
"Di sini restorannya yang punya seiman dengan kita loh." ujar Lana saat mereka sudah berada di restoran yang tak jauh dari apartemen.
"Benarkah?"
“Dan di sini juga makanan khas India-nya lengkap. Apapun yang kamu inginkan tersedia disini, rasanya juga sangat nikmat,” jelas Lana.
“Oh ya? hmm, jadi aku tak akan susah mencari makanan khas India lagi”
“Kamu tau, pemilik restoran ini adalah orang Indonesia.” Ujar Lana yang mana membuat Anggel semakin tertarik.
“Benarkah? Wow, sungguh luar biasa. Orang Indonesia bisa bersaing untuk membuat makanan Khas India yang terkenal. Tapi, kenapa ia tak membuka restoran Indonesia saja?”
“Coba kamu lihat menunya.” Lana menunjuk kearah buku menu yang tersedia di atas meja.
“Woow, ini luar biasa, ada rendang daging di sini. Keren dah.” Ujar Anggel dengan takjub.
"Hmm, nanti aku akan mengenalkannya dengan mu." Ujar Lana.
Anggel membuka mulutnya. “Kamu mengenal pemilik restoran ini?” tanyanya dengan takjub
“Hmm, dan kamu juga mengenalnya.”
“Masa sih? Siapa? Aku jadi penasaran.” Tanya Anggel.
“Rahasia, ia mengundang kita untuk makan malam di sini. Dan nanti malam, kamu harus terlihat sangat cantik dan menawan.”
“Hmm, baiklah. Bisa kita pesan sekarang? Perutku sudah meronta untuk minta di isi. Semalam pangeran kodok menyusu bagaikan tak ada hari esok,” bisik Anggel diakhir kalimatnya yang mana membuat Lana tertawa.
Lana pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka, tak buruh waktu lama untuk pesanan Anggel dan Lana datang, karena mereka hanya memesan roti parote, yang biasanya di jadikan menu sarapan oleh warga India.
“Emm, ini beneran enak, pas banget dengan rasa aslinya.” Ujar Anggel dengan mulut yang penuh.
“Beneran ‘kan enak? Nanti malam kita bakal minta di hidang menu khas India yang kamu inginkan.”
“Aku maunya banyak kok.”
“Gak masalah, kapan lagi morotin yang punya restoran.” Ujar Lana yang mana membuat Anggel terkikik geli. Ia semakin penasaran, sebenarnya siapa sih pemilik restoran ini?
Setelah sarapan, Lana mengajak Anggel untuk melihat-lihat kampus mana yang ingin di jadikannya untuk melanjutkan pendidikannya. Anggel merasa takjub dengan warga India yang masih menjungjung tinggi budaya mereka, terutama dengan cara pakaian merekak yang sehari-hari, yang masih memakai pakaian adat mereka.
Anggel pun tertarik untuk menggunakan pakaian india berupa anarkali dan salwar kameez. Pakaian tersebut tidak memamerkan bagian tubuh pada perut yang menampakkan pusar. Bisa Anggel pastikan jika Lana akan mengamuk jika ia memakai baju tersebut.
“Lana, kamu kapan mulai syuting?” tanya Anggel saat mereka baru saja mendaftarkan pendidikan lanjutan untuk Anggel.
“Kenapa? Kamu ingin bertemu dengan Om Hrithik?” ujar Lana sambil menekan dengan jelas kata ‘Om’.
Anggel terkikik dan menganggukkan kepalanya. “Aku penasaran, apa dia se hot yang di Tv?”
“Lupakan, aku tidka akan mengajak kamu bertemu dengannya.” Ujar Lana dengan nada ketusnya.
“kenapa? Ayolah, aku tidak akan jatuh cinta dengannya. Aku hanya mengaguminya saja.”
“Ah, nanti kamu minta makan malam lagi sama dia, atau dia akan mengajak kamu makan malam dengan alasan kamu ini istri aku, dan haru smenjamu tamu degan baik.”
Anggel semakin terkiki. “Bukankah itu bagus? Jadi kita bisa menikmati makanan India dengan gratis.”
“Uang ku masih banyak untuk membeli makanan enak untuk kamu,” ujar Lana.
“Baiklah tuan produser yang terhormat, bisakah kamu membelikan istrimu ini baju seperti itu?” Anggel menunjuk kearah berberapa warga India yang menggunakan baju khas mereka.
“Tentu, Ayo ...” Lana menggenggam tangan Angel dengan mesra.
*
Abi merasa takjub melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Quin benar-benar luar biasa. Tak hanya suka dengan hewan buas seperti singa dan juga olahraga memanah, Quin juga pintar dalam menunggang kuda. Lihatlah, Quin bagaikan sudah sangat ahli daam berkuda.
Senyumnya terus mereka di saat kuda itu membawanya berlari mengitari lapangan. Rencana Abi untuk menunggang kuda dengan romantis pun gagal. Quin-nya lebih ahli dari yang ia fikirkan.
Abi memberikan tepuk tangan kepada Quin saat istri cantiknya itu berjalan kearahnya.
“Woow, kamu benar-benar luar biasa, Quin. Kamu sungguh hebat,” ujar Abi.
“Terima kasih, Aku fikir tadi kamu juga akan menunggang kuda bersama ku.”
“Tadinya sih gitu, Aku mau menunggang kuda yang sama dengan mu. Mau ngajarin kamu naik kuda, eh rupanya kamu lebih jago dari aku,” ujar Abi sambil terkekeh geli.
“Masa sih? Tau gitu aku pura-pura gak bisa naik kuda deh.” Quin pun juga ikut terkekeh bersama Abi.
Setelah puas bermain, mereka pun mampir di sebuah restoran untuk mengisi perut mereka. Banyak pasang mata yang melihat kearah mererka, bahkan terang-terangan mengatakan jika Quin terlihat sangat cantik sekali. Pastinya itu membuat Abi tak suka dan sengaja duduk merapat kepada Quin, seolah mengatakan jika Quin adalah miliknya.
“kenapa?” tanya Quin yang melihat gelagat aneh dari Abi.
“Mereka melirik kamu seolah ingin memakan kamu. Aku gak rela.” Ujarnya dengan wajah sendu.
Quin pun tersenyum dan membelai wajah Abi. “Kamu harus percaya sama aku, jika aku hanya mencintai kamu.”
“Aku percaya, tapi aku gak iklas aja mereka lihatin kamu kayak gitu”
Quin hanya tesenyum, “haruskah aku berada di rumah saja dan tidak keluar rumah?” tanyanya.
“Tidak, kamu bebas kemana pun yang kamu inginkan. Bahkan aku akan meluangkan waktuku sebisa mungkin untuk menemanimu.”
“Benarkah? Terima kasih, aku sungguh terharu.” Quin memeluk lengan Abi dengan manja.
Ah, betapa bahagianya Abi saat ini, Quin bermanja di hadapan orang ramai. Ini yang Abi inginkan, ingin memperlihatkan keromantisan mereka agar mata-mata yang melirik kearah istri tercintanya itu pun tak lagi melihat kearahnya.
Pesanan mereka pun tiba, Quin makan dengan lahapnya, begitu pun dengan Abi. Bahkan mereka sampai saling suap-suapan. Ah, membuat iri saja. Setelah kenyang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untk berkeliling-keliling kota. Melihat pemandangan senja, di mana matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Kemudian
seluruh kota di terangi dengan lampu-lampu yang begitu indah.
*
Anggel telah berpakaian dengan cantik. Ia memakai baju arnakali yang dibelikan oleh Lana tadi. Malam ini mereka akan makan malam bersama si pemilik hotel.
__ADS_1
“Hai, apa aku membuat kalian menunggu lama?” uajr seorang wanita.
Anggel yang merasa tak asing dengan suara tersebut pun langsung menoleh. Betapa terkejutnya Anggel saat melihat teman sekolah menengah pertamanya lah si pemilik Restoran.
“Lusi?” pekik Anggel.
“Yes, I’am.”ujar Lusi sambil merentangkan tangannya.
Anggel pun langsung memeluk sahabatnya pada masa bangku sekolah menengah pertama tersebut.
“Kamu menghilang tanpa kabar, eh gak taunya kamu di sini?” uajr Anggel.
Lusi terkekeh, “Aku menikah dengan suamiku saat duduk di bangku sekolah menengah awal, makanya aku tak menyambung lagi sekolahku.”
“Aku fikir kamu menghilang ke mana. Hmm, tapi syukur deh, aku lihat kamu bahagia seperti ini.” Ujar Anggel tulus.
“Tentu, but the way, kamu kok bisa sama Lana? Bukannya Lana itu cinta mati banget ya sama Quin?” tanya Lusi, yang awalnya sungguh terkejut saat Lana mengatakan jika dirinya akan menikah dengan Anggel.
Saat pertama kali Lana ke India, Lana tak sengaja bertemu dengan Lusi, di sana mereka banyak bercerita, hingga akhirnya Lana pun curhat tentang Anggel dengannya. Lusi menyarankan kepada Lana agar memperjuangkan cintanya. Maka dari itu Lana mengejar Anggel ke Korea saat mengetahui Anggel ikut bersama Quin dan Abi.
“Ceritanya panjang, gimana kalo kita bertemu lagi besok?” usul Anggel.
“Baiklah, besok kamu kesini, aku akan ajak kamu jalan-jalan.”
“Oke, setuju.”
“Sekarang, mari kita nikmati hidangannya. Ayo, Lana mengirimkan pesan kepada ku, katanya kamu sangat ingin memakan masakan khas india.” Ujar Lusi.
“Ya, Aku suka kuliner.”
“kamu gak berubah, makan mu banyak tapi tubuhmu tetap segitu-gitu aja. Lah aku, makan dikit naiknya banyak.”ujar Lusi, yang mana membuat Anggel ikut tertawa.
Lana yang melihat Anggel dan Lusi tertawa pun ikut bahagia. Lusi ini memang teman baik Anggel semasa mereka duduk di bangku sekola menengah pertama, hingga mereka duduk di bangku sekolah menengah awal. Namun keluarga Lusi yang bangkrut pun, membuat Lusi tak terlihat di sekolah dan menghilang tanpa kabar.
Anggel sudah pernah mencari keberadaan Lusi, namun Lusi memang menghilang tanpa kabar. Bersyukurlah Lana bertemu dengan Lusi di India, jadi setidaknya Anggel bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya itu.
*
“Kamu senang?” tanya Lana, saat ini mereka sudah berada di apartemen.
“Hm, terima kasih, Na.” Anggel pun memeluk sang suami.
“Sama-sama. Aku akan ikut bahagia jika melihat kamu bahagia.” Ujar Lana.
“Kebahagiaan ku selalu ada bersama kamu.”
“Terima kasih karena telah mencintai aku sbeesar ini, An.”
“Terima kasih karena sudah memperjuangkan Aku dan menikahi Aku. Terima kasih juga karena telah membalas perasaan Aku selama ini.”
“Aku mencintai kamu, An.”
“Aku juga mencintai kamu, Na. Sangat.”
*
Quin sesekali ikut ke kantor bersama Abi, di saat Abi dengan manja meminta istri nya itu ikut, padahal pekerjaan Abi sangatlah banyak, tapi ia memaksa Quin untuk ikut kekantornya, dengan alasan agar Quin menjadi
penyemangatnya nanti.
“Abi, apa masih lama? Aku lapar.” Ujar Quin dengan manja.
Abi menoleh kearah pergelangan tangannya, masih pukul 10 dan Quin sudah merasa lapar?
“Kamu mau apa? Bair aku suruh sekretaris memesankannya.” Ujar Abi dan sudah mengangkat gagang telponnya.
“Apa saja, yang penting jangan nasi. Aku ingin makanan yang bisa di jadikan untuk mengganjal perut.” Ujar Quin.
“Hmm, baiklah, bagaimana jika roti?”
“Terserah kamu.”
Abi pun membuat panggilan telpon dengan sekretarisnya dan memesan beberapa cemilan yang mengenyangkan. Setelah mengatakan pesananya, Abi pun berdiri dan berjalan mendekati sang istri yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
“Quin, Kamu tak ingin membuat kue di ruangan ku?” ujar Abi setelh mendudukkan tubuhnya di sofa, lebih tepatnya berada di samping Quin.
“Aku sebenarnya ada kefikiran kesana. Aku ingat janji kamu untuk menyediakan perlengkapan memasak di ruangan kamu, tapi aku ragu untuk bertanya.” Uajr Quin yang sudah menyandarkan kepalanya di dada Abi.
“Aku sudah menyiapknya, tapi belum di pasang aja di ruangan ini. Kalo kamu mau,besok aku akan menyuruh mereka langsung memasangnya. Kebetulan besok aku libur, dan kita bisa jalan-jalan.”
“Ide bagus, jika begitu aku bisa terus menempel kepada mu. Jujur saja, aku tak menyukai sekretarismu itu.” Ujar Quin dengan pelan.
“Kenapa?”
“Dia memandangmu seolah sedang menikmati tubuh telanjangmu, aku tak suka.”
“Apa aku harus memecatnya?”
“Tidak, aku yakin dia pasti butuh pekerjaan. Em, apa tidak bisa di ganti dengan yang pria?” tanya Quin.
“Dan membiarkan dia menatap kamu seolah sedang menikmati tubuh telanjangmu? Tidak, aku tidak setuju.” Protes Abi.
“Lalu? Jika begini Aku yang cemburu.”
“Bukankah kamu akan ikut ke kantor setiap hari denganku? Maka dia tak akan berani untuk menggodaku.” Ujar Abi.
“Hmm, Baiklah, tapi kamu harus janji untuk tidak tergoda.” Uajr Quin degan manja.
“Bukankah Aku sudah berjanji kepada m, My Quin? Jika Aku tak akan pernah berpaling lagi dari mu, dan mengabdikan seluruh hidupku kepadamu.”
“Aku percaya.”
Tak berapa lama pintu ruangan Abi di ketuk, Abi menyuruh orang yang mengetuk tersbeut untuk masuk, sehingga muncullah sekretaris Abi yang menurut Quin centil itu.
__ADS_1
Quin sengaja memeluk lengan Abi dan menyandarkan kepalanya dengan mesra, Abi pun tak segan untuk mengecup kening Quin. Terlihat jika sekretaris centil itu kesal, ia pun bergegas keluar dari ruangan Abi setelah meletakkan makanan yang di pesan oleh Abi.
Dengan mata yang berbinar Quin mengambil sepotong cake dan mencobanya.
“Emm, ini sungguh enak.” Gumamnya dengan mulut yang penuh.
“Pelan-pelan sayang makannya.” Ujar Abi sambil mengusap bibir Quin yang sedikit belepotan tersebut.
*
Anggel baru saja selesai mandi, dengan rambut yang di gulung dengan handuk di atas kepalanya, menandakan jika Anggel baru saja keramas, dan itu membuat Lana menaikkan alisnya sebelah. Sepertinya Lana harus izin hari ini untuk tidak pergi ke lokasi syuting.
Lana berjalan mendekati Anggel yang sedang menggunakan handbody. Anggel pun memekik terkejut saat Lana menggendonyaala bridal style.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya panik.
“Kamu sudah sangat wangi, apa kamu sudah bersih?”
Anggel tahu apa yang di maksud oleh Lana. Anggel pun menganggukkan kepalanya secara perlahan sehingga terbitlah senyum di wajah Lana.
“jadi, bisakah aku memasukan adik kecilku kedalam sangkarnya?” uajr Lana dengan nada yang sensual dan menggoda.
Dengan wajah yang merona, Anggel mengecup bibir Lana.
“Aku milikmu.” Bisiknya dan kembali menciumi bibir Lana.
Lana membalas ciuman Anggel dengan lembut. Tanpa memisahkan tautan bibir mereka, Lana membawa
Anggel ke tempat tidur dan membaringkannya di bawah kungkungannya.
Ciuman yang lembut pun perlahan menjadi panas dan semakin panas. Lana menarik kimono handuk
milik anggel dan mulai menikmati jeli kenyalnya. Hingga ciuman itu semakin turun dan semakin turun hingga sampailah ke bagian inti milik Anggel di bawah sana.
Anggel memekik geli serta nikmat saat Lana menciumi dan menguasi bagian inti bawahnya. Hingga Anggel akhirnya melepaskan sesuatu yang terasa nikmat ia rasasakan. Ini pertama kalinya Anggel merasakan hal itu, begitu pun dengan Lana. Ini adalah yang pertama kali nya ia melakukan hal yang sudah seminggu lebih lalu ingin ia lakukan.
“An, aroma mu sungguh nikmat, aku sangat menyukainya.”
Anggel dengan wajah yang memerah hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Jangan di tutup, aku sangan menyukai wajahmu itu.” Uajr Lana sambil menyingkirkan tangan Anggel.
Anggel menggigit bibirnya, yang mana di mata Lana adalah, Anggel menggodanya saat ini. Anggel sugguh terlihat cantik dengan keringat yang membasahi wajahnya dan rambutnya.
“Aku akan memasukimu sekarang, kamu siap?” tanya Lana.
“Hmm, tapi pena-pelan, aku takut sakit.” Uajr Anggel dengan suara paraunya.
“Kata orang, awalnya memang akan sakit, tapi lama-lama akan terasa nikmat. Jika tidak nikmat, mana mungkin banyak orang yang ketagihan untuk melakukannya.”
“Hmm ...” Anggel hanya menjawab dengan gumanan.
Lana sudah memposisikan adiknya yang berdiri dengan girang. Dan ...
Bluss ...
Akhh ...
Anggel mencakar punggung Lana dan menggigit bahu Lana. Ini sungguh sakit dan terasa penuh. Lana menciumi bibir Anggel dengan lembut, serta memberikan kecupan-kecupan halus di sekujur leher Anggel.
Perlahan, Lana menggoyangkan pinggulnya, membuat Anggel meringis sakit, namun tak berapa lama ringisan tersebut pun berganti dengan desshn nikmat yang menggoda di telinga Lana.
“Yaah, teruslah menjeritkan namaku.” Bisik Lana di setiap pelepasan Anggel.
*
Lana mengusap peluh keringat yang ada di dahi Anggel. Mereka telah sampai kepuncaknya masing-masing.
“Apa masih sakit?” tanya Lana sambil membenarkan anak rambut Anggel.
“Hmm. Sedikit, kenapa?” Anggel mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Lana.
Anggel mengernyitkan keningnya saat merasakan sesuatu yangbergerak dan mengeras di bagian pahanya.
Anggel membesarkan matanya dan si sambut dengan senyuma oleh Lana.
“Adikku menginginkannya lagi, apa boleh?”
Dengan wajah yang bersemu merah, Anggel pun mengangukkan kepalanya
“Tapi pelan-pelan ya, masih sakit.”
“Hmm, baiklah.”
Tanpa menunggu lama, Langsung saja Lana memberikan pemanasan aagr menaikkan gairah Anggel dan
membuat intinya menjadi basah dan lembab.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1