
Quin berjalan dengan pelan, kerena kakinya yang masih terasa sakit.
" Kenapa kaki kamu?"
" Ah itu, tadi hampir keserempet motor saat nyebrang, jadi hanya keseleo." Quin meringis saat mendapati tatapan tajam dari sang Papa.
" Papa..." Pekik Quin saat merasakan tubuhnya sudah melayang.
Papa Arka menggendong Quin ala bridal style, dan mendudukkannya di sofa.
" Kenapa Quin Pa?" Mama kesya langsung berlari kecil saat melihat kaki Quin terbalut perban.
" Hanya keselo Ma, tapi sudah di obati kok.."
" Kok bisa?"
Papa Arka membuka perban yang ada di kaki Quin, dan melihat kondisi kaki sang putri.
" Masih sakit?" Papa Arka menekan sedikit kaki Quin.
" Sedikit,"
" kamu terlalu banyak bergerak, ini sedikit bengkak. Siapa yang mengobati mu. Papa akui dia orang yang pintar."
" Seorang dokter."
" Pantes saja, dia menger__"
" Dokter hewan" Quin meringis saat mendapati wajah sang papa menatapnya dengan melongo.
" Dokter hewan? Apa kamu sakit lalu berobat ke Dokter hewan?" Tanya Papa Arka histeris.
Biasa aja Pa nanyanya, gak usah pake urat gitu.. Papa Arka udah tue lebay deh..
" Eeem, saat Quin nyebrang, kebetulan Dokter Abi yang membantu, dan dia yang mengurut kaki Quin."
" Ooh, jadi nama pria yang mengantarmu itu Dokter Abi? Apa dia dokter hewan yang kamu maksdu?"
Quin menganggukkan kepalanya.
" Pria yang mengantar Quin?" Mama Kesya menatap Quin penuh tanya. " Bukannya kamu bilang akan pulang bersama Veer?"
" Quin bisa jelaskan."
Quin pun menceritakan jika dirinya tidak bisa menghubungi Veer, Arash juga tidak bisa menjemputnya karena sedang patroli malam. Abash? lupakan, pria itu akan menjadi kalilawar jika sudah malam. Dia akan fokus kepada komputer dan perangkatnya. Shaka? Aah, Shaka masih sekolah, dan sebentar lagi ujian akhir.
" Oh, jadi Yuna yang menyarankan kamu di antar pulang oleh Dokter Abi itu?"
" Iyaa Ma, " Quin meneguk jus yang di berikan oleh si Mbok.
" Apa dia tampan? "
Quin memutar bola matanya, " Kami hanya berteman ma. Tidak, bukan berteman, melainkan Quin adalah sipemilik hewan peliharaan yang di titipkan diklinik Dokter Abi."
" Aahh, mungkin bisa berawal dari seorang pasien, kemudian berlanjut jatuh cinta.."
" Mama jangan berkhayal, Quin rasa dia sudah menikah, dan dia seorang playboy."
" Kenapa kamu berkata seperti itu?"
" Quin melihat cincin pernikahan dijarinya, dan dia mengatakan jika itu adalah cincin milik ayahnya. Bullshit banget kan.."
" Mungkin memang itu cincin ayahnya?"
" Tidak mungkin pria berumur 31 tahun belum menikah, dan menggunakan cincin pernikahan di jari manisnya., akan sangat aneh bukan."
Papa Arka terbatuk, Hai Quin, Papa mu ini menikah saat umurnya sudah berkepala 3, ingat itu sayang..
" Baiklah, sekarang sebaiknya kamu beristirahat. Jangan lupa membersihkan badan."
" Veer mana Ma?"
" Veer menginap di rumah Nafi. Kaki Nafi terkilir, dan susah berjalan. Maka dari itu mereka memutuskan menginap di sana. "
" Ooh, pantes saja. Tapi kenapa dia tidak menghubungi ku. Menyebalkan.."
" Ponsel Quin habis batre sayang. Coba cek ponsel kamu, mungkin Veer sudah berkali-kali memberikan kabar."
Quin memeriksa ponselnya, benar saja, sudah banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Veer. Quin membuat ponselnya dalam mode silent, maka dari itu Quin tidak mendengar ada pesan masuk.
" Ayo papa gendong." Papa Arka sudah berjongkok membelakangi Quin.
" Nanti encok" ejek Mama Kesya.
" Hai sayang, jangan menyepelekan suamimu ini, untuk membuat adik Shaka pun papa masih sanggup. Mau bukti?" Papa Arka mengedipkan matanya sebelah.
" Dasar pria tua, tidak ingat umur dan tidak malu berbicara seperti itu di depan anaknya."
" Kenapa? Lagian sebentar lagi Quin akan memberikan kita cucu."
" Papa,..." Rengek Quin.
Papa Arka hanya terkekeh, dan kembali menyuruh Quin untuk naik ke punggungnya.
Di tempat lain, Abi tersenyum mengingat segala lelucon yang diberikan Quin. Sebenarnya bukan lelucon, hanya saja Abi merasa lucu dengan setiap apa yang Quin ucapkan.
__ADS_1
" Gadis yang imut " Gumamnya.
.
.
Semenjak kejadian adegan ciuman tadi, diantara Nafi dan Veer menjadi semakin canggung. Di tambah lagi saat Veer meminta mengantarkan makan malam untuk Nafi ke dalam kamarnya. Karena Nafi tidak bisa berjalan, Hingga mama dan papa memberikan senyuman yang penuh arti.
" Papa mengerti, pengantin baru memang begitu. Setelah melakukannya akan sulit untuk berjalan."
" Papa " Tegur Mama ayu dengan senyumnya.
Perkataan Mama ayu dan Papa Danu selalu terngiang di telinga Veer. 'Apa maksud perkataan Papa Danu, apa mereka fikir jika dirinya dan Nafi telah melakukannya?'
Veer menatap kearah Nafi yang masih sibuk dengan iPad nya.
" Kamu tidak tidur?"
Tidak ada sahutan dari Nafi, Nafi masih serius dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Veer mendekat dan melihat apa yang sedang nafi kerjakan.
" Astaga, kamu membuatku terkejut." Ujar Nafi saat mendapati tubuh Veer sudah condong kearahnya.
" Apa yang kamu lihat, sehingga mengabaikan pertanyaan ku?"
" Kamu bertanya kepada ku? Apa?"
Veer berdecak. " Kenapa kamu belum tidur?"
" Ooh, sebentar lagi. "
" Tidurlah, sudah larut malam. Tidak baik untuk kesehatan mu jika sering bergadang."
Nafi menatap Veer, ' Apa maksdunya? Apa dia sedang memberikan perhatian kepada ku?'
" Jangan berfikiran macam-macam. Aku hanya tidak bisa tidur jika lampunya masih menyala terang." Veer berjalan cepat kearah sofa. Di mana menjadi tempat tidurnya selama 6 bulan kedepan.
' Ada apa ini? Kenapa jantungnya kembali berdetak cepat hanya karena Nafi memandangnya?'
Veer sudah berusaha untuk tidur, namun entah kenapa dirinya sangat gelisah dan tidak bisa tertidur. Veer bangkit dan melihat kearah nafi yang sudah tertidur dengan nyenyak.
Veer meraih ponselnya dan melihat ada apa di dunia Maya. Veer membelalakkan matanya saat melihat story milik Yuna, istri Dokter Rafa.
' Terlihat sangat serasi bukan' Begitulah caption yang tertulis.
" Siapa pria ini? Seperti tidak asing?" Gumam Veer.
.
.
" Berisik Quin." Gerutu Abash, karena dirinya sedang menggendong Quin.
" Terima kasih Abash ku sayang." Quin mencium pipi Abash.
" Iyaa, sebaiknya mulai sekarang kamu diet deh. Berat banget tau.."
" Diet? Aku kurus langsing bak bintang K-Pop gini kamu bilang gendut?"
" Memang kamu berat Quin.."
" Kamu aja yang lemah, buktinya papa biasa aja tuh. Iya kan pa?"
Papa Arka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
" Setelah mengendong kamu ke kamar, Pinggang Papa kamu encok, lihat saja ada koyok yang menempel di sana." Jelas Mama Kesya.
Papa Arka langsung berpura-pura sibuk, karena tidak ingin mendapatkan tatapan kekesalan dari sang putri.
" Quin tidak gendut."
" Aku gak bilang kamu gendut Quin, kamu memang berat. Mungkin berat dosa. Coba deh banyak beramal." Tambah Abash.
" Abaasshhh...." Teriak Quin sehingga membuat Empus juga ikut mengaung.
" Anak sama mamaknya sama. Sama-sama singa galak." Celetuk Abash..
" Iih, Abash nyebelin.." Kesal Quin.
" Abash.." Tegur Mama Kesya.
Beginilah, jika bukan Veer yang menggoda Quin, maka Abash akan menjadi Veer kedua, yang akan setia menggoda Quin. Untungnya Arash tidak begitu.
" Abash jelek."
" Biarain. Aku tidak mau mengantar kamu."
" Papa, abassh.."
" Jika Abash tidak mau mengantar kamu, biar papa yang mengantar kamu."
" No. Jika Papa yang mengantar, maka semua orang akan curiga."
Tak berapa lama Arash masuk setelah memberi salam.
__ADS_1
" Arash, apa kamu letih?" Tanya Quin dengan puppy eyes nya.
Jika sudah begini, mereka akan tau jika Quin pasti ada maunya.
" Quin mau apa?"
" Antar aku ke toko." Ujar Quin dengan nada manjanya.
" Baiklah, aku mandi dulu yaa.."
" Araaaashh, kamu yang terbaaiikk.." Quin memberikan dua jempolnya ke arah Arash, dan memeletkan lidahnya kearah Abash.
Mama Kesya dan Papa Arka hanya geleng kepala melihat tingkah sang putri.
" Kenapa gak minta jemput sama Dokter Abi?"
Uhuukk...uhuukk..uhuuk...
Abash melihat kearah Papa Arka, dan melihat kearah Quin secara bergantian.
" Apa ada yang Abash lewatkan?" tanyanya.
Quin menatap Papa Arka dengan kesal.
" Lihat story' Yuna, kamu pasti mengerti."
Abash langsung mengambil ponselnya, dan melihat story' Yuna di IG.
" Kamu punya hubungan dengan dia Quin?" Tanya Abash sambil menunjuk kearah ponselnya
Quin mengambil ponsel Abash, dan melihat stroy Yuna.
" Iih, Mbak Yuna nyebelin."
Quin langsung mengambil ponselnya dan membuat panggilan kepada Yuna..
" Mbak yunaaaa nyebeliinn..."
Di seberang sana, Yuna sudah tertawa terbahak-bahak. Untungnya Yuna tidak berteman dengan Dokter Abi di IG.
" Mbak hapus, sebelum kakek melihatnya.."
" Terlambat, aku rasa kakek sudah melihatnya pagi ini." Ujar Yuna di seberang panggilan.
" Ternyata Dokter Abi sangat tampan." Celetuk Mama Kesya.
" Mamaaaa.." rengek Quin.
.
.
" Udah dong Quin, jangan cemberut gitu..Nanti rezekinya di patok ayam loh." Arash mencoba menghibur Quin.
" Makasih udah mau antar aku."
" Quin, senyum dong.."
Quin menunjukkan giginya. Untung putih dan rapi.
Arash membukakan pintu untuk Quin, dan membantu Quin turun.
" Pagi Qila."
Suara bariton itu mengambil atensi Arash dan Quin. Yaa, tempat parkir klinik dan toko kue menyatu, Karena berada di posisi tengah, antara toko kue dan klinik Abi. maka dari itu mereka dapat bertemu.
" Pagi Dokter." Quin mencoba untuk ramah, walaupun dalam hatinya kesal. Entahlah, dia jadi ikut kesal dengan Abi.
" Bagaimana kakinya, sudah baikan?"
" Alhamdulillah Dok, terima kasih. Kalo begitu saya permisi." Quin mengangguk sekilas, dan membalikkan tubuhnya. Quin tidak ingin berlama-lama bertegur sapa dengan Dokter Abi, apalagi ada Arash di sini.
Arash tersenyum sekilas dan merangkul Quin masuk kedalam toko.
" Apa itu pacarnya?" Gumam Dokter Abi.
" Apa pria tadi yang di bahas pagi ini? Yang membuat kamu kesal?"
Quin menganggukkan kepalanya. " Kamu mau minum?"
" Tidak, aku langsung balik ya. Aku ngantuk"
" Baiklah, terima kasih Arash, "
Arash mendaratkan kecupan di kening Quin, "Kamu hati-hati ya menyetirnya. kasih kabar jika sudah sampai rumah." Arash memberikan jempolnya.
Dan kejadian itu, terlihat oleh Abi yang entah kenapa sedang menoleh kearah toko Kue, sehingga pagi- pagi mendapatkan pemandangan yang membuat matanya sakit.
" Aku merindukan kamu." Gumamnya entah buat siapa sambil menatap kearah jari manisnya.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.