KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2- SULTAN KHILAF 195


__ADS_3

"Quin," sapa Mama Kesya.


"Ya, Ma." Quin menoleh ke arah sang mama yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kamu sudah makan, sayang?" tanya Mama Kesya.


"Sudah, Ma," jawab Quin.


"Quin memang sudah makan, tapi cuma dua suap," ujar Bunda Sasa mengaduk kepada Mama Kesya.


"Kok dikit amat sih makannya? Kenapa?" tanya Mama Kesya.


"Quin gak selera, Ma. Quin kepikiran kakek," lirih Quin dengan mata yang berkaca-kaca.


Memang, di antara semua cucu Kakek Farel, Quin-lah yang paling dekat dengan kakek Farel. Bahkan bisa di katakan, Quin tumbuh besar di bawah pengawasan kakek Farel.


Begitu pun dengan kakek Farel, Quin adalah cucu yang paling dia sayangi. Bukan berarti dengan yang lain tak sayang, bukan. Tapi karena waktu yang membuat mereka selalu bersama, membuat Quin berada di tempat yang lebih spesial di hati kakek Farel.


"Quin boleh mikirin kakek, tapi Quin juga harus ingat, jika ada kehidupan lain yang sedang bergantung sama QUin. Kalau Quin malas untuk memberi nutrisi ke dalam tubuh, bagaimana dengan kehidupan yang ada di dalam tubuh kamu sekarang, Quin?" ujar Mama Kesya.


"tapi, Ma? Quin merasa susah untuk menelan semua makanan itu. Bahkan Quin merasa kenyang," ujar Quin dengan sendu.


"Mama tau perasaan kamu. Tapi kamu harus tetap memaksa diri kamu untuk tetap makan. Kamu bisa memperbanyak makan buah jika tak ingin memakan nasi. Yang terpenting nutri yang baik tetap masuk ke dalam tubuh. Jangan lupa untuk meminum vitamin dan susunya," ujar Mama Kesya mengingatkan.


"Iya, Ma. Quin akan makan," ujar Quin dan meminta tolong kepada Sifa untuk mengambilkan apel.


"Anggel," tegur Mama Kesya, yang mana membuat ibu hamil itu menoleh ke arah sumber suara.


"Iya, Ma," jawab Anggel.


"Gimana? Masih keram perutnya?" tanya Mama Kesya sambil mengelus pelan perut Anggel.


Tadi memang Anggel sempat mengalami keram perut. Mungkin karena terlalu shock juga saat mendengar kabar tentang kakek Farel.


"Alhamdulillah, Ma. Udah gak papa lagi," jawab Anggel.


"Alhamdulillah. Pokoknya kalian jangan banyak pikiran ya. Apapun yang kalian pikirkan saat ini, semoga kakek baik-baik saja," ujar Mama Kesya yang di aminin oleh seluruh orang yang ada di ruangan tersebut.


"Key, gimana keadaan Oma Laura?' tanya Bunda Sasa.


"Mami tadi sedang tidur saat Key tinggal. Lagi pula di sana juga sudah ada Mbak Mega," uja Quin. "Oh ya, Mami mana?" Mama Kesya menanyakan keberadaan Oma Shella.

__ADS_1


"Mami sedang keluar cari makanan sama Kayla. Tadi Kayla tiba-tiba saja kepingin makan apa ya? Lupa Mbak. Pokoknya tiba-tiba kepingin makan lah," ujar Bunda Sasa.


"Apa jangan-jangan Kayla hamil?" ujar Mama Kesya.


"Mbak mikirnya gitu juga. Tapi tadi Anggel sudah periksa, belum ada tanda-tanda kalau Kayla hamil. Tapi Anggel sudah menyarankan kepada Kayla untuk memeriksakan diri ke obgyn," ujar Bunda Sasa.


"Iya, mumpung di rumah sakit, Ntar aku suruh Anggun buat periksa Kayla," ujar mama Kesya.


"Sifa," panggil Mama Kesya.


"Ya, tante?"


"Kamu lagi ngapain?" tanya Mama Kesya.


"Lagi ngupasin kulit apel buat Mbak Quin," ujar Sifa.


"Biar Bunda saja yang kupasin. Kamu ikut Tante pulang ya, bantuin Tante ambil barang-barang di rumah," ujar Mama Kesya.


"Oh, iya Tante,"


"Mbak, tolong gantiin Sifa kupas apel ya," pinta Mama Kesya.


"Ma, kenapa harus sama Sifa?' tanya Quin dengan senyum penuh arti.


"Namanya juga lagi pedekate sama calon menantu," jawab Mama Kesya yang mana membuat wajah Sifa merona.


Setelah Sifa dan Mama Kesya keluar dari ruangan, tiba-tiba Anggel turun dari tempat tidur dan menghampiri tempat tidur Quin.


"Quin, Emangnya Sifa pacaran sama siapa sih?" tanya Anggel kepo.


"Iya, Bunda juga kepo," sambung Bunda Sasa.


"Iya Mbak Quin, bilang dong sama siapa Sifa pacaran," ujar raysa yang juga ikut nimbrung.


"Hmm, kasih tau gak yaaa?" ujar Quin dengan tersenyum penuh arti.


"Ayo dong Quin, penasaran ini Bunda," ujar Bunda Sasa dengan merenegek sehingga membuat semuanya tertawa.


"Duh, giimana ya? Sebenarnya Quin juga gak tau Sifa punya hubungan spesial sama siapa. Kalau lihat Sifa dan Arash, mereka terlihat serasi dan sangat klop gitu. Nyambung, asik bawaan ngobrolnya. Tapi kalau Sifa sama Abash, terlihat kaku sih, tapi tatapan mata mereka itu loh yang membuat curiga," ujar Quin.


"tatapan siapa?" tanya Anggel.

__ADS_1


"tatapan mereka lah," ujar Quin lagi.


"Iya, maksudnya tatapan siapa yang berbeda," ujar Anggel dengan gemas.


"Tatapan Abash. Tapi Sifa kayaknya juga sih. Ah, gak tau lah. Gak brani nebak-nebak. Lagian mereka di tanyain pun gak ada yang mau ngaku," ujar QUin denagn kesal.


"Jadi, intinya kamu juga gak tau Sifa punya hubungan spesial dengan siapa?" ujar Bunda Sasa.


Quin menunjukkan gigi rapinya dan terkekeh pelan. "Iya, Bun, QUin juga gak tau, hehehe."


Bunda Sasa dan yang lainnya pun menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, Quin. Kirain kamu tau. Udah bikin kita-kita penasaran aja," ujar Anggel yang mana kembali ke tempat tempat tidurnya semula.


QUin hanya terkekeh pelan, rasanya puas sekali mengerjai saudara-saudaranya itu.


"Quin, jangan bilang kalau mereka terjerat cinta segi tiga," ujar Bunda Sasa tiba-tiba.


"Jangan sampai lah, Bun. Gak lucu rasanya jika mereka harus terjebak dengan wanita yang sama.," ujar Quin yang sebenarnya juga merasa takut akan hal itu terjadi.


*


Sudah dua hari kakek Farel berada di ruang ICu, akhirnya hari ini kakek Farel dapat membuka matanya scara perlahan.


"Kakek, ini Quin," ujar Quin dengan air mata yang berlinang. Dengan susah payah wanita itu menahan air matanya agar tak terjatuh.


Kakek Frel hanya bisa merepon dengan gerakan mata saja. tangannya masih terlalu lemah untuk di angkat dan menyentuh kepala Quin.


Seolah tau apa yang ingin di lakukan oleh sang kakek, Quin mengangkat tangan kakek Farel secara perlahan dan meletakkannya di atas kepalanya.


terlihast sebuah senyuman tipis di wajah Kakek farel, yang mana membuat Quin tak mampu menahan air matanya lagi.


"Kakek harus cepat sembuh. Kakek harus bertahan hingga Quin melahirkan. kakek harus melihat cucu kembar kakek dari Quin," ujar Quin dengan menangis tersedu-sedu.


Kedipan mata kakek Farel seolah mengtakan jika dia akan baik-baik saja.


Quin tak di biarkan berlama-lama berada di ruangan ICu, karena alat medis dan juga aroma obat yang tak baik untuk kondisi Quin yang tengah hamil.


Lucas pun menghampiri Quin dan meminta sepupunya itu untuk keluar. Dengan berat hati, Quin pun harus menuruti perkataan sang sepupu demi kehidupan yang ada di dalam perutnya.


"Besok Quin akan kembali lagi. Quin janji," ujar Quin sebelum meninggalkan ruangan kakek Farel.

__ADS_1


__ADS_2