KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 148 " Baby Kesya"


__ADS_3

Kesya tersenyum lebar saat mendapati sang suami menyusulnya ke Pustu dengam membawa satu buah rantang besar. Kesya menunggu sang suami di depan pintu Pustu.


" Wah, lihat siapa yang datang, pria-pria tampan" Ujar seorang ibu-ibu yang sedang berobat.


" Benar, Apa lagi yang tengah, Yang sedang membawa rantang. Aku ingin sekali menjadikannya menantu. Kamu mau ndok? tanya ibu itu kepada anaknya. Si anak pun tersenyum mau.


" Maaf ibuk-ibuk, yang tengah itu sudah punya istri, itu loh istrinya" Ujar Ami sambil menunjuk kearah Kesya.


Kesya hanya tersenyum manis, membuat para ibu-ibu tersebut merasa malu. Mana berani mereka sandingkan putrinya jika saja istri dari pria tampan itu sangat cantik bagaikan bidadari.


" Sayang" Sapa Arka dan mengecup pucuk kepala Kesya.


Kesya mengambil tangan Arka dan mencium punggung tangannya. Warga yang berada di Pustu merasa sangat takjub dan malu melihat kemesraan yang terpampang jelas.


" Aduuh, jangan mesra-mesra, kami jadi malu liatnya" Ujar salah satu ibu-ibu.


Kesya dan Arka hanya tersenyum kikuk, sudah kebiasaan mereka seperti itu, jadi suka gak nyadar diri kalo sedang bermesraan.


Berhubung sudah masuk jam makan siang, dan para warga yang berobat sudah mendapatkan penanganan, keadaan di Pustu pun sepi. Kesya, Lehah, dan Ami membuka rantang dan bungkusan yang di bawa Arka, duda, dan Jodi. Mereka makan di halaman belakang Pustu yang kebetulan terdapat bale untuk peristirahatan. Angin sepo-sepoi membuat suasana menjadi adem dan menambah kesan nikmat yang tersaji oleh alam.


Menu makanan yang di bawakan oleh buk Siti habis tak bersisa, Arka, Duda, dan Jodi sudah berbaring di bale rotan tersebut. Sedangkan Kesya, Lehah, dan Ami membersihkan rantang dan Piring. Tak berapa lama terdengar suara gaduh dari depan, Ami berlari kearah depan untuk melihat, kebetulan Nur sedang pulang. Ternyata sudah ada warga yang sedang menggotong ibu hamil dengan tandu yang terbuat dari kain sarung.


" Bu dokter, Bu Dokter " Teriak warga.


Arka, Duda, dan Jodi yang tadinya hampir terlelap, terpaksa membuka mata, dan melihat ada kejadian apa di depan.


Dengan cekatan Ami menyuruh warga yang membopong ibu hamil tersebut masuk ke dalam ruang tindakan. Lehah yang sedikit-sedikit mengerti dengan cara penanganan darurat pun membantu Ami. Sedangkan Ami menyuruh salah satu warga untuk menyuruh Nur cepat kembali. Kesya tidak ingin berdiam diri, dia juga ikut membanti Ami. Dengan berbekal pernah mengikuti kegiatan PMI, Kesya juga lumayan cekatan membantu Ami menyiapkan peralatan. Ami tersenyum melihat Kesya, tidak hanya cantik, dan baik, namun juga pintar dalam segala hal.


" Suaminya mana?" Tanya Ami kepada warga yang membawanya.


" Suaminya masih di kebun, tadi sudah di panggil dengan warga yang lain." Jawab salah satu warga.


" Baik buk, ini sudah bukaan 7 ya, jadi kita mulai atur napas ya" Ami memberikan intruksi kepada ibu muda tersebut.


Tanpa di minta, Kesya menghampiri ibu yang tengah berjuang itu, di genggamnya tangan ibu muda itu. Wanita yang bernama Sari yang tengah berjuang untuk melahirkan bayinya itu, menatap Kesya dengan wajah yang menahan sakit, tetapi masih bisa menyunggingkan senyum. Kesya melihat perjuangan Sari, dia menahan rasa sakitnya sendiri tanpa memberitahukan kepada orang lain. Sari tersenyum dan mengedan sesuai dengan intruksi dari Ami. Air mata tanpa mengalir dari sudut matanya, namun dia tidak berteriak atau pun merintih kesakitan, hanya lafaz nama Allah yang keluar dari bibirnya untuk menahan sakit, genggaman tangannya yang semakin menguat di tangan Kesya, membuat Kesya juga ikut merasakan betapa sakitnya, dan besarnya perjuangan seorang ibu. Kesya teringat akan Almarhumah ibunya, tanpa Kesya sadari, air matanya juga ikut menetes.


Tak berapa lama Nur sampai, Nur langsung mencuci tangannya, dan menggunakan sarung tangan karet. Dia langsung mengambil posisi di sebelah Ami, menggantikan Lehah. Lehah berdiri di samping kiri sari, sedangkan Kesya berdiri di samping kanan Sari.


" Kita bantu dorong ya, dalam hitungan ketiga ibu dorong dari dalam dan mengejan." Ujar Ami.


Lehah sudah memegang punggung sari agar posisi tubuh sari setengah duduk, dalam hitungan ketiga, Lehah mendorong tubuh sari, di bantu dengan Kesya. Nur menekan perutnya membantu dorongan dari atas perut, sedangkan sari mengejan kuat sesuai dengan intruksi dari Ami.

__ADS_1


4 detik selanjutnya setelah Ami memotong tali pusar, terdengar suara tangisan bayi menggelegar. Pecahlah tangis sari yang sedari tadi ditahannya, ucapan syukur pun terlintar dari bibir pucatnya yang bergetar.


Kesya juga mengucap syukur, dan ikut bahagia. Air mata Kesya juga jatuh karena mendengar tangisan bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu.


" Bayi nya perempuan, cantik seperti ibunya" Ujar Ami.


" Apa suami Bu sari sudah datang?" Tanya Nur.


" Saya Dok, saya di sini" Ujar seorang pria yang tengah berlari dan menghampiri Nur.


Nur tersenyum, kemudian menyuruh suami dari Sari untuk mengambil wudhu, dan siao meng'azani sang anak.


Sedangkan Bayi langsung di berikan ASI pertama. Kesya melihat wajah bayi mungil itu, bibirnya yang mungil berusaha meraih put***g susu Sari, terlihat sangat lucu.


Bayi mungil itu sudah di azani, dan terlihat sangat anteng dalam gendongan ayahnya. Kesya sudah keluar dan menemui Arka.


" Kamu baik-baik saja?" Tanya Arka.


Sebenarnya Arka sangat takut sekali saat Kesya berada di ruang tindakan tadi. Arka takut jika Kesya trauma dan ketakutan nanti saat menghadapi lahirannya. Namun ternyata Kesya terlihat tegar dan tenang. Bahkan Kesya bangga karena sudah membantu seorang ibu melahirkan, dan melihat prosesnya secara langsung.


" Buk dokter, boleh saya bertemu dengan Wanita cantik tadi?" Ucap Sari kepada Ami.


" Tentu"


" Ekhemm"


Arka dan Kesya langsung menoleh kearah Ami Yang sedang menatap mereka dengan senyum.


" Bu sari ingin bertemu dengan kak Kesya"


" Saya?"


Ami menganggukkan kepalanya, Kesya menatap kearah Arka, Arka menganggukkan kepalanya. Kesya pun bangkit yang di susul oleh Arka. Mereka berdua menghampiri kamar inap yang berada di Pustu tersebut.


" Ibu cari saya?" Tanya Kesya.


Wanita yang terlihat masih muda dan cantik itu menganggukkan kepalanya.


" Saya mau ucapin terima kasih kepada ibu, karena sudah berada di sisi saya saat saya membutuhkan suami saya" Ujar Sari.


Kesya tersenyum, mendekat dan meraih tangan sari. " Sama-sama, saya senang bisa menolong ibu"

__ADS_1


" Pertama kali saya melihat ibu, saya seperti melihat seorang bidadari. Saya berniat dalam hati, jika bayi saya laki-laki, saya ingin meminta ibu yang memberikannya nama, dan jika bayi saya perempuan, saya ingin memberikan nama ibu untuk anak saya. jadi,apa boleh saya menggunakan nama ibu untuk anak saya?"


Mata Kesya langsung berkaca-kaca. Ini adalah hal yang paling terhormat bagi Kesya. Kesya tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.


" Tentu"


Sari memberikan bayinya kepada Kesya, Kesya dengan perlahan menggendong bayi tersebut.


" Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah, aku memberikan nama kepada bayi mungil, dan cantik ini. Kesya Az-Zahra. Tumbuhlah menjadi gadis cantik, Solehah, berbakti kepada orang tua, pintar, dan menjadi kebanggaan bagi orang sekitar mu. Teruslah hidup dalam kebahagiaan" Ujar Kesya dan mengecup wajah bayi mungil yang bernama Kesya itu.


" Terima kasih, namanya sangat cantik. Kesya Az-Zahra. Semoga dia bisa tumbuh besar dan cantik seperti ibu" Ujar sari.


Kesya tersenyum dan mengaminkannya. Arka yang berada di belakang Kesya juga ikut tersenyum dan bangga memiliki istri seperti Kesya.


Arka melangkah mendekati Kesya, dan mengeluarkan satu buah amplop coklat yang tadi dia sempat dia minta kepada Jodi.


" Ini, ada sedikit rezeki dari kami. Untuk putri ibu dan bapak, semoga bisa membantu" Ujar Arka dan memberikannya kepada Sari.


" Terima kasih banyak Tuan, terima kasih" Ujar suami sari dengan Air mata yang berderai.


Arka tersenyum dan menepuk pelan bahu suami Sari.


" Terima kasih Buk, Tuan, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, dan mendapatkan keturunan yang Soleh dan Solehah. Semoga ibu dan Tuan selalu Bahagia " Ujar Sari tulus.


Kesya dan Arka pun mengaminkan, tidak hanya Kesya dan Arka, Ami, lehah, dan suami sari juga mengaminkannya.


Kesya dan Arka pamit undur diri, Ami mengantarkan Kesya dan Arka sampai ke depan Pustu.


" Sekarang, sudah ada Kesya Az-Zahra di kampung Duda" Goda Arka.


" Iya, semoga dia tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar"


" Tentu, karena yang namanya Kesya, selalu cantik dan pintar" Goda Arka.


" Ih kamu ini Mas, bisa aja ngegombalnya."


Kesya dan Arka tertawa bersama, sedangkan Duda dan Jodi yang berjalan di belakang mereka, ikut tersenyum.


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...

__ADS_1


Terima kasih. Salam KesAr.


__ADS_2