KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 43


__ADS_3

" Veer.." Nafi menahan tangan Veer yang menelusup kedalam bajunya bagian belakang.


Veer menyatukan kening mereka, dengan napas yang sama saling memburu.


" Maaf..." Veer menghapus jejak Saliva di bibir Nafi, dan menangkup wajah cantik Nafi. zsejali lagi Veer mengecup bibir yang sudah terlihat membengkak dan memerah itu.


" Aku akan menunggu sampai kamu siap " Bisik Veer setelah mengecup singkat bibir Nafi.


Nafi mengulum bibirnya, dan menganggukkan kepalanya.


" Makasih Veer."


Veer pun menarik tubuh Nafi, dan memeluknya.


Kruukk...


Veer merelai pelukannya.


" Kamu lapar?"


Nafi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Kemudian Nafi mengangguk.


" Ayo, kita selesaikan masaknya."


Veer membantu Nafi turun dari atas meja kitchen set. Sambil tersenyum malu Nafi membantu Veer, dan Veer sesekali mengecup pucuk kepala Nafi dan mengelusnya.


.


.


" Abi, aku lapar.."


Abi yang tengah mengendarai mobilnya pun menoleh kearah Quin.


" Kamu mau makan?"


" Hmm, di sana sepertinya ada penjual jagung bakar, kita kesana?"


" Baiklah tuan putri."


Quin tersenyum mendengar candaan Abi. Abi menghentikan mobilnya tak terlalu jauh dari penjual jagung Bakar yang berjualan di dekat taman.


" Ayo " Quin tersenyum dan membuka pintu mobil


Abi hanya geleng-geleng kepala melihat Quin yang sangat bersemangat. Seperti anak-anak yang mendapatkan apa yang diinginkannya. Tidak terlihat Quin yang sendu seperti saat mereka berada di rumah sakit.


" Kamu mau?" Tanya Quin kepada Abi yang sudah berada di sebelahnya.


" Boleh.."


" Mau pedes banget? pedas manis? atau original?"


" Pedas manis. Aku gak tahan pedas."


"Oke.." Quin kembali menoleh ke penjual jagung. " Bang, jagung bakarnya dua yaa. Satu eksta pedas, satu lagi pedas manis."


" Oke, tunggu sebentar ya Mbak."


" Siip.."

__ADS_1


Quin pun memilih duduk di kursi plastik yang di sediakan oleh si penjual jagung. Cuaca malam ini memang terasa sangat dingin, mungkin Quin yang tidak mengenakan baju tebal dan juga jaket hanya memeluk tubuhnya.


Abi menyunggingkan senyumnya melihat Quin yang memeluk tubuhnya sendiri. Abi melepas jaketnya dan menyampaikannya ke tubuh Quin. Quin menoleh. Mata mereka bertemu, entah jantung siapa yang berdegup dengan kencang.


" Makasih, " ujar Quin kemudian melemparkan senyum manisnya.


Abi menaikkan tangannya memegang dadanya. Jantung Abi rasanya seperti baru saja lari maraton, padahal hanya melihat mata sendu Quin dan senyum manisnya, yang mana menampilkan satu lesung pipinya. Abi gemas melihat itu.


" Kamu kenapa?" Tanya Quin yang melihat Abi melamun.


" Hah, enggak.. Gak papa kok." Abi tersenyum.


Pesanan mereka datang, Quin juga memesan teh kemasan dalam botol, sedangkan Abi memesan Air mineral.


" Emm, pedess.. hu..ha.." Quin meniup mulutnya karena kepedasan.


" Kalo gak sanggup pedas, kenapa pesan yang pedas?"


" Tapi ini enak loh. Cobain deh.."


" Enggak ah, aku gak tahan pedas "


" Ya udah.." Quin melanjutkan makannya.


Karena Sakin pedasnya, Quin sampai mengeluarkan air mata dan juga ingusnya. Entahlah, hanya Quin yang tau, apa itu air mata karena kepedasan, atau memang Quin ingin menangis.


" Segitu pedasnya?"


" Hmm, pedes banget.. Sruuut, tapi nikmat." Quin menarik ingusnya yang ingin keluar. Abi hanya menatap Quin geli. Untungnya Abi sudah selesai makan.


Quin membuang ingusnya yang sedari tadi minta di keluarkan.


Srruutt... Sruut...


Abi hanya bergidik geli dan juga merasa lucu serta gemes dengan tingkah Quin. Baru Ki ini ada cewek yang tidak menjaga image nya. Berbeda sekali dengan wanita-wanita yang pernah Abi jumpai, termasuk Anita.


" Kamu makan jagung, udah kayak orang nangis kejer Aja.."


Quin tersenyum " Pedes Abi..." Suara Quin yang terdengar manja membuat Abi mau tak mau menyunggingkan senyumnya. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil Abi yang terparkir agar jauh dari penjual Jagung bakar.


Ngreengg...ngreeeng...


Suara motor yang tiba-tiba datang entah dari mana membuat Quin terkejut dan menutup telinganya. Abi dengan sigap menarik tubuh Quin dan memeluknya.


" Dasar anak-anak gak ada kerjaan." Gerutu Abi yang melihat remaja tanggung membawa motor dengan kencang sambil menggeber-geber motor mereka hingga menimbulkan suara bising.


" Quin, kamu gak papa?" Tanya Abi yang memandang wajah Quin yang sudah berderai air mata.


" Quin.." Abi merelaikan pelukannya, namun Quin melingkarkan tangannya di pinggang Abi sehingga wajah Quin kembali menempel di dada bidang Abi.


" Hiiks.. Biar.. hikks..gini dulu.. Bi.."


Abi terdiam, saat mengetahui Quin menangis. Abi yakin penyebabnya bukan karena anak-anak remaja tadi. Suara motor bising itu hanya mengejutkan Quin, dan saat Abi memeluknya, Quin sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya. Fikiran Abi langsung kembali saat Quin memesan jagung ekstra pedas. Memang, orang yang sedang kepedasan akan mengeluarkan air mata dna juga ingus, itu reaksi dari rasa pedas tersebut. Namun air mata yang Quin keluarkan bukan seperti orang kepedasan, namun memang orang yang tengah menangis. Quin mengelabui Abi dengan cara memakan makanan pedas


Abi mengangkat tangannya dan mengelus punggung Quin yang bergetar. Pelukan tangan Quin terasa semakin menguat, Quin juga semakin menenggelamkan wajahnya di dada Abi. Abi hanya membiarkan bajunya basah dengan air mata dan kelenjar hidung Quin.


30 menit mereka berdiri, Akhirnya Quin merelaikan pelukannya.


Sruut..

__ADS_1


" Makasih yaa.." Ujar Quin dan mengusap hidungnya yang tah berair dengan jaket Abi.


Abi hanya menatap iba kepada jaket mahalnya itu, sekaligus salah satu jaket kesayangannya.


Quin menengadahkan wajahnya dan mendapati wajah Abi yang merasa ingin menangis saat melihat Quin mengelap ingusnya dijaket Abi.


" Aku akan mencucinya." Ujar Quin dengan kesal, dan berjalan meninggalkan Abi menuju mobil Abi.


" Kenapa dia yang kesal? Bukankah seharusnya aku yang kesal?" Ujar Abi entah dengan siapa dia berbicara.


" Cepat buka.." Titah Quin yang masih melihat Abi masih terbengong di tempatnya.


" Iyaa.. Iya.." Abi pun menekan tombol pembuka kunci mobilnya, hingga berbunyi Tit..tit.


Quin membuka pintu mobil dan bergegas masuk. Rasanya sungguh dingin diluar. Quin juga tak lupa memasang seatbelnya.


Abi masuk dan melirik kearah Quin.


" Aku akan mencucinya, kalo perlu aku sendiri yang mencucinya." Ujar Quin kesal.


" Kenapa kamu yang kesal."


Quin mengangkat kedua bahunya, kemudian melempar pandangannya kearah luar. Abi yang tidak ingin berdebat langsung saja menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya kembali menuju istana Raja Arkana Mahaputra Moza.


Abi membunyikan klakson saat berada di depan pintu pagar rumah Quin, Satpam yang sudah menandai logo keluarga Satya yang ada di plat polisi pun langsung membukakan pintunya.


" Abi "


Abi menoleh, dan mendapati wajah Quin Yang sedang menatapnya, kemudian Quin menunduk.


" Jangan katakan pada siapapun kalo aku menangis."


Abi menaikkan alisnya sebelah. Abi merasa penasaran dengan masalah apa yang di lalui Quin, namun Abi tidak bisa melacaknya, karena identitas Quin yang memang benar-benar di rahasiakan.


" Baiklah.. Jika kau butuh tempat menangis, aku siap."


Quin menaikkan sudut bibir atasnya. " Entar nyesal karena udah pinjami jaketnya ke aku, terus aku buat untuk lap ingus." Ujar Quin dengan nada yang sudah kembali mengesalkan.


" Lain kali aku akan menyiapkan tisu ataupun sapu tangan."


" Baiklah, terima kasih untuk malam ini. " Quin kembali tersenyum dengan menampilkan lesung pipinya.


Abi terpana, dan hanya mampu mengerjapkan matanya.


" Abi.."


" Hah? yaa?"


" Buka kuncinya, aku mau turun.".


" Ah.. ya, maaf."


Abi mengikuti Quin turun, dan juga ingin berpamitan kepada keluarga Quin. Kepada siapapun yang membuka pintunya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2