KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 138


__ADS_3

 “Abi tidak akan pernah melepaskan aku, begitu pun sebaliknya. Lagi pula, aku yakin hubungan kalian telah berakhir,”


“Apa ini yang di katakan berakhir?”


Anita memberikan sebuah lembar foto, di mana Abi dan dirinya sedang berciuman. Lebih tepatnya Anita yang mencium Abi.


Quin meremas kimononya dengan semakin kuat. Sekuat tenaga Quin menahan air matanya untuk tidak keluar. Quin tak boleh terlihat lemah di depan Anita. Bisa saja Foto itu adalah rekayasa dari ulah Anita yang ingin menghancurkan hubungan dirinya dan Abi.


“Baiklah, mungkin kamu akan berfikiran jika ini adalah sebuah editan. Tidak masalah. Tapi, bagaimana jika kamu melihatnya secara langsung?” Ujar Anita seolah mengetahui apa yang Quin fikirkan.


Quin mengernyitkan kening.


“Nanti malam, pukul 7, datang lah ke restoran xxx, kamu akan melihat bagaimana Abi menyiapkan makan malam romantis kami.”


Anita berdiri dan meninggalkan Quin yang masih terduduk dengan memandangi foto Abi dan Anita.


“Ah ya, Hanya sebuah saran. Jika kamu menghubungi Abi dan bertanya langsung kepadanya, maka kamu tidak akan melihat kebenarannya.”


Setelah mengatakan itu, Anita benar-benar pergi meninggalkan Quin.


Tes ...


Satu air mata Quin jatuh membasahi tangannya. Benarkah Abi telah membohongi nya?


Quin semakin meremas kimono yang ia gunakan, hingga buku-buku tangannya memutih.


 *


“Quin mana?” tanya Anggel kepada Dessi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Desi merasa perutnya tak beres tiba-tiba. Ia merasa perutnya sangat sakit setelah meminum teh hijau yang di suguhkan oleh pihak salon.


“Aku gak tau, tadi aku meninggalkan Quin di sini.” Desi masih meremas perutnya yang masih terasa sakit.


“Kamu kenapa?”


“Entahlah Mbak, perutku sakit. Sepertinya aku gak cocok minum teh hijau itu.”


Anggel menoleh kearah teh yang tersedia di meja.


 “Masih sakit?”


 Desi menganggukkan kepalanya, namun detk selanjutnya ia langsung berlari untuk kembali ke kamar mandi.


Anggel menghela napasnya, Anggel pun bertanya di mana keberadaan Quin saat ini. Seroang pelayan mengatakan jika Quin sedang berendam di bathup yang sudah berisi susu. Anggel pun langsung menghampiri Quin.


“Quin, kamu gak jadi luluran?” tanay Anggel saat sudah berada di dekat Quin.


Anggel melihat Quin sedang merilekk-kan tubuhnya dengan mata tertutup.


“Lain kali An, aku hanya ingin seperti ini dulu.”


Anggel duduk di pinggiran bathup. “Ada apa Quin? Apa ada masalah?”


Quin menarik napasnya perlahan. “Apa Abi bisa dipercaya?”


 “Maksud kamu?”


 Quin membuka matanya secara perlahan. “Tidak ada.” Quin menampilkan senyum andalannya agar orang lain tidak ikut khawatir dengan apa yang ia rasakan.


“Kamu sedang ada masalah dengan Abi?”


“Tidak,”


“Jangan bohong Quin, aku tahu kamu, tahu banget kamu itu gimana. Mungkin orang lain akan tertipu dengan senyuman kamu, tapi tidak dengan aku. Katakan, ada apa?”


Quin kembali menarik napasnya dan kali ini membuangnya dengan sedikit kasar.


“Apa aku bisa percaya dengan Abi? Apa Abi tak akan menyakiti aku? Seperti yang Jamal lakukan kepada ku?”


“Kamu meragukan Abi?”


“Entahlah, aku ingin menyerahkan hati ku kepadanya, tapi sebelum itu aku ingin benar-benara tahu perasaan Abi kepada ku.”


“Apa ada yang mengganggu fikiran mu?”


Haruskah Quin bercerita tentang kedatangan Anita yang menemuinya tadi? Tidak, Quin tak ingin mmebuat Anggel ikut terbebani. Anggel ikut bersamanya karena ingin menenangkan dirinya dari Martin dan Lana. Mana mungkin Quin tega menambah beban fikiran Anggel lagi dengan masalahnya.


“Tidak, aku hanya merasa belum yakin dengan Abi.”


“Katakan, apa kalian sudah melakukannya?”


 Quin menoleh kearah Anggel. “Melakukan apa?”


“itu ...” Anggel menyatukan ujung jari tangan kanannya dengan ujung jari tangan kirinya.


Quin mengernyit, tak mengerti apa yang di maksudkan oleh Anggel.


“Duh Quin, lelet banget sih, melakukan hubungan suami istri.” Ujar Anggel kepada Quin dengan suara yang terdengar jelas.


Quin langsung membelalakkan matanya dan membungkam mulut Anggel.


 “Jangan teriak-teriak napa? Kal di dengar sama orang gimana? Malu tau.” Geram Quin dengan gigi yang rapat.


 Anggel melepaskan bungkaman di mulutnya. “Dengar pun gak ngerti nya mereka.”


 Quin terlihat berfikir, ‘Iay juga ya, kan mereka beda bahasanya.’


 Desi menghampiri mereka dengan wajah yang pucat.


“Kamu kenapa, Des?” tanya Quin.


 “Diare kayaknya Mbak, sakit banget perut aku.”


Anggel  memegang kening Desi, kemudian memerika denyut nadi nya.


“Kayaknya harus di bawa ke rumah sakit deh.” Saran Anggel.


 “Jangan Mbak, gak mau. Beli obat aja ya, terus ak istirahat di kamar.”


“Bilang aja kalo takut di suntik.” Gerutu Quin.

__ADS_1


Quin dan Anggel pun membersihkan diri mereka dan berganti pakaian.  Mereka juga membantu Desi yang terlihat


lemah.


“Gak usah bilang ke Jo ya Mbak, takutnya fokusnya buyar.”


 “Ya  udah kalo gitu, tapi beneran kamu gak papa kan?” tanya Quin dengan khawatir.


“Iya Mbak, Cuma istirahat bentaran aja kok. Lagian ada buk dokter juga sama kita, “ Ujar Desi sambil melirik ke arah Anggel.


 *


“Nih, minum dulu obatnya,”ujar Anggel sambil memberikan segelas air dan obat.


Desi mengambil gelas dan obat yang Anggel berikan kepadanya dan meminumnya dengan sekali teguk.


“Kalo dalam dua jam ini kamu masih diare, aku terpaksa infus kamu.”


“Aduh, jangan mbak. Aku tiduran aja dulu.”


 Anggel menggelengkan kepalanya, tenaga aja yang monster, tapi sama jarum suntik aja takut.


“Gimana Desi?” tanya Quin yang baru saja masuk kedalam kamar mereka.


 “Udah tidur. Apaan itu?” tanya Anggel sambil menunjuk kearah kantong plastik yang Quin bawa.


“Aku pesan Jjajangmyeon, kamu mau?”


  “Mau dong.”


 Anggel dan Quin pun menikmati mie tersebut sambil menonton film drama korea yang lagi hits saat ini.


 “Enak banget ya, beneran nikmat jika di tambahi timun.”


“Iya, kres kres gimana gitu.”


 “Kalo ada peyek lebih enak lagi, gurih.”


 “Bener-bener, jadi rindu peyek buatan Mami Vina.”


 Quin dan Anggel pun tertawa, sehingga membuat Desi terusik dalam tidurnya.


 “Eh, ke-ganggu ya? sorry ya.”


 Anggel dan Quin merasa bersalah karena tawa mereka yang kencang membuat tidur desi terganggu.


“Apaan tuh Mbak?” Desi mendudukkan dirinya di kursi.


 “Jjajangmyeon. Pingin tawarin kamu, tapi takut perut kamu ngulah lagi.”


“Eh, tapi aku heran deh Mbak, gak biasa-biasanya aku kayak gini. Di rumah, mama kadang juga sering nyuguhi aku teh hijau, tapi aku gak papa tuh.”


“Aku udah suruh orang buat periksa air minum kamu, tapi belum ada kabarnya lagi.” Ujar Anggel kepada Desi.


 “Maksud Mbak?”


“Tadi pas kamu lari-larike kamar mandi, aku cium aroma teh nya, beda gitu dengan teh punya aku, makanya aku suruh orang untuk periksa, takutnya ada sesuatu di campur di dalamnya.”


 Quin langsung mengerti, saat Anita ingin bertemu dengan dirinya, Desi dan Anggel memang tak berada bersama dengannya. Padahal Desi mana pernah lalai dalam mengawasi dirinya dan Anggel. Pasti aja jika ada orang yang ingin bertemu dengan Quin, maka desi juga akan ikut untuk memastikan keamanan Quin.


“Aku? Eeng, kayak nya aku di panggil sama pelayan salon deh, nawarin luluran apa yang ingin aku pakai.”


Sepertinya Anita sengaja ingin bertemu dengan Quin tanpa ada yang ketahui. Apa rencana Anita sebenarnya? Sepertinya Quin tak boleh menuduh Abi berselingkuh sebelum ia melihat apa yang sebenarnya terjadi antara hubungan Anita dan Abi.


 “Enak banget Mbak kayaknya.” Desi menelan ludahnya di saat melihat Anggel memasukkan mie kedalam mulut.


“Enak emang, mau?” tawar Anggel dengan tersenyum jahil.


 “Boleh Mbak?”


“Boleh, tapi kalo diare lagi, aku infus beneran kamu.”


Desi langsung terduduk lemas, yang mana membuat Quin dan Anggel tertawa terbahak-bahak.


 *


 Quin melihat penampilannya dari pantulan kaca. Quin akan membuktikan apa yang di katakan oleh Anita benar atau tidak.  Quin pun melangkah keluar kamarnya dan berpamitan kepada Anggel untuk bertemu dengan


teman lamanya yang sedang mengambil S2 di korea.


 Quin melirik kearah jam tangannya, sudah hampir pukul 7 malam, Quin harus segera melihat apa benar Abi telah menyiapkan makan malam romantis bersama Anita?


 *


“Jo, udah tampan belum?” tanya Abi yang melihat penampilannya dari pantulan kaca yang ada di ruang kerjanya.


 “Perasaan gue kok gak enak ya?” gumma Jo.


“Kenapa?”


 “Lo yakin ketemu Quin tanpa gue?”


“Ya elah, kan aku udah bilang, kamu bisa makan malam sama Desi juga di sana, jadi kalian tetap bisa memantau kami. Ajak Anggel juga, tapi jangan ngiri ya kalo gue sama Quin bakal bikin adegan romantis.”


 “Idiihh ...” Jo bergidik heli melihat Abi yang terlihat bucin kepada Quin.


“Ya udah, gue hubungin Desi dulu suruh siap-siap.”


“Oke deh, Aku cabut ya. Aku gak mau membuat sang pujaan hati menunggu lama.”


Abi pun pergi meninggalkan Jo yang masih sibuk dengan ponselnya.


“Kok gak bisa di hubungi ya? ah, udah lah, samperin aja sekalian gue ganti baju.” Gumam Jo.


Sesampainya di hotel, Jo memencet bel di pintu kamar Anggel dan Desi, tak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan wajah Anggel.


“Desi mana Mbak?”


 “Ada di dalam, masih sakit dia.”


“Sakit?  Sakit apa?”

__ADS_1


Anggel mengerutkan keningnya, “Kmau gak tau Desi sakit?”


Jo menggelengkan kepalanya, Jo mengikuti Anggel yang membawanya ke kamar mereka.


“Des, bangun, ada Jo ni.”


“Hah? Jo?” Desi langsung terduduk dan mendapati wajah Jo yang menatapnya khawatir.


 “Sakit apa?” tanya Jo sambil memegang kening Desi.


 “Sakit diare dia, tadi minum teh hijau, aku udah suruh cek kandungan teh tersebut, tapi sampai sekarang belum ada kabar juga.” Ujar Anggel menjelaskan.


“Kamu kok tumen cepat pulang?” Tanya Desi.


“Oh, Abi mau makan malam romantis dengan Quin. Kita di suruh nyusul ish, tapi di suruh duduk di meja yang berbeda.”


“Makan malam? Abi dan Quin?” tanya Anggel penasaran.


 “Hmm, kata Abi, Quin buat kejutan makan malam romantis untuk mereka berdua.”


“Loh, Quin kok gak ngomong apa-apa ya? lagian pakaian yang Quin pakai terlalu biasa untuk makan malam romantis. Terus, Quin bilang kalo dia mau bertemu dengan teman lamanya yangs edang kuliah di sini.”


 Jo merasa ada yang tak beres, di tambah pemberitahuan tentang kandungan teh hijau yang Desi minum, hasilnya belum juga keluar.


“Mbak yakin Quin bilang bertemu dengan temannya?”


 “Lah? Kamu yakin Abi makan malam dengan Quin?”


 Jo, Desi, dan Anggel pun seketika langsung pandang.


 “Oh Shiit ...” Ujar Jo dan Desi serentak.


Desi langsung loncat dari tempat tidur dan mencari mantelnya.


 “Ada apa?” tanay Anggel yang gak tau apa yang terjadi saat ini.


“Ayo Mbak, nanti aku jelasin di mobil.”


Anggel pun bergegas mengambil mantelnya dan dan juga tas nya. Anggel ikut berlari mengejar Jo dan Desi.


“Woi, tungguin, capek gue.” Pekik Anggel yang sudah mau kehabisan napas. Karena mereka melewat tangga darurat, berhubung lift yang biasa mereka naiki tiba-tiba saja tak berfungsi.


Dengan napas yang ngos-ngosan, Anggel menarik mantel Jo dan langsung loncat ke belakang punggung Jo.


“Gendong, capek Gue.” Pekik Anggel dengan sisa napas dan suaranya.


 Jo memegang kaki Anggel agar tak terjatuh dan kembali berlari dengan menuruni tangga.


“Pelan Jo, gue belum mau mati, gue belum kawin.”


 “Bulan depan kawin sama Martin, Mbak.”


“Sialan Lo.” Anggel menolak kepala Jo dengan pelan.


 Sesampampainya di baseman, Supir yang berada di sana langsung berlari menghampiri Jo dan yang lainya.


“Restoran xxx.” Uajr Jo dengan cepat.


Supir yang berasal dari Korea tersebut pun menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya dengan kecepaatan tinggi.


Jo mengernyit saat melihat mobil yang mereka tumpangi berbelok kerumah sakit. Jo menatap tajam kearah supir, sehingga supir tersebut menelan ludahnya kasar.


 “Aku bilang ke restoran xxx, bukan rumah sakit.”


“Maaf, saya fikir rumah sakit, karena nona itu seeprti sedang kesakitan dalam gendongan anda.” Ujarnya dengan berbahasa inggris.


Jo rasanya ingin sekali melempar supir tersebut ke tengah jalan, jika tak mengingat kalo dirinya tak mengetahui jalan di kota ini.


 “Cepat, ke restoran xxx.” Titah Jo dengan garang.


 Anggel dan Desi sampai menelan ludahnya kasar.


 *


Abi telah tiba di restoran xxx, di mana Quin mengajaknya makan malam romantis. Seorang pelayan yang sudah di bayar oleh Anita untuk menyambut Abi pun langsung menghampiri Abi dan mengantarkannya ke meja yang sudah di reservasi oleh Anita. Tanpa Abi ketahui jika Quin telah berada di sana bersembunyi dan memnatau gerak gerik Abi dari jauh.


 Tak berapa lama Anita datang dan menutup mata Abi dengan kain. Abi yang mencium aroma parfum Quin pun langsung menyentuh tangannya dan melepaskan tangan tersebut dari matanya yang sudah tertutup kain. Abi mencium tangan Anita dan membawa tangan Anita ke dadanya sehingga membuat Anita menunduk dan langsung mencium bibir Abi.


 Quin melihat semua, Quin lihat bagaimana Abi mengecup tangan Anita, menariknya agar bisa menempelkan bibir mereka. Quin melihatnya sehingga membuat dada Quin bergemuruh menahan emosi yang siap di ledakkan.


 Braaakk ... Prang ...


 Abi terkesiap saat merasakan meja di hadapannya bergeser dengan kasar, begitu juga dengan suara pecahan kaca. Abi menarik kain penutup matanya dan melihat wajah Quin yang sudah memerah karena emosi dan menatapnya tajam.


“Brengsek, Bajingan,” maki Quin penuh dengan amarah.


 Abi yang linglung pun akhirnya dengan cepat menyadari situasi apa yang terjadi saat ini. Abi melihat jika wanita yang di ciumnya adalah Anita, bukan Quin.


 Abi berdiri dan ingin menghampiri Quin, namun Quin menunjukknya dan menyruhnya berhenti,


 “Jangan mendekat.” Pekik nya dengan air mata yang berlinang.


Hati Abi yang melihatnya pun terasa sakit.


“Quin, aku jelaskan.”


 Byuurr ...


Quin menyiram air ke wajah Abi.


 “Persetan dengan penjelasan mu, B*jingan.”


**


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


 jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2