
Veer menatap wajah Nafi yang sedang menikmati pemandangan laut. Tangan Nafi terus menggenggam tangan Tata. Pemikiran yang menganggap Nafi menyukai sesama jenis pun sirna dalam sekejap. Veer masih penasaran, apa yang terjadi dengan Nafi sebenarnya, tapi Tata tidak ingin memberitahukannya tanpa izin dari Tuan Danudirja. Karena ini semua adalah rahasia keluarga.
Yaa, Veer memang sudah menjadi suami Nafi, namun itu hanya sebuah status tanpa di sengaja. Dan pernikahan ini juga nantinya akan berakhir setelah 6 bulan lamanya.
" Apa yang Anda lihat?"
Veer tersentak saat Nafi bertanya kepadanya. Sejak kapan wanita itu melihat kearah dirinya, kenapa Veer tidak menyadarinya?.
" Kamu."
" Anda ingin mengejek saya? karena saya lupa dengan pernikahan dan perjanjian kita?"
" Perjanjian?"
" Yaa, saya yakin pasti kita memiliki sebuah perjanjian, walaupun saya tidak mengingat apa itu."
" Kita belum membuat perjanjian apapun."
" Kita akan segera membuatnya, setelah sampai di hotel."
" Sesuai keinginanmu Nona."
Nafi kembali menatap kearah lautan. Sebenarnya Nafi sedang berfikir keras dengan apa yang terjadi tadi malam. Veer memnag sudah menceritakan apa yang terjadi, Bahwa tidak ada yang terjadi apapun di antara mereka. Tapi tetap saja, Nafi harus bersikap hati-hati dengan pria playboy di hadapannya.
Sesampainya di hotel, Nafi langsung mengekori Veer yang menuju kamarnya.
" Kita buat sekarang perjanjian itu." Ujar Nafi sambil menahan lengan Veer.
Veer membalikkan tubuhnya dan menatap Nafi, kemudian menatap tangan Nafi yang masih memegang lengannya. Dengan cepat Nafi melepaskan tangannya dan melihat kearah lain karena tiba-tiba merasa gugup.
" Masuklah.." Ujar Veer setelah membuka pintu kamarnya.
" Di restoran."
" Kamu ingin orang lain mendengar perjanjian ini?"
Nafi mengedipkan matanya, ' benar juga, jika mereka berdebat tentang isi pernjanjian, maka bisa saja ada orang lain yang mendengarnya dan mencuri kesempatan untuk menjatuhkan perusahaan mereka. Tidak, aku tidak mau itu terjadi.' batin nya.
" Aku akan suruh Tata ke sini."
" Silahkan jika urusna pribadimu diketahui oleh orang lain. Tapi aku tidak mau urusan pribadi ku di ketahui oleh orang lain."
" Apa mau anda?"
" Kamu tenang saja Nona Nafi, saya tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh dengan kamu. Bahkan seharusnya saya yang takut berduaan dengan kamu. Karena kamu__"
" Baiklah, kita buat perjanjian itu di kamar kamu, sekarang." Nafi memotong pembicaraan Veer dan melangkah masuk kedalam kamar Veer.
Nafi sempat terpana dengan wangi maskulin yang memenuhi indera penciumannya, sungguh wangi yang sangat menenangkan, tapi sayang, Pemiliki wangi ini adalah buaya darat.
Veer memberikan selembar kertas dan pulpen kepada Nafi.
" Tulis apapun yang tidak kamu inginkan."
" Apa kita harus tinggal seatap?" Tanya Nafi.
" Seperti yang kamu dengar dari mulut Tata."
__ADS_1
" Bagaimana jika kita tinggal berpisah, lagi pula mereka tidak mengetahuinya."
" Kamu tidak ingat apa yang Lolajo katakan? Bahwa kita harus berada di bawah atap yang sama."
" Bagaimana dengan aparatemen, satu atap dan kita tinggal di tempat yang berbeda."
" Aku tidak mau meninggalkan rumah sebelum Quin menikah."
" Jadi aku harus tinggal di rumah mu?"
" Kenapa? kamu gak mau?".
" Tentu saja aku gak mau, secara pernikahan ini hanya pura-pura. Lagian aku tidak enak dengan Qila."
" Pernikahan ini sah di mata Tuhan dan negara. Hanya di antara kita saja tidak memiliki ikatan atau perasaan apapun. Masalah Qila, itu urusan ku, dan kamu tidak perlu ikut campur."
Nafi mendengus, Veer benar, tapi apa harus dia ikut tinggal dengan Veer. Seakan mendapatkan ide cemerlang, Nafi mencoba bernegosiasi lagi.
" Bagaimana jika tinggal di rumah ku, aku anak satu-satunya. Mana mungkin aku meninggalkan kedua orang tua ku."
" Kamu tau, seorang istri itu harus ikut kemana pun suaminya pergi. Jadi, mau kamu setuju atau tidak, kita akan tetap tinggal di rumah ku."
Nafi sudah siap membuka mulutnya, tapi suara Veer membuat Nafi menutup kembali bibirnya.
" Tidak ada bantahan, dan tulis apa yang ingin kamu tulis. Kita akan menyesuaikan perjanjian ini, sekarang." Ujar Veer tegas.
Nafi mengambil pulpen dengan kesal, dan menuliskan perjanjian pernikahan yang akan mereka jalani. Begitupun dengan Veer.
" Baiklah, berikan kertasnya."
Nafi memberikan kertas yang telah berisi pengajuan perjanjian yang akan mereka sepakati.
Tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi.
Pura-pura tidak memiliki hubungan apapun di hadapan orang lain.
Dan masih banyak lagi persyaratan yang di ajukan oleh Nafi kepada Veer.
" Baiklah, aku setuju. "
Veer memberikan kertas perjanjian miliknya dan milik Nafi. Nafi membaca semua persyaratan milik Veer. Tidak banyak yang tertulis di sana, dan intinya persyaratan tersebut mirip dengan milik Nafi.
" Aku juga setuju."
Mereka membubuhkan tanda tangan di bawah perjanjian tersebut. Veer mencoret jempolnya dengan pupen, dan kemudian memberikan cap jempol di dekat tanda tangannya. Nafi yang tidak ingin tangannya kotor, memilih memberikan tanda bibir nya di kertas perjanjian tersebut.
Veer dan Nafi pun bersalaman tanda mereka menyetujui perjanjian yang mereka yakini tidak akan pernah mereka langgar.
Kriing.. kriing...
"Ya.."
"...."
__ADS_1
" Baiklah, aku segera turun."
" Dedi mengatakan jika makan siang telah siap. Apa kamu mau makan bersama? tanda terjalinnya pertemanan kita."
" Teman? Sebaiknya jangan bermimpi."
" Heei, kita sudah suami istri. Tidak ada salahnya kan berteman. Hanya berteman, mana tau kamu suatu saat butuh bantuan ku."
Nafi terlihat berfikir. " Baiklah, tidak ada salahnya berteman. "
Veer dan Nafi pun kembali berjabat tangan. "Ah ya, jika kamu bertemu dengan Quin, tolong jangan katakan kepada siapapun tentang rupa Quin."
" Apa dia sangat jelek sampai tidak ingin bertemu dengan orang-orang?"
" Tidak, hanya waktunya saja yang belum tepat untuk Quin muncul."
" Baiklah, lagipula aku tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain." Nafi berjalan meninggalkan Veer, namun dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.
" Bagaiman dengan Qila? Apa yang akan Anda katakan."
" Pertama, rubah panggilan Anda menjadi kamu. Bukankah kita berteman?"
" Baiklah."
" Qila akan menjadi urusan aku, jadi kamu tidak perlu khawatir."
" Aku hanya merasa tidak enak."
" Qila anak yang baik, dia pasti mengerti."
" Hmm, Qila cantik dan baik, dia sangat sempurna. Kamu sangat serasi dengannya." Terlihat ketulusan saat Nafi mengatakan itu.
" Jodoh gak akan kemana." Veer melangkahkan kakinya, namun terhenti karena suara Nafi yang memanggilnya.
" Veer, terima kasih."
" Untuk?"
" Karena telah menyelamatkan aku."
Veer tersneyum ,sangat manis sekali. ". Bukan masalah. Sudah kewajiban setiap orang untuk saling menolong. Ayo, Dedi dan Tata sudah menunggu."
Dedi dan Tata saling memandang saat melihat Veer dan Nafi tidak saling melempar pandangan sengitnya. Bahkan mereka saling membalas senyum. Tata melirik kearah Dedi, seakan bertanya apa yang terjadi dari pandangan matanya. Dedi mengangkat bahunya, tanda jika dirinya juga tidak tau situasi apa yang terjadi saat ini.
Setelah makan siang, Mereka kembali mempacking barang bawaan mereka untuk kembali ke Jakarta.
Veer sudah mempersiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan yang akan diberikan untuknya, perihal tentang pernikahannya dengan Nafi.
Satu hal yang hanya Veer tak ingin terjadi. Yaitu mengecewakan sang kakek yang sudah snagat ingin melihat dirinya dan Quin menikah. Yaa, kakek Farel memang sudah mengatakan maksudnya kepada Veer, untuk segera menikah. Tapi kakek belum mengatakan keinginannya itu kepada Quin, karena Veer melarangnya. Veer juga sudha berjanji jika dirinya akan menjaga Quin, sampai Quin menemukan orang yang pantas untuk dirinya.
Maka dari itu, Veer dan Nafi harus tinggal di rumah, di mana Quin berada.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.