KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 146


__ADS_3

Liburan telah berakhir, Quin, Abi, Nafi, Veer, Anggel, Lana, Desi, dan Jo pun harus kembali ke Indonesia. Negara yang akan selalu menjadi darah daging dan di cintai oleh mereka. Kembali kepada aktivitas mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Quin dan Abi yang akan di sibukkan dengan pesta pernikahan mereka. Sedangkan Anggel dan Lana, di sibukkan untuk meminta restu kepada Oma Mega dan Mama Puput.


“Sayang, gimana liburannya?” tanya mama Kesya kepada Quin dan Nafi.


“Seru Ma, ini Nafi beliin sesuatu untuk Mama.”


 Mama Kesya tersenyum, menantunya masih mengingat akan dirinya.


 “Makasih ya, sayang.”


 “Iya, Ma. Semoga Mama suka ya.”


 “Mama pasti suka. Apapun pemberian anak-anak Mama, Mama pasti suka.”


“Makasih, Ma.”


 “Quin, nanti sore kita ke butik Mami Ara ya.”


“Iya, Ma. Oh ya, kabar kakek gimana? Quin di sana asik kefikiran kakek.”


 “Alhamdulillah, kakek baik kok. Ya udah, sekarang kalian istirahat dulu ya.”


“Iya Ma,”jawab Nafi.


“Quin lihat kakek dulu ya Ma.”


Quin langsung berjalan keluar rumahnya menuju rumah Kakek Farel. Perasaan Quin memang tak enak semenjak ia berada di korea. Namun ia tak ingin mengatakannya kepada siapaun, takut yang lain ikut khawatir.


Quin melihat kakek Farel sedang berjemur di taman sambil membaca koran. Quin pun menghampiri kakek dan langsung memeluknya.


“Kakek,”


“Quin,” kakek Farel yang keadaannya sudah membaik pun terkejut dengan kedatangan sang cucu yang baru saja tiba dari perjalanan istimewanya.


“Kakek, Quin rindu.” Quin memeluk kakek Farel yang duduk di kursi roda. Mata Quin langsung mendapati sebuah luka kecil dipergelangan tangan kakek Farel, yang mana Quin tahu jika itu adalah bekas jarum infus.


 "Kakek sakit?” tanya Quin sambil meraih tangan rentan yang sudah tua dan keriput.


 “Hanya di masukkan vitamin aja,”  bohong kakek Farel dengan suara bergetarnya.


“Beneran vitamin?” tanya Quin sambil meneliti wajah kakek Farel.


 "Iya sayang, ayo bawa kakek masuk. Kakek ingin mendengarkan cerita kamu di sana.”


 Quin pun mendorong kursi roda kakek Farel untuk masuk kedalam rumah. Quin menuntun kursi roda kakek Farel menuju ruang keluarga, di mana terdapat tempat tidur khusus untuk Kakek Farel bersantai. Quin membantu kakek Farel untuk berpindah ke kasur santai tersebut.


Tangan Quin perlahan terangkat dan memijit kaki kakek Farel. “Kakek suka?”

__ADS_1


 “Tentu.”


Kakek Farel memperhatikan aura wajah Quin yang terlihat bahagia. “Katakan, apa yang ingin cucu kakek ceritakan?”


“Kakek, Quin mau ucapin makasih sama kakek.”


 “Untuk?”


“Karena telah menjodohkan Quin dengan Abi.”


 Kakek Farel tersenyum dan mengelus kepala Quin dengan sayang. “Kamu bahagia?”


 “Tentu, kek. Quin sangat bahagia.”


 “Kamu mencintai Abi?”


Quin tersenyum malu dan mengangukkan kepalanya. “Iya, Kek. Quin mencintai Abi. Sangat mencintainya.”


“Kalau begitu, kakek ingin kamu segera memberikan kakek cicit.”


Mata Quin terbelalak mendengar permintaan Kakek Farel. Namun wajahnya juga bersemu merah.


“Kakek,---“ rengek Quin.


 “Quin, kakek tidak pernah tau sampai kapan umur kakek akan bertahan. Tapi, kakek berharap agar kakek sempat melihat cicit-cicit kakek sebelum kakek menutup usia kakek.”


 Quin langsung memeluk kakek Farel dan menangis. “Kakek gak boleh ngomong gitu. Kakek harus tetap sehat,  hiks ...”


 *


“Assalamualaikum, Ma.” Abi mencium punggung tangan Mama Kesya.


“Walaikumsalam, loh, kok cepat banget pulangnya?” Mama Kesya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.


 “Iya Ma, tadi Quin bilang katanya mau fitting baju. Makanya Abi pulang dulu untuk membersihkan tubuh.”


 Sesampainya di Jakarta, Abi dan Veer langsung kembali bekerja. Ada pekerjaan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Bahkan setelah pekerjaan kantornya selesai, Abi harus kembali ke klinik untuk melihat kondisi kliniknya. Namun, saat sampai di klinik, Abi mendapatkan pasien yang harus di operasi saat itu juga karena


tertelan guli kelereng.


 “Quin di rumah Kakek. Kamu istirahat aja dulu.”


“Iya Ma, kalo gitu Abi ke kamar dulu ya.”


 Abi pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Quin. Tubuhnya terasa lengket dan perlu di bersihkan. Abi pun memilih merendam di air hangat sejenak tubuhnya untuk merilekskan semua otot-otot tubuhnya yang terasa pegal dan lelah.


Hanya 15 menit sudah cukup bagi Abi untuk berendam, ia pun akhirnya membersihkan dirinya dan berencana untuk menyusul sang istri ke rumah kakek mertuanya. Abi juga ingin melihat bagaimana keadaan sang kakek.

__ADS_1


“Mau ke mana?” tanya Mama Kesya saat melihat Abi sudah rapi dan segar.


 “Mau ke rumah kakek, lihat keadaan kakek.”


 “Oh, Mama ikut dong, Papa dari tadi di sana belum pulang-pulang.”


 Mama Kesya dan Abi pun berjalan beriringan menuju rumah Kakek. Sepanjang perjalanan Mama Kesya bertanya dengan Abi, bagaimana hubungan dirinya dengan sang putri. Abi pun menjawab jika hubungan mereka sudah semakin baik dan semakin dekat.


Abi terbatuk di saat Mama Kesya bertanya, apakah mereka akan segera memiliki anak atau tidak.


“Abi pinginnya sih langsung di kasih, Ma.”


 “Iya, semoga aja ya kalian cepat di beri keturunan. Kakek berharap jika dirinya dapat melihat cicit-cicitnya.”


“Amin.”


Sesampainya di rumah Kakek, Mama Kesya menggelengkan kepalanya di saat melihat Quin tertidur di sebelah kakek Farel. Kakek Farel mengusap lembut rambut Quin dengan sayang. Abi dapat melihat, jika kakek sangat menyayangi istri nya itu.  Baiklah, Abi harus berusaha keras agar bisa membuat Quin segera mengandung buah cinta mereka.


“Pi.” Mama Kesya mencium punggung tangan Kake Farel.


“Biarkan kan Quin tidur dulu,” ujar kakek Farel kepada Mama Kesya dan Abi.


 Abi pun menganggukkan kepalanya dan mencium punggung tangan Kakek Farel.


“Jadi gimana?” tanya Kakek Farel setelah Abi mendudukkan dirinya di lantai yang beralaskan ambal bulu yang lembut.


“Gimana apanya kek?”


 “Apa cucu kakek sudah dalam proses?”


 Wajah Abi langsung memerah malu. Mama Kesya terkikik melihat wajah Abi yang sudah seperti kepiting rebus. Belum tau saja Abi, jika sang kakek adalah orang yang paling suka bertanya terus terang apa yang ada di dalam kepalanya.


“I-iya Kek, mohon doanya ya, supaya buah cinta kami cepat tumbuh di rahim, Quin.”


“Hmm, kamu ini. Jangan lama-lama. Kakek sudah tua, kakek ingin mendengar kabar baik itu secepatnya. Nanti kakek suruh Oma untuk mengirimkan vitamin penyubur agar Quin bisa cepat kamu buahi.


 Abi menelan ludahnya, benarkah ia juga harus meminum vitamin penyubur? Sedangkan ia merasa jika dirinya ini masih sehat dan menjamin jika benihnya adalah benih dari bibit unggul ternama. Karena mengingat betapa kuatnya Abi menjaga kesehatan tubuhnya dan juga menjaga makanannya yang bergizi.


**


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


 jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


 Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2