KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2- SULTAN KHILAF 119


__ADS_3

Pintu kamar Kayla terbuka dan menampilkan Oma Rosa dari balik pintu kayu tersebut.


"Loh, kok pada nangis sih?" Tanya Oma Rosa saat melihat mata Quin, Anggel, dan Kayla basah.


"Ma, bisa gak Ila minta untuk membatalkan perjodohan ini." ujar Kayla dengan bergetar dna air mata yang mengalir.


"Loh, kenapa? bukannya kamu yang minta di jodohi?"


"Ma, Ila berubah fikiran. Ada orang lain yang Kayla cinta, dia berjanji akan lamar Ila, Ma." rayu Kayla.


"Hmm ... kenapa baru bilang sekarang? Mama dan Ayah udah terima lamarannya. Gak mungkin juga untuk di tolak."


"Ma, hiks ... Ila mohon."


"Aduh Ila, kamu ini ada-ada aja, Mama gak bisa batalin perjodohan ini sekarang."


"Kalo Mama gak bisa, hiks ... biar Ila aja yang ngomong."


Kayla berdiri dan keluar dari kamarnya.


"Ila ..." panggil Oma Rosa namun Kayla tetap keluar dari kamar dengan wajah yang berderai air mata.


Quin dan Anggel langsung mengejar Kayla agar memperingati Kayla untuk tidak berbuat yang tidak-tidak.


"Loh, mantu Mami kenapa nangis?" Tanya Mami Vina


Sontak kaki Kayla berhenti seakan terpaku dan tak bisa bergerak di saat telinganya mendengar kata 'Mantu' dari mulut Mami Vina.


Quin dan Anggel juga sama terkejutnya dengan Kayla, hingga Oma Rosa datang dari belakang mereka dan berbisik kepada Kayla.


"Masih mau di batalin perjodohannya, hmm?"


Mami Vina berdiri dengan membawa tisu untuk menghapus air mata Kayla.


"Kok nangis sih? kenapa? kamu gak senang di jodohi sama Zein?" Ujar Mami Vina dengan tersenyum.


Kayla menatap satu persatu orang kesayangannya yang berkumpul di sana. Semua orang menganggukkan kepalanya. Kayla juga memperhatikan jika tak ada orang asing lain di rumahnya, kecuali buk Arma selaku istri dari ketua komplek dan sang suami yang menjabat sebagai kepala komplek, serta beberapa tetangga yang menjadi saksi lamaran tersebut.


"Ayo ..." Mami Vina menarik tangan Kayla untuk duduk.


Kayla masih terbengong dan terkejut dengan apa yang terjadi.


"Jadi ini namanya Kayla? cantik. Pantes aja Zein klepek-klepek." Goda Papi Vano yang aman membuat wajah Kayla memanas dan merona.


"Kalian kok ikut bengong? ayo duduk." Quin dan Anggel pun ikut duduk bergabung bersama yang lainnya.


"Jadi, sekarang udah bisa dong pasang cincin nya." Ujar Mami Vina yang tak sabaran.


"Tu-tunggu, i-ini maksud nya gimana? Kenapa Ila bisa di jodohi sama kak Zein?" tanya Kayla kepada sang Mama.


"Kalo sama Adam sih, kamu udah telat. Adam udah nikah dia. Lagian saat kamu bilang minta di jodohi, Mami Vina menawarkan untuk menjodohkan kamu sama Zein. Karena kalian saling mencintai."


Wajah Kayla semakin merona.


"Mak-maksdu Mama?"


"Aduh ... aduh ... Aduh ... jangan fikir Mami gak perhatian ya sama kalian dua yang sering pulang bareng tiap malam. Terus malam mingguan pergi bareng, dengan alasna cari buku." Ujar mami Vina sambil menatap jahil kepada Kayla.


"I-itu ..."


"Alhamdulillah, akhirnya Ila bersatu dengan pujaan hati nya." Ujar Quin memecah kecanggungan Kayla.


"Alhamdulillah." Ujar Anggel dengan tersenyum lebar dan ikut merasakan bahagia. Namun, saat Anggel menolehkan bola matanya kearah lain, Anggel menangkao sosok Lana yang menatapnya dengan sendu, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Fatih yang memang sedang berbisik sesuatu dengan dirinya.


Anggel hanya menatap sendu kearah Lana. Benarkah Lana nya tak ingin memperjuangkan dirinya? Tapi, apa yang di katakan Lana memang benar. Mereka gak akan menaruh kebahagiaan mereka di atas penderitaan orang tua.


'Hanya perlu waktu An, hanya perlu waktu. Suatu saat kamu pasti bisa mencintai Martin. Hanya butuh waktu, Quin aja bisa mencintai Abi, pasti aku juga bisa mencintai Martin.' batin Anggel.


Bunda Sasa menunjukkan cincin pertunangan Kayla dan Zein. Cincin yang sangat indah dengan permata berkilau di tengah nya. sesuai dengan cincin yang Kayla inginkan bersama Zein.


"Mami pakein ya, tunggu Zein kelamaan." Ujar Mami Vina dan memakaikan cincin tersebut ke jari manis Kayla.


"Hiks ..."


Kayla merasa dada nya bergemuruh saat cincin itu sudah di sematkan di jari manisnya. Apa Zein yang merencanakan semua ini? Kayla akan menghukum Zein karena telah membuat kejutan seperti ini untuknya. Tanpa Kayla ketahui, jika Zein saat ini tengah berperang dengan fikiran dan waktu.


"Cantik banget, pas banget sama kamu yang sempurna untuk Zein." puji Mami Vina.


Mami Vina pun memeluk calon menantunya itu.


"Makasih Mi, hiks ..."


Kriiuukk ...


Bunyi perut Nafi membuat semua orang tertawa. Sedangkan Nafi memegang perutnya dan mengutuk perutnya yang seharian ini selalu minta di isi, dan pantang mencium aroma makanan.


"Kamu Laper sayang?" Tanya Mama Kesya kepada sang menantu yang sudah berwajah merah merona.


"Enggak Ma, cuma ini___"


Kriiuukkk ....


Perut Nafi memang tak bisa di ajak kompromi, yang mana kembali berbunyi dan membuat semua orang kembali tertawa.


"Ya udah, mending sekarang kita makan dulu ya, cucu mantu Oma udah laper." Ujar Oma Rosa


"Enggak Oma, cuma ini___"


Nafi menghirup aroma cake yang baru saja di bawa oleh Nara. Nafi langsung mencomot cake buatan Bunda Sasa tersebut, dan emmakannya dengan lahap.


"Oma ini enak banget." ujar Nafi dengan mulut penuhnya.


"Makan pelan-pelan sayang." tegur Mama Kesya.


"Iya Ma, abis ini enak banget." Ujar Nafi dan memasukkan lagi cake dalam potongan besar.

__ADS_1


"Veer, Nafi kok tumben gitu amat? biasanya malu-malu dia." bisik Lucas.


"Gak tau juga, hari ini manja banget, terus selera makannya juga nambah." balas Veer dengan berbisik.


Di sisi lain, Anggel yang memperhatikan Nafi juga berbisik dengan Quin.


"Tumben banget Nafi gak jaim?"


"Iya, tadi juga di toko dia gitu. Gak pernah-pernahnya makan dengan mulut yang penuh."


"Jangan-jangan."


Anggel dan Quin langsung saling pandang. Anggel yang notabene nya dokter kandungan pun langsung berdiri dan mendekat kearah Nafi, bersamaan dengan Lucas yang berjalan ke dekat Nafi.


"Bentar ya kakak ipar." Ujar Anggel sambil meraih tangan Nafi dan memeriksa denyut nadi nya.


Semua orang yang ada di situ pun langsung terdiam dan berdebar-debar menunggu hasil yang akan Anggel ungkapkan.


Anggel tersenyum kepada Mama Kesya dan mengangguk. Mama Kesya langsung bernafas lega dan mengucap syukur. Anggel pun menoleh kearah Veer, namun matanya sempat bertemu dengan Lana yang memang berdiri di dekat Veer. Namun Lana langsung mengalihkan pandangannya, yang mana membuat Hati Anggel terasa sakit.


"Biar lebih akurat, mending besok periksa ke klinik aja deh, Veer." Ujar Anggel dengan terswnyum, namun matanya sekali lagi merilik kearah Lana yang sedang berbicara dengan Fatih.


Anggel tersenyum miris, tersirat dalam fikiran Anggel jika dirinya hanyalah sebagai pelarian saja. Anggel terkesiap saat Lucas meremas bahu Anggel dengan pelan. Anggel hanya tersenyum tipis kepada Lucas.


Veer sudah gemetaran, hingga kakinya tak sanggup lagi untuk melangkah. Mata Veer sudah berkaca-kaca saat mendengar saran dari Anggel untuk memeriksakan Nafi me dokter kandungan. Pasti nya dengan alat yang canggih.


"Kamu mau aku rekom dokter kandungan terbaik?" tawar Anggel yang mana matanya terus menuju kearah Lana.


"Kamu dokter kandungan kan? kamu aja yang periksa Nafi."


"Aku belum dinas besok, ke Mbak Anggun aja." usul Anggel.


Mami Anggun yang baru tiba pun terkejut mendengar namanya di sebut.


"Ada apa nih? sebut nama Mbak?" tanyanya sambil mencium tangan para Oma."


"Ini, tadi Anggel baru aja periksa Nafi. Anggel bilang kalo Nafi hamil."


"Hah? hamil? aku hamil?" Tanya Nafi yang sedari tadi ternyata belum mengerti apa yang di maksud dengan Anggel untuk memeriksakan dirinya ke dokrr kandungan.


Mami Anggun pun menghampiri Nafi dan memeriksa denyut nadi nya. Senyum pun kembali mengembang di wajah Mami Anggun.


"Selamat ya Naf, Insya Allah kamu positif hamil."


Mata Nafi pun langsung berkaca-kaca.


"A-aku hamil?" tanya nyantak percaya.


"Iya sayang, kamu hamil."


Air mata Nafi pun luruh dan membasahi pipi. Veer langsung berjalan cepat kearah Nafi dan memeluknya.


"A-aku hamil, Veer. Aku hamil. Hiks ..."


Berita bahagia itu pun langsung di kirimkan kepada Kakek Farel dan Oma Laura. Betapa bahagianya Kakek saat mendengar jika dirinya sebentar lagi akan mendapatkan cicit. Kakek berharap, jika dirinya bisa melihat cicitnya itu lahir ke dunia.


Hari ini benar-benar adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Nafi dan Kayla, namun tidak dengan Anggel yang mana sedari tadi Lana terus menghindar dari tatapan mata Anggel. Anggel menjadi kesal, dan ia pun memutuskan untuk membenci Lana.


*


Di saat yang lain sedang bahagia dan merayakan kebahagiaan tersebut. Zein yang baru saja turun dari pesawatnya langsung berlari bagaikan orang kesetanan. Jas yang tertinggal dalam pesawat, serta dari yang sudah tak beraturan lagi. Bahkan rambut Zein yang sudah tak rapi lagi, namun tetap saja tak mengurangi kadar ketampanannya.


Zein langsung menyetop taksi dan menyuruh supir taksi untuk memajukan kecepatannya dengan tinggi. Zein bernapas lega karena ia tak harus menunggu lama sebuah taksi untuk mengantarnya.


Zein menoleh kejam tangannya yang mana sudah menunjukkan pukul enam sore. Zein menggeram di saat jalanan sangat padat merayap, sehingga taksi yang di tumpangi oelh Zein pun terjebak dalam macet.


"Aargghh, bisa-bisa nya macet." gerutu Zein. "Pak, cari jalan alternatif lain aja bisa?" tanya nya kepada sang supir.


"Maaf Pak, kita gak bisa keluar dari jalur. Kiri, kanan, depan, belakang, sudah padat." jelas supir taksi tersebut.


Zein kembali menggeram, ia *******-***** rambutnya lagi dan mengacak-ngacaknya. Zein meraih ponselnya dan menghubungi Quin. Namun tak di angkat oleh Quin. Zein kembali frustasi karena Mami Vina pun tak juga mengangkat panggilannya.


"Pak, saya turun di sini aja ya. Ini uang untuk bapak, saya minta maaf ya pak." Ujar Zein sambil memberikan tiga lembar uang berwarna merah itu.


"Terima kasih, Pak." Ujar sang supir taksi.


Zein mencari tukang ojek, untungnya tak perlu waktu lama dan berjalan jauh, Zein mendapatkan tukang ojek berjaket hijau yang sedang menunggu orderan masuk.


"Mas, saya bayar offline mau? tiga kali lipat pun boleh saya bayarnya, yang penting Mas antat saya ke alamat ini (Zein menyebutkan nama alamat rumah nya) dengan cepat. Ngebut deh ngebut." Ujar Zein dengan napas tersenggal-senggal.


"Boleh Mas, beneran kan nih tiga kali lipat?" Tanya tukang ojek memastikan.


"Iya beneran, cepetan sini helm nya."


Zein langsung memakai helm dan naik keatas motor. Dengan percaya diri tinggi seakan dirinya adalah pembalap nomor satu di dunia, Tukang ojek pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menyelip sana sini dengan lihay dan berhenti di lampu merah.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Zein pun akhirnya tiba di depan rumah Kayla.


"Ini Mas, makasih ya." Ujar Fatih sambil memberikan 5 lembar pecahan uang berwarna merah.


*


"Mi, Kak Zein tiba." Ujar Naya yang memang di suruh memantau akan kehadiran Zein.


Jantung Kayla sudah berdebar-debar menantikan kehadiran sang tunangannya. Hingga pria yang di tunggu-tunggu pun masuk dengan napas tersenggal-senggal dan penampilan acak-acakan.


Kayla mengerutkan keningnya di saat melihat penampilan Zein yang seperti orang habis lari maraton.


"Mi." lirih Zein.


Kemudian Zein melihat kearah Kayla yang terlihat sangat cantik. Mata Zein pun turun menuju jari jemari Kayla, di mana sudha melingkar sebuah cincin permata yang sangat indah.


Zein seakan semakin lemas di saat melihat wajah bahagia Kayla yang tersenyum manis kepada Anggel dan Quin di saat kedua wanita itu membisikkan sesuatu kepada Kayla.


"Maaf sayang, Kamu terlambat, Kayla sudah memakai cincin pertunangannya." Ujar mami Vina yang menahan senyum nya.

__ADS_1


Senang sekali rasanya mengerjai sang putra.


Zein menggelengkan kepalanya, matanya berembun menatap Kayla. Dengan langkah tertatih, Zein menghampiri Kayla yang duduk manis di samping Oma Rosa. Zein berlutut di hadapan Kayla dan memegang tangannya.


"Ila, kamu tega banget sama aku? Aku sudah katakan, jika kamu siap menikah, maka aku akan melamar kamu. Tapi apa ini? kamu menerima lamaran dari laki-laki lain? Bukankah kita saling mencintai, Ila? Kamu bilang jika kamu juga mencintai aku kan?"


satu tetes air mata Zein pun terjatuh. Mami Vina merasa tak tega, namun ia ingin mengetahui apa saja yang akan Zein katakan. Sedangkan Kayla terlihat terkejut mendengar ucapan Zein.


'Jadi kak Zein tidak mengetahui tentang pertunangan ini?' batinnya.


"Ila, aku cinta sama kamu. Aku cinta kamu, aku gak mau nikah sama wanita mana pun selain kamu. Aku cuma mau kamu, Ila. Cuma kamu."


Kayla hanya terdiam menatap Zein, mata Kayla juga sudah berkaca-kaca di saat melihat Zein sangat terpukul.


"Ila, menikahlah dengan ku. aku mohon." Pinta Zein dengan lirih.


"Tapi, aku sudah bertunangan kak, aku sudah bertunangan deng__"


"Oma, Zein cinta Ila. Ila dna Zein saling mencintai Oma. Zein mohon, batalkan pertunangan ini Oma. Zein akan menikahi Ila Oma." ujar Zein tanpa mau mendengarkan lagi kelanjutan ucapan Kayla.


"Zein, Kami sudah menerima lamaran dari___"


Lagi-lagi, Zein tak ingin mendengarkan Kelanjutan dari ucapan Oma Rosa. Zein langsung berjalan dengan lututnya dan menghampiri Opa Nazar.


"Opa, Zein cinta Ila. Tolong Opa, batalkan pertunangan ini. Zein akan bertanggung jawab atas Ila. Zein mohon Opa." Pinta Zein kepada Opa Nazar dengan air mata yang mengalir.


"Zein, jika Opa membatalkan pertunangan ini, bagaimana dengan perasaan kedua belah pihak?" Tanya Opa Nazar.


Zein tertunduk dengan air matanya yang mengalir. "Baiklah, semua keputusan ada di tangan Ila. Jika Ila tak mencintai tunangannya, maka Opa akan membatalkan pertunangan ini."


Zein pun menoleh kearah Kayla, dengan tatapan yang meminta dirinya untuk memutuskan pertunangannya dengan lelaki yang Zein tidak ketahui dan juga tak ingin tahu.


"Ila, apa kamu mencintai tunangan kamu?" Tanya Opa Nazar.


"I-Ila mencintai nya Ayah."


Tubuh Zein langsung terduduk lemas saat mendengar jawaban Kayla.


"Ila, kamu belum pasang cincin tunangan kamu untuk sang pria, ayo pasang." Ujar Oma Rosa.


Zein merasa dunianya runtuh. Betapa kejamnya mereka menyuruh Kayla memasangkan cincin tunangannya di hadapannya sendiri. Apa mereka tak tahu bagaimana perasaan Zein saat ini.


Zein masih terduduk lemas di depan Opa Nazar. Zein juga sudah menutup matanya untuk tak melihat adegan yang menyayat hati itu.


Sia-sia sudah perjuangannya untuk datang dengan terburu-buru kembali ke Jakarta. Zein mengutuk pesawat yang ditumpanginya itu karena harus delay.


Mami Vina memberi kode kepada Kayla untuk memasangkan cincin ke jari manis Zein. Kayla pun bergerak mendekati Zein.


"Kak." panggil Kayla.


Zein masih menutup matanya dan menoleh kearah lain. Melihat tak ada respon dari Zein, Kayla meraih jari jemari Zein, yang mana membuat Zein terkesiap dan menatap Kayla dengan heran di saat Kayla memasangkan sebuah cincin ke jari manisnya.


Zein menatap Kayla dengan penuh tanya, lalu menoleh kearah Opa Nazar yang menepuk bahu Zein.


"Yakin kamu mau batalin pertunangan ini?" Tanya Opa Nazar.


Zein masih dalam mode bingung, hingga suara Kayla mengambil perhatiannya yang melayang entah ke mana.


"Pria yang menjadi tunangan Ila itu, adalah kakak." Ujar Kayla dengan senyum mengembang.


Zein menatao kearah Opa Nazar, Opa Nazar mengangukkan kepala nya. Zein menoleh kearah Mami Vina, dan Mami Vina juga menganggukan kepalanya.


"I-ini benaran kan? Pi, Ini beneran aku udah tunangan sama Ila?" Tanya Zein kepada sang Papi.


"Iya, Mami kamu hari ini telah resmi mengikat Kayla menjadi tunangan kamu."


Zein pun menangis kedalam pelukan Papi Vano.


"Zein, jadi kapan kamu siap untuk mempersunting Ila?" Tanya Opa Nazar.


Zein melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya cepat.


"Kapan pun Zein siap. Jika besok di suruh ke KUA, Zein juga siap." Ujar nya yang mana membuat semua orang tertawa.


Naya memberikan segelas air untuk Zein. Pasti Zein sangat lelah karena buru-buru datang ke sini. Lihat saja penampilannya yang acak-acakkan itu.


"Nih Kak, di minum dulu."


"Makasih dek." Zein langsung menghabiskan air tersebut hingga tandas.


"Zein, sebaiknya kamu bersih-bersih dulu. Terus berpakaian yang tapi, Mami udah siapin baju kamu di kamar."


"Iya Mi," Zein bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar, tapi belum sampai pintu, zein kembali berbalik.


"Ini beneran kan Ila tunangannya sama Ila?" tanya nya lagi kepada semua orang.


"Iya Zein, Ila tunangannya sama Zein." Jawab semua orang serentak.


"Alhamdulillah, kirian mimpi, Aaww ..." Zein meringis saat kepalanya di jitak oleh Lana.


"Pulang sana Lo, mandi. Bauk keringat tau gak." Ujarnya yang mana membuat semua orang kembali tertawa.


Zein meringis sambil menggaruk kepalanya. Zein pun bergegas pulang untuk membersihkan dirinya.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2