
“Kamu menertawakan ku?” tanya Lana.
“Tidak,” Anggel mengulum bibirnya.
“Lalu kenapa kamu tersenyum?”
“Akunhanya heran, apa kamu seorang pangeran kodok?”
“Kenapa berkata seperti itu?”
“Karena kamu mengatakan calon anakmu kecebong.”
Tawa Anggel pun pecah saat melihat mata Lana melotot kearahnya. Lana nya sungguh
menggemaskan.
“Jangan melotot seperti itu, kamu persis bapaknya kecebong.” ujar Anggel yang mana membuat Lana semakin gemas dan geram kepada sang istri yang berhasil membuatnya benar-benar tersiksa.
"Kamu benar-benar membuatku tersiksa." ujar Lana dan menarik tangan Anggel, sehingga tubuh Anggel menubruk dada Lana.
Tawa Anggel perlahan memudar di saat merasakan tatapan Lana yang sayu seolah menginginkan sesuatu sekaligus menahannya.
Anggel menggerakkan bola matanya menatap bibir Lana, lalu kembali menatap mata Lana, hingga akhirnya Lana menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
Mungkin Lana belum bisa mendapatkan pijatan refleksi untuk sang adik kecilnya yang mulai kembali bergerak dan berdiri. Tapi Lana masih bisa mendapatkan susu bukan?
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Maka, banyak jalan untuk mendaki gunung dan melewati lembah. Kali ini, Lana yang menjadi the next ninja Hatori.
"La-nahh .... Hmmppp ... Aah .... Hen-hentikan .... Akuhh .. emmpph ... A-aku ..." Anggel sudah bergerak gelisah di saat Lana terus memainkan jeli kembarnya.
"Yaa sayang, keluarkan saja, ini baru gladi resik, belum upacara benderanya. .." Ujar Lana yang masih terus menikmati daging kecil berwarna coklat kemerahan di ujung jeli kembar milik Anggel.
*
Anggel dan Lana telah tergelatak lemas. Ini baru permainan Lana bagian atas tubuhnya, bagaimana dengan permainan bawah?
Bagian atas begini saja sudah membuat Anggel lemas tak berdaya. Oh tidak, Anggel tak ingin membuat Lana kecewa saat mereka benar-benar melakukannya. Sepertinya Anggel akan meminum vitamin yang di berikan oleh Oma Laura.
Vitamin turun temurun, dari Mami Vina, Mama Kesya, Mama Puput, Mami Mili, dan Bunda Sasa.
Vitamin yang bertujuan untuk menjaga daya tahan tubuh mereka agar tidak cepat lesu dan jatuh sakit jika di gempur semalaman.
Oh ya ampun, baru membayangkannya saja Anggel sudah bersemu merah. Apa lagi Anggel baru saja melihat dan memegang bagaimana panjang, besar, dan kerasnya si burung Pipit milik Lana.
"Tidurlah sayang, jika kamu memandanginya lagi, dia akan bangun. Tangan mu sudah pegal bukan?" ujar Lana yang menebak kemana arah pandangan Anggel.
Anggel mendongakkan kepalanya, "Emang. Isa bangun lagi? kan udah keluar kecebongnya?' tanya Anggel dengan wajah polosnya.
"Apa kamu tidak melihat jika ia belum tidur? itu karena ia masih ingin merasakan belaian tangan kamu." ujar Lana sambil mengusap punggung telanjang Anggel.
"Seperti ini?" Dengan sengaja Anggel membelai dengan lembut adik kecil Lana.
Lana menggeram nikmat merasakan sentuhan tangan Anggel yang hangat.
Sebenarnya Anggel penasaran, apa benar jika adik kecilnya itu bisa bangun lagi setelah mengeluarkan kecebongnya dengan banyak? seperti yang ia baca di buku-buku novel. Maka dari itu, Anggel yang penasaran pun ingin mengetahui kebenarannya itu. Dan betapa terkejutnya Anggel, jika milik Lana kembali berkedut dan membuat dirinya lebih besar lagi.
Anggel menarik tangannya saat merasakan keperkasaan Lana yang hanya dengan sentuhan tangannya saja, sudah minta dipuaskan. Rasa pegal di tangan Anggel masih belum hilang, Anggel pun mengutuk rasa penasarannya.
Anggel menarik tangannya dan adik Lana, namun Lana menahannya.
"Terus elus dia sayang, jangan buat dia marah. Lakukan seperti tadi lagi, dia menginginkannya lagi." ujar Lana dengan suara beratnya.
Anggel menelan ludahnya kasar, namun ia terkejut saat Lana sudah kembali memposisikan dirinya di atas Anggel.
"Kamu cukup menggenggamnya dengan kehangatan tanganmu, biar aku yang bergerak." ujar Lana sambil mengarahkan tangan Anggel ke adik kecilnya.
Anggel kembali menggeram dan mend*sah saat Lana mencumbui lehernya kembali. Ingin rasanya ia menjambak rambut Lana denagn sensual, tapi Lana menahan tangannya untuk tetao berada di bawah sana, sampai Lana benar-benar mendapatkan kepuasan kembali.
*
Dalam pesawat Quin dan Abi.
Ketukan pintu membuat Quin dan Abi terpaksa menghentikan kegiatan mereka yang tengah bersilat lidah itu.
Abi lupa, tadi ia memesan bistik untuk dirinya, dan di saat yang tidak tepat, bistik itu pun telah matang.
Dengan perasaan yang tak rela melepaskan squishy kembar milik Quin, Abi bangkit dan menutup tubuh Quin dengan selimut. Sesaat Abi berdiam dan mengenakan kembali bajunya yang di lemparnya entah kemana. Untungnya Abi dengan cepat menemukan kemeja miliknya itu. Tak lupa ia mengatur napasnya yang masih memburu.
Ceklek ..
"Ya ..." ujar Abi dengan ketus.
Pramugari tersebut sampai menundukkan wajah nya, hingga suaranya terdengar gemetar.
"Ma-maaf Tuan, ini pe-pesanannya."
__ADS_1
"Baiklah, silahkan kembali bekerja. Jangan ada yang ganggu waktu ku jika tak ada keperluan yang mendadak." ujar Abi dan mengambil piring yang berada di atas troli dan menyuruh pramugari tersebut pergi.
"Ada apa, Abi?" tanya Quin yang sudah mengenakan kembali pakaiannya.
"Hanya mengantar pesanan ku tadi, kamu mau?"
"Hmm, aku lapar. Kamu membuat Kau benar-benar menguras tenaga." gerutu Quin.
Abi terkekeh. "Itu belum seberapa sayang, kamu sudah merasakan yang lebih dahsyat dari tadi."
"Iya, tapi kita sedang dalam perjalanan, sayang."
"Baiklah, Maafkan aku. Sekarang, buka mulutnya."
Quin menurut dan membuka mulutnya. Abi memasukkan potongan daging yang ia potong kecil tadi kedalam mulut Quin.
"Gimana?" tanya Abi.
"Tidak buruk,"
"Mau lagi?"
"Baiklah, lagi pila spageti ku sudah dingin, gak enak lagi rasanya dan itu semua salah kamu."
"Hei, lihat siapa yang berbicara? siapa yang mendorong tubuhku untuk berbaring dan duduk diatas tubuh ku?" tanya Abi dengan nada menggoda.
"Hentikan itu, seperti nya hormon seksualku meningkat saat menstruasi seperti ini."
"Aku harap hormon seksual mu tetap meningkat di saat kamu tak lagi datang bulan."
"Dasar omes, itu sih mau kamu." ujar Quin dengan cemberut.
Abi terkekeh melihat Quin ngambeku menyambar garpu yang ada di tangannya. Salah Abi memang, Karen telah membuat Quin tak menghabiskan makananya sehingga membuat Quin kembali dilanda kelaparan.
*
Dalam pesawat Anggel dan Lana.
"Lana, aku lapar." rengek Anggel.
"Baiklah, sebentar ya."
Anggel menganggukkan kepalanya. Lana bangkit dari tidur nya dan mengenakan pakaiannya. Tak lupa ia membuang tissu bekas pakai nya kedalam tong sampah.
Lana berjalan keluar kamar, untuk memesan makanan yang cepat tersaji dan mengenyangkan.
"Sayang, kamu di dalam kamar mandi" tanya Lana saat melihat Anggel tak lagi terbaring di atas tempat tidur.
"Iyaa, sebentar sayang, " pekik Anggel dari dalam kamar mandi.
Lana pun memilih duduk di tempat tidur sambil menutup matanya. Lana merasa lelah, ia belum beristirahat dengan baik beberapa Minggu ini. Ia tak tidur demi memastikan Anggel baik-baik saja. Saat malam pertama mereka pun, Lana tak bisa tertidur dengan lelap, Karen Anggel mengigau dan mengagakan jika ia membenci Lana, namun juga mencintai Lana. Serta meminta Lana untuk tidak pergi dari nya.
Berpisah dengan Lana membuat Anggel bagaikan bukan dirinya sendiri. Lana masih merasakan, jika saat ini Anggel masih takut kehilangannya, padahal mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
*
Anggel dan Lana pun tiba di India. Mereka langsung di antarkan ke apartemen mewah, di mana Mereka akan tinggal.
Anggel yang tak menyukai bau dupa pun, terpaksa memakai masker sepanjang perjalanannya. Aroma dupa yang menyengat membuatnya sesak. Beginilah kehidupan dinI dia, yang sebagian besar masyarakatnya penganut agama Hindu.
"Apa kamu akan membintangi film syahruk khan?" tanya Anggel saat mereka sudah tiba di dalam apartemen mereka.
"Tidak, tapi aku bekerja sama dengan Hrithik Roshan." ujar Lana sambil meletakkan koper mereka.
"Apa? bang Hrithik? kamu serius?" tanya Anggel dengan semangat.
"Bang? beliau sudah tua." ujar Lana dengan nada tak suka di saat Anggel memanggil hrithik Roshan dengan sebutan 'bang'
"Beliau tua, tapi masih seksi.. Aaw...." ujar Anggel memekik kegirangan membayangkan tubuh Hrithik Roshan yang bagaikan roti sober tersebut.
Lana berjalan mendekat kearah Anggel sambil membuka bajunya. Anggel yang menyadari itu pun menelan ludahnya kasar.
Lana meraih tangan Anggel kan meletakkan telapak tangannya di perutnya yang juga terdapat roti sobek. Memang, tak sesobek Hrithik, tapi boleh lah ... Yang terpenting adalah membuat Anggel memekik nikmat di bawahnya bukan?
"Bagaimana dengan ini?"
"Meng-menggoda."
"Apa kamu belum puas?"
"Lana aku hmmpp" belum lagi selesai Anggel mengeluarkan kalimatnya. Lana sudah mencium bibirnya dna mendorong tubuhnya untuk terjatuh di atas sofa.
Aah, sepertinya Anggel percaya sekarang, jika pengantin baru bisa menghabiskan seharian di dalam kamar untuk apa saja. Ternyata kegiatan mereka di habiskan untuk melepaskan kecebong, bukan bermain halma.
*
__ADS_1
Quin dan Abi telah sampai ke rumah Kakek Andreas. Mereka akan tinggal di istana megah ini.
Kehadiran Quin dan Angg pun di sambut hangat oleh Kakek Andreas dan juga para pelayan yang ada di sana. Quin sempat terkejut, saat hampir seluruh pekerja di rumah Kakek Andreas kebanyakan warga negara Indonesia.
Memang, ada juga yang warga negara asal German, dan yang membuat Quin takjub adalah, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan pasif.
Quin dan Abi pun di antar kedalam kamar mereka. Quin melihat kesekeliling kamar Abi. Perabotan yang modern dan cat dinding yang sangat khas sekali jika ini adalah kamar seorang pria.
"Kamu merasa nyaman dengan kamar ini? jika tidak, aku akan mengatakannya kepada pelayan untuk merubah sesuai keinginan kamu." ujar Abi sambil memeluk Quin dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Quin.
"tidak masalah, ini cukup nyaman, aku suka? ujar Quin sambil membalas pelukan tangan Abi.
"Apa kamu mau mandi atau---" Abi mengecup leher Quin dan menghisapnya sehingga meninggalkan kan bekas kemerahan di sana.
"Abi hentikan kamu makan membuat bekas di sana."
Abi terkekeh. "Tujuan kita ke sini bukan hanya untuk aku menyelesaikan pekerjaanku, akan tetapi aku dan kamu akan melakukan perjalanan bulan madu kita yang yang tertunda."
"Dasar pelit, seharusnya kamu membawa ku keliling dunia."
"Lihat siapa yang berbicara? aku sudah mengajakmu, tapi kamu menolak dengan alasan belum mencintai aku."
Quin terkekeh, kemudian ia membalikkan tubuhnya. "Saat ini aku sudah mencintai kamu, Tuan Abimana Setyo Subekti." lirih Quin. dengan menyebut nama Abi dengan seksi.
"Kamu menggoda ku Nyonya Abi?"
Quin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku akan menjadi satu-satu nya wanita penggoda untuk mu, dan kamu hanya tergoda oleh ku."
"Tentu, dan aku sudah tidak tahan untuk tak menyentuh bibir yang menjadi candu bagi ku." Abi langsung mencium bibir Quin dengan rakus
*
Di Jakarta.
Kayla dan Zein tengah membicarakan tanggal pernikahan mereka. Kakek meminta mereka untuk tidak menunda pernikahan mereka. Bukannya mereka yang ingin menunda, tapi Kayla yang memang masih terikat kontrak kerja, yang mana mengharuskan dirinya untuk tidak menikah selama ia mengajar musik.
Syarat itu bertujuan agar Kayla fokus dengan karirnya selama minimal 1 tahun, dan 4 bulan lagi syarat kontrak tersebut pun berakhir. Maka dari itu mereka sedang membicarakan tanggal berapa mereka inginkan untuk menikah.
"Aku suka bulan februari. Bulan penuh cinta." ujar Kayla.
"Apa kamu mau tanggal 14 Februari?" tanya Zein.
"Aku ikut keputusan kamu aja."
"Baiklah kalau bagitu. Nanti aku bilang ke Mami."
" Iya."
Dan, setelah mereka memberikan keputusan dengan keluarga. Mami Vina, Oma Mega, Oma Rosa, Mama Kesya, Bunda Sasa, dan Para Papi dan Opa pun berkumpul, untuk berembuk tanggal baik dalam agama Islam.
Beruntungnya mereka bertetangga dan juga memiliki hubungan saudara. Jadi, tak terlalu merepotkan untuk menyediakan makanan. Cukup Kopi, teh dan cemilan saja yang tersedia. Lagi pula, menengukan tanggal pernikahan Kayla dan Zein tidak terlalu ribet. Zein dan Kayla setuju tanggal berapapun yang menurut orang tua mereka baik.
Setelah tanggal, bulan, dan tahun sudah di tentukan. Persiapan pun akan segera di mulai. Setidaknya pernikahan Kayla dan Zein tidak terlalu diburu seperti pernikahan Abi dan Quin, serta Anggel dan Lana.
*
Quin benar-benar menikmati tidurnya, hingga ia melewatkan subuh. Yaa, walaupun Quin lagi tak solat, setidaknya Quin menyiapkan baju, kain sarung, dan juga sajadah untuk Abi. Bahkan Quin bangun saat matahari sudah menyinari bumi dengan terang.
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Abi yang baru saja masuk kedalam kamar.
"Hmm, kamu dari mana?" tanya Quin yang melihat pakaian Abi bukanlah pakaian solat.
"Dari lari pagi, Keliling halaman aja."
"Kamu gak solat?"
"Solat dong, selepas solat aku baru jogging"
Quin menganggukkan kepalanya.
"Aku mandi dulu ya, udah lengket." ujar Abi sambil berjalan menuju kamar mandi.
Quin menganggukkan kepalanya dan turun dari tempat tidur. Quin pun bergegas mengambil pakaian ganti untuk Abi. Begitu lah Mama Kesya mengajarkan dan menasehatinya, hal kecil namun sangat berarti bagi sang suami.
Perlakuan kecil dan manis itu akan selalu membekas dalam ingatan suami. Quin ingin memberikan hal manis namun sangat berkesan itu untuk Abi. Quin ingin membuat kenangan yang tak akan pernah bisa Abi lupakan seumur hidupnya.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF