KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2- SULTAN KHILAF 107


__ADS_3

Dampak dari perkataan Oma Mega tak hanya kepada Lana, namun juga kepada Fatih dan Kayla.


Fatih menatap langit yang bertabur bintang, fikirannya kembali kepada saat dirinya melamar Raysa kembali ...(Baca di kisah mereka... 🤭🤭🤭)


Begitu pun dengan Kayla yang termenung di halaman belakang rumah nya. Setiap perkataan Oma Mega seakan menyinggung status nya.


Kayla bukan terlahir dari seorang anak yang memilki sebuah perusahaan besar. Kayla hanya seorang anak dari pegawai biasa yang bekerja untuk perusahaan Moza. Sedangkan Zein adalah keturunan berdarah biru. Mana mungkin Oma Mega dapat menerima cucu nya menikah dengan orang biasa seperti dirinya, yang keluarga nya sendiri tak bisa di bangga-banggakan oleh Oma Mega.


Berbeda dengan Papi Vano yang menikah dengan Mami Vina. Ayah Mami Vina seseorang yang memiliki jabatan yang terbilang tinggi di kantor kejaksaan. Berbeda dengan Ayah nya, yang hanya pekerja di kantor milik keluarga Moza.


Cling ....


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kayla. Kayla meraih ponselnya dan melihat siapa si pengirim pesan. Kayla mendesah saat melihat nama Zein tertera di sana. Kayla lebih memilih mengabaikan pesan dari Zein.


*


Oma Mega sudah merenungkan kesalahannya yang telah berkata tak sopan kepada Mama Puput, Oma Mega pun berencana untuk menjumpai Mama Puput pagi ini juga.


"An, Mami pulang dulu. Ada yang harus Mami kerjakan. Kamu sama gak papa kan di tinggal sebentar?"


"Hmm ...." Anggel hanya menjawab dengan gumaman.


Semenjak kejadian itu, Anggel memilih mendiamkan sang Mami. Dan menjawab jika perlu saja.


Mami Mega pun mendesah pelan. Dengan perasaan yang berkecamuk, Mami Mega meninggalkan Anggel sendirian di dalam kamar inap nya. Namun tetap dengan penjagaan di luar kamarnya.


Saat pintu kamar itu kembali tertutup, Anggel memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sela lutut sambil menangis. Tangisan yang menyayat hati penuh kerinduan.


*


"Ingat, Mami harus meminta maaf dengan tulus." Ujar Opa Bram.


"Iya Pi, tapi, jangan paksa Mami untuk merestui hubungan Lana dan Anggel."


"Hmm ...." Opa Bram hanya bergumam, tidak ingin memulai hari dengan berdebat.


Opa Bram dan Oma Mega pun masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh supir.


"Papi udah hubungi Fadil? kalo kita mau ke sana?"


"Sudah, dan mereka sedang menunggu kita saat ini."


Jantung Oma Mega pun berdegup kencang. Takut jika Puput tak bisa memaafkannya. Tapi semua ini sudah menjadi konsekuensi yang harus di tanggung nya sendiri.


Mobil mewah itu pun akhirnya sampai di halaman rumah Papi Fadil dan Mama Puput. Seorang satpam langsung membukakan pintu saat mobil mewah tersebut berada di depan gerbangnya, karena sebelumnya sudah di beritahukan oleh majikannya jika ada tamu penting yang akan datang.


Mama Puput menyambut kedatangan Oma Mega dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata nya. Oma Mega pun semakin merasa bersalah atas ucapannya.


Mama Puput mempersilahkan tamu spesialnya itu duduk di sofa ruang tamu. Seorang pembantu pun menyuguhkan minuman dan cake yang baru saja di buat oleh Mama Puput dan anak gadisnya.


"Jadi, kedatangan kami kesini itu untuk menyampaikan permohonan maaf atas ucapan istri Om." Ujar Opa Bram.


"Pu-puput, Tante minta maaf ya atas ucapan Tante waktu itu."


Hening, Mama Puput pun masih diam belum menjawab per-minta maafan dari Oma Mega.


"Tante tau, Tante sangat kelewatan saat itu. Rasa khawatir Tante yang tak jelas membuat Tante berfikiran buruk dan tak bisa mengontrol emosi Tante."


Mama Puput masih diam, sedangkan Papa Fadil sudah menggenggam tangan Mama Puput yang terkepal kuat.


"Tante seorang ibu, dan Tante pernah memilki kenangan buruk tentang seorang pria yang pernah Tante cintai dulu. Tante tak ingin Anggel merasakan hal yang sama dengan apa yang Tante rasakan."

__ADS_1


Puput mengerutkan keningnya, karena memang tak tau jika Tante Mega memilki kenangan buruk. Tak ada yang tahu, bahkan Papa Arka pun tak tahu tentang kenangan itu. Kenangan itu memang di simpan rapat-rapat, termasuk pernikahan Oma Mega yang pertama.


"Puput, Tante mohon maaf atas ucapan Tante yang sangat menyakiti hati kamu. Tante mohon Maaf."


Mama Puput menghela napasnya pelan saat merasakan genggaman Papa Fadil semakin menguat.


"Baiklah Tante, Puput maafkan, tapi untuk menyembuhkan sakit hati ini, Puput masih butuh waktu. Cukup Puput saja yang merasakan, jangan lagi ada orang lain."


"Iyaa, Tante akan introspeksi diri Tante lagi." Oma Mega diam, ia ingin mengatakan bahwa ia masih belum bisa menerima Lana dan Anggel untuk bersama.


"Eengg, dan i-itu ...."


"Ah ya, ada yang harus Tante tahu. Puput akan pastikan Lana tak akan mengganggu Anggel lagi. Jadi Tante jangan khawatir tentang Lana. Puput pastikan itu, Karena bagaimana pun, walau Lana tak lahir dari rahim Puput, Tapi Lana dididik oleh Puput, dan Puput yakin jika Lana pasti menuruni sifat Puput atau Kak Fadil."


Tante Mega pun hanya tersenyum tipis. Namun ia merasa sedikit lega saat mendengar jika Lana tak akan menggangu Anggel lagi.


Setelah perbincangan yang terasa dingin itu, Opa Bram dan Oma Mega pun pamit undur diri dari kediaman Mama Puput. Mama Puput dan Papa Fadil pun mengantarkan mereka sampai ke depan pintu, dan melihat hingga mobil mereka keluar dari pagar.


Mama Puput masuk kedalam rumah, dan mendapati putra sulung nya berdiri di tangga. Mama Puput menebak jika Lana mendengar semua percakapan mereka.


Lana memberikan senyuman manisnya kepada sang Mama. Dengan langkah yang pasti, Lana menghampiri Mama Puput dan memeluk nya.


"Lana akan turuti semua kemauan Mama. Asal Mama gak marah lagi sama Lana."


"Ck, dasar kamu ini. Mana bisa Mama marah lama-lama sama anaknya." Mama Puput pun membalas pelukan Lana.


*


Abi memperhatikan seluruh apartemen Quin yang berada di sebelah apartemen Veer. Abi memperhatkkan foto-foto saat dirinya masih sekolah, hingga kuliah. Ada foto keluarga dan juga kebersamaan Quin dengan saudara-saudaranya.


"Kamu lihat apa?" Tanya Quin sambil membawa dua piring nasi goreng ke balkon apartemen mereka. Abi tadi bilang ingin menikmati sarapan pagi dengan udara sejuk di pagi hari.


"Lihat foto-foto kamu," Abi berbalik dan mendapati Quin memegang nampan yang berisi dua piring nasi goreng dan air putih.


Quin pun memberikan nampan tersebut kepada Abi. Dan di sinilah mereka, menikmati pemandangan kota yang masih pagi namun terlihat jalanan mulai dipenuhi oleh bermacam-macam kendaraan.


"Aku suka pemandangan di sini."


"Iyaa, di sini masih terasa sangat asri walaupun berada di tengah-tengah kota."


"Oh ya, Besok Empus bakal di bawa. Kamu siapkan untuk berpisah dengannya?"


Wajah Quin terlihat murung. Untungnya Abi mengatakan hal itu setelah mereka selesai sarapan. Abi pun menggeser kursi nya untuk duduk di sebelah Quin.


"Abi, apa semua akan baik-baik aja?"


"Tentu."


"Apa kita akan tinggal selamanya di German?"


"Tidak, Jika pekerjaan ku cepat selesai, kemungkinan kita hanya dua bulan saja di sana."


"Lalu, bagaimana dengan Empus? aku pasti akan merindukannya saat kita kembali ke sini."


Abi terlihat berfikir, kemudian ia menarik tangan Quin dan mengecupnya dengan sayang.


"Haruskah kita membuat hutan buatan di sini?"


Quin mengerjapkan matanya, untuk membuat sebuah hutan buatan di perlukan lahan yang sangat luas. Serta pohon-pohon yang asri, dan kolam air untuk Empus minum. Namun Empus akan sendirian jika begitu, sedangkan di German, hutan yang di maksud Abi sudah memiliki beberapa hewan milik peliharaannya juga. Jadi Empus bisa memiliki teman di sana. Lagi pula, tak mungkin juga Quin memelihara Empus di rumah, seperti yang Abi katakan, Empus butuh pasangan hidupnya juga, atau jika tidak Empus akan mati dengan sendirinya.


"Abi, kalo kita sudha kembali ke sini, danAku rindu Empus gimana? tiket kesana kan mahal?"

__ADS_1


Abi terkekeh. "Quin, aku akan membelikan jet pribadi untkk kamu."


Quin membelalakkan matanya. Quin tau, jet pribadi itu sangat mahal, belum lagi pilot dan lain-lainnya.


"Tenang aja, uang ku gak akan habis jika hanya membelikan kamu jet pribadi. Bahkan aku bisa membelikan kamu sebuah pulau pribadi."


"Abi, aku ... ini terlalu berlebihan. Kamu baru saja membelikan hutan untuk aku, dan kamu sekarang bicara soal jet dan pulau pribadi. Kamu membuat ku pusing."


"Apa pun akan aku berikan, Karena seluruh hasil keringatku hanya untuk kamu."


Abi mengecup kening Quin, mata, pipi, dan terakhir bibir. Abi mel*mat nya sebentar dan melepaskannya. Tanpa Abi sadari, jika Quin kecewa karena Abi hanya sebentar menciumnya. Pingin lagi, tapi Quin malu ... Gengsi Ah ....


*


"Fi, Ayo sarapan."


Nafi yang baru saja keluar dari kamar dan mencium aroma Yang sedap pun merasa cacing-cacing di perutnya meronta untuk di kasih asupan gizi.


Nafi melihat sekeliling, Tak ada seorang pembantu di dapur, dan hanya Veer yang sedang menuang air putih di dalam gelas.


"I-ini siapa yang masak?"


Veer meletakkan gelas dan tersenyum kepada Nafi.


"Aku."


"Ka-kamu? kamu yang masak?" Tanya Nafi terkejut. Ada rasa tersentil di hatinya, karena Veer jago memasak, sedangkan dirinya tidak pernah ke dapur sama sekali.


"Iyaa, Ayo ...." Veer menarik kursi untuk Nafi.


"Tapi sebenarnya aku rindu dengan nasi goreng buatan kamu."


Nafi membolakan matanya saat mendengar Veer mengatakan jika dirinya pernah memasak nasi goreng.


"A-aku masak nasi goreng?"


"Iya, awalnya kamu memang memasaknya hingga gosong. Tapi karena kamu sangatngigih belajar dengan Mama, nasi goreng buatan kamu pun terasa sangat enak, dan itu menjadi menu favorit aku."


Wajah Nafi pun langsung memerah. Benarkah dirinya bisa memasak nasi goreng yang enak untuk Veer?


"Lain kali kita akan masak bersama. Aku juga rindu momen di mana kita masak bersama."


"Ki-kita masak bersama?"


"Hmm, dan aku akan mengulangnya dan mengulangnya lagi. Sampai ingatan kamu kembali, dan aku akan tetap mengulangnya lagi, Sampai kita menua bersama.


Nafi menggigit bibirnya, jantung berdegup kencang mendengar ucapan Veer. Veer yang masih berdiri di sebelah Nafi pun, menarik bibir Nafi yang di gigit oleh nya.


"Aku mencintai mu Fi."


Veer langsung saja menempelkan bibirnya ke bibir Nafi. Merasa tak ada penolakan dan juga mata Nafi yang perlahan tertutup. Veer mel*mat bibir Nafi, dan perlahan menarik Nafi untuk berdiri. Veer pun memegang pinggang Nafi, dan mengangkatnya untuk duduk di atas meja makan. Veer menggeser piring Nafi menjauh, dengan bibir mereka yang masih menempel.


Sepertinya sarapan pagi ini akan di mulai dengan kecupan sayang.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2