KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 155


__ADS_3

Dalam hidup Lana, tak pernah ia berfikir untuk berasal dari keluarga yang berada. Ia sudah cukup bersyukur berada di dalam keluarga yang sangat mencintai dirinya dan mau menerimanya dengan penuh cinta. Bahkan Mama Puput tak pernah menganggapnya sebagai anak angakt, Mama Puput selalu mengatakan jika Lana adalah putra sulungnya, anaknya, cinta nya dan Papa Fadil.


 Lana kembali ingat saat teman-teman sekolahnya mengejeknya. Mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah anak pungut, atau anak hasil dari hubungan luar nikah. Lana menatap dirinya di cermin, ia ingin tahu, dari mana mata birunya berasal? Mama puput dan papa Fadil memiliki mata khas orang Indonesia.


Lana ingin tahu, dari mana wajah bule nya ia dapatkan, Ia kembali mencari tahu tentang asal usul perjalanan cinta sang Mama. Betapa berdosanya Lana saat itu, karena tak bersyukur dan berterima kasih karena telah di terima oleh Mama Puput.


Lana menangis sejadi-jadinya saat mengetahui jika dirinya bukanlah darah daging dari Mama puput atau pun Papa Fadil. Bahkan, tak seorang pun yang mengatakan tentang asal usul dirinya. Kedua nenek dan kakeknya menerima dirinya layaknya cucu sendiri. Untuk itu, Lana bersumpah tak akan mencari tahu dari mana dirinya berasal. Ia tak bisa bayangkan bagaimana perasaan sang Mama jika mengetahui jika Lana encari keluarga kandungnya.


 Namun akdir berkata lain, Seorang pria berparas bule seperti dirinya, namun memiliki mata berwarna coklat, khas mata orang Indonesia pun, datanng dan mengatakan jika Lana adalah adik kandungnya.


 Lana tak tahu harus berkata apa, semua bukti memang mengatakan jika mereka memiliki darah yang sama. Dalam diri Lana, terdapat darahnya nya juga, pria itu adalah Martin. Pengusaha yangbaru saja melebarkan sayapnya di negara Indonesia.


 Saat umur 12 tahun, Martin yang didik dengan keras untuk memimpin sebuah perusahaan yang sedag maju di Amerika pun, serta tanpa mendapatkan cinta dari sang Kakek dan nenek nya, merasa hampa dan sepi. Apalagi ia mendengar jika kapal yang di tumpagi oleh sang ibu ternggelam. Yang mana mengartikan jika ia telah kehilangan


sang mama dan juga adiknya.


Martin yang haus akan kasih sayang seorang ibu pun, akhirnya mendapakan cinta seorang ibu melalui pengasuhnya yang berasal dari Indonesia dan beekrja dengan sang kakek. Pengasuh yang merawatnya sejak umur 5 tahun. Di mana pertama kalinya ia melihat wajah sang kakek dan juga harus kehilangan sang ayah untuk


selama-lamanya.


 Saat Martin berumur 21 tahun, kakek dan neneknya meninggal dala kecelakaan lalu lintas. Martin pun meminpin perusahaan tersebut dengan kekuasaan penuhnya. Selama ini martin di jadikan boneka oleh sang kakeh, untuk itu lah Martin tak bisa bergerak untuk mencari kebearan berita tentang sang ibu. Setiap gerak gerik Martin, sekecil apapn itu, makasang kakek akan langsung mengetahuinya.


Untuk pertama kalinya Martin bersyukur terlahir keluarga yang memiliki segala nya, termasuk kekuasaan. Martin pun mulai mencari kebenaran tentang kecelakaan yang menima sang ibu. Dan ternyata berita itu adalah berita bohong. Tak pernah ada kecelakaan kapal yang terjadi saat itu. Lalu, kemana ibunya?


Martin mencari keseluruh penjuru dunia, hingga ia berakhir di Negara Indonesia yang mana ia juga merindukan pengasuhnya yang telah memiliki keluarga sendiri dan tinggal bersama keluarganya di Indonesia. Saat itu, Marti berumur 28 tahun.


 Martin pun membuka cabang perusahaannya di Indonesia. Entah mengapa, negara yang penuh dengan ragam budaya ini membuatnya ingin menetap dan tinggal di sini. Walaupun ia kembali mendapatkan kabar jika sang ibu telah meninggal dunia.


Saat mendapatkan  kabar tentang sang ibu yang telah meninggal di pulau senja, Martin juga memastikan dengan memeriksa tes DNA dengan sang ibu kepada dirinya. Martin benar-beanr terpukul, saat dirinya telah menemukan sang ibu, ia hanya menemukan sang ibu dengan keadaaan tak bernyawa, bahkan hanya tinggal tulang belulang dan rambut yang tak ikut hancur di makan tanah. Martin berziarah ke makam sang ibu, yang di kubur di pulau senja. Namun, masyarakat di sana mengatakan jika tak ada bayi yang datang bersama wanita itu. Martin pun berfikir jika sang ibu, melarikan diri ke pulai ini tanpa adiknya yang telah tiada.


 Hasrat ingin mencari sang adik pun musnah, Martin fokus  dengan perusahaannya yang baru saja ia buka,


hingga akhirnya seorang informan yang ia bayar selama ini mengatakan jika melihat seorang pria bermata biru dengan wajah yang sama persis dengan mendiang ayah Martin. Seolah mendapatkan nyawanya kembali, Martin pun bersemangat untuk menyelidiki pria teersebut, dan siapa sangka, jika Martin tak hidup sebatang kara selama ini, Martin memilki saudara, Martin memilki seorang adik yang belum pernah ia lihat sama sekali.


 Kenangan saat Martin mengelus perut sang ibu kembali terniang, Setiap sentuhan yang Martin berikan di perut buncit sang ibu, adiknya pun bereaksi untuk memberikan tendangan-tendangan kecil menyambut tangan sang Abang.


Dan, disinilah Martin saat ini, ia dapat memandang wajah, senyum, tawa, dan mendengar suara sang adik yang ia rindukan selama ini.


“Martin, jangan melamun, ayo di makan.” Tegur Mama Puput yang sedari tadi memperhatikan Martin yang terus memperhatikan Lana.


“Iya, Nyonya.”


 “Hei, bukankah aku sudah mengatakan untuk memanggilku dengan panggilan Mama?”


 Martin menatap Mama Puput dengan mata yang brkaca-kaca.


 “Apa kamu harus di hukum dulu? Baru kamu memanggilku dengan panggilan mama?” ujar Mama Puput dengan tangan yang sudah berada di pinggang.


 Martin masih menatap Mama Puput dengan tatapan yang sudah di penuhi dengan air mata yang siap jatuh membasahi pipi nya.


 “Baiklah, sepertinya kamu harus di hukum.”


 Mama Puput mengambil nasi dengan tangannya yang bersih, kemudian di sodorkan kedepan mulut Martin.


 “Buka mulut mu, ini hukumanmu.”


Selintas bayangan sang ibu yang menyuapi dirinya dengan tangan pun berputar dalam fikiran Martin. Satu air mata Martin jatuh membasahi pipi nya, Martin tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan cepat Martin membuka mulutnya dengan lebar. Mama puput tersenyum manis dan memasukkan nasi kedalam mulut Martin.


“Anak pintar.” Ujar mama pupu sambil membelai rambut Martin.

__ADS_1


Martin pun menundukkan kepalanya dan menangis.


 “Jangan mennagis, mulai sekarang, aku adalah ibu mu. Dan kamu harus panggil aku dengan sebutan Mama.”


 “Ma-Mama.” Lirih Martin dengan di sertai isak tangisnya.


“Iya, anakku.” Jawab Mama puput.


 “Bo-bolehkah aku memeluk mu?”


Mama Puput tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tentu.”


Martin langsung menghambur kedalam pelukan Mama puput. Lana yang melihat pemandangan itu pun seketika menjatuhkan air matanya. Tak hanya Lana, Anggel dan yang lainnya juga ikut terharu dan menangis.


 “Martin, di sini kamu tak hanya memiliki satu Mama.” Ujar Mama Kesya sambil mengusap air matanya.


Martin dan Mama Puput pun merelai pelukan mereka.


“Kamu punya Mama Kesya, Mami Mili, Mami Vina, Mami Anggel dan juga Mami Ara. Bahkan kamu juga aka mendapatkan kasih sayang dari para oma dan opa.”ujar Mama Kesya yang di angguki oleh semua orang.


 “Sekarang, Ayo peluk Mama mu yang lain. Pertama aku, Mama Kesya.” Mama Kesya merentangkan tangannya untuk menyambut Martin kedalam pelukannya.


 Martin menoleh kearah Mama Puput, Mama Puput menganggukkan kepalanya, kemudian ia menoleh kepada Lana, di mana Lana juga sedang tersenyum kepadanya dan menganggukkan kepalanya.


Martin pun menghampiri Mama Kesya dan menangis di dalam pelukan Mama Kesya, seraya berterima kasih karena telah mau menganggapnya sebagai anak. Martin pun bagaikan piala bergilir yang harus memeluk satu persatu orang tua angkatnya saat ini.


 “Awalnya Aku heran, kenapa kamu sangat Pasif berbicara bahasa Indonesia, ternyata kamu berada di bawah asuhan seorang wanita hebat seperti Mbak Ida.” Ujar Oma Mega dan merangkul pengasuh Martin yang sudah menjaga Martin dari kecil hingga ia beranjak dewasa.


 *


“Mungkin, jika kita tetap bersama, kita akan memilki agama yang sama.” Ujar Martin dan tersenyum kepada Lana.


“Aku tak memaksamu untuk masuk Islam, dan jangan paksa aku untuk maksud ke agama mu.” Ujar Lana sambil tersneyum.


“Hah, bagaimana aku bisa mengajak kamu masuk ke agamaku, jika aku sendiri saja tak percaya dengan Tuhan ku.” Ujar Martin sambil terkekeh.


Lana masih menatap Martin dengan iba. Martin sudah menceritakan semuanya kepada Lana, di mana Martin tak percaya dengan Allah atau Tuhan mana pun. Sejak ia kehilangan sang Ayah dan ibu, serta tersiksa dengan perlakuan sang kakek yang sangat keras mendidiknya, Sejak saat itu Martin tak percaya kepada Tuhan, karena


Martin merasa jika Tuhan tak sayang dengannya karena telah memisahkan dirinya dengan orang yang sangat di cintainya.


Tapi, semenjak mengenal keluarga Mama Puput dan keluarga Moza yang sangat taat kepada agama dan Tuhan mereka, bolehkah Martin berharap untuk kembali percaya kepada Tuhannya? Agama yang sewaku kecil ia dapatkan dari sang ibu, lalu dengan kejam sang kakek merampas semua kenangan itu dan memaksa Martin untuk ikut memeluk agama yang di anut oleh sang kakek.


“Sudah waktu solat ashar, aku harus ke mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah.” Ujar Lana sambil meraih ponselnya yang ada di atas meja.


“Lana, bisakah Aku ikut bersama mu?” ujar Martin sambil menatap Lana dengan tatapan yang teduh.


 “Maksud mu?” tanya Lana tak mengerti.


“Aku ingin memeluk agama yang sama dengan mu. Aku ingin agama yang di warisi oleh ibu ku, bukan kakek ku.”


 Lana tersneyum tipis. “Agama bukan untuk sesuatu hal yang bisa di permainkan, Kamu harus yakin dengan hati kamu sebelum mengambil keputusan untuk memeluk satu keyakinan yang harus kamu percaya.”


 "Aku ingin memeluk Islam, kembali.” Jawab Martin dengan tegas dan tanpa keraguan sama sekali.


*


Seluruh keluarga ikut senang saat mendengar Martin ingin memeluk Islam kembali, Papa Arka pun dengan segera langsung memanggil seorang ustad.


 Satu baris kalimat ‘Asyhadualla Ilaha Illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ pun mengantarkan Martin terlahir kembali bagaikan bayi dalam keadaan suci dan bersih. Seluruh keluarga mengucapkan alhamdulillah, dan berdoa semoga Martin menjadi anak yang soleh dan taat pada agamanya.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya?” tanya Lana saat melihat Martin tersenyum lebih lepas dari sebelumnya.


“Terasa ringan dan tenang di sini.” Martin menunjuk kearah dadanya.


 Lana tersenyum dan menepuk bahu Martin dengan lembut.


 *


Seluruh keluarga sedang berkumpul di istana Moza, tepatnya di kediaman kakek Farel. Kakek senang jika seluruh cucu dan anak serta menantunya berkumpul. Ia tak merasakan sepi di hari tuanya. Apa lagi saat ini cucunya telah bertambah satu.


 “Besok kami akan berangkat ke tujuan kami masing-masing, gimana kalo hari ini kita makan nasi liwet?” ujar Quin yang di setujui oleh seluruh keluarga.


“Nasi liwet itu apa, Quin?” bisik Abi yang masih di dengar oleh yang lainnya.


 Itu bukan bisik loh Abi kalo yang lain masih bisa mendengar apa yang kamu ucapkan. (author tutup muka aja deh.)


 “Dasar bule wajah indo. Cari di google gih sana.”


 Martin yang mendengar Quin menyuruh Abi untuk mencari di google apa itu nasi liwet pun, langsung meraih ponselnya, begitu pun dengan Abi. Seketika mata Abi dan Martin bertemu, lalu mereka tertawa bersama.


 “Nasib besar di luar.” Ujar Abi memberi tahu keapda Martin yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


 Martin baru ingat, kalo Abi memang berdarah asli Indonesia, namun ia lahir dan besar di German, wajar saja jika Abi juga tak tahu apa itu nasi Liwet.


 “Ayo, kita cari daun pisang.” Ajak Lana yang sudah menepuk bahu Martin.


 Martin menganggukkan kepalanya dna mengikuti Lana, Veer, dan Fatih. Abi pun juga mengikuti mereka karena ingin tahu proses pembuatan nasi liwet.


Sedangkan para wanita sudah mulai sibuk didapur untuk menyiapkan segala bahan untuk di masak.


“Abash, kamu gak suruh Sifa ke sini?” tanya Mama Kesya saat melihat Abash melangkah ke dapur.


 “Sifa kuliah, lagian Mama kok sering banget sih ngajakin dia ke rumah?”


 “Mama suka aja sama dia, anaknya baik dan lucu.”


 Ya, semenjak Sifa menolong Mama Kesya saat di jambret, Mama Kesya semakin dekat dan menyukai Sifa yang periang dan tak kenal lelah mencari pundi-pundi rupiah, bahkan ia juga duduk di perguruan tinggi yang bergengsi.


 Abash hanya mengangkat kedua bahunya acuh, walaupun dalam hatinya sedang merasakan gejolak dan berharap sang Mama menghubungi Sifa.


Abash yang tengah minum pun menyemburkan air dari mulutnya saat melihat Sifa datang dengan seikat pete dan sekantong plastik jengkol di tangannya.


 “Mbak Quin, Tante, ini pesanannya.” Ujar Sifa dengan riang sambil melewati Abash tanpa meliriknya sama sekali.


 Abash pun mendengus kesal melihat Sifa yang seolah-olah tak terjadi apapun di antara mereka setelah malam itu. Ya, lebih tepatnya saat malam pesta dansa pernikahan Quin.


(penasaran? Sabar yaa, kisah mereka akan di kupas di novelnya sendiri, makanya buruan tap love dan masuki ke dalam pustaka kamu, bagi yang belum memiliki novelnya di pustala.)


**


 Yuukkk.. follow IG ku..


 IG : Rira Syaqila


 jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2