
Kesya sedang menemani Arka ke rumah sakit untuk cek Up, Dokter Heeman sudah menyuruh salah satu Dokter Koas untuk menemani mereka, karena Dokter Herman masih banyak pasien.
" Mari lewat sini Pak, buk" Ujar Dokter Koas yang berjenis kelamin perempuan itu.
Kesya memperhatikan gerak gerik dari Dokter Koas itu, terlihat sekali jika dia berusaha ingin menyentuh Arka, dari cara dia yang berpura-pura ingin membantu Arka membuka kancing baju, ataupun menyentuh tangannya.
' Dasar dokter ganjen' batin Kesya.
" Mari saya bantu pak" Ujar Dokter Koas yang entah siapa lah namanya, Arka pun malas untuk meladeninya.
" Bisakah kau menjauh, aroma tubuhmu membuat ku semakin mual" Ujar Arka.
Kesya tersenyum senang mendengar perkataan Arka yang menyuruh Dokter itu untuk menyingkir.
" Sayang, kamu gak papa?" Kesya mendekati Arka yang ingin turun dari brankar setelah Rontgen.
" Sayang, perempuan itu bau sekali. Aku rasanya ingin muntah berada di dekatnya. Bagaimana bisa seorang dokter memiliki aroma tubuh yang sangat bau." Ujar Arka menatap jijik kepada Dokter muda itu.
Dokter Koas yabg bernama Dewi itu sudah menggigit bibir bagian dalamnya, menahan agar air matanya tidak jatuh keluar. Sakit sekali rasanya di hina dengan pria tampan dan kaya yang berada di depannya itu. Tidak pernah sekalipun ada pria yang berani menolaknya, Kurang apa dia? Cantik, putih, seksi, jangan tanya payudaranya, besar dan kenyal tanpa operasi. Apa lagi yang kurang? Kenapa bisa pengusaha muda seperti Arka menolak dirinya, jika dibandingkan dengan istrinya, jauh lebih cantik dirinya.
Kesya melirik kearah Koas tersebut, kemudian memeluk sang suami, begitupun dengan Arka, langsung memeluk Kesya dan menghiruo aroma tubuh Kesya. Aroma yang membuatnya selalu kecanduan.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, Kesya dan Arka bertemu dengan Dokter Herman untuk mendengar hasil dari pemeriksaan tersebut.
" Dokter, lain kali jangan kirim perempuan murahan untuk membantu saya menjalani perawatan" Ujar Arka dingin.
Dokter Herman terkejut mendengar perkataan Arka, kemudian melirik kearah Dewi, dan memberikan tatapan tajam kepada Dewi.
" Maafkan saya" Ujar Dokter Herman dengan membungkukkan tubuhnya.
" Ah ya, saya tidak ingin dia berada di rumah sakit ini lagi. Rumah sakit ini bukan tempat untuk menjual diri. Suruh dia mengundurkan diri dan mencari rumah sakit lain" Ujar Arka tajam.
Tanpa Arka peduli jika Dewi sudah meneteskan air matanya.
" Tuan, ma__"
" Dewi, sebaiknya kamu persiapkan surat pengunduran diri kamu" Ujar Dojter Herman dingin.
" Tapi saya__"
" Silahkan keluar, sebelum kamu diseret oleh satpam"
Kesya merasa iba, cuma Kesya tidak bisa membantah sang suami, apalagi saat ini aura wajah Arka terlihat sangat menakutkan.
Siapa yang berani melawan Arka? Anak dari pemilik rumah sakit Moza in Health ini. Bahkan Direktur utamanya adalah Ipar dari Arka.
" Sekali lagi maafkan saya" Ujar Dokter Herman.
" Bukan salah anda Dokter, baiklah bagaiman hasilnya?" Tidak ingin memperpanjang masalah, Arka langsung saja menanyakan hasil dari pemeriksaannya tadi.
Dokter Herman membuka setiap lembaran laporan dari hasil pemeriksaan.
" Tidak ada yang salah, semua normal dan baik-baik saja"
" apa dokter yakin? Tapi kenapa setiap di kantor saya selalu saja merasa mual dan pusing. tapi saat mencium aroma tubuh istri saya, saya merasa baik-baik saja" Jelas Arka.
Beberapa detik dokter Herman sempat tercenung, namun detik selanjutnya Dokter Herman tersenyum penuh Arti.
" Sepertinya yang perlu menjalani pemeriksaan adalah istri anda, bukan anda tuan."
" Istri saya?"
" Iya"
" Suami saya yang sakit, kenapa harus saya yang diperiksa?" Tanya Kesya.
" Ini masib curigaan saya saja, untuk lebih pastinya lebih baik Nyonya periksa di bagian Obgyn."
Kesya mengerutkan keningnya, bagian Obgyn? Itu kan bagian kehamilan? Apa dia hamil? Tapi sejak kapan? Tunggu, sepertinya Kesya melewatkan tanggal menstruasi nya. Kapan terakhir kali dia mendapatkan menstruasi? kenapa dia bisa sampai lupa?
Kesya dan Arka melangkahkan kakinya menuju bagian Obgyn. Jangan di tanya lagi detak jantung Kesya yang sudah bertdetak dengan cepat. Arka menggenggam tangan istrinya itu, memberikan kekuatan kepadanya. Takut jika prediksi Dokter Herman salah, dan menbuat Kesya kecewa.
" Hai Mbak, pucat banget. Santai aja" Ujar Anggun, dokter yang akan memeriksa Kesya.
" Hah, eh, emm"
Anggun tersenyum manis, " Kapan Mbak terakhir kali menstruasi?"
__ADS_1
" Itu??, kapan yaa, waktu sepulang dari honeymoon masih dapat sih, tapi setelah itu! kok aku gak ingat ya Mas?"
Anggun terkekeh, itu sering terjadi pada wanita hamil sibuk, yang tidak mengikuti waktu menstruasi nya.
" Mbak masih ingat tanggal berapa menstruasi nya?"
" Aduh, gak ingat mbak, saya gak pernah ingat tanggal berapa aja saya dapat, yang saya tau selalu awal bulan"
" Oke, ini udah pertengahan bulan, dan Mbak pasti belum dapat kan?"
" Belum sih kayaknya, eh tapi kemarin itu ada sempat flek sih beberapa hari"
" Kita periksa aja ya untuk lebih pastinya"
Arka membantu Kesya untuk naik ke brankar pemeriksaan, Asisten Anggun memberikan gel keatas perut Kesya yang bajunya sudah di naikkan keatas. Anggun memutar dan menekan sedikit alat yang entah apalah namanya Kesya juga tidak tau, yang jelas itu alat USG.
" Wah Mbak, ini sungguh luar biasa, Mbak ada keturunan kembar ya?"
" Hah, kembar?" Ujar Arka dan Kesya bersamaan.
" Iya Om, Tante Kesya positif hamil, usia kandungannya sudah 15 Minggu, Dan bayinya kembar"
"Kamu serius?" tanya Arka tidak percaya.
" Lihat deh, ini janinnya, ada dua, Masih kecil dan belum berbentuk" Jelas anggun.
Arka menatap Kesya dengan mata yang berkaca-kaca. Allah sungguh sayang kepadanya, mengambil satu, tetapi Allah memberikan 2 sebagai gantinya. Arka langsung memeluk Kesya setelah menggeser kursi Anggun. Anggun hanya terkekeh geli melihat tingkah Arka. Untung pemilik rumah sakit, dan calon om nya. hi..hi..hi.. jadi Anggun tidak bisa marah. Perawat yang membantu Anggun pun ikut tersenyum.
" Selamat ya Tuan, Nyonya"Ujarnya.
" Terima kasih" Jawab Kesya.
Anggun memelum Kesya, dan mengucapkan selamat. " Selamat ya Mbak, dijaga baik-vaik loh. hamil kembar itu lebih berat dari hamil normal. Makannya yang banyak ya Mbak, vitamin dan penambah darahnya juga harus di minum. Susu hamil nya juga"
" Iya Mbak Anggun, makasih ya"
" Sama-sama Mbak"
" Sayang"
Tiba-tiba saja Leo datang dan masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
" Awww... aww sakit om sakit" Ujar Leo saat berjalan mendekati Anggun, dan Arka langsung menjewer telinganya.
" Kamu ini, seenak jidat mu ya masuk keruangan orang tanpa ketuk pintu"
" Leo tau kalo cuma Om dan Aunty di dalam, makanya masuk aja. Sodara juga kan"
" Sodara sih sodara, tapi tetap aja ada privasi." Gerutu Arka.
" Heheh, maaf Om, habisnya saat di kasih kabar oleh Dokter Herman, Leo langsung lari ke sini Sakin bahagianya."
BRAAAKK..
" Anggun, gimana Kesya?"
Semua mata tertuju kepada pria paruh baya yang baru saja membuka pintu. Tanpa rasa berdosa langsung melihat hasil USG yang masih tertera di monitor.
" Alhamdulillah, selamat ya Key" Ujar Bram dan memeluk Kesya.
" Hadeeww, ayah sama anak sama aja, gak ada akhlak" Gumam Arka.
" Dua? kembar?" Tanya Leo yang tadi juga memperhatikan layar monitor. Entah kepada siapa dia bertanya, untungnya Anggun menjawabnya.
" Waah, top care juga Om." Ujar Arka Leo dan ikut memeluk Kesya.
Jika Bram memeluk Kesya, Arka harus menahan diri, karena harus sopan dengan yang lebih tua, tapi Leo? ha..ha..ha..
"Aaww.." Arka mendorong tubuh Leo hingga membentur meja.
" Gak usah peluk-peluk"
" Papi boleh?"
" Dia udah tua"
" Eheemm"
__ADS_1
" Heheeh, Ampun Mas, tua tapi masih ganteng kok. Buktinya masih punya bayi mungil kan"
Wajah Bram sudah memerah, dan dengan ceoat menjewer telinga Arka.
" Aww.. sakit Mas"
Anggun dan Kesya hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol para pria beda generasi itu.
Kabar Kesya hamil sudah tersebar luas seantero keluarga Moza. Mami Laura sampai langsung membagikan sedekah keoada fakir miskin, sedangkan Papi Farek mengundang ustad untuk berdoa bersama. Seluruh keluarga di undang untuk makan malam bersama, termasuk seluruh karyawan Kesya di toko.
" Mas, mampir ke radio yuk. Udah lama gak kesana" Ajak Kesya saat mereka sedang jalan pulang.
Setelah menyuruh Sasa membungkus kue dan cake hias ,Kesya menyuruh Sasa untuk mengantarkan ke alamat radio Yang sudah di kirimnya tadi.
" Mau ke mana?" Tanya Bara saat melihat Sasa sudah siap-siap untuk pergi.
Drrrtt drrtt..
Suara ponsel Sasa mengalihkan perhatiannya.
" Halo, "
"..."
" Iya, saya keluar sekarang"
Tanpa memperdulikan Bara, Sasa melangkah keluar yang diikuti oleh Bara. Sasa membuka pintu belakang penumpang, namun Bara menahannya.
" Mau ke mana?"
" hmm, Mbak Kesya suruh antar semua pesanannya ini ke radio"
" Saya yang antar"
" Tapi__"
" Pak, ini duit ganti rugi. bapak boleh lanjut atau cancel aja. maaf ya pak." Ujar Bara dan memberikan beberapa lembar uang merah dan biru kepada sang supir.
Setelah mengucapkan terima kasih, supir taksi online itu pun pergi. Bara menarik tangan Sasa, dengan terpaksa Sasa mengikuti Bara, karena lagi malas berdebat.
Sasa masih belum memandang kearah Bara.
" Kesya di radio?"
"Hmm"
" Acara apa?"
" gak tau" Sasa masih menjawab dengan melihat kearah luar.
Tiba-tiba saja mobil Bara berhenti, dan mBara menarik lengan Sasa agar Sasa menatap dirinya.
" Sasa melihat kearah Bara yang masih menggunakan baju seragam polisinya, namun detik selanjutnya Sasa membuang pandangannya.
" Kamu bisa gak kalo orang ngomong itu di lihat?" Geram Bara.
" Lo tau kan kalo gue bakal mual kalo liat seragam Lo" Ujar Sasa yang sudah menutup matanya. Karena Bara sudah memegang wajahnya dan mengarahkan agar Sasa menatapnya.
Melihat Sasa yang menutup matanya, Bara merasa AC yang di dalam mobilnya menjadi panas. Bara mencium bibir Sasa, membuat Sasa membuka matanya dalam detik itu juga. Sasa berusaha melepaskan ciumannya dari Bara, namun Bara mengunci gerakan Sasa dengan menahan tengkuknya. Tangan Sasa yang bebas berusaha menolak tubuh Bara, hingga tangannya tergores oleh aksesoris yan berada di baju Bara.
" AAHH"
Bukannya melepaskan ciumannya, Bara malah memperdalam ciumannya, saat mendengar suara Desahan dari mulut Sasa.
Hei Bara, anak orang bukan mendesah, tapi tangannya terluka.
.
.
.
.
.
Hai readers..
__ADS_1
JEMPOL NYAA YAA...
JEMPOL JEMPOL JEMPOL...