
Zein menatap wajah ayu Kayla yang tengah tertidur lelap. Tak pernah bosan bagi Zein untuk memandangi wajah tenang yang sedang tertidur nyenyak itu.
Zein merapikan anak rambut Kayla yang menutupi sedikit wajahnya. Zein tersenyum kala rambut sang istri menggesek hidungnya sehingga membuat Kayla menggerakkan hidungnya serta menggaruknya.
"Lucu banget sih," gumam Zein.
Zein pun tak tahan untuk tak menggoda Kayla, lagi pula, jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Di mana waktu sholat Zuhur sudah masuk dari tadi dan juga, mereka harus bersiap untuk acara nanti malam.
"Sayang," panggil Zein pelan.
Dalam hati, Zein terkikik saat memanggil Kayla dengan sebutan 'sayang'. Terdengar manis dan juga sangat menggemaskan, berbeda saat dia panggil 'sayang' sebelum mereka menikah. Ada sensasi berbeda yang menggetarkan hati.
Tak ada respon dari Kayla, gadis yang telah menyandang status sebagai seorang istri itu pun masih nyenyak dalam tidurnya.
"Sayang, bangun yuk," panggil Zein lagi dengan lembut. Kali ini dengan mengusap pelan pipi Kayla.
"Eeungg....." Kayla merespon, tapi hanya dengan sebuah gumaman.
"Sayang, bangun," panggil Zein lagi.
"Eeunnng.. "
Plak ...
Zein terdiam, pipinya terasa perih saat Kayla menampar wajahnya. Mulut pria itu sedikit terbuka dan menatap istrinya tak percaya. Yang benar saja, hari pertama dirinya menyandang status sebagai seorang suami, sudah di hadiahi oleh sebuah tamparan?
Zein menatap sang istri yang masih nyenyak dalam tidurnya.
"Ila," panggil Zein dengan menggoyangkan bahu Kayla.
"Iih, Quin. Berisik ah, ganggu orang lagi mimpi enak ma Kak Zein aja," ngigau Kayla dengan mata yang masih tertutup.
Zein yang mendengar satu kalimat keluar dari mulut Kayla pun, membelalakkan matanya. Yang bener saja, apa saat ini Kayla tengah bermimpi hal-hal yang romantis bersama dirinya?
Jika dirinya nyata, untuk apa Kayla harus memimpikan hal tersebut?
Zein pun tersenyum miring, pria itu mendekatkan wajahnya kepada sang istri.
__ADS_1
"Mimpi apa? Mimpi ciuman?" bisik Zein tepat di depan wajah Kayla.
"Heum," jawab Kayla masih dengan mata tertutup.
Zein tersenyum, pria itu pun langsung mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri, Mel*matnya dengan lembut.
"Eungh ..." keluh Kayla saat Zein mencium bibirnya.
Zein melepaskan pagutan bibirnya dari sang istri. "Enak?" tanya Zein lagi.
"Heum," jawab Kayla dengan gumaman dan masih dengan mata tertutup.
Zein memang tahu, jika Kayla punya kebiasaan unik saat tidur. Kayla suka mengigau dalam tidurnya, apa lagi saat tubuhnya merasa letih. Maka Kayla akan sering mengigau. Untung saja tidak mengigau sambil berjalan, hanya gumaman-gumaman yang terkadang terdengar jelas dan kadang juga tidak.
Lagi, Zein kembali mendaratkan ciumannya ke bibir sang istri, kali ini lebih panas dari sebelumnya. Bahkan, tangan Zein refleks bergerak untuk menyentuh bukit kembar Kayla.
"Eungghh, Kaakk ..." desis Kayla dalam ngigaunya.
Zein tersenyum dan semakin memperdalam ciuman mereka. Memang, Kayla membalas ciumannya hanya sekedarnya saja, akan tetapi, Zein merasa jika gairah pada dirinya terpancing dengan begitu hebat.
Lihat saja, ciuman itu telah turun ke leher Kayla dan membuat bekas di sana. Zein kembali menciumi bibir Kayla dengan panas.
"Eeuungmmpp ..." Kayla mendorong tubuh Zein untuk menjauh.
Untungnya Zein menurut dan menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri dengan napas yang memburu.
"K-kak Zein ngapain di sini?" tanya Kayla panik dan menarik selimutnya hingga ke dada.
"Ngapain? Aku sedang bercumbu dengan istriku," ujar Zein dengan senyum menggoda.
"I-istri?" tanya Kayla.
Wanita itu pun memiringkan kepalanya, seolah sedang mengingat hal apa yang terjadi saat ini. Tadi, Kayla tengah bermimpi jika dirinya menikah dengan Zein. Lalu? kenapa mimpi itu menjadi kenyataan? Apa sebenarnya?
Mata Kayla menatap kebaya pengantin yang tergeletak di sofa kamarnya. Seketika mata itu membesar, perlahan melirik kearah Zein yang tengah tersenyum miring kepadanya.
"Kamu pikir ini mimpi? Tidak, sayang. Kita sudah resmi menikah tadi pagi," ujar Zein sambil membelai pipi Kayla dengan lembut.
__ADS_1
Kayla menelan ludahnya dengan kasar. Ingin menolak, akan tetapi sebagian tubuhnya memerintahkan menerima saat Zein mulai kembali mendekatkan wajahnya kepada Kayla hingga bibir mereka kembali bertemu dan saling berpagut dengan tempo yang rendah.
Zein perlahan memperdalam ciumannya, tangannya tak tinggal diam, dengan gerakan pelan tapi pasti, kancing daster Kayla pun mulai terbuka sehingga menampilkan bukit kembar yang masih tertutup itu.
Zein melepaskan ciumannya dan menatap dada Kayla yang terekspos sedikit itu. Sang istri tak berani menatap wajah Zein, karena terlalu malu akan hal yang baru saja mereka lakukan. Tangan Zein bergerak menyentuh pipi Kayla dan kembali menempelkan bibir mereka, perlahan ciuman itu turun ke leher Kayla dan membuat Kayla mendesah saat Zein menghisap kuat lehernya.
Tok .... tok .. tok ...
"Zein, Ila, apa kalian sudah bangun?" tanya sebuah suara yang berasal dari balik pintu.
Zein yang sudah siap untuk menikmati dada Kayla pun menggerutu kesal. Yang benar saja, kenapa saat seperti ini malah kegiatan mereka terganggu.
Kayla mendorong pelan tubuh Zein agar menjauh darinya.
"Zein, Kayla... bangun." Terdengar kembali suara ketukan pintu dan panggilan dari balik pintu tersebut.
"I-iya Ma, Ila udah bangun," jawab Kayla dengan sedikit bergetar.
"Baiklah, cepetan keluar ya, sayang, semuanya sudah menunggu. Kita akan ke hotel sekarang." ujar Oma Rosa dari balik pintu.
"Iya, Ma."
Kayla menatap wajah sang suami. "Hotel?" ujarnya.
Zein menghela napasnya pelan, sepertinya aksinya kali ini harus gagal. Tetapi, sebenarnya aksi ini tak akan terjadi untuk dalam waktu dekat, karena Zein tak ingin membuat Kayla lelah, mengingat kakinya yang sakit. Zein harus sabar dan sudah meyakinkan dirinya jika dia mampu untuk menahan hasratnya. Akan tetapi, sepertinya pikiran dan tubuhnya tak sejalan, Zein terlu lemah menghadapi keinginan tubuhnya.
'Kuat, Zein. Kuat,' batin Zein mengingatkan dirinya.
"Iya, sebaiknya kita bersiap sekarang. Lagi pula, waktu sholat ashar hampir habis, ayo bersiap, sebelum kita kehilangan waktu sholat ashar."
Zein membantu Kayla untuk masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini, Zein benar-benar tak menggoda Kayla, pria itu membiarkan Kayla mandi, sedangkan dirinya bergegas menuju kamar mandi yang ada di luar kamarnya.
Tak ingin membuat sang istri menunggu kedatangannya, Zein mandi dengan cepat. Saat Zein kembali ke dalam kamar, bertepatan dengan Kayla yang sudah mengenakan handuknya dan siap keluar dari kamar mandi dengan menggunakan tongkat.
"K-kak," ujar Kayla dengan terkejut.
Tanpa kata, Zein langsung menggendong tubuh sang istri yang hanya terbalut oleh handuk.
__ADS_1
"Biar cepet," ujar Zein dan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggendong Kayla.
** Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa...