
Setelah puas bermain, dan matahari mulai meninggi, akhirnya Arka, Duda, dan Jodi memutuskan untuk pulang. Namun saat di perjalanan pulang, Ratna mantannya istri Duda menghentikan langkah mereka.
" Mau apa kamu?" Ujar Duda ketus.
" Kamu harus bertanggung jawab, anak itu adalah anak mu"
" Sudah lah, aku sudah muak dengan tipu muslihat mu"
" Aku berani bersumpah"
" Dan aku berani untuk tes DNA. Jika dia anak ku, maka aku akan membawanya pergi jauh dari mu. "
Ratna terdiam mendengar perkataan Duda yanh setengah membentaknya.
" Bang Duda, aku masih mencintai mu" Teriak Ratna.
Duda tidak peduli, dia masih melangkahkan kakinya bersama Arka dan Jodi.
Bukk..
Tiba-tiba saja sudah ada tangan yang melingkar di tubuh Duda. Duda berusaha melepaskannya, Namun sedikit sulit. Duda tidak ingin bermain kekerasan.
" Lepaskan"
" Tidak.. aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu membawa ku pergi. Hikks.. aku menyesal hiks.. aku mohon kembalilah kepada ku hiks.."
Beberapa warga yang lewat situ sudah melihat adegan dimana Ratna memeluk Duda dari belakang. Dengan sekalo hentakan tangan, Duda berhasil melepaskan tangan Ratna dari tubuhnya, walaupun itu membuat tangan Ratna terluka.
" Ayo Bos, kita lanjutkan perjalanannya" Ujar Duda dengan menahan rasa kesalnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, dengan Duda yang mempercepat jalannya, sehingga Arka dan Jodi juga mempercepat langkah mereka. Jodi sudah tau tentang perceraian Duda, jadi Jodi lebih memilih diam, sedangkan Arka tidak ingin ikut campur kedalam masalah orang lain.
Sesampainya di rumah, Duda langsung menegak air minum dengan kasar. Ibuk yang tadinya ingin memarahinya, harus menelan semua kata-katanya. Karena tadi ada warga yang lewat, dan mengatakan jika Ratna memeluk Duda.
"Kenapa bisa basah-basah gini?" Tanya sibuk ramah kepada Arka dan Jodi.
" Mandi sungai buk"
Ibuk hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ya sudah, ganti baju dulu sana"
" Iya buk, Oh ya, Kesya mana?"
" Tadi setelah membantu ibuk, Kesya dan Lehah menyusul Ami ke Pustu"
Arka menganggukkan kepalanya. Arka masuk ke dalam kamarnya, dan mengambil handuk. Biasanya Arka akan mengganti handunga setiap hari sekali, namun semenjak di rumah Duda, Arka harus memakai handuk yang sama dengan hari kemarin. Arka menyukainya, karena ada wangi tubuh Kesya yang tertinggal di handuk. Karena Arka dan Kesya memakai handuk yang sama. Sebenarnya Arka ada membawa handuk lain, tapi dia ingin merasakan kehidupan seperti orang biasa.
__ADS_1
Arka sudah rapi dan wangi. Arka menyusul Jodi dan Duda yang sudah duluan siap dan berada di teras rumah mereka dengan meminum kopi dan ubi goreng.
" Di rumah kamu ini memang sering di lalui orang ya Dud?"
Duda menoleh lalu tersenyum miring. " Enggak Bos, yang lewat-lewat itu warga yang kepo. Apalagi ada 3 cogan di sini."
" Cogan?"
" Cowok ganteng"
Arka tertawa mendengar istilah yang keluar dari mulut Duda. Tak berapa lama datang seorang pria paruh Baya, berjalan dengan tergesa-gesa dan tiba-tiba saja berteriak kearah Duda.
" Dasar orang miskin gak tau malu."
Duda sudah memutar matanya jengah, kemudian dia berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di dalam kantong. Ibuk setengah berlari keluar dari dalam rumah, begitu pun dengan Bapak, yang baru saja pulang dan melihat di rumahnya sudah ramai orang.
" Ada apa ini?"
" Anak mu ini, apa dia tidak malu memeluk-meluk istri orang?" Teriak pria itu.
" Hei, jangan pernah kau berteriak kepada bapak ku. Jika tidak ingin digotong warga untuk ke pustu. Ah, atau kau mau kekota? dan sesamapinya di sana hanya tinggal nama"
Ya, Pria itu adalah suami Ratna yang sekarang, Mantan Lurah di desa ini. Karena dia juga, urusan untuk izin Pustu sempat terhambat, dan karena dia juga Dana kesehatan untuk ke pustu, di hentikan.
" Dasar bocah ingusan"
Inilah salah satunya dia malas untuk pulang ke kampung. Jika pun dia pulang, selalu saja ada masalah yang terjadi, Dari mantan istrinya yang selalu saja datang kerumahnya dan meminta balikan semenjak mengetahui Duda sudah memiliki banyak petak sawah, dan mampu menyekolahkan adiknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Di tambah lagi suami dari mantan istrinya itu seorang pencemburi, bukan Duda tidak tau, jika dia sering menganiaya mantan istri nya itu, namun cinta Duda untuk Ratna telah pupus. Dan Ratna yang meminta cerai dari Duda, dan itu adalah pilihannya sendiri.
" Sebaiknya anda pergi dari sini atau saya panggil polisi, atas nama pencemaran nama baik" Ujar Arka.
Duda menatao Bos nya tidak percaya, Bosnya yang selalu acuh dan tidak suka ikut campur dengan urusan pribadi orang lain.
Mendengar kata polisi, pria itu pun membalikkan badannya, namun langkahnya terhenti karena melihat Ratna berlari kearah Duda. Cepat dia tahan istri nya itu agar tidak bisa mendekati Duda.
" Bang Duda, tolongin aku. selamatkan aku bang Duda" Teriak Ratna.
Pria itu menyeret Ratna agar mengikuti langkahnya. Duda hanya menatapnya iba.
" Duda " tegur Ibuk dan memegang bahunya.
" Duda gak pa-pa kok buk"
Ibuk tersenyum, senyuman yang sangat di rindukan Duda, dan selalu menjadi penenang serta penyemangat Duda. Dalam hati Jodi berdoa agar Duda mendapatkan kekasih hati yang baik dan setia, walaupun Jodi tau jika sudah ada seseorang yang di taksir oleh Duda.
" Oh ya, sudah siang, kita makan siang dulu ya. ibuk mau antar makan siang untuk Kesya, Ami, dan Lehah di Pustu"
__ADS_1
" Buk, bisa buatkan lebih? Saya yang akan mengantarkan makanan ke Pustu, jadi saya akan makan di Pustu" Ujar Arka.
" Iya Buk, jika Bos bilang ingin makan di Pustu, kami akan ikut" Tambah Jodi.
Ibuk Siti tersenyum, kemudian segera masuk kedalam untuk menyiapkan rantang untuk di bawa oleh Duda, Arka, dan Kesya.
" Biar saya saja yang bawa" Ujar Arka saat melihat Duda ingin mengambil rantang berukuran besar itu dari tangan Ibuk.
Ibuk memberikan rantang tersebut kepada Arka, kemudian Duda membawa satu kantong plastik yang berisikan piring dan sendok.
Arka berjalan sambil menatap rantang yang berada di tangannya, dia juga melihat beberapa wanita paruh baya dan anak gadis juga membawa rantang.
" Ke mana mereka?"
Duda dan Jodi mengalihkan perhatiannya kearah yang Arka tunjuk.
" Ke sawah"
" Sawah? "
" Iya Bos, Musim tanam padi sekarang"
" Apa orang tua kamu tidak kesawah?"
Duda sudah menatap horor kepada Bos nya, apa si bos juga ingin kesawah? terkadang Duda penasaran, bagaimana masa kecil Bosnya itu. Jodi juga sudah menatap horor kepada Bosnya, Jodi memang dari kampung, tapi untuk kesawah, Jodi tidak pernah, dan Jodi sering mendengar jika ada lintah dan pacat yang sering menempel di kaki. Membayangkannya saja dia sudah geli.
" Besok kita ke sawah" Putus Arka begitu mendapatkan anggukan kepala dari Duda.
" Besok?" Ujar Duda dan Jodi serentak.
" Emm, bukannya nanti malam kita pulang ya Bos?"
" Saya Bosnya, jadi saya boleh kan izin sehati atau dua hari lagi"
Duda dan Jodi hanya berpandangan dan kemudian menganggukkan kepalanya pasrah.
" Ah ya, saya ingin merasakan makan Mie instan di atas pohon. Tadi saya melihat anak-anak berada di atas pohon dengan memakan mie instan mentah."
" Bos yakin? Terakhir saat Bis Manjat__"
" Saya bisa turun naik tangga kan?"
Duda dan Jodi kembali saling menatap. Dan hanya pasrah menganggukkan kepalanya. seaneh itukah ngidam? Setau mereka, ngidam itu hanya mengenai makanan saja.
**. Hai readers...
__ADS_1
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.