
"Karena kamu istri aku, dan aku suami kamu. Dan aku yakin, sepanjang kamu shopping, kamu mengingat aku, makanya kamu membelikan jam tangan ini dan juga mantel. Aku juga suka dengan mantelnya, couple sama kamu."
Quin tersenyum manis di saat mendengar jika Abi menyukai semua yang ia belikan. Bahkan Abi langsung memakainya.
Setidaknya, pemikiran Quin yang mencurigai Abi pun teralihkan dengan penampilan Abi yang mengenakan beberapa barang pemberiannya.
Abi dan Quin menikmati sarapan mereka. Quin juga sangat menyukai dessert yang Abi pesankan. Benar-benar sangat nikmat, di tambah lagi semua nya msih terasa hangat dan cocok sekali di makan di cuaca dingin seperti ini.
Quin terkesiap di saat Abi menggenggam jari jemari nya dengan lembut, namun raut wajah Abi terlihat sendu.
"Quin, jika aku memiliki satu kesalahan besar, apa kamu bisa memaafkan aku?"
Suara Abi yang terdengar lirih dan dalam membuat Quin semakin curiga dan bertanya-tanya, kesalahan apa yang Abi perbuat.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
Abi menarik napasnya, ia bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Quin. Abi masih setia menggenggam jari jemari Quin, seolah takut kehilangan ratu hati nya itu.
"Ada satu kesalahan yang telah aku perbuat tanpa sengaja, tapi aku belum siap untuk menceritakannya dengan kamu. Aku takut, jika kamu mendengarnya saat ini, kamu akan pergi dan ninggalin aku. Aku butuh waktu yang pas untuk jelasin semuanya dengan kamu. Maukah kamu bersabar untuk menunggu semua penjelasaan aku, My Quin?"
Abi mendongak dan menatap kedalam mata Quin.
Sumpah, Abi berani bersumpah ... Ini adalah mata pertama yang paling Abi takutkan. Abi takut melihat mata Quin yang menatapnya tajam dan sarat akan intimidasi. Abi menundukkan pandangannya dan mencium punggung tangan Quin dengan lama.
"Aku mohon, jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi. Aku hanya mau kamu yang ada di samping aku. Hanya kamu yang menjadi pendamping hidung aku."
Pertanyaan yang Quin lontarkan membuat Abi terkejut dan kembali mendongak.
"Apa kamu menghamili anak orang?"
Dapat Quin lihat wajah terkejut Abi dan juga matanya yang berembun.
"Tidak Quin, tidak, aku berani bersumpah jika aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu." jawab Abi dengan cepat dan semakin menggenggam tangan Quin.
"Lalu, kesalahan apa yang kamu buat tanpa sengaja?"
"A-aku ... aku ...."
"Katakan Abi, jangan membuat aku penasaran."
"A-aku ... Aku ..." Abi berfikir keras bagaimana cara menyampaikan perihal tentang Anita kepada Quin. Abi takut, Quin akan salah paham dengan dirinya jika Abi menyampaikan dengan perkataan yang tak tepat.
"Baiklah, apa ini masalah besar?"
"Aku tidak yakin. Quin, aku butuh waktu dan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya kepada kamu. Aku gak mau ada kesalahpahaman di antara kita."
Quin menghela napasnya, "Baiklah, tapi kamu sudah menganggu fikiran aku. Aku harap kamu akn menjelaskan secepatnya kepada aku. Aku tak ingin berfikiran buruk tentang kamu."
"Terima kasih Quin."
Abi mengecup punggung tangan Quin, kemudian Abi berdiri dan membungkukkan tubuhnya untuk mengecup bibir yang selalu menjadi candu untuknya. Lihatlah, Abi yang awalnya hanya ingin mengecup, bahkan tak bisa melepaskan kenikmatan yang bibir Quin berikan.
Abi melepaskan ciumannya di saat merasakan Quin yang sudah kehabisan napas.
"Aku menicntai kamu, Quin. Aku sangat mencintai kamu. Percayalah."
Quin membalas menangkup wajah Abi. "Kamu mau dengar kata penyemangat pagi ini?"
Abi menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Aku akan belajar mencintai kamu. Tapi kamu harus janji, gak boleh lagi nyentuh minuman haram itu."
Abi mengangguk dengan antusias. Tentu saja abi akan menuruti semua perintah dan permintaan Quin nya. Apapun akan Abi lakukan.
"Aku janji, aku gak akan menyentuh minuman haram itu."
Abi kembali mengecup bibir Quin dengan sayang.
"Aku benar-benar bahagia Quin. Terima kasih, terima kasih banyak. Aku janji, aku janji sama kamu bahwa hanya kamu lah yang akan menjadi ratu di hati aku. Aku janji."
Abi memeluk tubuh Quin dan memberikannya ciuman ynag bertubi-tubi di wajah Quin, sehingga membuat Quin terkikik karena merasakan geli.
"Abi, hentikan. Geli ih ..." Ujar Quin dengan tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu." ujar Abi dengan menyatukan kening mereka.
Dengan jantung yang berdebar cepat\, Abi kembali menempelkan bibirnya ke bibir Quin\, mengul*m\, dan mencec*ap manisnya bibir Quin yang akan selalu menjadi candu bagi nya. Rasa yang berbeda dari yang pernah ia rasakan dulu. Bibir yang terasa sangat manis dan selalu membuatnya tergila-gila dan ingin lagi-lagi-lagi-dan lagi.
Quin terengah-engah karena ciuman Abi yang sangat menuntut pagi ini. Bahkan Abi saat ini sudah menarik tubuhnya untuk bediri dan bertumpu di tubuh Abi. Abi kembali menyatukan bibir mereka dengan menahan tubuh Quin yang tingginya lebih rendah dari dirinya.
"Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu, My Quin."
Lagi, Abi kembali menciumi bibir Quin dengan penuh cinta.
*
Di sisi lain, Jo sudah mendapatkan laporan jika perusahaan yang bekerja sama dengan Abi saat ini adalah tempat di mana Anita bekerja. Jo menyunggingkan bibirnya di saat mengetahui jika Abi akan berkerja sama dengan Anita. Namun Abi tidak mengetahui hal itu.
'Kita lihat saja, apa kau akan berpaling dari Quin atau tidak.' batin Jo dengan menatap laporan dari ponselnya penuh tatapan tak suka.
Desi yang menyadari ekspresi wajah Jo pun langsung mendapatkan sinyal jika ada yang tak beres saat ini. Desi akan tanyakan nanti pada Jo. Setidaknya saat tidak ada Anggel bersamanya.
Anggel menikmati sarapannya dengan riang, namun ia sangat kesal di saat mendapatkan pesan dari Martin yang menanyakan dirinya di mana dan mengajak Anggel makan siang.
"Iih, ni orang gencer banget deh buat pendekatannya." Gerutu Anggel yang mana mengambil perhatian Desi dan Jo.
"Siapa, mbak?" Tnaya Desi penasaran.
"Si Martin lah, ngajak makan siang."
Desi mengulum senyumnya, pasalnya Desi mengetahui jika semalaman Martin menghubungi Anggel, namun Anggel menjawabnya dengan ketus dan mengatakan jika dirinya ngantuk.
"Bilang aja Mbak di sini." usul Desi.
"Ide bagus, mana mungkin dia datang ke sini kan?"
"Iya mbak, ngapain juga dia ke sini? kan dia bilang kemarin kerjaannya numpuk banget. Pingin dengar suara Mbak biar stresnya ilang."
"Bener tuh, males banget makan siang ma tu orang. "
"Ntar juga makan pagi, siang, malam, kamu Mbak sama Martin." ujar Jo yang mana membuat Anggel mencebikkan bibirnya.
"Setidaknya sebelum gue gak selera makan dan semakin kurus, gue bisa makan dengan tenang dulu."
"Jangan sampai deh. Gue kesini mau tenang, bukannya semakin mumang." kesal Anggel yang mana membuat Jo tersenyum tipis.
"Ganteng banget, jangan senyum-senyumlah." bisik Desi yang tak suka jika Jo menampilkan senyumnya di hadapan orang banyak.
Lihatkan, senyum tipis aja dah buat berapa pengunjung bisik-bisik lihatin Jo.
*
"Abi, kamu gak kerja?" Tanya Quin yang mana sedari tadi Abi tak melepaskan pelukannya dari Quin.
"Kamu ikut ke kantor ya."
"Mau ngapain? ntar aku bosen, lagian itu bukan kantor kamu." Quin mengerucutkan bibirnya.
Abi terkekeh. "Saham aku di sana 30%. Jadi bagian dari kantor itu juga terdapat milik aku dan kamu."
"Milik aku?"
"Hmm, karena aku baru membeli 15% saham di sana. Kebetulan ada yang jual karena lagi membutuhkan uang."
"Buat apa kamu beli saham untuk aku?'
"Karena kamu istri aku. Di mana pun saham aku berada, aku ingin kamu juga memilikinya."
"Aku gak mau banyak saham, mending duitny di sumbangi ke orang-orang yang lebih membutuhkan."
"Loh, bagus dong kamu banyak saham, jadi persenannya itu bisa kamu aliri untuk membantu orang-orang yang membutuhkan."
"Iya juga ya, kamu pinter banget sih." goda Quin sambil mengecup dagu Abi.
"Harus dong, aku harus pinter untuk menjadi suami dari wanita cantik dan membuatku tak bisa jauh-jauh dari kamu."
"Gombal."
__ADS_1
Abi semakin memeluk tubuh Quin semakin erat, ia tak peduli dengan ponselnya yang sedari tadi berdering.
"Abi, angkat aja dulu telfonnya, takutnya penting."
"Emang penting, tapi tidak lebih penting dari kamu." Abi mengecup pucuk kepala Quin.
"Jadi kamu benar-benar tak akan ke kantor?"
"Iya, aku akan bekerja di kamar aja. Kamu temenin ya."
"Baiklah, tapi angkat dulu panggilannya, aku gak mau kalo kamu di anggap gak profesional."
"Baiklah, My Quin."
Abi dengan terpaksa melepaskan pelukannya dan dan meraih ponsel nya yang ada di atas nakas. Terlihat Abi sedang berbicara serius dengan seseorang, kemudian Abi meminta maaf dan tertawa pelan. Serta Abi juga mengatakan jika dirinya sangat mencintai istrinya yang sedang sakit itu.
Quin merengut kepada Abi saat pria itu mengakhiri panggilannya dan berjalan mendekati Quin dengan menyengir dan meminta maaf.
"Jadi kamu buat aku sebagai alasannya gitu?" kesal Quin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, Mr. Kim itu sangat mencintai keluarganya, jadi alasan yang tepat untuk tidak ke kantor adalah menemani istri ku yang sedang sakit."
"Aku gak sakit, Abi."
"Benarkah? tapi aku merasa tubuh mu kedinginan, dan aku disini untuk menghangatkan mu." ujar Abi sambil memeluk tubuh Quin kembali.
"Abi ... ih, nyebelin deh."
Abi terkekeh melihat sang istri yang semakin mengerucutkan bibirnya, Abi berharap agar diriny adan Quin akan tetap bersama untuk selamanya. Membangun keluarga kecil mereka dengan penuh cinta.
"Oh ya, Ronald, sahabat ku yang di Jerman memberi kabar tentang Empus. Empus sudah sampai di rumah barunya. Saat ini Empus terlihat sedang beradabtasi dengan rumah barunya, tapi Empus terlihat mudah berbaur dengan kekasihnya."
"Kekasihnya?"
"Hmm, bukankah sudah aku katakan, jika aku membeli satu ekor singa betina untuk menjadi pasangan Empus."
"Ah ya, aku lupa. terima kasih Abi."
"Sama-sama, sayang." Abi tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Kamu hari ini belum memanggilku dengan panggilan 'sayang', aku ingin mendengarnya."
"Terima kasih sayang," ujar Quin seraya mengecup bibir Abi cepat.
"kamu mancing aku?"
"Enggak, aku gak mancing." jawab Quin polos.
"Aku menginginkan mau, Quin." ujar Abi dengan suara yang terdengar berat.
"Ka-kamu udah janji untuk bersabar menunggu aku kan? Aku baru mulai untuk belajar mencintai kamu."
TIdak, sebenarnya Quin sudah mencintai Abi, namun berhubung tamu bulannya datang, jadi Quin memilih berbohong agar Abi tidak kecewa dengannya.
"Tentu, aku kan menunggu kamu. Tapi aku menginginkan ini."
Abi kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Quin. Pagi ini, entah berapa kali Abi mencium bibir Quin, Rasanya tak ada kata puas untuk mencium bibir yang sudah menjadi candu baginya,
Yuukkk..
follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF