
"Akkhhh...."
Anggel menggeram dan mengacak rambutnya, yang mana membuat Quin terkejut dan menatapnya dengan heran. Wanita yang ada di hadapan Quin saat ini bukanlah wanita yang biasanya ia kenal. Wanita yang ada di hadapan Quin bagaikan orang lain yang menyerupai Anggel. Anggel tak pernah berpenampilan acak-acakan seperti ini, bahkan Anggel selalu terlihat modis di antara dirinya, Kayla, dan Raysa.
"Sebegitu frustasinya kah kamu An?" Lirih Quin.
"Kamu dulu pernah mengalaminya, Quin. Aku hanya mengingatkan kalo kamu lupa." Ujarnya dengan dingin.
"Waah, lihatlah. Aku sampai tak mengenal wanita yang dudukdi hadapanku ini. Apa kamu melewati kuburan dan lupa untuk mengucapkan salam?"
Anggel menatap Quin dengan jengkel. "Ya, dan ketika hari sudah gelap, aku akan terbang ke pohon dan menakuti mu."
"Uuuhh, aku takut."
Anggel mencebikkan bibrinya, namun tidak dengan Quin yang sudah tertawa terbahak-bahak.
Pintu kaca itu pun terbuka dan menampilkan Kayla dan Zein yang datang bersamaan dengan tangan yang salingbertautan. Anggel langsung memutar bola matanya malas, yang mana membuat Quin semakin tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa?" Tanya Kayla yang tadinya ingin duduk di dekat Anggel namun di tarik oleh Zein untuk duduk di sebelahnya.
Kayla pun menatap Zein dengan bingung.
"Jangan dekat-dekat dia, lagi jadi macan betina kelaparan." bisik Zein yang mana membuat Kayla dan Quin yang juga mendengarnya tertawa. Sedangkan Anggel semakin kesal dan menggerutu tak jelas.
Tak berapa lama pintu kembali terbuka dan menampilan Fatih dengan senyum lebarnya.
"Nape lo?" tanya Zein.
"Biasalah, baru selesai video call-an dengan pujaan hati."
"Ini lagi, uughhh ..." Anggel kembali meggeram.
"Idih, yang lagi putus cinta sirik aja die." ejek Fatih dan duduk di sebelah Anggel.
Anggel mencipitkan matanya menatap Fatih tak suka.
"Jangan ngambek," Fatih pun membelai kepala Anggel dengan sayang.
"Hiks ...."
Tiba-tiba saja Anggel menangis dan langsung memeluk Fatih. Dengan senang hati Fatih membiarkan Anggel membasahi bajunya dengan air mata. Quin, Kayla, dan Zein pun terdiam melihat pemandangan di depannya. Anggel menangis dengan tersedu-sedu, tangis yang terdengar sangat memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
"Kenapa aku gak bisa bahagia dengan orang yang aku cinta? hiks ... Salah aku apa? kenapa Tuhan kejam banget dengan aku."
"An, kamu gak boleh menyalahkan Tuhan untuk hal ini. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kamu. Ingat An, terkadang apapun yang kita inginkan, belum tentu itu yang terbaik untuk kita." ujar Quin yang sudah mengelus punggung Anggel.
"Kamu tau kan Quin, selama ini cuma Lana yanga da di hati aku. Au emang pernah pacaran sama Adit, tapi kau tau kan jika aku tak bisa mencintai dia. Bahkan hubungan aku dan Adit terbilang cukup lama, tapi tetap aja aku gak bisa mencintainya. Dan kamu tau kan Fat, seberapa berusahanya aku untuk melupakan Lana. Aku sampai ikut konsultasi dengan kamu ke psikolog, tapi hasilnya apa? Aku tetap gak bisa melupakan Lana."
Quin, Kayla, dan Zein terkejut mendengar ungkapan Anggel. Mereka tak pernah tahu jika Anggel pernah melakukan konsultasi ke psikoog bersama Fatih hanya untuk melupakan Lana.
Quin menatap ke arah Fatih dan bertanya melalui mata nya, apakah yang di katakan Anggel itu benar?
Mengangguknya kepala Fatih membuat Quin, Kayla, dan Zein menghela napasnya dengan berat. Mereka merasa menyesal karena telah menggoda Anggel tadi.
*
Anggel sedang mem-packing baju-bajunya kedalam koper di saat Oma Mega masuk kedalam kamarnya.
"Loh, kamu mau kemana, An?"
"Ke Korea."
"Sama siapa?"
"Quin,"
"Quin? ada urusan apa?"
"Temanin Abi kerja, jadi Quin ngajak Anggel untuk menemani dia."
"Kerjaan kamu gimana?"
"Bentar lagi juga Anggel bakal nikah sama orang kaya raya, jadi ngapain Anggel capek-capek kerja cari duit?"
"An, kamu marah sama Mami?" tanya Oma Mega dengan lirih.
__ADS_1
"Hmm, Anggel gak tau apa yang Anggel rasakan saat ini. Anggel rasa marah sekaligus Anggel juga tak berhak marah kepada Mami. Anggel tau bagaimana besarnya usaha Mami untuk melahirkan Anggel. Jadi Anggel merasa tidak berhak untuk marah ke Mami. Anggel hanya gak tau harus bersikap bagaimana, Anggel kesal, Anggel marah, seharusny Anggel gak usah jatuh cinta dengan siapapun. Tapi bukan kemauan Anggel untuk jatuh hati kepada Lana. Dari awal, Anggel sudah tahu jika perasaan Anggel ini salah, tapi Anggel gak bisa mengontrol perasaan Anggel ke Lana. Semakin Anggel ingin melupakan Lana, semakin besar pula rasa Anggel ke Lana. Hiks .."
Oma Mega pun menangis mendengarkan keluh kesah sang putri.
"Maafin Mami, sayang. Karena keegoisan Mami, kamu jadi menderita seperti ini. hiks ... Mami akan batalkan perjodohan kamu dengan Martin. Mami akan datang ke rumah Mama Puput dan meminta Lana untuk menjadi suami kamu. Mami akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu, sayang. Maafin Mami."
"Udah terlambat Mi, Hiks ... Mama Puput sudah melamar seseorang untuk Lana. Dan sepulangnya Lana dari INdia, mereka akan bertunangan dan menikah."
"Mami kan mencoba untuk membujuk Mama Puput. Semua ini karena kesalahan Mami, Mami rela kok untuk mengemis kepada Mama Puput demi kebahagiaan kamu."
"Jangan Mi, Anggel gak mau Mami sampai merendahkan diri seperti itu. Biarlah Mi, mungkin memang jodoh Anggel bukan bersama Lana, melainkan bersama Martin. Anggel akan berusaha untuk mencintai Martin. Mungkin Anggel akan bahagia seperti Quin." Anggel membenarakn posisi duduknya dengan menghapus air mataya yang kembali mengalir.
"Mami lihat sendiri kan, Quin yang awalnya menolak untuk menkah dengan Abi, tetapi saat ini dia terlihat sangat bahagia. Mungkin Anggel suatu saat nanti akan merasakan hal yang sama seeprti Quin. Semoga saja."
"An---"
"Anggel hanya perlu waktu untuk menyendiri Mi, izinkan Anggel pergi. Setidaknya Mami tau jika Anggel pergi bersama Quin."
"An, jika kamu tak ingin menikah, Mami akan membatalkannya."
"Sudahlah Mi, Biarkan saja. Anggel lelah. Bisakah mami membiarkan Anggel sendiri saat ini? maaf Mi, bukannya mengusir Mami dari kamar Anggel, hanya saja Anggel sangat lelah karena terus-terusan membahas ini. Anggel sudah mencoba untuk iklhas menerima takdir Anggel."
"Maafin Mami, sayang. Maafin Mami."
"Udah Anggel Maafin kok, Mi." Anggel tersenyum dengan tulus.
Ya, Anggel memutuskan untuk menerima takdirnya yang harus di terimanya. Mencintai namun tak bisa memiliki.
*
"Ma, ada yang mau Quin sampaikan." Quin menghampiri sang Mama yang tengah bersantai sambil menonton film bersama papa arka.
"Ya sayang, sini duduk."
Quin dan Abi pun duduk di sofa yang kosong.
"Quin dan Abi lusa besok akan berangkat ke Korea. Abi ada pekerjaan di sana beberapa minggu. Quin pergi untuk menemani Abi, Ada anggel juga yang ikut."
"Anggel ikut?"
"Apa Anggel tak akan mengganggu bulan madu kalian?" tanya Papa Arka.
"Ih Papa, kami gak pergi bulan madu kok. Quin hanya menemani Abi bekerja. Saat Abi kerja, Quin dan Anggel akan jalan-jalan."
"Hmm, apa Anggel baik-baik aja?" Tanya Mama kesya.
"Itu dia Ma, Anggel lagi stres banget. Anggel bilang, kalo Mama PUput sudah melamar seorang gadis untuk Lana."
Mama Kesya dan Papa Arka saling pandang, kemudian mereka tersenyum dengan penuh arti.
"Ya sudah, kamu jaga Anggel baik-baik di sana ya. Pokoknya jangan sampai Anggel gak makan. Perawatan juga kalian di sana, biar pulangnya Anggel cantik. Kan sebentar lagi Anggel mau nikah."
"Iya Ma, rencana sih gitu."
"Ya sudah, kalo gitu kalian beristirahat aja sekarang. Papa sama Mama mau pacaran dulu." Ujar Papa Arka sambil merangkul bahu Mama Kesya agar semakin mendekat ke arahnya.
"Ih Papa, ya udah deh. Quin dan Abi balik ke kamar."
"Bye sayang." ujar Papa Arka sambil melambaikan tangannya.
"Kamu ini Mas, suka benget bikin Quin kesal."
"Lah, kan emang kita mau pacaran kan?"
"Udah tua Mas." ujar Mama Kesya sambil memutarkan bola matanya malas.
"Tapi masih kuat kan?" Ujar Papa Arka sambil menaik turunkan alisnya.
"Ihh, dasar mesum.'
"Tapi kamu suka kan di mesumin aku?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
__ADS_1
"tergantung berapa rondenya."
"Duuh, gemes deh. pindah kamar yuk.."
"Gendong yaa .."
"Yook Lah..." Papa Arka mematikan televisi dan langsung menggedong Mama Kesya dengan ala bridal style menuju kamar mereka.
*
"Papa orangnya kocak juga ya," Ujar Abi sambil terkekeh."
"Ih, kamu belum tau aja. Papa itu jahil banget orangnya. Masa ya, aku lagi berenang, trus papa Papa pura-pura sakit perut hingga gak tahan lagi untuk buang air besar. Terus Papa ngeluarinnya di kolam berenang. Aku yang lagi renang ya otomatis langsung naik dong, jijik banget tau. Eh, Papa dan Veer malah ketawa terbahak-bahak. Jahil banget kan."
Abi tercengang mendengar cerita Quin. "Masa sih?"
"Iya, emang sih yang Papa keluarin itu bukan pup beneran, tapi tetap aja aku jijik. Sampe-sampe nih ya, aku gak mau renang lagi di kolam itu. Terus kalo renang di kolam renang rumah kakek, aku gak mau rennag bareng Veer atau pun Papa. Nyebelin kan."
Fokus Abi bukan lagi kepada cerita Quin, melainkan ke bibir Quin yang terus bergerak dan menggodanya.
"Iya, nyebelin." Ujar Abi dengan mata sayu nya dan bergerak perlahan mendekati Quin.
Quin yang belum menyadari gerakan Abi terus saja bercerocos dan bercerita tentang kekesalannya pada Papa Arka dan Veer. Hingga Quin terkesiap di saat tangan Abi sudah menyentuh bibirnya dengan jempolnya.
"A-abi ..." Ujar Quin dengan terbata dan menatap wajah Abi yang sudah berubah sayu.
"Hmm? bolehkah? dia terus menggoda ku." bisik Abi di depan wajah Quin.
Quin pun perlahan menganggukkan kepalanya, dan detik selanjutnya bibir Abi sudah menempel di bibir Quin. menikmati benda kenyal dan manis itu dengan lembut dan tak pernah merasa puas untuk mencec*p nya dalam waktu yang sebentar.
Merasa sudah cukup dan takut kebablasan hingga melupakan janji nya kepada Quin, Abi pun menghentikan ciumannya dan mengakhirinya dengan mengecup kening Quin dengan lama dan penuh cinta.
"Selamat tidur, My Quin." bisiknya
"Selamat tidur, Abi." Quin memeluk tubuh Abi dan menenggelamkan kepalanya di dalam dada Abi.
*
"Korea, Kami dataaaang ....."seru Quin dan Anggel di saat mereka baru saja turun dari pesawat.
Desi dan Jo yang juga di tugaskan untuk menjaga mereka pun hanya menggelengkan kepalanya melihat Quin dan Anggel yang merasa jika diri mereka masih remaja dan seolah-olah ini adalah yang pertama kalinya mereka ke luar negeri.
"Des, Jo, awas aja kalo kalian berani nginap bareng." Ujar Quin yang tak sengaja pernah melihat Jo memeluk Desi dan menciumnya.
Penasarankan kapan kejadian itu, nah kejadiannya pas saat di rumah sakit. Saat Desi ingin di lecehkan oleh Riko. Nah, di sana lah Jo mengatakn jika dirinya mengugkapkan cinta. Selama ini sih mereka ya sama seperti Fatih dan Raysa yang bagaikan tom and jerry kalo berjumpa. Gak bisa bayangin deh gimana kalo mereka menikah dan puny anak. Haduuh, bisa jadi agen FBA atau CIA tuh anak-anak mereka.
"Masih takut dosa gue, Quin." Ujar Jo sambil melewati Desi, Quin, dan Anggel.
"Bagus lah kalo gitu."
Anggel yang terkejut mendapatkan berita itu hanya menatap Desi dengan mulut terbuka dan siap mengeluarkan kata-katanya.
"Iya, gue pacaran sama Jo. Ujar Desi sebelum Anggel mengeluarkan suaranya.
"Huaaaaaaa ..... makan-makan, Jo yang traktir." pekik Anggel yang mana membuat Jo menjatuhkan tas yang di pegangnya.
"Yah, sultan minta traktir dengan rakyat jelata." gumamnya.
Yuukkk..
follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1