
" Lana Bodoh.." Umpat wanita itu dan bergegas mendatangi lokasi di mana Lana berada.
Anggel yang baru saja masuk kedalam kamar hotel yang telah di sediakan pun kembali keluar dengan pakaian yang masih di kenakannya saat pesta. Anggel mengajak salah satu supir yang selalu standby mengikuti kemana keluarga Moza ini pergi. Tak ada satu orang pun yang tahu Anggel keluar dari hotel, karena mereka tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Tak butuh waktu lama, Anggel sampai di sebuah club' yang alamatnya dikirmkan oleh orang asing, yang mengatakan jika Lana berada di sana.
" Nona yakin mau masuk?"
Terlihat Anggun menghela napas karena ragu.
" Apa di dalam sana seburuk itu?"
" Jika Nona mau, saya akan menemani Nona."
Anggun terlihat berfikir, awalnya ia ingin menghubungi Fatih, namun di urungkannya, hingga akhirnya ia memilih untuk meminta supir keluarga Moza itu untuk menemaninya.
" Jangan katakan pada siapa pun tentang hal ini."
" Baik Nona."
Anggel yang masih menggunakan gaun pesta turun dengan supir pribadi mereka yang bernama yoyo. Terlihat wajah takut dari Anggel, karena ini pertama kalinya Anggel masuk ke tempat haram ini.
Yoyo terlihat berbicara dengan penjaga club', yang terlihat seperti bodyguard. Anggel hanya melihat dari kejauhan. Tak berapa lama Yoyo kembali dan mengatakan jika mereka harus membayar untuk masuk. Anggel berdecak kesal, karena harus mengeluarkan uangnya untuk tempat haram itu, namun Anggel terpaksa menggesek kartu nya, karena di dalam sana ada pria yang di cintai nya yang tengah salah jalan. Anggel harus menyelamatkannya.
Yoyo melindungi Anggel dari tatapan lapar pria-pria yang berbau alkohol itu. Anggel juga menatap jijik dengan tempat tersebut, hingga mata Anggel menatap punggung yang sangat di kenalinya. Anggel pun berjalan cepat dengan di ikuti oleh Yoyo.
" Lana.." tegur Anggel dengan melihat benarkah pria yang tengah menundukkan wajahnya di atas tumpuan tangannya di atas meja itu adalah Lana.
Anggel bernapas lega saat mengetahui pria itu adalah Lana.
" Nona Anggel." Sapa Bartender.
Anggel yang merasa namanya di sebut pun menoleh kearah bartender. Bartender itu tersenyum manis.
" Ternyata benar, perkenalkan saya___"
__ADS_1
" Pak, tolong bantu saya." titah Anggel kepada Yoyo mengabaikan uluran tangan bartender tersebut.
Bartender tampan itu tersenyum dan menarik kembali uluran tangannya.
Ketika mereka ingin pergi, bartender itu kembali bersuara yang mana membuat Anggel semakin kesal.
" Aku gak akan mengeluarkan kembali uang ku untuk tempat haram ini." kesal Anggel kepada Lana yang bergumam tak jelas.
Anggel meraba tubuh Lana, mencari dompetnya yang ternyata berada di kantong celananya bagian depan.
Anggel merogoh kantong tersebut, yang mana membaut Lana mengerang dan memeluk Anggel. Anggel yang kesal menghempaskan tangan Lana untuk kembali berpegangan kepada Yoyo.
Anggel memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada bartender itu, dan bartender itu tersenyum miring. Ia tahu jika ini pertama kalinya Anggel masuk ke tempat hiburan malam.
Bartender tampan itu mengembalikan kartu milik Lana kepada Anggel, tanpa mengucapkan terima kasih, Anggel keluar bersama Lana dengan bantuan Yoyo.
Anggel mendorong kuat tubuh Lana, hingga kepala Lana terbentur.
" Dasar nyusahi." Geram Anggel yang sudah duduk di sebelah Lana yangasih bergumam tak jelas dengan mata tertutup.
Terlihat Anggel sedang berfikir, jika mereka kembali ke hotel. Maka Lana akan di marahi oleh Papa Fadil, Anggel tak tega melihat Lana terkena murka dari Papa Fadil. Anggel memutuskan untuk membawa Lana ke apartemen nya.
Sesampainya di apartemen, dengan bantuan Yoyo mereka merangkul Lana menuju unit Lana. Anggel memasukkan beberapa digit angka untuk membuka apartemen Lana. Tak hanya Quin, Anggel pun tau apa password apartemen Lana, karena itu adalah tanggal lahir Quin, yang tak lain juga tanggal lahir Veer.
" Bapak boleh kembali turun. Saya akan membantu Lana sebentar." Ujar Anggel setelah Lana di rebahkan di atas tempat tidur.
Yoyo pun mengikuti perintah sang supir, menunggu di mobil sambil memainkan game favorit nya.
Anggel membuka sepatu Lana, juga membuka jas kemeja yang di kenakan Lana. Jas yang di pakai oleh Lana saat pesta entah kemana, mungkin berada dalam mobil Lana yang masih tertinggal.
Anggel kesusahan membuka kemeja Lana, karena tubuh Lana yang besar dan berat. Tenaga Anggel tak begitu kuat untuk menopang tubuh Lana.
Mata Lana terbuka saat Anggel tengah berusaha membuka kemejanya. Anggel mengedipkan matanya, karena saat ini posis mereka sangatlah tidak tepat. Anggel terkesiap saat Lana menahan tengkuknya dan mencium bibir Anggel. Anggel mendorong tubuh Lana, namun tenaganya masih saja kalah.
Anggel menutup mulutnya rapat, tak memberi akses untuk Lana menelusupkan lidahnya. Ini memang bukan ciuman pertama Anggel, tapi Anggel tau jika ini adalah ciuman pertama Lana. Selama ini Lana menjaga bibirnya hanya untuk memberikan kepada Quin, ia ingin Quin yang menjadi orang pertama. Hanya Quin.
__ADS_1
Hati Anggel terasa sakit saat mengingat jika Lana mencium dirinya karena menganggap dirinya adalah Quin. Bukankah orang yang mabuk seperti itu? begitu lah yang Anggel tahu, yang sering Anggel lihat di film-film. Menganggap orang lain adalah orang yang di cintai nya.
Lana melepaskan pagutan bibir mereka, dan mengusap bibir Anggel yang basah karena ulahnya. Air mata Lana jatuh, membasahi pipi mulus nya yang selalu mengikuti perawatan bersama Quin dan juga Anggel.
" Dia mencintai pria itu An, dia mencintai nya.. Hikss. Aku fikir dia memeluk ku karena dia memiliki rasa, ternyata aku salah, dia hanya ingin menenangkan hati ku yang bergemuruh." Lana tersenyum miring.
" Beri aku kesempatan An, dan aku mohon, bantu aku melupakannya." Lana mengucapkannya dengan lirih, dan menjatuhkan kepalanya di bahu Anggel.
Jantung Anggel berdegup kencang, Lana menyadari jika yang di ciumnya adalah dirinya, bukan Quin. Perasaan Anggel pun saat ini bercampur aduk, antara sedih, terluka, atau harus bahagia?.
.
.
Abi melepaskan pagutan Bibir mereka, Quin masih menutup matanya hingga Abi menghapus jejak Saliva yang tersisa di bibir Quin. Perlahan mata Quin terbuka, dan yang di dengar oleh Quin adalah suara Abi.
" Kamu menggoda ku. Dan aku terjatuh dalam pesona mu, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Aku tak akan pernah mengizinkan kamu melukai perasaan ini."
Abi menarik tangan Quin, dan membawanya untuk menyentuh dada Abi yang di dalamnya terdapat jantungnya.
" Kamu bisa merasakannya? Dia berdetak hebat, setelah bertahun-tahun diabtak pernah merespon kepada wanita mana pun, dan kamu berhasil membuatnya hidup kembali." Abi menatap mata Quin, yang tengah menatap matanya juga.
' Dan kamu juga membangunkan jaguar ku yang tak pernah bangun selama ini. Hanya dengan sentuhan mu, ia bergairah. Bahkan sentuhan Anita pun tak pernah membangunkannya.' tambah Abi di dalam hati nya.
Jangan lupa Follow IG q yaa. Agar selalu dapat info terbaru di setiap novel ku.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1