
"Aku takut Veer, hikss.."
" Tenanglah, bukankah kamu mengatakan jika Abi sedang menyelesaikan semuanya bersama Arash?"
"Hikss, aku takut." Liriknya. "Aku takut kembali kecewa, aku takut Veer, aku takut kembali jatuh cinta. Aku takut jatuh cinta dengan Abi." Tambahnya di dalam hati.
Quin masih memeluk Veer, hingga Papa Arka masuk kedalam, dan merasa khawatir dengan Quin yang menangks.
"Kenapa sayang? apa terjadi sesuatu lagi?" Tanya Papa Arka yang sudah mengelus bahu Quin.
Quin merelai pelukannya, ia menghapus air matanya dan menghadap Papa Arka.
"Pa ..."
"Kenapa sayang? anak cantik Papa kenapa nangis?"
"Gak papa Pa, Quin cuma merasa sedikit takut dengan apa yang telah terjadi."
Papa Arka menghapus air mata Quin. "Sayang, dengeri Papa. Semua ini akan baik-baik aja. Dan gak akan ada lagi masalah yang akan menghantui kamu, kamu tenang ya .. Lagian, sekarang kamu udah punya Abi yang akan selalu menjaga kamu."
Quin tersenyum tipis. "Itu dia Pa, itu yang Quin takutkan, Quin takut, jika Quin saat ini mulai jatuh cinta dengan Abi. Quin takut, jika suatu saat, Quin akan kehilangan Abi. Quin takut Pa, Quin takut." Ujar Quin dalam hati nya.
"Kok melamun? kenapa? mikirin Abi ya?" Goda Papa Arka.
Quin tersenyum kemudian ia menggeleng.
"Mama mana?"
"Mama temeni Oma Shella jengukin angel, nanti juga ke sini lagi."
"Iya, kalo gitu Quin ke ruangan Om Bram ya, Quin mau istirahat."
"Iya, kamu hati-hati. Dan ingat, ke mana pun kamu pergi, kamu harus kabari Om Jodi dan minta selalu di kawal."
"Iya Pa."
Quin keluar dari Kamar inap Nafi setelah berpamitan dengan Veer. Quin jalan dengan fikirannya yang melayang entah di mana, hingga akhirnya ia sampai di dalam ruangan Opa Bram.
Quin dudukkan dirinya di sofa empuk itu, Quin kembali teringat saat Abi melawan semua penjahat hingga dirinya tertembak. Quin ingat dengan jelas bagaimana perasaannya yang takut kehilangan Abi. Quin juga ingat bagaimana Abi menjaganya tanpa sedetikpun ingin meninggalkannya. Quin ingat genggaman tangan Abi yang selalu membuat dirinya tenang, pelukan Abi yang membuat dirinya selalu nyaman, hingga akhir nya aroma tubuh Abi yang khas, yang menjadi aroma menenangkan bagi Quin, bahkan menjadi aroma favorit nya yang baru.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? bagaimana jika ia kembali?" Quin meraup dengan telapak tangannya.
"Quin, kamu di sini?"
Quin mendongakkan wajahnya saat Mama Kesya masuk kedalam ruangan Opa Bram.
"Ma."
"Kamu kenapa, sayang?"
Quin langsung memeluk Mama Kesya di saat Mama Kesya duduk di sebelah Quin.
__ADS_1
"Quin cuma mau peluk Mama aja."
Mama Kesya membelai rambut panjang dan lembut miliki Quin.
"Kamu kenapa? ada masalah?"
Quin menggeleng.
"Jangan bohong, Mama tau, kamu pasti lagi mikirin seusatu. Katakan, apa yang kamu fikirkan? mungkin dengan bercerita, hati kamu akan sedikit tenang!"
Quin merelaikan pelukannya. Quin menghela napasnya sebelum ia berbicara.
"Ma, Quin takut."
"Takut? takut kenapa sayang? Semuanya insya Allah sudah berakhir. Dan insya Allah kita sudah aman sekarang."
"Bukan itu Ma, Tapi..."
Quin terlihat ragu, Mama Kesya menebak jika ini pasti ada sangkut pautnya dengan Abi.
"Apa ini ada hubungannya dengan Abi?" Tebak Mama Kesya.
Quin langsung menatap mata Mama Kesya dengan terkejut, bagaimana Mama nya bisa tau?
"Quin, kamu ini anak Mama. Mama sudah kenal lama sekali dengan Quin, Jadi Mama bisa menebak apa Yang Quin rasakan saat ini."
Quin menundukkan wajahnya, air matanya mengalir tanpa izin dari nya.
"Hei, kenapa malah menangis?" Mama Kesya menarik dagu Quin Agar wajah Quin bisa kembali menghadap ke arah Mama Kesya.
Hati Mama Kesya seakan mencolos begitu saja. Apakah efek yang di buat oleh jamal dulu sampai sesakit ini?
"Quin ..." Mama Kesya menarik tubuh Quin dan memeluk nya.
"Quin takut Ma, hikss.. jika suatu saat Abi akan ninggalin Quin. hikksss... Quin takut, jika suatu saat Abi kembali dengan nya."
Mama Kesya merelaikan pelukannya, ia menatap wajah putri satu-satu nya itu.
"Apa Abi masih mencintai mantannya itu?" Tanya Mama Kesya yang seakan ikut merasakan apa yang Quin rasakan.
Quin menghapus air matanya. "Quin gak tau Ma, Abi selalu mengatakan jika dirinya mencintai Quin saat ini. Tapi, Quinnmasih tahu Ma. Masa lalu Abi dan Anita belum selesai, Quin takut, jika suatu saat Anita kembali, hati Abi akan goyah dan kembali kepada Anita."
"Dan dia meninggalkan gadis seperti Quin?"
Quin menganggukkan kepalanya.
"Itu tandanya Abi adalah pria terbodoh di dunia,"
"Kenapa Mama bisa bilang begitu?"
"Karena Abi lebih memilih kerikil dari pada berlian. Bukan berarti karena kamu keturunan Moza, bukan. Tapi, karena jika kamu sudah mencintai Seseorang, maka kamu akan mencintainya dengan tulus. Sedangkan mantan Abi itu, siapa namanya?"
__ADS_1
"Anita."
"Ya, Anita. Dia meninggalkan Abi karena demi meraih cita-citanya. Sekarang gini, setelah dia meraih cita-citanya, apa dia kembali? tidak kan? itu tanda nya karena ia memang masih ingin menikmati dunia kesendiriannya."
Mam Kesya membali rambut Quin. "Setiap wanita yang telah menikah, mereka otomatis akan menjadi terikat. Walaupun si wanita masih bisa berkarir dengan statusnya sebagai istri, namun ada sesuatu yang menarik nya kembali untuk mengingat status nya sebenarnya. Tanggung jawab wanita itu lebih berat dalam rumah tangga, mereka harus menyiapkan segalanya di dalam rumah tangga, seperti hal sepele contohnya, menyiapkan baju suami saat sebelum ia berangkat kerja."
Mama Kesya menjeda ucapannya, ia membelai tangan Quin dan memainkan jari jemari Quin.
"Sudah kodrat nya wanita untuk melayani, bukan di layani. Bahkan kebanyakan wanita di dunia ini bangun lebih pagi dari pada suami nya. Itu karena apa? karena ia harus menyiapkan segalanya, belum lagi dia adalah seorang wanita karir. Menjadi seorang istri itu butuh tanggung jawab yang berat, Ibaratnya, istri adalah pondasi sebuah rumah. Semakin kuat dan kokoh pondasi nya, maka semakin baik pula rumah itu terbangun dengan megah dan indah."
Mama Kesya menatap mata Quin. "Dan Anita belum siap untuk melakukan hal yang kebanyakan orang bilang adalah hal kecil, namun sebenarnya itu sangat melelahkan."
"Mama tau, Quin belum siap untuk menikah, tapi Quin berani menerima pernikahan ini, itu tanda nya Quin perlahan mulai menerima dan siap dengan pernikahan ini."
"Jika Quin benar-benaf terpaksa, maka Mama yakin, Quin pasti akan memberontak. Tapi, Quin tidak memberontak, padahal Quin tau,njoka Quin di jebak oleh kakek untuk menikah."
"Jadi, apa yang Quin takutkan sekarang? Quin takut Abi menjadi pria bodoh yang meninggalkan Quin?"
Quin menganggukkan kepalanya.
"Menurut Mama, Abi bukan pria bodoh. Abi cerdas dalam memilih, termasuk urusan hati. Jika Abi tidak benar-benar mencintai kamu, bagaimana mungkin. Abi sampai berlutut kepada Papa dan Veer untuk memintankamu menjadi istri nya."
"Abi berlutut?"
"Hmm, Abi berlutut untuk meminta Quin kepada Papa. Dan menurut informasi yang Mama dapat dari Aunty Risma, jika Abi tak pernah melakukan hal itu kepada siapapun. Bahkan, di saat Anita pergi, Abi hanya memandangnya hingga menghilang, tanpa memohon untuk Anita menggagalkan kepergiannya."
"Quin jangan takut, Mama yakin, jika Abi tak akan meninggalkan Quin. Memang, ada masa nya kalian pasti akan bertemu dengan Anita dan di saat itu lah, cinta kamu dan Abi di uji. Sanggupkah kalian mempertahankan cinta kalian bersama."
"Ma, Quin boleh minta tolong sama mama?"
"Katakan."
"Jangan bilang dengan siapapun, jika Quin mulai mencintai Abi, termasuk kepada Papa."
"Kenapa?"
"Quin ingin memastikan perasaan Abi ke Quin. Jika benar Abi mencintai Quin, maka Abi tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari Quin."
Mama Kesya tersenyum, "Apapun yang kamu mau, sayang. Mama akan merahasiakannya dari semua orang, termasuk Papa."
"Makasih Ma, Mama yang terbaik."
Quin memeluk Mama Kesya, dan mendapatkan kembali semangatnya untuk berjuang.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.