KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 75


__ADS_3

"Kamu gak papa?" Abi menggenggam tangan Quin dengan lembut.


Sedari tadi, Quin hanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.


"Salah aku apa? Kenapa Jamal sampai tega berbuat sejauh itu?" lirih Quin.


Abi menarik dagu Quin agar menatap wajahnya. Untungnya saat ini Abi tidak mengemudikan mobil, melainkan Abi dan Quin duduk di bangku penumpang.


"Kamu gak salah, Bahkan kamu terlalu sempurna untuk melakukan kesalahan." Abi menangkup wajah Quin.


"Aku akan cari tau, apa mau si jambal ikan asin itu"


Quin Mengerutkan keningnya, "Jambal ikan asin?"


"Iya, salah satu readers bilang gitu saat baca cerita kita."


Quin tertawa pelan, menampilkan lesung pipinya yang mana membuat Quin semakin cantik.


"Bisa aja kamu."


Abi senang, candaannya ternyata bisa membuat Quin kembali tertawa.


*


"Bagaimana Quin?" Tanya Nafi yang juga ikut khawatir, gara-gara melihat kepanikan sang suami yang baru saja membobol gawangnya.


"Quin gak papa." Veer memperhatikan kondisi sang istri yang masih terlihat kusut dengan tubuh yang masih terbalut selimut.


Duh, ada yang gerak-gerak deh di bawah sana, gara-gara lihat penampilan Nafi yang seksi dan menggoda.


Tadi, saat Veer sedang menggoda Nafi, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan langsung mendapatkan kabar jika Quin menghidupkan alarm bahaya. Veer langsung bangkit dari tempat tidur, berjalan mondar mandir untuk menghubungi orang kepercayaannya dan mengerahkan semua pengawalnya.


"Kamu kenapa? Kok liatin akunya gitu banget?"


"Eem, kamu lapar gak?"


"Laper sih, tapi gak laper-laper banget."


"Aku Laper banget."


"Ya udah, aku pesanin makanan ha." Nafi beralih mau mengambil gagang telpon yang ada di atas nakas. Namun pergerakannya terhenti saat Veer memegang tangannya.


"Aku mau makan kamu." Ujarnya dengan tatapan yang mulai berkabut.


"Maksudnya?"


Veer duduk di sebelah Nafi. "Apa masih sakit?" Tanyanya sambil meraba paha Nafi yang sedikit terekspos.


"Veer.." desisnya.


Tangan Veer sudah berhasil mengusap paha Nafi bagian dalam, wajah Veer mendekat dengan tatapan kabut. Nafi mengerti, ia menutup matanya perlahan dan mengikuti permainan Veer. Dan untuk kedua kalinya, Veer berhasil memasuki Nafi lagi, kali ini Nafi sudah tak setakut yang pertama.


Di restoran, Tata merasa khawatir dengan bos nya yang belum makan sedari tadi siang.


"Apa pesanin makanan aja ya?" Tata menanyakan pendapat Dedi.


"Kamu mau ganggu Bos lagi ***-***?"


"Ya enggak, aku cuma mau antarin makanan."


"Tenang aja, Bos Veer selalu saja menyiapkan segala sesuatunya secara matang."


"Kamu yakin?"


"Tentu."


Tata menghela napasnya, sepertinya ia akan kembali melewati makan malam tanpa kehadiran si bos. Dan Tata harus menyiapkan segala keperluan untuk meeting besok.


"Kamu gak ada kerjaan?" Tanya Tata saatelihay Dedi memainkan ponselnya.


"Ini, akusm sedang menyelamatkan dunia." Ujar Dedi tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


Tata memutar bola matanya, sepertinya akan percuma meminta tolong kepada Dedi. Huuff, belum jadi pacar aja udah nyebelin, gimana kalo udah jadi? Hadeeww ...


*


"Ila," Zein mendekati Kayla yang baru saja turun dari taksi online nya.

__ADS_1


"Kak Zein."


"Mobil kamu mana?"


"Bocor, jadi aku tinggalin di kantor Lana."


"Terus, kenapa gak hubungi aku?"


"Bukannya kamu lagi sibuk ya!"


Entah pertanyaan atau pernyataan yang di lontarkan oleh Kayla.


"Sibuk? Aku gak sibuk?"


"Hah, udah deh, gak usah sok polos depan aku. Aku tau kok, Kak Zein sedang bersama seorang wanita kan tadi? dan kalian menghabiskan waktu bersama."


Kayla membuka pintu gerbang, namun Zein menahan pergelangan tangan Kayla.


"Ila, aku gak bersama siapa-siapa tadi. Aku berani sumpah."


"Bullshits." Kayla menghempas tangan Zein yang memegang pergelangan tangannya.


"Ila ..."


Langkah Zein terhenti karena ponselnya yang berbunyi dan menampilkan nomor Abash.


"Halo ..."


" ...."


"Aku kesana sekarang."


Zein menatap punggung Kayla yang baru saja menghilang di balik pintu kayu. Tanpa mereka berdua sadari, jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


Zein mengemudikan mobilnya yang masih terparkir di luar pagar. Dengan kecepatan tinggi Zein langsung menuju ketempat Abash berada.


"Kamu yakin?"


"Entahlah, apa kakak tau kalau Mama pernah bertunangan dengan orang lain? Saat sebelum bertemu Papa?"


"Kamu siapa yang bilang?"


"Kak Abi mengirimi pesan. Sebenarnya ia ingin menyusul kemari, namun melihat keadaan Quin yang sedari tadi melamun, kak Abi gak tega meninggalkan Quin."


"Veer sudah tau?"


"Belum, kami gak mau ganggu waktu Veer bersama istrinya. Lagi pula Veer sedang menyelesaikan masalah Nafi."


"Masalah apa?"


"Quin melihat pria yang ingin melecehkan Nafi dulu. Dan itu menandakan jika Si bajingan itu sudah keluar dari penjara."


"Secepat itu?"


"Ya, dan mata-mata Quin telah mati terbunuh olehnya."


"Apa artinya Quin saat ini dalam masalah?"


"Ya, kakak benar. Quin kali ini benar-benar selama Masalah yang berat."


Zein meremas rambutnya. Kenapa Masalah terus saja datang tanpa henti? Belum lagi saat ini sepertinya Kayla sedang salah paham dengannya. Huff ... Baru saja memulai, masa sudah mau berakhir?


"Berapa hari Veer di Koreal?"


"Nafi hanya membutuhkan waktu satu hari untuk meeting, mungkin mereka akan melanjutkan bulan madunya di sana."


Tak berapa lama Lana datang bersama Fatih dan Lucas.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?" Tanya Lucas dengan wajah seriusnya.


"Ini tentang Quin dan Nafi."


Abash menceritakan pokok permasalahannya. Lana dan Fatih menggeram kesal.


"Brengs*k" Maki Lana dan Fatih bersamaan.


"Tenang lah."

__ADS_1


"Kenapa harus Quin yang jadi sasaran?" Geram Lana dan meninju meja kayu jati tersebut.


Abash menatap wajah Fatih. Ada hal yang ingin di ungkapkan ya, dan itu akan membuat Fatih tak nyaman.


"Apa? katakan saja." Ujar Fatih yang mengerti tatapan Abash dan sudah menebak kemana akan arah pembicaraannya.


"Aku butuh bantuan Farhan."


Fatih berdecih kesal, kenapa harus meminta bantuan si cucungud itu sih? Emangnya kurang hebat apa Abash?


"Kurang hebat apa Lo, sampai harus minta bantuan dia?"


Abash menghela napasnya. "Ini bukan Maslaah yang sepele. Nyawa Quin dalam bahaya, tidak hanya Quin, Nafi dan Mama Kesya juga dalam bahaya. Dan Aku gak bisa kerja sendiri Bang."


Abash membenarkan duduknya, dan menatap Fatih dengan tatapan yang semakin tajam.


"Untuk menangkap seekor ular besar, mungkin aku bisa dengan kepintaran ku sendiri. Tapi ini seekor belut listrik, kecil memang, tapi ia membunuh secara perlahan. Dan harus ada perisai kuat untuk memusnahkannya dengan tangan kosong."


Fatih menghela napas, menutup matanya dan menenangkan fikirannya.


"Lakukan yang terbaik, yang penting keselamatan Quin, Nafi, dan Mama kesya terjamin."


Abash tersenyum. Inilah Fatih, selalu bisa mengesampingkan masalah dan ego nya sendiri.


*


"Abi, kamu gak jadi keluar?"


Abi yang sedang fokus kepada iPad nya pun menoleh.


"siapa bilang aku mau keluar?"


"Tadi aku gak sengaja dengar kamu mau bertemu dengan seseorang."


"Oh, temanku membatalkannya." Bohong Abi.


Quin menatap Abi yang duduk di sofa.


"Abi, bolehkan aku meminta kamu memeluk ku?" Lirihnya.


Jantung Abi langsung berdebar cepat. Apa ia tak salah dengar? Namun, sebelum kesempatan itu hilang, Abi dengan cepat menjawab permintaan Quin.


"Tentu" Dengan percaya diri dan jantung yang bertalu, Abi mendekat dan naik keatas tempat tidur.


Quin menarik lengan Abi, dan menjadikanya sebagai bantal. Seperti halnya Veer sering lakukan untuknya.


Quin mendongakkan kepalanya, menatap wajah Abi yang terdapat luka di sudut bibirnya. Luka yang beberapa hari lalu di dapatkan dari ulah gilanya sendiri.


Tangan Quin perlahan naik, dan menyentuh sudut bibir Abi yang terluka.


"Apa ini masih sakit?"


"Tidak."


Quin menatap mata Abi, begitupun sebaliknya. Jika saja saat ini tidak ada masalah yang membuat Quin berfikiran. Maka bisa di pastikan jika Abi akan mengambil kesempatan untuk mencium bibir Quin.


Mata Quin berkaca-kaca, satu tetes bening itu mengalir mulus di sudut matanya.


"Jangan menangis, aku disini." Abi mengecup kening Quin dengan sayang.


"Hikss ... Aku takut ... Aku takut, Abi ... Hikks ..."


Abi menarik tubuh Quin, dan memeluknya. Memberikan kehangatan dan ketenangan. Abi mengecup pucuk kepala Quin berkali-kali.


"Tenanglah, Aku di sini."


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2