
Quin merenggangkan otot-otot tangannya. hari ini sudah 2 adonan yang gagal. Dan Quin sedang mencoba adonan yang ke tiga.
" Hai..."
Quin terlonjak kaget saat Abi masuk kedapur dan menegurnya. Berhubung Toko kue sudah tutup, dan sedari tadi Abi memanggil tak ada sahutan, akhirnya Abi memilih masuk dan mencari Quin.
" Ya ampun, bikin kaget aja deh.."
Quin menghampiri Abi. Hubungan mereka semakin dekat, yaa dalam artian dekat sebagai teman. Walaupun orang lain melihat mereka sebagai sepasang kekasih.
" Belum selesai?"
" Belum.. Kenapa?"
" Aku lapar, pingin nagih janji kamu.."
Quin menaikkan alisnya sebelah, " Janji yang mana?"
" Kamu mau ngajakin aku kuliner kaki 5"
" Ooh... Sabar yaa, cake aku lagi proses pemanggangan."
" siipp.. Ini, kenapa?" Abi menunjuk kearah 2 cake yang gagal atau bantet.
" Ooh, gagal."
" Terus? Di buang?"
" Ya gak lah, mubazir tau. Lagian cake nya bisa di buat Cake-pop."
" Apaan tuh?"
" Kamu mau? Ntar ya aku buatin, sambil nunggu yang itu Mateng."
Quin pun mengolah cake yang bantet menjadi sebuah cake yang lezat. Quin mengepalkan cake yang sudah di mix olehnya, dan membalur cake berbentuk bola itu kedalam saus coklat, dan menaburi mesis di sekelilingnya.
" Taraa... Cake bola-cola durian nya udah jadi.."
Quin menghidangkan nya di hadapan Abi.
" Woow, kayaknya enak.." Abi mencicipi satu bulatan itu, memasukkannya penuh kedalam mulut.
" Eemmm, woww... nikmat Quin.." Ujar Abi dengan mulut yang penuh.
" Ini biasanya kamu jual? Kok aku gak pernah liat?"
" Siapa yang jual? Ini biasanya aku bagi-bagi gratis aja. Kadang di bawain pulang sama karyawan aku juga."
" Kenapa gak dijual? Enak gini, rasa pahitnya juga gak terasa kok."
Ting... suara microwave menandakan cake buatan Quin pun sudah jadi. Quin mengeluarkannya dari dan meletakkannya dan meletakkannya di atas meja yang sudah di lapisi dengan besi.
" Ngapain aku jual, produk gagal itu mah. "
" Tapi bisa menghasilkan uang juga loh.."
" Iyaa sih, tapi emang aku gak mau jualnya, itung-itung beramal lah.. Kamu suka?"
Abi menganggukkan kepalanya. Di atas pring sudah habis 4 cake bola dari 6 cake.
" Kalo mau, lain kali aku antar deh. Mau lagi?" Tanya Quin saat melihat tinggal sisa satu di piring.
" Boleh, bawa pulang boleh gak?"
Quin terkekeh, menampikkan lesung pipinya.
" Boleh... boleh.. boleh... Tapi, ntar jajan kaki 5 nya kamu yang bayar ya.."
" Gampang itu..."
Quin mengeluarkan cake yang baru saja matang dari loyang. Wangi cake tersebut langsung menyeruak, masuk kelobang hidung Abi, dan menbuat peliharaanya kembali demon.
" Quin, wangi banget.."
" Kamu mau?"
" Boleh?" Tanya Abi dengan mata Berbinar.
" Tentu..."
Quin memotong dan memberikannya kepada Abi.
" pelan-pelan, panas.."
Abi meniup dan memasukkannya kedalam mulut.
" Gimana?"
" Enak.." Ujar Abi dengan mulut penuh.
" Kamu semuanya enak, makanan kucing pun ntar kamu bilang enak.."
Abi terkekeh, " Ya gak sampe ngemil makan kucing juga kali.. tapi, ide bagus tu, mana tau aku Laper dan gak ada ngemilan. "
"Iih, dasar kamu ini.."
Mereka pun tertawa, tanpa mereka sadari ada perasaan kosong yang mulai terisi.
" Beneran enak, Aah... Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil.. Setelah sekian purnama.." Ujar Quin dengan berbinar.
Quin meraih ponselnha, dan membuat panggilan video. Terdengar nada dering, hingga di seberang sana memberi salam.
.
.
Veer baru saja selesai mandi. Veer mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan berjalan kearah Nafi yang serius dengan sketsanya.
Veer membungkukkan sedikit tubuhnya, melihat apa yang sedang Nafi gambar, aroma rambut Nafi membuat Veer seakan tersihir dan memejamkan matanya, dan semakin mendekat hingga hidung Veer mengenai rambut Nafi.
Nafi merasa bulu kuduknya berdiri, merinding padahal AC nya tidak terlalu dingin. Perlahan Nafi menoleh dan mendapati wajah Veer yang sudah berada di dekatnya.
" Aaaa...." Nafi terlonjak kaget hingga dirinya hampir terjatuh jika Veer tidak cepat menangkap tubuhnya.
Jantung Nafi berdetak cepat, bayangan rasa sakit di pinggangnya sudah melanda di kepalanya.
" Maaf.." Ujar Veer yang membantu Nafi berdiri tegak.
" Ka-kamu ngapain tadi?"
" Ooh, hanya melihat sketsa mu.."
" Melihat? Lalu kenapa merem?"
" Siapa yang merem?"
" Kamu..."
" gak ah.. Aku melek kok." Kilah Veer.
" Dasar pembohong."
__ADS_1
" Siapa yang pembohong?"
" Kamu.."
" Sok tau.."
Veer kembali melihat sketsa bangunan yang di gambar oleh Nafi.
" Cantik.."
" Benarkah? aku padahal masih ragu dengan gambar itu.."
" Kenapa?"
Nafi kembali duduk, dan menjelaskan di bagian mana dirinya ragu. Veer pun mencoba memberikan pendapatnya, hingga tanpa mereka sadari jika posisi Veer mengurung Nafi di bawahnya.
Wajah Veer yang berada di atas bahu Nafi, membuat Nafi mencium pipi Veer tanpa sengaja saat Nafi menolehkan kepalanya kearah Veer.
" Maaf..." Ujar Nafi yang kembali memfokuskan pandangannya kearah sketsa miliknya.
Entah kenapa, Veer merasa kecewa saat Nafi meminta maaf. Padahal Veer berharap akan kejadian lebih dari itu..
" Naf.." Panggil Veer dengan suara beratnya, namun terdengar seakan berbisik.
Nafi perlahan menoleh, dan menatap wajah Veer. Mata mereka bertemu, hingga Veer mendekatkan wajahnya kearah Nafi. Namun, suara Nafi membuat Veer malu sekaligus kesal.
" Masih ada busa sabun di dekat rambut kamu.."
Veer mengerjap, kemudian tangan Nafi bergerak keatas untuk mengusap busa sabun tersebut.
"Ini..."
" Oh... Makasih.." Veer pun akhirnya berdiri tegak dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
" Sial, kenapa harus ada busa sih.. Uggh... " Veer mencuci wajahnya kembali, dan memastikan kembali jika tidak ada sabun di wajahnya.
Veer mengeringkan wajahnya dengan handuk. Veer berfikir keras, bagaimana cara bisa mencium bibir Nafi. Entah kenapa, melihat bibir itu rasanya membuat Veer selalu ingin mencicipinya.
Veer membolakan matanya, dan tersenyum miring saat mendapatkan ide.
" Naf, aku mau masak mie instan, kamu mau gak?"
Nafi menoleh, " Boleh, kalo gak ngerepotin kamu."
" Ya udah, aku buat dulu ya.."
" Aku ikut.."
Veer berhenti, otaknya dengan cepat berfiki. Jika Nafi ikut, maka mereka akan makan di meja makan, dan rencana Veer bisa saja gagal dengan kehadiran orang lain lagi. Jadi Veer memilih untuk makan di kamar.
" Jangan, kamu di sini aja, biar aku yang turun dan memasak."
" Tapi aku mau lihat kamu memasak."
" Eemm, jika Empus datang gimana?"
" Aku udah gak takut lagi, kan ada kamu.."
Veer memejamkan matanya, mencari ide lain.
" Sketsa kamu gimana? mending kamu fokus ke situ aja."
" Mumet otak ku, aku ikut ya.."
Veer kehilangan kata-kata.
" Duduk, biar aku masak sendiri. kamu tunggu di sini, tidak ada bantahan." Ujar Veer dengan nada perintahnya.
Veer dengan kecap keluar kamar, dan menuju dapur. Tidak butuh waktu lama, Veer kembali setelah 10 menit.
" Kok cuma satu?" Tanya Nafi yang melihat Veer hanya membawa satu mangkok besar.
" Bagi dua..biar hemat piring, dan gak boros air saat nyucinya. Lagian biaya air lagi mahal."
Alasan yang bagus. Tapi masa iya orang setajir Veer untuk bayar air saja perhitungan, padahal di luar rumahnya air mancur hidup 24 jam.
Nafi hanya mengangkat bahunya, dan mengambil garpu yang di berikan Veer.
Veer tersenyum di balik wajah datarnya itu. Rencananya berhasil, dan sebentat lagi, ekspetasi Veer akan menjadi kenyataan. Ha..ha..ha..
Veer sengaja menyendokkan mie yang sedang di sendok oleh Nafi, dan saat Nafi memasukkan Mie nya kedalam mulut, Nafi baru tau jika Veer memasukkan Mie yang sama kedalam mulutnya.
Mata mereka bertemu, Veer terus menghisap mie yang hujungnya berada di bibir Nafi. Nafi hanya menatap Veer dengan mulut yang masih menggantung Mie tersebut.
Sedikit lagi, yaa.. sedikit lagi, bibir Veer akan menyentuh bibir Nafi, jika ponsel sialan itu tidak berdering, dan Nafi memutuskan mie tersebut.
" Ponsel kamu berdering Veer.."
Veer akan memberi pelajaran kepada orang yang mengganggunya saat ini.
" Quin?"
Veer langsung menggeser tombol hijau sebelum Quin mengamuk.
" Hai... Lihat, aku buat apa.."
" Apa?" Tanya Veer malas.
" Ini.. cheese cake, aku berhasil.. Horee.. gak gosong, empuk, mental-mental juga dia pas di towel." Ujar Quin sambil memperlihatkan cake tersebut.
" Baguus..." Ujar Veer sekenanya saja.
" Gitu amat? Ya udah ah. aku telepon Lana."
Tidak hanya Veer, Abi langsung menatap Veer dengan serius.
" Kenapa Lana?"
" Dia pasti bakal kasih pujian buat aku..dan nilai kamu berkurang Veer ."
" Gak..gak.. Lana plagiat ku.."
" Oh yaa..."
Pembicaraan dua saudara kembar itu pun memakan waktu hingga 25 menit, tanpa Veer sadari jika mie instan yang ada didalam mangkok, habis di makan Nafi, hingga tinggal sesendok lagi..
" Naf, untuk aku?"
Quin mengerutkan keningnya.
" He..he.., maaf.. aku lapar.. nih mau?" Nafi menunjukkan satu sendok lagi mie instan.
" Gak, buat kamu aja." Rajuk Veer.
" Waaahh, merajuk ni Yee.." Goda Quin.
" apaan sih, sana telpon Kekasih kamu tuh. Si Abi.. jangan telpon Lana, ntar berharap lagi dia sama kamu. Bye.."
Veer mematikan panggilannya.
" Dasar Veer jelek.." Kesal Quin..
__ADS_1
Abi tersenyum melihat Quin mengerucutkan bibirnya. Gemessh..
.
.
Veer meletakkan ponselnya dengan kasar, lalu melihat kearah Nafi yang siap memasukkan satu sendok mie lagi.
Hupp, masuklah mie tersebut kedalam mulut Nafi, dengan beberapa helai Mie masih tergantung di luar.
Veer langsung meraih tengkuk Nafi dan memakan mie yang berada di luar mulut Nafi. Mengh***p habis mie yang tersisa, dan ******* bibir Nafi yang terasa gurih dan manis.
Nafi sontak saja melototkan matanya, atas apa yang telah Veer lakukan kepadanya.
Nafi mendorong tubuh Veer, hingga ciuman mereka terlepas.
" Apaan sih kamu Veer.." Kesal Nafi.
" Aku hanya memakan mie.."
" Apa? lalu bagaimana dengan bibirku? Maksudku, kamu menghisapnya tadi." Ujar Nafi pelan di akhir kalimatnya.
" Ooh, aku hanya menikmati rasa gurih mie yang menempel di bibir kamu." Jawab Veer santai.
" Kamu..."
Nafi kesal, sebenarnya dia menyukai itu, tapi Nafi harus membentengi dirinya agar tidak jatuh terlalu dalam kepesona Veer. Karena pernikahan mereka tinggal 3 bulan lagi.
Nafi mengeluarkan perjanjian mereka.
" Lihat perjanjian ini Veer, tidak ada kontak fisik, tidak ada yang namanya sentuhan. Tapi apa yang kamu lakukan? Hiks.." Nafi menangis, merasa jika Veer hanya memanfaatkannya.
Kilasan kejadian saat itu pun kembali..
" Kamu jahat Veer, aku bukan perempuan yang murahan..Aku benci kamu.. Aku benci..hikss.." Teriak Nafi..
" Naf.. Maafin aku.. aku hanya.."
" apa? Bercanda? Gak sengaja? terbawa suasana? iyaa? Apa Veer, apa?? hikkss..."
" Naf, aku.. "
" Pergi Veer, aku tidak mau melihat kamu. Pergi.."
" Naf.., ini kamar ku.."
" Kalau begitu aku yang pergi.." Nafi bersiap mengambil kunci mobilnya.
" Naf, dengerkan aku.. aku minta maaf.." Veer memegang lengan Nafi.
" Lepas Veer. Lepas.. Kamu itu bajingan. aku kira kamu berbeda dengan yang lain, ternyata kamu saja. Lepaas..."
" Gak naf.. gak, aku gak sama.. Aku berbeda.. Maafin aku naf.. maaf.." Veer memeluk tubuh Nafi yang terus memberontak dan semakin menangis kencang.
" Lepas Veer... lepas..."
" Gak Naf.. Gak.. Aku gak akan lepasin kamu.."
Veer memeluk Nafi yang masih memberontak, hingga tenaga Nafi berkurang, dan tangan Nafi terjatuh lemas.
" Aku benci kamu Veer. hiks..aku benci kamu.."
" Maaf, naf.. jangan katakan itu.. jangan.. "
Hati Veer seakan di tusuk ribuan panu saat mendengar Nafi mengatakan jika dirinya membenci Veer. Veer tidak tau kenapa dia sampai merasakan hal itu. Veer tidak ingin jika Nafi membencinya.
Apa Veer mulai menyukai Nafi?, Veer sendiri tidak yakin dengan perasaannya. Apa dia menyukai, atau hanya sekedar mengagumi.
.
.
" Gimana? masih sanggup buat nikmati kuliner malamnya?" Tanya Quin yang melihat Abi menghabisnya cheese cake yang di buatnya tadi.
" ooh Quin, aku kekenyangan.. bisa gendut jika terus begini.."
" Ha..ha.. Kamu bisa menari dengan berbi jika ingin kurus.."
" Tari ular gitu? terus aku goyang-goyang ngebor gitu.."
Quin tertawa terbahak-bahak.. Abi sungguh lucu.
" Tapi aku lapar Bi." Ujar Quin manja.
Abi yang mendengar suara manja Quin sampai tersedak ludahnya sendiri.
" Oke, aku temani kamu makan yaa.."
" Beneran? sekalian kamu antar pulang ya.."
" Iyaa ."
" Okee, aku hubungi Abash dulu, untuk tidak menjemput ku.."
Entah kenapa, Abi merasa Quin memberi warna di hidupnya. Dari Abi yang tidak suka makan makanan manis, seperti cake. Abi menjadi suka. Makanan pinggir jalan yang tidak pernah Abi sentuh, Abi memakannya. Bahkan Abi ketagihan untuk mencicipinya.
Apapun yang Quin katakan enak, Abi ingin mencobanya. Waktu bersama Quin, membuat Abi selalu ingin mendengar suara, tawa, dan melihat senyumannya. Serta Abi juga merindukan kekonyolan Quin yang membuat Abi juga ikut tertawa.
" Quin, apa kamu pernah jatuh cinta?"
Pertanyaan Abi membuat Quin menatap kearah Abi.
" Tidak. kenapa?"
" Bagaimana jika kamu jatuh cinta dengan ku."
" Apa kamu sehebat Veer? atau lebih hebat darinya?"
" Jika aku gak sehebat Veer, apa kamu akan jatuh cinta kepada ku."
" Tidak.." Quin tersenyum.
" Apa kamu jatuh cinta kepadaku?" Quin menatap Abi dengan tajam, menatap tepat di manik matanya.
Abi seakan terhipnotis oleh tatapan Quin, namun suara Anita membuat Abi memutuskan pandangan mata mereka.
" Jangan jatuh cinta kepada ku Bi, " Ujar Quin dan melangkah pergi.
' Jangan jatuh cinta kepada ku, dan jangan katakan cinta kepadaku, jika ada orang lain di hati mu. Karena aku nyaman hanya berteman dengan mu.' Batin Quin.
" Apa kau akan berdiam di situ? Aku lapar!!" Ujar Quin yang sudah berada jauh dari Abi.
" Ah.. ya, maaf.." Abi pun mengikuti Quin keluar toko.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.