KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 20


__ADS_3

Mata Quin sudah berbinar saat menanda tangani kontrak dengan Abi, untuk penitipan jangka panjang perliharaan ya, Berbi, si ular piton.


" Dasar sultan kere, begitu dibilang discon langsung berbinar.." Gerutu Lana yang di dengar oleh Anggel.


Anggel hanya tersenyum menanggapi ucapan Lana, bagi Anggel, suara Lana bagaikan angin yang berhembus sepoi-sepoi.


" Udah?" Tanya Lana saat melihat Quin memegang surat kontrak penginapan milik Berbi.


" Heum, lumayan buat jajan.."


" Dasar kere.."


" Biarin.. wwekk.."


" Nona Qila.."


Quin berbalik melihat Abi. " Ya?"


" Emm, apa anda masih marah dengan kejadian tadi?"


Teeng..


Ni si Abi ngapain coba ingatin kejadian yang udah dilupain Qila.


" Kenapa? Dokter mau tanggung jawab? Mau nikahi saya gitu?"


Abi mengerjap. ' Ni Cewek rada kurang beres kali ya..'


" Gak, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin___."


" Udah Dok, gak usah di bahas. Dokter tenang aja, saya gak bakal minta dinikahi kok sama Dokter."


Abi kembali mengerjapkan matanya. 'siapa yang mau nikahi dia? Fix, ni cewek kurang beres.'


" Nona Qila, Saya Cuma mau minta Maaf sama kamu, soal kejadian tadi. Saya benar-benar minta maaf. "


Quin tertawa kecil. " Iyaa, saya udah maafin kok. Dan satu hal lagi, tolong jangan bahas masalah itu lagi, itu membuat saya kesal."


Quin tersenyum. ", Titip Berbi ya Dok, permisi.."


Dan Quin melenggang keluar tanpa memperdulikan tatapan cengo dari Lana, Anggel, dan Abi.


" Ha..ha.. Qila emang gitu dia Dok. Maafin Qila yaa.." Anggel masih merasa tidak enak dengan Dokter Abi karena sikap Quin.


.


.


" Quin, kamu jangan begitu dong dengan Dokter Abi. Aku gak enak tau.."


" Apaan sih An, gak usah bahas dia deh. Aku masih kesal tau." Quin menimbang bahan yang akan di olahnya hari ini.


" Ya tapi kamu seharusnya juga minta maaf dengan dia. Kamu numpuk dia sampai benjol loh."


Quin meringis, tidak tega sebenarnya saat melihat kening Abi benjol, namun mengingat kembali wajah Abi yang yang tidak menyirat rasa bersalah membuatnya kembali kesal.


"Biarin aja, mulut dan ekspresi gak mencerminkan hal yang sama."


" Quin.. Hmm.. " Anggel tidak tau berkata apa lagi. Jika Quin sudah kesal, sudah, sifat ratunya pun keluar.


" Masih merajuk?" Tanya Lana saat melihat Anggel masuk ke ruangan VIP milik mereka dengan wajah sendu.


" Heum.. Dia masih kesal dengan kejadian itu.."


" Wajar lah, Oh ya, kamu udah sarapan? "


" Udah, Kamu ?"


" Belum, "


Anggel menatap jam yang melingkar ditangannya. " Udah jam 11 Na, kenapa gak sarapan sih?" Anggel berdecak kesal.


" Quin datang pagi-pagi dan tidak memberiku makan."


" Jangan salahin Quin, kamu udah besar, seharusnya bisa jaga kesehatan sendiri dong."


" Kan ada kamu yang bakal ngerawat aku"


Anggel terdiam, rasanya wajahnya sudah mulai memanas.


" Dasar Kadal. Gombal teruus.." Quin masuk dengan membawa adonan cake.


" Ganggu aja."


" Kalo Lo suka Anggel, lamar sana.."

__ADS_1


" Quin..," Tegur Anggel dengan mata yang sudah membesar.


" Kamu mau Quin nikah sama aku?" Lana tiba-tiba mengambil tangan Anggel dan menggenggamnya.


" Hah? Eh..."


" Aku bercanda, jangan gugup gitu. Aku tau kok kamu punya pacar."


" Dasar Buaya." gerutu Quin.


" Yang konsisten Quin kalo ngatainnya. Kadal apa buaya?"


" Terseraah.. terseraah Lo mau jadi apa.."


Quin kembali kedapur, meninggalkan Anggel dan Lana. Tak berapa lama Quin kembali dan melihat kedua umat manusia itu saling berdiam diri.


" Wooy, gak ngegombal lagi?" Quin mendoyor kepala Lana.


Kurang ajar Quin, gak sopan sama yang lebih tua.


" Tegang banget wajahnya? nape?" Quin memperhatikan wajah Anggel dan Lana bergantian.


" Gak papa kok. aku balik duluan yaa.." Anggel berpamitan dengan Quin.


" Aku nebeng yaa, kebetulan aku gak bawa mobil."


" Eh?" Anggel terkesiap saat Lana menarik tangannya.


" Dasar Kadal, naksir tapi gengsi. " Quin memperhatikan kepergian kedua sahabat, teman, dan saudaranya itu.


" Aakkhhh, gagal lagi.." Quin berdecak kesal saat cake buatannya kembali gagal.


Quin kembali ke kampus saat menjelang sore, karena ingin mengetahui hasil kontes Bebi. Quin mengigit jarinya, karena Berbi mendapat juara tiga, itu karena berat Berbi yang menurun dari terakhir kali Quin mengeceknya.


" Gimana hasilnya?" Suara bariton mengejutkan Quin.


" Eh, Dokter Abi."


Abi masih menatap Quin, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Quin pun ikut menatap Abi. Terjadilah mereka saling memandang. Hingga suara Dokter Rafa mengambil perhatian mereka.


" Makasih banyak ya Dokter, salam buat Mbak Yuna dan anak-anak. Kalo ada waktu, nanti saya mampir."


" Iyaa Qila, anak-anak juga udah rindu sama kamu. Oh ya, gimana kalo hari ini kamu ikut makan malam di rumah? Kebetulan saya juga mengundang Dokter Abi."


" Lusa anak-anak sudah berangkat ke Medan, mereka juga kangen banget sama kamu."


" Ya udah kalo gitu Dok, sampai ketemu nanti malam."


" Baiklah, saya duluan yaa..Mari Dokter Abi, sampai ketemu nanti malam."


" Iya Dok."


Tinggallah Quin dan Abi.


" Eem, Kalo gitu saya permisi ya Dok" Canggung rasanya bersama Dokter Abi.


" Oh yaa, kebetulan saya juga mau kembali ke klinik. Mari.."


Kesal, ni Dokter maksudnya apa coba. Mau ngegoda Quin apa? Gak sadar diri banget. Cincin udah melingkar di jari manis, masih aja cari-cari kesempatan. Nyesal banget rasanya nitip Berbi di kliniknya.


Quin terus menggerutu di dalam hati, hingga Quin tidak memperhatikan jalan.


"Awaaass..."


Tiiiiiiittt....


Deg... deg.. deg...


Jantung Quin berdetak dengan cepat, jika saja tidak ada dokter Abi, mungkin saat ini dirinya sudah di larikan ke rumah sakit.


" Kamu gak papa?"


Quin menganggukkan kepalanya, menelan ludahnya kasar, tenggorokannya terasa kering karena kejadian tadi.


Dokter Abi memastikan tidak ada lagi kendaraan yang berlalu. " Ayo.."


" Aakh..." Quin meringis saat mengerakkan kakinya.


" sepertinya kaki kamu keseleo." Dokter Abi pin berinisiatif membantu Quin.


" Aakhh.."


" Pelan-pelan.."


Sesampainya didepan antara toko kue dan klinik, mereka berhenti, dan bingung ingin ke mana.

__ADS_1


" Eem, di klinik saya ada P3k yang lengkap, tapi tadi karyawan sudah pulang, karena ada urusan mendadak. Di toko kami ada P3K?"


" Ada, "


Akhirnya mereka pun menuju Toko kue Quin.


" Sudah mau tutup?" Abi memperhatikan karyawan yang masih membersihkan toko.


" Iya Dok, Alhamdulillah ramai yang mampir, jadi cake nya terjual habis."


Quin menuntun ke ruangan VIP mereka.


" Ada ruangan VIP juga? "


" Iya Dok, Ini khusus buat teman-teman saya. Gak untuk umum."


Abi menganggukkan kepalanya. Setelah Seorang karyawan Quin memberikan kota P3K, Abi langsung melihat kaki Quin.


" Nona Tahan ya, ini sedikit sakit.."


" Pelan-pelan Dok.. Aaaawww..." Quin tersentak saat kakinya di tarik hingga bunyi.


Abi langsung membungkus kaki Quin dengan perban.


" Sudah, kalo jalan jangan terlalu di tekan ya.."


" Terima kasih Dok."


" Kalo gitu saya permisi dulu, "


" Minum dulu Dok" Quin menawarkan minum saat Lala membawa minuman untuk Dokter Abi.


" Karena sudah di suguhkan ,baiklah.." Abi yang tadinya sudah berdiri, duduk kembali dan meminum teh Rosella. " Sepertinya enak, boleh saya cicipi?" Abi memandang ke Red Velvet potong yang di suguhkan.


" Silahkan."


" Emm, enak banget. Kamu yang buat?"


" Iyaa. "


" Kamu berbakat ternyata, apa toko ini milik kamu."


" Bukan, saya cuma menjalankan saja."


Abi mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil menikmati rasa manis dan nikmat dari cake tersebut. Quin tidak bohong, cake itu memang dia yang membuatnya, sesuai dengan resep yang di berikan oleh Mama Kesya. Cake yang selalu saja gagal adalah cake ciptaan Quin sendiri, yang mana cake dari tantangan sang Papa. Quin belum berhasil menciptakan satu cake pun.


Di tempat lain, Veer sedang menunggu Nafi di bassmen kantor Nafi. Veer sudah berjanji akan menjemput Nafi, walaupun Nafi tadi sempat menolak. Nafi tidak ingin ada gosip di antara dirinya dan Veer. Apalagi mengangkut proyek yang sedang mereka kerjakan.


" Sudah? Langsung ke rumah?" Tanya Veer. Rumah yang di maksud adalah rumah Nafi.


" Heem, sudah.." Nafi memakai safety belt nya.


Veer melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Nafi. Sesampainya di rumah Nafi, Veer di sambut hangat oleh Mama Ayu.


" Makan malam di sini yaa, istirahat dulu dikamar Nafi."


" Ma.." Tegur Nafi dengan nada tidak suka.


" Kenapa? kalian suami istri, jadi gak salah dong berbagi kamar."


" Tapi Ma__"


" Gak pa-pa Ma, saya di sini aja.." Veer mencoba menjadi penengah.


" Udah, masuk aja ke kamar Nafi sana. Sekarnag, rumah Nafi juga rumah Kamu. Kamar Nafi juga kamar kamu, Veer." Mama ayu mendorong tubuh Veer hingga sampai kedepan kamar Nafi.


Cekleek..


" Selamat beristirahat yaa.."


Mama ayu meninggalkan Veer dan Nafi setelah menutup pintunya.


" Emm, kamu istirahatlah dulu. Aku mau mandi."


Veer merebahkan dirinya di sofa, hari ini sangat lelah, banyak pekerjaan yang memerlukan keputusannya. Hingga Veer tidak menyadari jika ponselnya kehabisan baterai.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2