
"Iya, gue pacaran sama Jo." Ujar Desi sebelum Anggel mengeluarkan suaranya.
"Huaaaaaaa ..... makan-makan, Jo yang traktir." pekik Anggel yang mana membuat Jo menjatuhkan tas yang di pegangnya.
"Yah, sultan minta traktir dengan rakyat jelata." gumamnya.
Abi yang mendengarnya hanya terkekeh. Jo yang memang belum terlalu suka dengan Abi pun hanya menanggapi tawa Abi dengan tatapan datar.
Sesampainya di hotel, Abi langsung membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Quin membersihkan dirinya dengan berendam di jacuzzi yang ada di dalam kamar hotel mereka.
Di kamar yang lain, Desi dan Anggel yang berada di dalam kamr yang sama pun, mereka bercerita tentang hubungan Desi dan Jo yang memang terlihat selalu kompak di lapangan, namun mereka akan selalu berdebat jika tidak sedang dalam misi. Bisa di bayangkan bagaimana mereka menjalin hubungan bukan. Untuk itu Anggel sungguh penasaran dengan kisah cinta Desi dan Jo.
"Jadi, apa kalian sudah berciuman?" Goda Anggel yang mana membuat Desi semakin merona.
"Bukan aku yang memulainya." jawab Desi dengan wajah bersemu merah.
Anggel tertawa terbahak-bahak, kemudian ia terdiam saat mengingat ciuman pertamanya dengan Lana. Yang mana, Lana juga lah yang memulainya duluan, walaupun saat itu Lana sedang kondisi mabuk.
"Apa aku salah berbicara?" tanya Desi dengan takut.
"Tidak, aku hanya merindukan dia yang saat ini aku benci." lirihnya.
"Maafkan aku ya, Mbak." Ujar Desi dengan rasa bersalah.
Anggel tersenyum, "Bukan salah kamu. Emang nasib aku aja yang kurang beruntung dalam masalah percintaan."
Anggel terkekeh agar tak membuat Desi semakin merasa bersalah. Ya memang kenyataannya begitu kan, cinta tidak berpihak kepada Anggel.
"Aku mandi duluan yah ... Gerah." ujar anggel sambil bangkit dari tempat tidurnya.
"Iya,"
Desi pandangi tubuh Anggel yag menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Hmmm, andai Mbak tau yang sebenarnya." gumam Desi menatap sendu kearah pintu kamar mandi yang tertutup.
*
Quin baru saja selesai mandi, ia melihat Abi yang tertidur di sofa sambil memangkup laptopnya. Quin tersenyum dan mendekati Abi.
Perlahan, Quin memindahkan laptop yang ada di atas pangkuan Abi ke atas meja. kemudian Quin memandang wajah Abi yang tertidur dengan lelap. Di sentuhnya rahang tegas milik Abi degan lembut, kemudian pandangan Quin beralih ke alis abi yang tebal dan berbentuk. Quin menyunggingkan senyumnya di saat melihat betapa sempurnanya pahatan wajah Abi. Hidung mancung dan bibir yang kissable. Wanita mana pun pasti menginginkan untuk di cium oleh Abi. Bolehkah Quin mengatakan jika dirinya beruntung karena menjadi wanita yang merasakan betapa lembutnya bibir Abi?
Jari lentik Quin yang berada di rahang kokok dan tegas milik ABi pun, terangkat ke alis Abi yang tebal. Quin menyusuri alis tebal itu dengan perlahan agar tak membangunkan Abi. Perlahan jari lentik Quin menyusuri mata. Quin menyentuh bulumata Abi yang panjang dan lebat.
"Bisa banget nih bulu mata panjang, kalah bulu mata aku dengan nya." lirih Quin di depan wajah Abi.
Perlahan tangan Quin turun dan menyusuri hidung mancung Abi, kemudian turun hingga menyentuh bibir Abi yang merah alami.
Jantung Quin berdegup kencang saat tangannya menyentuh bibir Abi. Perlahan mata Quin tertutup dengan mendekatnya wajah Quin ke wajah Abi. Quin mengecup bibir Abi, hanya mengecupnya saja, kemudian Quin menjauhkan wajahnya dari wajah Abi, namun Quin terkejut saat tangan Abi menahan kepalanya dan perlahan mata Abi terbuka.
"A-abi." ujar Quin terbata.
Abi tersenyum tipis. "Dasar pencuri." gumamnya yang sangat jelas di dengar oleh Quin.
"Pen-pencuri? siapa?"
"Kamu."
"Aku?"
"Hmm, kamu. Pencuri. Diam-diam curi ciuman aku."
Quin terlihat salah tingkah, ia ingin menjauh dari Abi, namun kepala dan tubuhnya sudah ditahan oleh Abi.
"kamu harus tanggung jawab." lirih Abi dengan parau.
"Tang-tanggung jawab apa?"
"kamu sudah memulainya, dan kamu juga harus mengakhirinya." Suara Abi yang terdengar berat membuat jantung Quin semakin berdebar kencang.
"Mu-mulai apa? A-aku gak ngerti."
"Memulai ini." Abi menyentuh bibir Quin dengan seksi.
"A-abi\, aku hmmpp___"
__ADS_1
Belum lagi Quin selesai dengan ucapannya\, Abi sudah menempelkan bibir mereka. Mencec*pnya dan melum*tnya atas dan bawah bergantian dengan lembut. Quin meremas kemaja Abi adn perlahan memejamkan matanya. Quin membalas ciuman Abi dengan mengikuti gerak bibir Abi\, hingga suara ponsel yang berkali-kali berbunyi menghentikan ciuman mereka.
"Kita akan melanjutkannya nanti." Ujar Abi dengan menghapus jejak saliva di bibir Quin.
Quin langsung menjauhkan tubuhnya dari Abi, namun Abi menarik lengan Quin sehingga Quin kembali jatuh kedalam pelukannya. Abi menaruh kembali ponselnya di atas meja setelah percakapannya dengan seseorang berakhir.
"Katakan, kenapa kamu menciumku diam-diam?" tanya Abi sambil memainkan rambut panjang Quin.
"A-aku tidak mencium mu. Aku tak sengaja mencium kamu karena tadi aku terjatuh."
"Benarkah?"
"I-iya,"
"Baiklah, kalo kamu bohong, maka kamu akan mencintai aku selamanya. Bagaimana?"
Quin mencebikkan bibirnya kemudian ia kembali bangkit dan menjauh dari Abi. Abi hanya memandang Quin yang terlihat kikuk.
"Mending kamu mandi deh, kamu bauk keringat tau.'
"Oohh, jadi kalo aku gak bau keringat, kamu mau terus dekat-dekat dengan aku?"
"Engg, gak juga sih."
"Yakin?" Abi sudah berdiri dan mendekat kearah Quin.
"Ya-ya---ABI ..." pekik Quin saat Abi memeluk tubuhnya.
"Lepas ih ..."
"Aku bau gak?"
"Enggak, udah lepas."
"Kayaknya aku bau deh."
"Iya, kamu bauk. Udah lepasin."
"Bau atau gak?"
"Aku bau?"
"Iya, kamu bau. bau banget tau. Udah sana mandi."
"Gimana kalo kita mandi bareng?"
Quin membolakan matanya, "Aku udah mandi Abiii."
"Kalo gitu mandiin aku."
"Iiih, Abi ... Udah deh jangan becanda, aku laper."
"Tapi lain kali mau ya mandi bareng aku."
"Gak mau."
"Yakin gak mau?"
"Abi, aku lapeer.." rengek Quin.
"Oke ... oke ... Aku mandi sekarang,"
Cup ...
Abi mengecup bibir Quin sekilas, kemudian ia melepaskan pelukannya dan melipir ke kamar mandi.
Quin memegang jantung nya yang berdebar kencang. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Quin, kamu udah gila ... bagaimana bisa kamu cium dia di saat dia tidur, trus pake acara ketahuan lagi ... IIh, malu banget deh."
Quin menoleh kearah pintu kamar mandi, kemudian Quin memegang pipi nya yang terasa memanas karena mengingat aksi nekad nya yang mencuri ciuman Abi.
*
Quin, Abi, Anggel, Desi, dan Jo makan di meja yang sama. Quin tak ingin ada batasan jabatan di sini. Bagi Quin, Desi dan Jo adalah saudaranya. Eh, Jo emang saudaranya Quin ya? xi.. xii.. xii ...
__ADS_1
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Anggel yang sudah siap untuk menghabiskan uang tabungannya dan juga uang pemberian sang Papi.
"Enaknya ke mana ya?"
"KIta shopping baju dingin aja dulu yuk, biar samaan dengan mereka." tunjuk Angge kepada warga korea yang sedang lewat dan menggunakan mantel baju dingin.
"Waahhh, bisa habis seharian gaji aku jalan sama kalian." Ujar Desi yang menolak usul Anggel.
"Ih Desi, kayak sama siapa aja. Rugi dong kita punya sahabat yang tajir, terus suami nya juga tajir melintir yang ampe rela beliin hutan demi peliharaannya yang tersayang itu."
"Ha ...ha...ha ... iya juga ya, lupa aku. Kapan lagi bakal di traktir ama Quin."
"Iya ... iya ... Aku bakal traktir kalian. Boleh kan, Abi?" tanya Quin dengan mata yang berkedip-kedip manja.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Panggil aku dengan sebutan sayang.'
"Kalo aku gak mau?"
"Ya aku tinggal bilang ke Papa atau Veer untuk membekukan kartu kredit kamu."
"Iiih, kamu nyebelin deh."
"Udah Quin, tinggal paggil 'Sayang' aja kok." ujar Anggel memanas-manasin Quin.
"Iya Mbak, lagian kan Mbak emang udah sayang sama Mas Abi." Tambah Desi yang mana membuat Quin melototkan matanya, sedangkan Abi menatap Quin dengan tatapan terkejut dan juga berbunga-bunga.
"Siapa yang udah sayang sama dia." ujar Quin pelan namun masih bisa di dengar oleh yang lainnya.
"Hmm, masih gengsi dia." ujar Desi dan di angguki oleh Anggel.
"Udah Quin, tinggal bilang, Makasih sayang. Apa susahnya sih?"
Quin mencebikkan bibirnya mendengar Desi dan Anggel yang sangat kompak sekali memojokkan dirinya untuk mengatakan sayang kepada Abi.
Quin menatap Abi yang tengah menatapnya dengan tatapan berbinar, di tambah kedua tangannya yang menampung wajah tampanya.
Quin menelan ludahnya kasar, "Ma-Makasih sayang." lirih Quin.
"APA QUIN? KAMI GAK DENGAR." Ujar Desi dan Anggel dengan kompak.
Quin menghela napasnya dan memutar bola matanya malas. "Makasih sayang." Ujar Quin dengan jelas, yang mana membuat senyum Abi semakin mengembang.
"Sama-sama."
Jo hanya memperhatikan interaksi Abi dengan Quin, hingga ia terkejut dengan jeritan semangat dari Desi dan Anggel.
"Yeeeyy, Shopping sepuasnya." Ujar Desi dan Anggel dengan semangat empat lima.
Setelah menghabsikan makan malamnya, mereka pun kembali ke kamar hotel masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Besok akan menjadi hari yang panjang bagi para gadis cantik itu, termasuk Jo yang bakal setia menjadi pengawal dari ketiga wanita cantik yang harus di lindungi nya itu.
Sepanjang perjalanan, Abi tak pernah melepaskan dekapannya dari pinggang Quin. Jika Anggel menarik Quin untuk menjauh dari nya, Abi akan kembali menarik tangan Quin dan menggenggamnya, dengan alasan takut Quin hilang.
Jika orang lain melihat, Abi dan Quin adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lainnya. Tanpa mereka sadari, jika ada seorang wanita yang sedari mereka berada di restoran sudah memperhatikan Abi dan Quin. Bahkan wanita itu sampai mengikuti Abi dan Quin hingga ke hotel di mana mereka menginap.
"Abi, akhirnya aku menemukan kamu." lirih wanita itu dengan menatap Abi penuh cinta.
Yuukkk..
follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF