk bangkit dan mengambil baju yang ada di dalam lemarinya. Quin mengambil baju kaos lengan panjangnya yang menutupi hingga pangkal pahanya. Quin kembali ketempat tidur dan tak butuh waktu lama, Quin pun terlelap dalam tidurnya.
Abi keluar dari dalam kamar mandi dan melihat jika Quin sudah berganti pakaian. Abi bernapas lega, ia mendekat kearah Quin dan melihat wajah Quin yang kelelahan. Abi terkekeh saat mendengar dengkuran yang keluar dari mulut Quin. Sepertinya jika terlalu lelah Quin akan tidur dengan mendengkur.
Abi naik keatas tempat tidur dan masuk kedalam selimut yang sama dengan Quin. Di peluk nya tubuh Quin dan ikut terlelap dalam tidurnya.
*
Anggel membuka pintu kamarnya di saat Desi datang dengan membawakan sebuah pesan yang katanya dari Lana.
"Berdandan lah dengan cantik besok. Aku ingin melihat kecantikan mu dalam balutan gaun pengantin, Aku mohon."
Anggel menatap tampilannya di cermin, matanya terlihat sedikit cekung dan sembab. Itu karena Ia terus menangisi Lana, si brengsek Lana yang telah mengambil ciumannya setelah menghilang tanpa kabar.
"Lihat saja, aku akan membuat kamu menyesal karena gak memperjuangkan aku. Aku akan tampil sangat cantik besok, hanya untuk membuat kamu terluka dan menyesal."
Anggel memesan es batu melalui layanan kamar dan akan mengkompres matanya yang sembab. Anggel akan membuat Lana melihat kecantikannya yang pari purna. Dan membuat Lana menyesal karena tak memperjuangkannya. Lagi pula Martin tidak terlalu buruk sekarang.
*
Anggel tersenyum lebar kepada Oma Mega yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Anggel baru selesia mandi dan siap untuk di dandan.
Oma Mega merasa heran karena melihat Angg yang terlihat bersemangat pagi ini.
"Sayang, tumben kamu sudah selesai mandi? kamu gak berencana kaburkan?"
Anggel terkekeh. "Mami, bukankh untuk membalas dendam dengan seseorang yang telah menyakiti kita, kita harus tampil cantik dan mempesona? serta kita harus terlihat bahagia bukan?"
"Maksud kamu?"
"Anggel ingin membuat Lana menyesal karena tak memperjuangkan Anggel. Anggel akan menjadi pengantin tercantik dan bahagia. Setelah Anggel fikir-fikir, Martin tidak buruk juga."
Oma Mega tersenyum dan mengelus rambut Anggel.
"Mami senang jika kamu mulai menerima Martin."
Tak berapa lama tim make up artis pun masuk kedalam kamar Anggel.
"Dandani aku secantik mungkin." titah Anggel dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
*
Seorang pria dengan perawakan bule memandang tampilannya di depan kaca. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya.
"Kamu terlihat tampan sayang."
Pria itu menoleh ke sumber suara dan tersenyum manis.
"Mam, apa aku terlihat tampan?"
"Tentu, Ayo kita berangkat, mereka sudah menunggu di hotel."
"Apa dia akan menerima ku, Mam?"
"Pasti. Mama bangga dengan kamu, Martin."
"Terima kasih, Mam."
Ya, pria itu adalah Martin. Mereka sedang bersiap untuk menuju ke hotel Moza.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1