
Abi memperhatikan Quin yang tengah makan. Ada rasa asing yang menyelusup di dalam hatinya. Abi masih berpegang teguh, jika dirinya masih sangat mencintai Anita, dan sampai kapan pun akan setia menunggu sampai Anita kembali. Seperti janjinya kepada Anita, sebelum wanitanya itu pergi.
" Kamu tak ingin mencobanya?" Tanya Quin yang melirik kearah Abi.
" Tidak, Aku merasa sudah sangat kenyang."
" Hmm, baiklah.. " Quin memasukkan batagor kedalam mulutnya.
Abi mengulurkan tangannya untuk membersihkan sudut bibir Quin.
" Eh, belepotan yaa.. hi..hi.."
Abi mengerjap, 'ni cewek kok gak kayak yang di film-film ya.. Yang langsung tersipu malu saat ada perhatian kecil di berikan oleh lawan jenisnya.' Batin Abi.
" ak mah emang gitu, kalo makan suka belepotan. Veer suka banget cerewetin aku, bilang aku anak kecil. Apa lagi Lana... Ughh, itu sih momen yang dia tunggu kalo makan bareng aku."
'Lana? kenapa Quin selalu menyebut nama pria itu?' batin Abi.
Memang, setelah Quin memperkenalkan Abi kepada semuanya, bahwa Abi adalah pacarnya saat ini, Lana sempat menitikkan air mata. Dan Quin, Malah memeluknya sambil menenangkannya. Segitu besar cinta Lana buat Quin, tapi Quin tidak pernah menganggap Lana, karena Quin menganggap Lana sama seperti Veer.
" Kenapa kamu tidak menyukai Lana?"
" Maksud kamu? Aku kenapa tidak jatuh cinta dengan Lana gitu?"
Abi mengangguk.. Quin tertawa membuat Abi semakin bingung.
" Bukannya Lana baik? Dan kami bilang Lana Plagiat Veer "
" Hmm, karena Lana plagiat Veer. " Ujar Quin sambil menatap kosong kearah batagornya.
Seakan ada yang Quin fikirkan. karena Abi hanya menatap kosong batagornya, hingga suara Abi menyadarkan Quin dari lamunannya.
" Quin.."
" Hah? eh, maaf..." Quin dengan cepat menghapus air matanya yang baru saja jatuh di sudut matanya.
" Sepertinya aku kelilipan deh.. Aduuh.. "
" Kamu gak papa?, Coba aku lihat.."
" Gak papa kok.." Quin melihat ke langit-langit sambil mengipas-ngipas matanya, seakan menyuruh air matanya untuk kering.
Abi berpindah duduk ke sebalh Quin.
" Sini aku lihat." Abi meraih wajah Quin, dan menatap mata yang berkaca-kaca itu. Seperti ada luka yang dalam di sana, yang di sembunyikan oleh Quin.
Abi meniup mata Quin pelan, dan menghapus air mata Quin yang jatuh.
" Sudah mendingan?" Tanya Abi lembut.
" Hmm.." Quin mengangguk. Rasa itu, rasa sakit itu, kenapa di saat yang tidak tepat dia kembali hadir. Di saat Quin sudah melupakan semuanya. kenapa?, kenapa perasaan itu terasa lagi?, kenapa?, kenapa sakit itu masih tersisa. Padahal selama ini baik-baik saja.
" Kita pulang yukk.." Ajak Quin..
" Kamu gak habisin batagornya?"
" Kenyang deh kayaknya. Ntar takut muntah kalo kekenyangan." Quin bohong, tidak, sebenarnya Quin tidak sepenuhnya bohong. Quin tiba-tiba saja merasa kenyang, dan kehilangan selera makannya.
Sepanjang perjalanan, Quin menatap kearah luar. Quin juga membuka jendela, menyandarkan kepalanya di sana, sambil merasakan tetesan air hujan yang baru saja jatuh.
" Quin, sebaiknya tutup deh jendelanya. Ntar kamu kehujanan "
Quin menoleh. " Dasar cerewet"
Quin menutup jendela, kemudian dengan cepat dia kembali menoleh. Terlihat raut wajah Quin seakan terkejut.
Jantung Quin berdebar kencang, suara yang di dengarnya tadi, bukan suara Abi, melainkan....
" Quin, kamu baik-baik aja?" Tanya Abi yang melihat Quin masih menatapnya dengan wajah yang??? ....
" hah? yaa.." Quin mengerjap, dan menghela napas.
__ADS_1
' Ya Allah, kenapa bayangannya kembali hadir? Setelah sekian lama?' Quin menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Abi merasa heran dengan sikap Quin. Sejak di warung jajanan tadi, Quin menjadi aneh. Apa Abi salah bertanya?.
.
.
Di tempat lain, Nafi sudah tertidur lelap di dalam pelukan Veer. Veer benar-benar merasa bersalah. Seharusnya Veer peka, jika Nafi masih belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu.
" Maaf Naf, Maaf.." Veer mnegecup kedua mata Nafi yang membengkak.
Perlahan, Veer beranjak dari tempat tidur, membenarkan selimut Nafi, dan keluar dari kamar Nafi.
Seperti Quin, Veer menghampiri Empus dan mengobrol bersamanya. Dengkuran Empus membuat Veer seakan mendapatkan ketenangan.
" Veer, kamu di sini?"
Quin baru saja sampai, dan langsung menghampiri Empus. Sama seperti halnya Veer, Quin butuh menenangkan hatinya.
" Kamu baru pulang?"
" Hmm, kenapa? Ada masalah?"
Veer terdiam, bagaimana pun Veer berbohong, Veer tidak akan pernah bisa berbohong kepada Quin. Entahlah, Quin selalu saja tau apa yang Veer rasakan.
" Aku bingung, selama tiga bulan ini aku mengenal Nafi, Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dan saat kejadian kecelakaan beberapa hari lalu, Nafi sekaan menunjukan dirinya yang sebenarnya."
Quin masih setia mendengarkan Veer. Di saat hatinya sedang terluka dan tak ada satu orang pun yang tau, Quin tetap bisa menjadi tempat curhat yang paling menenangkan.
" Aku seakan selalu ingin bersamanya, dekat dengannya, dan ingin mendapatkan perhatiannya. Aku___"
" Kamu jatuh cinta Veer." Potong Quin.
Veer menoleh. " Apa?"
" Hmm, kamu jatuh cinta, tapi kamu tidak menyadarinya. Hati kamu sudah tertan dengan sifat Nafi yang keras kepala, arogan, dan sombong. Dengan itu kamu membentengi hati kamu untuk tidak jatuh cinta dengannya. Padahal kamu sudah jatuh cinta dengannya."
" Kamu yakin?"
Veer mengangguk.
" Kalian sebaiknya butuh privasi untuk berdua. maksud ku, Sebaiknya untuk sementara kamu tinggal di apartemen bersama Nafi."
" Bagaimana jika benar aku jatuh cinta dengannya, dan dia ternyata menolakku."
" Kau takut patah hati?. " Quin menggenggam tangan Veer.
" Veer, tidak semua rasa sakit hati itu sama, tidak semua luka di hati itu akan lama mengering. Kamu tau, terkadang ada cinta yang datang, yang tidak memberikan luka, melainkan ada cobaan yang harus di lalui. Mungkin kisah mu ini berbeda dengan ku. Cinta mu, kamu hari melaluinya, tanpa ada luka, melainkan perjuangan."
" Quin.."
" Veer, Nafi mencintaimu. Kamu tidak tahu?"
Terlihat mata Veer membesar. " Kamu yakin?"
" Kamu hanya perlu membuatnya percaya kepada mu. Dan kayakan, kamu mencintainya. Wanita butuh kepastian, bukan hanya sekedar perhatian."
" Quin, kamu semakin dewasa. Apa ini yang membuat Abi jatuh hati kepada mu?"
" Entah lah.. "
Kemudian mereka pun tertawa bersama. Tanpa Veer sadari, Jika saat ini Quin sedang terluka.
.
.
Sudah seminggu Abi dan Quin tidak bertemu. Kesibukan Abi di kampus yang menjadi pemateri bagi mahasiswa kedokteran hewan pun membuat Abi merindukan keu buatan Quin, tidak hanya itu, suara, senyum, tawa, dan lelucon Quin pun terniang di setiap indera pendengar dan penglihatan Abi.
Abi menggelengkan kepalanya dan tersenyum, Saat melihat salah satu mahasiswa seakan adalah Quin.
__ADS_1
" Kamu sudah gila Abi. " Gumamnya.
Namun, Abi mengernyitkan kembali keningnya, saat melihat wajah mahasiswa itu tetap wajah Quin. Bahkan Mahasiswa yang berwajah Quin itu semakin tersenyum lebar kepadanya.
" Quin.." Gumamnya.
Quin menunjukkan kotak mika yang berisi cake. Abi tersenyum, bahkan senyuman itu membuat beberapa mahasiswa terpana oleh ketampanan Abi.
" Beneran Quin." Gumamnya.
Setelah 30 menit Abi memberikan penjelasan, kelas pun di bubarkan.
" Aku kira tadi bukan kamu.." Serunya. " Tumben ke sini? Ada apa?, rindu aku?"
Quin terkekeh. " Bukannya kamu yang minta di bawain cake?"
" Aku?"
Quin menganggukkan kepalanya, kemudian menunjukkan pesan yang di kirimkan oleh Abi 2 jam yang lalu.
" Aku beneran kirim pesan ini?" Tanyanya entah kepada siapa, yang jelaa hanya Quin yang mendengarkannya.
" Lalu? Siapa lagi?. Ini nomor kamu kan?"
Abi menggaruk kepalanya, kemudian dia mengingat saat sebelum jam kuliah di mulai. Dirinya sangat bosan, kemudian dia melihat Cake yang baru saja di posting oleh Quin di status WA nya. Dan saat itu lah, Abi mengirim pesan dan mengatakan rindu akan cake buatan Quin.
" Okee.. Apa ini cake buatan mu?"
" Tentu, dan ini resep baru yang aku buat. Cobain deh. Baru kali percobaan ku yang pertama berhasil."
" Baiklah..Eemm, gimana kalo kita duduk di sana." Abi menunjuk kearah bawah pohon besar, di mana terdapat beberapa mahasiswa yang menghabiskan waktu luang mereka di sana.
" Okee.."
Quin dan Abi pun berjalan beriringan sambil tertawa.
" Hah... Rasanya udah lama banget gak ngerasain suasana kayak gini." Quin meluruskan kakinya, dan menampung bobot tubuhnya bersandar dengan kedua tangannya.
" Sejuk banget, udaranya juga segar.. Serasa masih anak kuliahan aku.."
" Kamu sering duduk-duduk seperti mereka?"
" Hmm, bahkan kami sering mengerjakan pekerjaan kelompok bersama di bawah pohon seperti ini. Menyenangkan."
" Waah, aku jadi iri mendengarnya."
" Kamu tidak pernah?"
" Aku kuliah di German, dan mengambil dua jurusan sekaligus. Jadi tidak ada waktu untukku bersantai seperti ini. "
" Wooww... Terus, apa waktu mu habis hanya dengan belajar?"
" Tidak sepenuhnya, Tapi bisa di katakan begitu."
" Apa waktumu banyak bersama Anita?"
Abi menoleh, kemudian dia tersenyum miring. Entahlah, Abi merasa seminggu ini tidak terlalu mengingat akan Anita. Bahkan Abi merindukan Quin, dan selalu memikirkan Quin. Wajah Quin yang murung malam itu membuat Abi semakin penasaran dengan sosok Quin.
" kamu benar, waktu yang ku habiskan dulu hanya bersama Anita."
" Lalu, kenapa kalian berpisah?"
Abi menatap wajah Quin. Abi tak pernah menceritakan tentang Anita kepada siapapun. Bahkan kepada Aunty nya sekalipun. Kakek dan Aunty mengetahui hubungan dirinya dan Anita itu karena kakek membayar orang untuk memantau kemana pun Abi pergi, dan apa yang Abi lakukan.
" Anita adalah sahabat ku, dan juga kekasih ku."
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.