
Quin yang terus berusaha untuk menutup mulut Abi, hingga Quin tanpa sadar sudah naik keatas sofa dan duduk diatas pangkuan Abi. Abi masih terus menghindar, dengan memegang pergelangan tangan Quin, namun Quin berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Abi yang memang tak terasa kuat. Hingga tubuh Abi sudah bersandar ke sofa dengan tangan Quin menangkup wajah Abi. Mata mereka bertemu, tawa Abi pun perlahan memudar, di gantikan dengan deru napas yang memburu, dada Abi mulai naik turun dengan cepat.
Perlahan, tangan Abi naik keatas menahan tengkuk Quin, perlahan di dorongnya kepala Quin untuk mendekat kewajahnya, tidak ada perlawanan dari Quin, bahkan Quin mengikuti gerak tangan Abi..
" Uppss, maaf dokter.. Saya kira gak ada Nona Quin." Asisten Dokter Abi menyengir dan menutup kembali pintu yang memang tak tertutup tadi.
Abi dan Quin langsung menjauhkan tubuh mereka, bahkan Quin sudah berdiri dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Ekheem, lain kali ketuk pintu nya, Jangan main buka aja."
" Iya dok, Maaf, tadi pintu nya memang gak kekunci." Asisten Abi pun kembali menyengir. "Eem, dok, kalo begitu saya permisi cari makan yaa, maaf sekali lagi. Silahkan dilanjutkan " Pria itu menutup pintu ruangan Abi dengan rapat.
Quin sudah berdiri kikuk dan tak berani memandang wajah Abi. Abi berdiri dan mendekati Quin, Quin mundur selangkah hingga tubuhnya tertahan oleh sofa.
Abi mengurunh kuin dengan satu lengannya yang menahan di sandaran sofa.
" Apa kita sebaiknya melanjutkan yang tadi?"
" Hah? Me-melanjutkan apa?" Quin mulai panik.
" Ini.." Abi meraba bibir Quin dengan sensual. Quin menelan ludahnya dengan kasar.
KRruuukkkkkk...
Abi terkekeh saat mendengar suara perut yang keroncongan, Quin sudah menutup matanya sambil memegangi perutnya. Ia merutuki suara perut yang sangat berisik dan terdengar jelas.
" Sepertinya ada yang kelaparan."
" Aku tidak "
" Benarkah?"
Kruuuukk....
Quin menggigit bibirnya, kembali merutuki suara perutnya.
'Dasar cacing sialan, gue kasih combantrin baru tau rasa. Mati jamaah deh kalian.' Gerutu Quin dalam hati.
" Ayo.."
Abi meraih pinggang Quin, dan menuntunnya untuk di sofa.
" Ayo makan, aku gak mau kamu sakit.."
" Hauuss.." lirih Quin yang terdengar manja.
" Tunggu sebentar."
Abi berjalan kearah kulkas mini yang ada di dalam ruangannya, ia mengambil dua botol air mineral. Quin mengambil satu botol yang tutupnya sudah di buka oleh Abi.
" Huuff..." Quiin menghela napas, tak tau untuk apa, yang pasti Quin merasa lega.
Quin dan Abi pun menikmati makan siang mereka.
*
Veer dan Nafi sudah tiba di salah satu hotel Megah di Seoul, Korea.
"Veer.."
Nafi terpekik saat Veer tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang. Di tambah Veer yang mulai menciumi leher Nafi.
__ADS_1
" Veeerrr..." Nafi merasa merinding dengan apa yang di lakukan oleh Veer.
" Hmmm..."
" Geli Veer.."
" Hmm.."
Nafi memejamkan matanya, mencoba menikmati perlakuan Veer, namun bayangan pelecehan itu kembali terlintas, Nafi berusaha untuk mengusir bayangan-bayangan tersebut, ia meremas lengan Veer dengan kuat, Veer tau jika saat ini Nafi melawan rasa takutnya.
Veer membuka jaket yang di kenakan Nafi perlahan,
" Veer..." pAnggil Nafi terdengar lirih dan bergetar.
" Yaa, ini aku.."
" Veer..."
" Sebut nama ku, sayang." bisik Veer di telinga Nafi.
Ya, tujuan Veer dan Nafi ke Korea tak hanya bertemu klien nya Nafi, melainkan menikmati waktu berdua mereka, seperti apa yang di katakan oleh dokter psikiater yang menangani Nafi. Mereka butuh tempat yang memang tak membuat Nafi merasa terancam, tempat yang tak meninggalkan rasa trauma tersebut, tempat di mana Nafi berada jauh dari pria yang memberikan rasa trauma tersebut kepada Nafi.
'Nafi, kamu bisa.. Ini suami mu, dia Veer. Veer... suami mu.."
Nafi mulai mengumpulkan potongan wajah Veer dalam memorinya, bagaikan puzzle yang berserakan, perlahan Nafi menyatukan puzzle- puzzle tersebut sehingga menampilkan wajah Veer dengan senyumannya yang khas.
Nafi membuka matanya, sehingga mata Nafi bertemu dengan mata Veer, Nafi tersenyum, ditangkupnya wajah Veer.
" I Love You, Veer.." Bisiknya tepat di depan bibir Veer, dan menciumi nya.
Veer tersenyum di sela ciuman mereka, yang perlahan semakin panas, membawa mereka ke tahap selanjutnya, tahap di mana Veer berhasil menjadikan Nafi miliknya seutuhnya.
Veer mengecup kedua mata Nafi.
" Aku akan melakukannya secara perlahan."
Seperti yang sudah Veer pelajari dari buku-buku kama dan sutra, Cara memperlakukan Istri pada saat malam pertama. Veer tak ingin membuat rasa sakit yang menimbulkan kembali trauma bagi Nafi.
*
Veer menyingkirkan rambut halus yang menutupi sebagian wajah Nafi. Di pandanginya wajah cantik Nafi yang tertidur pulas. Veer teringat saat-saat mereka sedang melakukan 'Hal' itu..
" Veer, sakiiit... tapi... tapi...ah.."
" Yaa sayang, apa ini nikmat?"
" Hmm.. Ahh, Veer..."
Veer terkekeh mengingat tentang pergelutan mereka. Akhirnya, Veer berhasil membobol gawang milik Nafi. Tapi Veer tak boleh senang dulu, karena trauma Nafi belum sepenuhnya hilang. Veer masih harus melakukannya secara perlahan dan lembut.
Nafi menggeliat dalam tidurnya, perlahan mata itu terbuka, dan langsung menatap wajah Veer yang sedang memandangi wajahnya.
" Hai sayang..."
Nafi tersipu malu, ia naikkan selimut yang sebatas dada tadi hingga hampir menutupi sebagian wajahnya.
" Kenapa di tutup?"
" Aku malu.."
" Malu atau mau?"
__ADS_1
" Veer..."
Veer terkekeh, ia kecup kening Nafi dan menarik tubuh Nafi kedalam pelukannya.
" Aku mencintai mu."
" Aku juga.."
Di kamar lain, Tata sudah merasa kelaparan. Ia bingung harus makan apa, karena biasanya ia akan pergi bersama Nafi. Namun, saat ini dirinya sedang ngambek dengan Dedi, jadi tak mungkin ia menghubungi Dedi duluan untuk mengajak makan.
" Ah, sudahlah. Sendiri juga gak apa, mana tau ketemu Oppa Kim Soe Hyun." Gumam Tata dan beranjak keluar kamarnya.
Saat Tata membuka pintu, Dedi sudah ingin mengetuk pintu kamar, sehingga tangan Dedi mendarat mulus di kening Tata.
" Aww..."
" Oh, maaf ... maaf ... " Dedi menunjukkan cengirannya.
Tata berdecak kesal, kemudian ia melewati Dedi, perutnya sangat lapar dan ia tak punya tenaga untuk berdebat dengan pria yang selalu memberikan perhatian, kemudian hilang tanpa kabar.
" Hei, mau kemana?"
" Makan, Laper."
" Tungguin dong, aku juga Laper."
Tata tak menggubris ucapan Dedi, ia terus berjalan menuju restoran.
Bukad Dedi namanya jika tak bisa menaklukkan wanita, termasuk Tata.
" Awas, di sini banyak gengster, ntar di culik loh."
Tata langsung menghentikan langkahnya, dan menunggu Dedi berada di sampingnya. Dedi tersenyum menang dan menggenggam jari jemari Tata.
" Biar gak ilang. Kalo ilang, aku bakal susah nyari wanita seperti kamu."
" Dasar Buaya."
" Dan kamu pawangnya." Dedi terkekeh melihat wajah cemberut Tata.
Gemesh deh..
*
" Abii..." Teriak Quin saat melihat ada mobil yang melintas kencang dan menyelip mobil mereka.
Jantung Quin berdetak cepat saat melihat 4 pria berbadan besar turun dari mobil dan menggedor pintu mobil mereka.
" Abii.. Jangan..."
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1