
Sudah seminggu Kesya keluar dari rumah sakit. Keadaannya pun semakin membaik, begitu pun dengan janin yang di kandungnya. Kesya menatap wajah sang suami yang terlihat lelah. Selama ini sang suami sering lembur dan hanya tidur 2 jam. Belum lagi harus menghadapi sifatnya yang berubah-ubah moodnya. Kesya merasa kasihan kepada sang suami. Tetapi Kesya tidak bisa berbuat banyak, Kesya pun tidak bisa mengontrol perasaannya sekarang.
Kesya berinisiatif memasak sarapan untuk sang suami. Hari ini sang suami akan bertempur untuk memperebutkan tender miliayan tersebut. Kesya berdoa, agar Arka bisa memenangkan tender tersebut. Dia juga bernazar, jika Arka bisa memenangkan tender tersebut, Kesya ingin menyumbang mukenah, kain sarung, sajadah, dan Al-Qur'an ke mushola dan mesjid.
" Ahhh" Pekik Kesya terkejut saat merasakan lengan kokoh memeluk pinggangnya.
" Kenapa tidak membangunkan ku?" Bisik Arka dengan suara paraunya.
Kesya mematikan kompor, mengangkat masakannya, dan menuangkannya di piring. Kesya membalikkan tubuhnya.
" Jika aku membangunkan kamu, Maka aku tidak bisa memasak makanan spesial untuk suami ku tercinta"
Arka semakin memeluk tubuh Kesya, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kesya.
" Ayo solat subuh dulu, nanti keburu kehabisan waktu" Titah Kesya.
Arka langsung melepaskan pelukannya, mengecup bibir Kesya sekilas dan meninggalkan Kesya yang masih di dapur. Kesya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai masak dan menghidangkannya di meja makan. Kesya kembali masuk kedalam kamar, dan melihat sang suami yang sedang mengancing kemejanya. Kesya mendekat dan membantu mengancingkan baju kemeja Arka. Arka meletakkan tangannya di pinggang Kesya, dan menatap wajah sang istri dengan intens. Kesya memakaikan dasi kepada Arka, dan "Woow, suami ku tampan banget" Puji Kesya.
Arka menarik pinggang Kesya agar semakin mengikis jarak di antara mereka.
" Kamu cantik, sangat cantik. Aku sangat mencintaimu, sayang" Ujar Arka dan mencium bibir Kesya.
Kesya membalas ciuman Arka, dan mereka melepaskan ciuman tersebut saat sudah merasakan kehabisan napas. Arka menyatukan kening Mereka. Arka menghapus jejak ciuman mereka yang masih menempel di bibir Kesya.
" Semoga berhasil sayang" Bisik Kesya tepat di depan bibir Arka.
Arka memeluk sang istri penuh cinta. Selepas sarapan, Kesya mengantar Arka hingga ke depan pintu.
" Key" Panggil Mami Laura.
Kesya menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
" Mi"
Mami Laura menarik tangan Kesya lembut, dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
" Jangan khawatir, Arka pasti bisa menghadapi segala rintangannya."
Kesya tersenyum dan memeluk Mami Laura.
Arka menatap pria yang berada di hadapannya dengan tenang. Tidak ada tatapan mengintimidasi di matanya. Sedangkan pria yang ditatap balas menatap Arka dengan tajam.
" Baiklah, setelah kami pertimbangkan dan kami putuskan, maka kami mempercayakan proyek ini kepada, Perusahaan Moza"
Arka menghela napas lega, dan mengucapkan syukur. Sedangkan Bimo, pria yang berada di depan Arka harus menelan pil pahit. Semua rencananya gagal.
Bimo membayar seseorang untuk mencari tahu rencana Arka dalam mempersentasikan proyeknya, dan Bimo menggunakan strategi Arka saat persentasi tersebut. Untungnya Arka memiliki istri yang pintar.
Flashback On
" Bagaimana Ar? Apa kita tetap maju setelah insiden ini?" Tanya Fadil.
" Gue yakin, jika bukan Bimo yang melakukan semua ini, tetapi ada orang lain yang memanfaatkan situasi ini."
__ADS_1
" Trus, rencana Lo apa?"
" Kita tetap dalam rencana awal, tetapi penjagaan Kesya tetap harus di perketat. Gue yakin, walaupun kita mundur, Kesya tetap dalam bahaya, dan itu akan semakin memperburuk keadaan kita. Karena Semua saingan gue, bakal nyerang kita di segala arah" Ujar Arka.
"Lo benar, Tapi Bimo bukan lawan yang terbilang gampang. Dia termasuk pintar dan licik"
Tanpa mereka sadari, Kesya mendengar semua pembicaraan mereka, sampai rencana Bimo yang mencelakai Kesya, dan Arka yang harus mempertahankan perusahaannya. Selama ini Arka sengaja tidak menceritakan apapun terhadap Kesya tentang perusahaannya yang sedang goyang. Karena Arka tidak ingin Kesya ikut kefikiran dan merasa dicuekin karena Arka sibuk dengan perusahaannya.
Arka sedang menyusun berkasnya, hingga Kesya masuk dan membawakan coklat hangat dan cemilan.
" Sayang"
Arka mengangkat pandangannya dan melihat sang istri sedang memegang nampan yang berisi. Dengan cepat Arka mendatangi sang istri dan mengambil alih nampan tersebut.
" Kok belum tidur yank? Kamu nungguin Mas?"
Kesya menggeleng, "Ada yang mau aku bicarain" Ujar Kesya.
Arka menaikkan alisnya sebelah. Kesya menarik tangan Arka dan menuntunnya kembali ke meja kerjanya. Sebelumnya Arka sudah meletakkan nampan tersebut di meja sofa.
"Boleh aku liat kerjaan yang sedang Mas kerjakan?"
Arka menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa sayang? Tumben kamu pingin tahu?" Tapi tak urung Arka tetap menunjukkannya. " Ini"
Kesya meneliti semua berkas yang ada di tangannya.
" Bisa gak kalo Mas membuat ulang semua ini?"
" Maksud kamu?"
" Fadil gak mungkin gitu sayang" Ujar Arka setelah menimbang ucapan Kesya.
" Aku gak nuduh Mas fadil bakal nusuk Mas dari belakang, tetapi siapa yang tau jika ada orang lain yang berani bermain curang. Jadi gak ada salahnya kan kalo buat cadangannya. Untuk berhati-hati aja"
Terlihat Arka memikirkan ucapan Kesya. "Sayang, Mas buat ini semua hingga 3 Minggu, dan rapat tender tersebut 3 hari lagi sayang"
" Aku yakin, Mas pasti bisa. Percaya deh" Ujar Kesya meyakinkan Arka.
"Tapi bagaimana dengan kamu?. Kamu gak bisa tidur kan kalo gak mas peluk"
" Aku bakal tidur di sini, di ruangan ini. Jadi dengan menatap wajah sang suami ku, pasti aku bisa tertidur. Bayi ku pasti mengerti jika Papa nya sedang berjuang" Ujar Kesya.
Kesya meyakinkan Arka, dan akhirnya Arka menuruti keinginan Kesya. Arka menyuruh maid meletakkan kasur di ruang kerjanya, tetapi Kesya melarangnya. Takutnya rencana mereka akan tercium. Jadi Kesya tidur di sofa ruang kerja Arka. Untungnya sofa tersebut besar, dan empuk. Namanya juga sofa mahal, ya iya lah. Kesya hanya meletakkan bedcover di atas sofa, dan menyelimuti dirinya.
Tak jarang Kesya terbangun dan menatap sang suami yang belum tertidur. Dan tak jarang juga Kesya memberikan pendapat dan idenya.
FLASHBACK OFF
" Selamat atas keberhasilannya." Ujar Bimo dan mengulurkan tangannya kepada Arka, Arka pun menyambut tangan Bimo.
" Terima Kasih"
Bimo pergi meninggalkan Arka.
"Gila.. Gak nyangka gue dia bisa nyuri ide kita. Dan Lo, kapan Lo buat yang baru? kok gak bilang-bilang ke gue?" Tanya Fadil sedikit marah.
__ADS_1
" Nanti gue cerita"
Fadil menatap Arka tajam, setelah mendengar penjelasan Arka, Fadil merasa jika dirinya sudah tidak di percaya lagi.
" Gue tanya sama Lo, kalo Lo di posisi gue gimana?"
Fadil terlihat berfikir, " Oke, gue bakal cari tau siapa orang yang berani membocorkannya" Geram Fadil.
" Gue udh tau, dan gue juga tau ini bakal terjadi. semenjak Kesya menyuruh gue membuat laporan yang baru, gue langsung menyuruh seseorang buat mengikuti Lo, Maaf kalo Lo tersinggung, tetapi orang yang ingin menghancurkan persahabatan kita pasti orang yang menjadi kepercayaan Lo, atau gue"
Fadil masih menatap Arka tidak percaya, bisa-bisanya dia menjadi tersangka utama.
" Lo pernah bertemu dengan Bimo, dan itu buat gue membuntuti Lo, Dan semua itu ternyata hanya jebakan"
Fadil seperti mengingat-ngingat kembali memorinya, dan benar saja, dia pernah bertemu dengan Bimo 3 hari sebelum proyek tersebut di persentasikan.
"Lo mau tau siapa orang yang ingin membuat kita bertengkar?"
Fadil menatap Arka, tentu saja dia ingin tau.
" Sekretaris Lo, dia yang ingin menjebak Lo" Ujar Arka.
"Gila tu janda, mentang-mentang gue tolak, bisa-bisanya dia nusuk gue" Maki Fadil.
" Gue bakal kasih pelajaran dengan dia" Geram Fadil.
"Gue udah beresin dia, dan Lo tinggal cari sekretaris baru aja lagi. Dan ingat, kali ini jangan lagi Lo goda dia"
Terlihat senyum menyeringai di bibir fadil.
"Lo tenang aja, kali ini gue bakal jadikan seseorang sekretaris gue. Dan kalo dia berani nolak, gue bakal nikahi dia langsung"
Arka menaikkan alisnya sebelah. Seakan bertanya siapa lagi sekretaris Fadil kali ini.
" Gue gak bakal bilang siapa, Lo liat aja besok" Ujar Fadil dan meninggalkan Arka di ruangannya.
Arka tidak mau ambil pusing, jika sekretaris Fadil tetap tidak beres, dia akan memecatnya lagi. Arka mengambil ponsel dan membuat panggilan kepada sang istri. Memberikan kabar gembira yang mana sang istri langsung menyuruh Maid untuk pergi kepasar dan membeli semua barang yang akan di sumbangkannya.
Mami Laura sempat bingung dengan daftar belanjaan Kesya, tetapi setelah Kesya mengatakan kalo itu adalah nazarnya, Mami Laura ikut ingin menyumbangkan uang ke mesjid dan mushalla.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..
__ADS_1