
Sudah 4 hari Veer dan Nafi menjalin kerja sama. Nafi pun sering mendatangi perusahaan Veer, dan mereka juga terlibat makan siang bersama. Tidak hanya beruda, tapi berempat. Nafi tidak ingin makan bersama hanya berdua dengan Veer, maka dari itu Nafi mengajak Asistennya untuk makan bersama di meja yang sama. Begitupun dengan Veer, dia mengajak Dedi, anak pertama Duda dan Lena yang menjabat sebagai asisten pribadinya, ikut makan bersama.
Kerja sama kali ini adalah terbilang proyek besar, di mana pulau yang di beli oleh Kakek Farel beberapa bulan lalu, ingin dijadikan tempat wisata. Dan perusahaan Danudirja lah yang membangun penginapan disana.
"Jadi, Minggu depan kita akan kelokasi." Ujar Veer memberitahukan.
" Kita? Gak, saya gak mau. Bagaimana jika Taun Veer sendiri yang meninjau lapangannya. Saya akan menyuruh Tata untuk mewakilkan saya. Tata adalah asisten pribadi Nafi.
" Gak masalah, tapi itu menunjukkan jika Nona Nafi tidak profesional. Bukannya Tuan Danudirja menyuruh saya untuk membimbing Anda Nona?" Veer tau, jika Nafi tidak menyukainya. Karena selama beberapa hari ini Nafi menunjukkan sifat yang dingin kepadanya.
Nafi terlihat berfikir. " Oke, tapi Tata juga ikut."
" Saya gak bilang kalo Tata harus tinggal, karena saya juga membawa Dedi bersama saya."
Nafi mengepalkan tangannya. Berbicara dengan Veer seperti nya butuh kesabaran yang ekstra.
Veer menangkap seluruh gelagat Nafi, dia tersenyum tipis. Sebenarnya Veer juga tidak menyukai Nafi, karena Veer pernah melihat Nafi berlaku kasar terhadap orang lain. Dan Veer sangat tidak menyukai hal itu. Bukan tipe Veer banget, tipe Veer persis seperti Mama Kesya, lembut, ramah, dan baik hati.
" Baiklah, saya rasa cukup sekian pertemuan kita ini. Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya Nona Nafi."
Nafi hanya menganggukkan kepalanya sekilas, dan melenggang melewati Veer, diikuti oleh Tata. Veer pun ikut berjalan di belakang Nafi.
" Awaas.."
Bruuk...
Nafi merasa jantungnya ingin copot. Dirinya hampir saja tertabrak oleh pengendara motor. Jika saja Veer tidak..
Apa? Veer meluk Nafi.
Nafi dengan cepat melepaskan dirinya dari pelukan Veer.
" Jangan cari kesempatan dalam kesempita. ya Tuan Veer." Geram Nafi.
" Apa? Hei, seharusnya kamu berterima kasi__"
" Terima kasih sudah menolong saya, tapi tidak perlu sampai memeluk saya. Ingat, saya bukan perempuan yang gampang tergoda dengan perlakuan Anda. " Nafi benar- benar geram.
" Apa? Menggoda? Siapa yang menggo__"
Belum lagi Veer selesai ngomong, Nafi sudah pergi menjauh dari nya.
" Dasar sombong, angkuh.. Dia kira gue suka cewek macem dia. Cih.."
" Sabar Bos. Jangan terlalu benci, takutnya cinta."
" Gaji kamu saya kurangi.." Veer langsung melangkah pergi meninggalkan Dedi.
"Lah, salah gue apa? Gue kan cuma nyuruh dia buat sabar.."
Tiinn...tiiiiiiiiinnnn....
Dedi berlari mendekati mobil yang sudah ada Veer di dalamnya. Orang tidak ada yang tau, jika Veer ini sebenarnya sangat menyebalkan. Kecuali Dirinya, Quin, Lana, Fatih, dan Anggel yang tau jika Veer menyebalkan. Bahkan Sikembar Arash dan Abash pun tidak mengetahuinya.
Quin tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan keluh kesah sang kembaran. Bagaimana tidak, Veer bercerita dengan wajah kesal nya yang terlihat sangat menggemaskan.
" Jadi dia marahin kamu setelah kamu nolongin dia?" Quin kembali tertawa...
" Gak ada yang lucu Quin. Gak usah segitunya deh ketawanya. "
__ADS_1
" Lucu tau, baru kali ini ada wanita yang nolak kamu. Haa..ha..ha.. Biasanya mereka sendiri yang bakal berpura-pura jatuh agar bisa dipeluk sama kamu."
" Udah Ah, males cerita sama kamu."
"Males tapi tetap aja selalu cerita.." Gumam Quin di tengah ketawanya.
Lana datang dan melihat dua atmosfer yang berbeda. Satu senang, dan satu lagi kesal.
" Kenapa dia?"
" Kamu kenal Nafisa Danudirja?"
" Kenal sih gak, tapi siapa sih yang gak tau Nafisa."
" Veer baru di marahi dengan Nafisa. Ha .ha..ha.."
Buukk..
Satu bantal mendarat di pangkuan Quin.
" Waaah, sejarah baru nih.. tu cewek kalo udah marah, galaknya minta ampun. Kayak macan betina minta kawin."
" Emang kamu pernah liat macan betina minta kawin?" Tanya Quin.
" Empus?"
" Empus jantan kali.."
Anggel datang dengan membawa setumpuk berkas. Lana berdiri dan langsung mengambil alih berkas-berkas tersebut.
" Makasih.."
" Makasih aja tiap kali di tolong, Ajak diner kenapa?"
" Besok malam, aku jemput yaa.. anggap saja sebagai ucapan terima kasih kamu ke aku." Ujar Lana sambil mengedipkan matanya sebelah.
Lihat, bagaimana Anggel bisa melupakan Lana, jika sifat Lana saja seperti ini kepada dirinya.
" Itu.. em.. aku.."
" Gak terima penolakan." Tambah Lana setelah mendudukkan dirinya.
Anggel pun mendudukkan dirinya di sebelah Veer.
" kamu ya Lana, terus aja godain Anggel, kalo dia naksir sama kamu gimana?"
" Ya gak mungkin lah, Anggel kan punya pacar. Mana mungkin Anggel naksir aku. Ya kan An."
Anggel hanya tersenyum menanggapi ucapan Lana. Memang benar, Anggel memiliki pacar. Tapi itu hanya pelarian Anggel saja, agar Anggel bisa menghapus Lana dari hatinya. Tapi rasanya sia-sia jika Lana terus bersikap manis kepadanya.
" Oh yaa, Popo melahirkan yaa. Kok bisa Caecar sih?" tanya Anggel.
" Gak tau juga sih. Padahal saat melahirkan sebelumnya baik-baik aja. Kamu kenapa gak jadi dokter hewan aja sih. Jadi kan aku bisa dapet korting dari kamu An."
" Sultan minta korting!!" Ejek Lana.
" Ya namanya juga duit aku gak sebanyak kalian. Papa udah berhenti kasih duit jajan, Veer juga cuma bantu aku setengah untuk kasih makan Anak-anak aku. Abash juga udah di larang Papa dan Veer buat kasih jajan ke aki. Lah Arash? Gaji polisi kan gak sebesar mereka dua. "
" Arash dapat persenan juga kali dari perusahaan. Dia polisi tapi masih mampu bantu aku diperusahaan." Tambah Veer.
__ADS_1
" Yaa tapi kamu larang Arash buat kasih aku duit jajan." Quin cemberut.
" Makanya, kerja yang rajin buat mendapatkan hasil yang memuaskan. Atau kamu cari suami kaya aja, biar gak perlu kerja."
" Ogaah.."
" Kawin sama aku aja, dijamin aku mampu kok biayain anak-anak kamu itu, dan juga anak kita" Ujar Lana.
" Ingus tu di bersihi." Ujar Quin sambil melempar tisu.
" Aku gak ingusan Quin."
" Di mata aku, kamu tetap Lana yang cengeng, dekil, dan ingusan. iiiuuhhhh" Quin bergidik geli.
" Awas kamu kalo sampai bucin ke aku."
" Gak bakal"
Bukan rahasia lagi jika Lana menyukai Quin. Bahkan Lana pernah ingin melamar Quin, namun Quin menolaknya mentah-mentah, hingga Quin mendiami Lana karena berani meminta dirinya kepada kedua orang tuanya.
Anggel sebenarnya merasa cemburu, tetapi dia gak punya hak kan untuk cemburu, karena Anggel bukan siapa-siapanya Lana. Lagian mereka terlihat sangat serasi jika bersanding berdua.
" Gimana kampus?" Suara Veer mengembalikan perhatian Anggel.
" Baik, oh yaa. Abash mau gak ya jadi narasumber dan motivator untuk para mahasiswa.?"
" Coba aja hubungi Abash, mungkin aja dia bisa."
" Nanti aku kerumah deh, buat ngobrol sama Abash."
" Jadi besok kamu berangkat?" Quin menghampiri kamar Veer. Kembarannya itu sedang mempacking barangnya untuk pergi ke pulau senja. Pastinya bersama Nafi, Dedi, dan Tata.
" Heum Bantuin aku dong."
Quin pun membantu Veer menyiapkan kebutuhan Veer.
" Veer, kamu suka cewek seperti apa sih?"
" Seperti Mama dan kamu."
" Aku?"
" Selain sifat kamu yang nyebelin, kamu itu berhati baik. Bahkan kamu sering menjadi relawan di panti jompo tempat Bunda Sasa biasa pergi."
" Jadi, wanita yang ingin kamu jadikan istri seperti aku atau mama gitu?"
Veer menggeleng sekilas. " Aku ingin punya istri yang pintar masak seperti Mama, Baik hati seperti kamu, Lembut seperti Anggel, dan penyayang seperti Kayla."
" Banyak banget ceweknya. Terlalu sempurna itu Mah."
" Ya itu kan maunya aku. Tapi kalo Allah kasih yang gak seperti itu, aku harus gimana? Makanya aku solat, minta sa Allah supaya dari 4 wanita tadi, menjadi 1."
" Serakah.."
" Biariinn.."
IG ; RIRA SYAQILA
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
__ADS_1
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Mari saling berbagi kebahagiaan. Salam KeSar..