KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 164


__ADS_3

Quin berlari saat mendengar deru mobil memasuki perkarangan rumah. Tadi, saat Abi baru saja sampai kantor, tiba-tiba saja Abi terhoyong dan hampir saja tergeletak dilantai jika asistennya tak langsung menangkap tubuh Abi. Aisiten pun langsung menghubungi rumah tante Risma dan mengabarkan jika ABi jatuh pingsan dan akan segera dibawa pulang. Quin yang emndapatkan kabar tersebut pun tentu sjaa merasa cemas.


"Abi," panggil Quin saat melihat suaminya itu diappah oleh asistennya.


"Quin," Langsung saja Abi memeluk tubuh Quin, menghirup aroma yang membuat pikirannya tenang. "Aku irndu kamu," bisik Abi diceruk leher Quin.


"Kita kekamar ya," Quin pun membantu Abi untuk masuk kedalam kamar mereka. Abi memberikan perintah kepada asistennya untuk mebiarkan sang istri yang memapahnya. Abi hanya ingin aroma tubuh Quin yang terhirup dalam hidungnya, bukan aroma tubuh orang lain.


Quin baringkan Abi diatas tempat tidur, tak lupa Quin membuka sepatu dan juga kaos kaki yang Abi kenakan.


"Aku turun dulu ya, Ambil minum," ujar Quin kepada ABi, namun Abi menahan lengan Quin.


"Jangan pergi, tetaplah disini." Abi pun menari tangan Quin sehingga membuat Quin terbaring diatas tubuh Abi.


"Abi,"


"Biarkan begini dulu, ini sangat menenagkan," lirih Abi.


Quin pun membenarkan posisinya dan berbaring disebelah Abi. Quin mengusap rambut Abi dengan lembut dan membiarkan Abi menyandarkan kepalanya didada.


Tiga puluh menit telah berlalu, Quin menyadari jika Abi sudah tertidur pulas. Dengan perlahan Quin melepaskan pelukannya dari Abi. Quin pun turun kedapur untuk membuatkan Abi minuman herbal.


*


Abi mengerjapkan matanya, ia langsung meraba tempat tidur disebelahnya. Kosong, tak ada tanda-tanda jika Quin berada didalam kamarnya.


"Quin," panggil Abi dengan suara seraknya.


Tak ada sahutan, Abi pun bangikt dari tempat tidur dan mencari keseluruh kamar, namun ia tak menemukan keberadaan Quin didalam kamarnya.


"Quin?" panggil Abi dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.


Abi melihat jika para tamu undangan sang tante sudah berdatangan. Abi tak peduli, yang Abi butuhkan hanya Quin.


"Quin mana?" tanya Abi kepada salah satu asisten rumah tangganya.


"Nyonya didapur, Tuan."


Abi pun langsung melangkah lebar menuju dapur rumah tante Risma.


"Quin," panggil Abi dan semakin emmeprcepat langkahnya saat melihat keberadaan Quin.


Quin yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, ia tersenyum kala mendapati sang suami yang tengah menghampirinya.


"Quin, Kamu kemana aja? AKucariin kamu dari tadi," rengek Abi yang sudah memeluk Quin.


Quin pun tersenyum kikuk, secara saat ini ia sedang menjadi bahan tontonan dari para asistennya dan juga para tamu tante Risma yang berada didapur yang ingin berkenalan dengan Quin tadi.


"Abi, lepsa, malu diliatin orang," bisik Quin yang mana semakin semakin membuat Abi mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Aku gak peduli, Auk rindu kamu. kamu jangan jauh-jauh dari aku," rengek Abi persis seperti anak kecil, yang mana dapat didengar oleh orang-orang yang ada didalam ruangan itu.


Quin hanya bisa menghela napasnya pelan dan menahan rasa malunya.


*


"Aku gak papa, jadi gak perlu diperiksa oleh dokter," rengek Abi kepada Quin.


"Aku khawatir. Selama ini kamu kerja keras agar kita bisa pulang kembali ke Indonesia lebih cepat." ujar Abi mencoba mmebujuk Abi.


Dokter sudah datang dari lima belas menit yang lalu, namun Abi tak ingin diperiksa oleh dokter, maka dari itu Quin mencoba untuk membujuk Abi.


"Aku gak papa, Aku hanya butuh kamu disampingku,"


"kamu sayang aku?"


"Tentu saja,"


"Kalau begitu kamu harus mau diperiksa, Aku akan menemani kamu."


"Aku juga dokter, jadi aku bisa memeriksa kondisi tubuhku," rengek Abi.


"Kmau dokter spesialis hewan. bukan manusia." geram QUin yang mana membuat Abi membulatkan matanya.


"Mau diperiksa atau aku akan tidur dikamar lain," ancam Quin.


"Oke, aku mau diperiksa, tapi kamu disebelah aku, ya."


Dokter masuk kedalam kamar dan memeriksa kondisi tubuh ABi. Dokter menagtakan jika Abi terlalu kelelahan dan terlalu memfostir tubuhnya untuk bekerja.


Dokter memberikan vitamin dan juga mengingatkan untuk memberikan makanan yang sehat kepada Abi.


"Tentu sja istri saya memberikan makanan yang sehat. Istri saya pintar masak, gak mungkin lah kasih saya makanan asal," kesal Abi yang mana merasa jika sang dokter menyalahkan sang istri atas dirinya.


Dokter hanya tersenyum kikuk dan menganggukkan kepalanya. Dokter pun pamit undur diri sebelum semakin banyak emndapatkan ceramah dari ABi,. Sungguh, Abi sangat mengerikan jiak sudah marah.


"Kamu kenaapa sih, Bi?" tanya Quin kepada Abi.


"Aku kesal sama dokternya. Mentang-mentang dokter keluarga, seenaknya saja berkomentar tentang kamu,"


Quin menaikkan alisnya sebelah. Seingatnya dokter tak mengomnetari tentang dirinya.


"Maksud kamu gimana? Dokter kan gak ngomongapa-apa tentang aku?"


"Lah, tadi dia bilang harus makan makanan yang sehat. Selama ini kamu kan kasih aku makan makanan yang sehat. Bahkan pakai susu kenyal lagi, walaupun gak ada susunya, tai aku suka." ujar Abi yang sudah melipir kemana-mana.


Quin menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Abi. Suaminya akhir-akhir ini memang sangat mesum.


*

__ADS_1


"Gimana keadaan Abi, Quin?" tanya mama keysa diseberang panggialm.


"Abi udah mendingan, Ma. hanya kelelahan saja."


"jaga kesehatan dan minum vitamin. Cuca disana juga sedanng dinginkan?"


"Iya, Ma."


Quin pun bertukar kabar dan menanyai bagaimana keadaan sang kakek. Mama Kesya mengatakan jika keadaaan kakek saat ini sudah lebih baik.


Setelah berbincang dengan sang mama. QUin pun menghubungi kakek Farel untuk melihat memastikan kondisi beliau.


"Quin, gimana? apa kakek sudah mendapatkan cucu dari kamu?" tanya kakek Farel kepada Quin.


"Kakek, maaf, Quin belum bisa memberikan kabar baik tersebut untuk kakek," uajr Quin dengan sendu.


"Gak papa, yang terpenting untuk kakek adalah keadaaan kamu. Kamu sehat kan?"


"Alhamdulillah, sehat kek."


Quin pun menghabsikan 30 menit untuk berbincang dengan sang kakek melalui panggilan video call.


*


"Kok murung?kenapa?" tanya Abi saat melihat Quin melamun disofa kamar mereka.


"Kakek tadi tanyain, apa aku akan memberikan kabar bahagia atau belum," ujar Quin.


"Lalu?'


"hmm, Aku sedih, bagaimana jika Aku belum bisa memberikan kabar baik kepada kakek?" QUin sudah berkaca-kaca, namun tidak dengan Abi yang sudah tersenyum penuh arti kepadanya.


"Dari apda sedih-sedih, gimana kalo kita usaha lagi?" Abi menaik turunkan alisnya dengan genit.


"Apaan sih, Kamu lagi sakit juga. Gak mau ah, ntar makin sakit lagi."


"Siapa bilang aku sakit? Aku sehat kok, ayo lah Quin," ajak Abi dengan rengekan.


QUin yang lelah mendengar rengekan ABi pun akhirnya luluh dan mengabuli permintaan Abi. Yang mana malam ini mereka habsikan dengan saling bercumbu. Quin berharap, agar benih yang tertanam dalam rahimnya dapat membuahkan hasil.


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2