
"Kayaknya sebentar lagi Lo bakal nyusul deh. Ini bukan yang pertama loh. Ingat, saat pesta Anggel dan Quin, Lo juga dapatin buket tersebut," ujar Fatih dengan nada mengejek. "Pertanyaannya, lo mau nikah sama siapa?" tawa pun kembali pecah dan membuat Lucas kesal.
"Ini hanya mitos," kesal Lucas dan memberikan buket bunga tersebut kepada Fatih.
Papi Leo dan Mami Anggel pun saling memandang. Ini adalah yang ketiga kalinya Lucas mendapatkan buket bunga. Apa ini semua hanya kebetulan? Atau ini sebuah pertanda?
Entahlah, biarkan waktu yang menjawabnya.
"Kak Zein, cium dong. Masa kurang greget kalo gak ada ciumnya," ujar Naya yang mana mendapatkan sentilan di keningnya dari Mami Vina.
"Masih kecil, udah nyuruh cium-cium," geram Mami Vina yang mana membuat Naya hanya menyengir lebar sambil mengusap keningnya yang terasa perih.
"Haruskah kita mengabulkan permintaan Naya?" bisik Zein kepada Kayla.
"Hah?"
Kayla membulatkan matanya saat Zein menarik tengkuknya hingga bibir mereka pun menempel. Kayla mendorong pelan tubuh sang suami, akan tetapi Zein malah menarik pinggang Kayla hingga tubuh mereka tak berjarak.
Sorakan pun mulai terdengar, Mami Vina menepuk jidadnya melihat kelakuan sang putra yang menuruti keinginan adiknya.
"Yeeeyy,," seru Naya sambil bertepuk tangan.
Mami Vina menoleh kearah sang putri dan langsung menutup mata Naya.
"Anak kecil gak boleh lihat," ujar Mami Vina sambil menutup mata Naya.
"Iih, Mami. Naya udah 22 tahun," rengek Naya sambil melepaskan tangan Mami Vina dari matanya.
Mami Vina mencubit hidung Naya dan memeluk sang putri.
"Trus? kalau udah 22 tahun? kamu udah siap nikah gitu?" goda Mami Vina.
"Iih Mami, Naya masih kuliah, gak mau ah. Gelar psikolog belum Naya kantongin," ujar Naya dengan tegas.
Mami Vina pun hanya terkekeh sambil mengelus rambut sang putri dengan sayang. Darah Opa Bram mengalir deras pada keturunan Mami Vina.
Jika saja Mami Vina tak membujuk Zein untuk membantu sang Papi di perusahaan, kemungkinan Zein juga akan menjadi seorang dokter, seperti sang Opa, sepupu, dan juga om tantenya.
Seluruh keluarga pun menikmati pesta dengan gembira. Kakek Farel menghela napas pelan, beliau sangat bahagia melihat sang cucu dan cucu menantunya bahagia.
Kakek Farel yang memang tak mengikuti prosesi pesta hingga akhir, telah kembali beristirahat di dalam kamar hotelnya.
*
Zein mendorong kursi roda yang di duduki oleh Kayla menuju lift.
"Zein! tahan, sabar, puasa," ledek Veer dengan kekehannya.
"Iya Zein, jangan main hajar ya. Ingat, kaki Kayla baru selesai di operasi," tambah Lana lagi.
Fatih, Lucas, dan Abi sudah tertawa licik.
"Gue gak mau yaa, di ganggu tidurnya kalau kaki Kayla keram," ledek Lucas yang mana membuat wajah Kata semakin memerah, akan tetapi, ledekannya itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Gak bakal, lagian kita pada maklum kok, lo pasti mau menyendiri dulu, buat berpikir dengan siapa lo bakal kawin," ujar Lana yang mana membuat seluruh pria tertawa terbahak-bahak.
Pintu lift terbuka, Merkea masuk kedalam lift hingga lift tersebut menjadi penuh hanya dengan keberadaan mereka saja.
Mereka sangat tahu bagaimana kisah cinta Lucas yang di putuskan oleh kekasih yang sangat di cintanya itu. Hanya masalah sepele sebenarnya, gara-gara mantan pacar Lucas, mencium bibir Lucas, seketika pria itu langsung mendorong tubuh sang pacar dan mengeluarkan isi perutnya.
Ya, Lucas merasa jijik dengan perlakuan skin to skin. Saat Anggel atau Quin mengajak Lucas nonton bioskop, Lucas memilih memasang handset di telinganya dengan memutar musik metal dan menutup matanya. Tak ingin dia melihat film yang isinya penuh dengan aksi romantis. Rasanya seluruh isi perutnya berputar dan minta untuk di keluarkan.
__ADS_1
"Brengs*k," maki Lucas dengan kesal kepada sahabat-sahabatnya itu yang merangkao sebagai saudaranya juga.
"Emangnya kenapa bisa putus sih?" tanya Quin penasaran.
Ya, para wanita tak tahu kisah cinta Lucas, bahkan mereka tak mengetahui siapa wanita yang telah berhasil mencuri hati Lucas, hingga pria itu sulit membuka hati untuk yang lainnya.
Para wanita hanya mengetahui nama dari mantan Lucas, Stella. Bukannya banyak yang bernama Stella di muka bumi ini? Walaupun profesinya sebagai model, bukan cuma satu yang menjadi model di negara ini dengan nama Stella.
Berhubung Lucas sedikit berbeda akan masalah pribadinya, Quin dan Anggel tak mencari tahu siapa wanita itu. Lagi pula, dia dan Lucas sudah putuskan?
"Ada deh," ujar Fatih sambil tersenyum miring kepada Lucas.
Lucas memutar bola matanya malas melihat sahabat-sahabatnya itu mulai tersenyum simpul menatapnya.
"Kamu tau?" bisik Quin kepada Abi.
"Heum," jawab Abi dengan tersenyum simpul.
Ya, Abi tahu. Bahkan, Abi pernah bertemu dengan wanita bernama stella itu.
"Siapa?" tanya Quin kepo.
Gimana gak kepo? Abi yang terbilang baru mengenal Lucas, sudah mengetahui siapa wanita yang berhasil membuat Lucas patah hati.
"Rahasia," bisik Abi.
"Pelit, kasih tau dong," rayu Quin dengan manja, bahkan Saat ini Quin sedang membuat pola abstrak di punggung tangan Abi. Lucas yang melihat adegan itu, kembali memutar bola matanya jengah. Perutnya akan kembali mual lama-lama melihat adegan romantis itu.
"Ada imbalannya," jawab Abi dengan tersenyum penuh arti.
"Apapun, aku akan berikan. Mau berapa ronde?" ujar Quin yang mana membuat Lucas terbatuk mendengarnya.
Tak hanya sampai di situ penderitaan Lucas, belum lagi pria itu melihat cara Naggel merayu sang suami untuk memberitahu penyebab putusnya Lucas dengan sang pacar.
"Ada deh,"
"Kasih tahu dong," rayu Anggel sambil mengecup bibir Lana sekilas.
"Boleh, tapi kasih lemas yang bawah dulu ya?" bisik Lana agar tak di dengar oleh yang lainnya.
"Modus, bilang aja minta di lepasin kecebongnya," gerutu Lucas yang mendengar apa yang Lana bisikkan.
"Sirik aja, Lo," sambar Lana.
Kayla sebenarnya juga penasaran, akan tetapi dia menahan suaranya untuk tidak bertanya. Nanti, saat di dalam kamar, Kayla akan menanyakannya kepada sang suami.
Tapi, gimana kalau Zein meminta haknya? Sedangkan kakinya saja belum bisa di tekuk.
Lucas memandang angka lift yang menuju ke lantai berapa kamar mereka berada. Dirinya sudah gerah dengan kemesraan yang ada di dalam lift, belum lagi mendengar Fatih bertelpon ria bersama Raysa. Mana pake muach-muach segala lagi, dasar pria-pria mesum.
Ting .... pintu lift terbuka, Lucas dengan sabar meenunggu Zein dan Abi mengeluarkan sang istri. Maksdunya mendorong kursi rodanya keluar dari lift.
"Woyyy" pekik Zein saat Lucas menarik bahunya dan melesat dengan cepat.
"Kenapa dia?" tanya Quin dan Anggel hampir bersamaan.
"Gak tau, pening mungkin lihat kebucinan mereka."
Quin dan Anggel sontak melototkan matanya. "Masa cuma gitu aja pening?" tanya Anggel.
"Udah, gak usah di bahas. Ayo," ajak Lana dan menarik pinggang sang istri untuk menuju kamar mereka. Begitu pun dengan Abi dan Quin. Fatih dan Jo berjalan menyusul Lucas, karena mereka mendapatkan kamar yang sama.
__ADS_1
*
Zein membuka pintu kamar dan mendorong masuk kursi roda yang di duduki oleh Kayla.
Jantung Kayla kembali berdegup semakin kencang. Zein menggendong Kayla dan mendudukkannya di pinggir tempat tidur.
"Mau aku bantu bukain?" tawar Zein.
Kayla mengangguk pelan, membiarkan tangan Zein membuka resleting gaunnya. Kayla menutup matanya kala merasakan kecupan di bahunya.
"Aku gak akan meminta hakku, malam ini. Hanya saja___" Zein menggantung ucapannya.
"Ha-hanya saja apa?" tanya Kayla dengan gugup.
"Tidak ada," ujar Zein akhirnya. "Kamu mau mandi? Biar aku siapkan semuanya."
"Iya."
Zein bangkit dan menyiapkan tempat untuk Kayla mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Zein memberikan bathroom kepada Kayla. Setelah selesai menyiapkan tempat untuk Kayla di dalam kamar mandi, Zein kembali ke kamar dan menggendong sang istri yang telah mengenakan bathroom.
Zein letakkan kaki Kayla di atas kursi yang tersedia secara perlahan, agar tak basah oleh air.
"Mau aku tungguin?" tanya Zein dengan nada menggoda.
"Gak mau, kakak keluar aja, aku malu," cicit Kayla dengan wajah yang memerah.
Zein menganggukkan kepalanya, sebelum meninggalkan sang istri di dalam kamar mandi, pria itu mengecup kening Kayla dengan sayang.
"Kalau udah siap, panggil aku ya. Aku stan by di depan kamar mandi," ujar Zein sebelum meninggalkan Kayla untuk membersihkan diri.
Zein melepaskan jas dan juga waistcoat-nya, menyisakan kemeja yang sudah di buka kancingnya hingga menampilkan dada berototnya. Pria itu meraih ponselnya dan berselancar di sana sambil menunggu sang istri selesai mandi.
"Kak," panggil Kayla.
"Ya, sayang." Zein meletakkan ponselnya dan melangkah masuk menuju kamar mandi.
"Udah selesai?" tanya Zein.
"Iya."
Zein pun menggendong sang istri dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu menurunkan sang istri di pinggir tempat tidur, setelah itu dia berjalan menuju koper yang tersedia di sudut ruangan.
Zein membuka koper tersebut, detik selanjutnya mata Zein terbelalak saat melihat isi dari koper itu.
"Kenapa?" tanya Kayla dengan pernasaran.
Zein mengangkat sebuah baju tipis yang berasal dari dalam koper. Kayla membelakangi matanya, seingatnya isi koper tersebut sudah dia isi dengan baju daster dan beberapa baju perginya.
"Gak ada yang lain?" tanya Kayla.
Zein menggeleng. Kayla menelan ludahnya dengan kasar. Yang benar saja dia harus memakai baju lingeri tersebut, kalau kakinya tak sakit, mungkin Kayla akan dengan senang hati mengenakannya. Tetapi, kakinya saat ini sedang tak bisa di ajak bekerja sama.
Zein terlihat berpikir, detik selanjutnya pria itu mengambil pakaiandal*m milik Kayla dan juga kemejanya.
"Pakai ini aja," ujar Zein sambil memberikan baju tersebut.
Zein sengaja menyarankan Kayla memakai kemejanya, itu bertujuan untuk mengurangi pemandangan yang sangat indah nantinya. Akan tetapi, Zein tak pernah tahu, jika kemeja yang dia berikan kepada Kayla, lebih indah dan menggoda dari pada lingerie.
... Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
__ADS_1
...Rira_Syaqila...