
" Quin, udah dong nangisnya ya.." Pinta Abi sambil mengelus wajah Quin yang basah.
Saat ini Quin dan Abi sedang berdua di dalam kamar. Seluruh keluarga memberikan waktu kepada mereka berdua.
" Hikkss... Kamu terluka, hikkss.. gara-gara aku..." Quin menggenggam tangan Abi dengan erat. Abi pun dapat merasakan jika tangan Quin sedang gemetar saat ini.
" Heii, aku gak papa. Yang penting kamu gak terluka. Sudah tugas ku melindungi kamu." Abi membelai wajah Quin, dan merapikan rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinga.
" Maaf, karena aku gak sempurna dan bukan lelaki kuat. Aku janji, ini terakhir kalinya aku terluka di hadapan kamu, dan aku janji, jika aku akan menjadi lelaki kuat untuk kamu."
Quin masih sesenggukan dengan air matanya yang berlinang sambil menatap ke wajah Abi.
" Aku gak mau kamu terluka.. hikss.."
Abi tersenyum, " Gak akan, karena saat ini aku sudah menemukan pelatih yang hebat. Percaya sama aku." Ujar Abi sambil menghapus kembali air mata Quin.
" Siapa?"
Abi hanya tersenyum, dan tak menjawab pertanyaan Quin.
.
.
Anggel membeku saat melihat Zein berada di depan pintu apartemen Lana.
" Kak Zein.." lirih Anggel.
Zein menghela napasnya, ia sudah tau apa yang terjadi kepada Anggel dan Lana. Zein melihat Pak Yoyo di parkiran, dan menanyakan apa yang terjadi dengan Anggel. Pak Yoyo pun menceritakannya, bahwa Anggel menjemput Lana di sebuah club'. Zein hanya menghela napasnya kasar.
" Ayoo pulang, Saat ini tak aman berkeliaran bagi keluarga Moza."
Anggel yang tak mengerti apa maksud dari perkataan Zein pun mengerutkan keningnya.
" Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
" Ayoo.." Zein meraih tangan tangan Anggel, namun Anggel menepisnya.
" Katakan, apa yang terjadi? atau aku tak akan ikut. "
" Aunty.." Pekik Zein, yang mana membuat Anggel terkejut dan menahan napasnya. Anggel tau, jika Zein sudah memanggilnya dengan sebutan aunty, maka Zein sedang memberi jarak di antara mereka.
" Jangan pancing kemarahan ku, cukup aku menahannya dengan mendengar Aunty menjemput Lana ke club', Yang mana seharusnya Aunty bisa menyuruh aku atau Fatih untuk menjemputnya di sana." Geram Zein.
Anggel kembali menelan ludahnya, Ia menurut saat Zein kembali menarik tangannya pulang. Di perjalanan, Zein mengatakan kejadian apa yang terjadi, yang mana membuat Anggel menangis dan minta untuk di antar ke rumah sakit. Anggel ingin menemani Quin di sana.
.
.
Sudah empat hari Abi di rawat, Quin selalu setia menemani Abi. Bukan berarti Quin juga ikut menginap di rumah sakit, tidak.. itu tidak akan di biarkan oleh Papa Arka dan juga Veer.
Aunty Risma pun meminta Abi untuk pulang ke rumahnya, aunty Risma tidak akan membiarkan Abi kembali ke apartemen nya dalam keadaan Abi yang masih belum benar-benar fit.
__ADS_1
" Abi gak papa Aunty, Kok di perlakuin kaya anak kecil sih.. Abi gak mau makan bubur Ah, Abi gak suka." Rajuk Abi yang memang selalu manja kepada Aunti Risma.
" Biar tenaganya cepat pulih Abi, ayo makan."
Tak berapa lama pelayan mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat perintah dari Aunty Risma.
" Maaf nyonya, di luar ada tamu. Tunangannya Tuan Abi."
Abi membulatkan matanya, tak percaya jika Quin akan menjenguknya lagi saat ini, sepagi ini. Padahal Quin mengatakan jika hari ini ia akan ke toko, karena sudah terlalu lama meninggalkan toko.
" Suruh masuk." Ujar Abi dengan semangat, yang mana membuat Aunty Risma sampai menoleh dan tersenyum.
Tak berapa lama Quin muncul dengan memegang bekal di tangannya.
" Maaf ya aunty, aku ganggu pagi-pagi." Ujar Quin dengan tersenyum kikuk.
" Gak apa-apa, kamu bawa?"
" Eem, ini, tadi pagi aku buat bubur untuk Abi." Ujar Quin dengan wajah sedikit merona.
Aunty Risma tersenyum, kemudian ingin mengerjai sedikit sepasang kekasih ini.
" Duh, sayang banget Quin. Abi gak suka bubur, nih, bubur buatan Mbok aja gak mau di makannya." Aunty Risma sedikit melirik Abi, dan melihat jika mata Abi sudah melotot sempurna.
" Buburnya buat Aunt___"
" Gak, siapa bilang Aku gak suka bubur? Suka kok, Sini Quin, aku makan bubur dari kamu. "
" Itu__ Aku tadi masih kenyang aja aunty, tapi sekarang udah lapar lagi.."Abi memamerkan gigi putih rapinya.
Aunty Risma tau, jika Abi saat ini ingin mendapatkan perhatian Quin, Tapi sayang ya Abi belum mendapatkan hati Quin. Sampai saat ini, Quin hanya merasa bersalah karena telah membuat Abi terluka.
" Ya udah, kalo gitu Aunty keluar yaa.. "
Aunty Risma pun memberikan ruang untuk Abi dan Quin.
" Beneran kamu gak suka bubur?" Tanya Quin saat sudah duduk di pinggir tempat tidur.
" Suka kok, siapa bilang aku gak suka."
Sebenarnya Abi memang kurang suka dengan bubur, apalagi makanan yang berbentuk tekstur lembek.
" Bohong banget sih. Gimana keadaan akmu? masih sakit?"
" Gak kok, aku gak sakit."
Quin mencebikkan bibirnya, kemudian ia menekan bagian perut Abi yang terdapat tendangan paling banyak.
" Aww.." Abi meringis, kemudian menyengir saat melihat wajah kesal Quin.
" Kalo sakit, bilang aja sakit. "
Quin meletakkan bekalnya di atas nakas, tanpa ingin membuka ya dan menyuapk Abi. Abi hanya memperhatikan pergerakan Quin yang sepertinya tak berniat untuk menyuapi nya.
__ADS_1
" Kamu gak mau suapi aku bubur nya?"
" Kamu gak suka bubur."
" Suka, aku suka. Apa pun masakan kamu, pasti aku suka.'
"Ya udah, kamu gak akan suka bubur itu, karena bukan aku yang masak."
" Tapi kamu yang bawa jauh-jauh ke sini." Abi meraih tangan Quin, " Aku mau kamu suapi."
Quin mencebikkan bibirnya, " Dasar Manja. Gak mau."
" Ayoo lah, aku mohon.." Pinta Abi dengan wajah di buat seperti anak kecil merajuk.
Quin tersenyum kecil, " Baiklah.. baiklah... "
Quin meraih bekal yang di bawanya tadi, yang sempat di letakkan nya di atas nakas. Dengan lembut Quin menyendokkan bubur tersebut dan menyodorkannya ke depan bibir Abi. Abi membeka mulutnya, walaupun dalam hati ia sudah merasakan hal yang tak enak.
Abi melototkan matanya, ternyata apa yang ia rasakan tak seperti fikirannya. Ia berfikir jika bubur itu hambar atau hanya terasa garamnya saja, namun ini sangat beda, Abi membuka mulutnya semakin lebar dan sangat lahap memakan bubur tersebut hingga tandas.
" Quin, buburnya enak. Aku mau lagi.." pinta Abi seperti anak kecil.
" Tinggal bubur yang di bawa aunty, kamu mau?"
Abi menganggukkan kepala nya dan membuka mulutnya lebar. Abi mengernyit dan menelan paksa bubur tersebut.
" Rasanya kok beda ya. Padahal kan sama-sama bubur."
" Ya iyalah lah, ini cuma bubur nasi biasa yang dibtatuh kentang dan wortel. Kalo yang aku bawa ini, buburnya pake daging ayam yang udah di rebus, terus di tambah sayuran." Jelas Quin.
" Tapi kan sama-sama bubur."
" Iya, tapi rasa kaldu ayam nya yang buat bubur ini menjadi lebih gurih." Quin menunjuk bubur yang di bawanya.
" Aku suka bubur yang kamu bawa. Siapa yang buat? kamu harus bisa masak bubur seperti itu ya, jadi kalo kita udah nikah, kalo aku sakit, kamu bisa masakin aku bubur enak, aku nya cepat sembuh deh." Ujar Abi dengan nada yang manja.
Quin mengerjapkan matanya, apa ia tak salah dengar? Abi mengatakan masalah pernikahan? Apa Abi benar-benar ingin pernikahan ini terjadi? Tidak seperti dirinya yang tak ingin ada pernikahan tanpa cinta. Quin ingin pernikahannya di landasi dengan cinta, seperti pernikahan sang Papa dan Mama.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan siapapun, Quin mencari tahu keberadaan Anita, dan Quin berhasil menemukannya. Quin sudah mengirimkan surat elektronik kepada Anita dua hari lalu, tapi Quin belum juga mendapatkan balasan. Quin berharap, agar Anita membalas pesannya dengan cepat, agar pernikahan nya dengan Abi tak terjadi.
* hai semua, maaf ya kalo aku jarang balas komentarnya. Bukannya gak mau balas, tapi aku juga sedang sibuk di dunia nyata ku. Ditambah lagi aku harus menulis di platform lain. Kalo teman2 ada waktu dan berkenan membaca karya ku yang lain, boleh mampir yaa di lapak Hotbuku.
Jangan lupa Follow IG q yaa. Agar selalu dapat info terbaru di setiap novel ku.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1