
" Veer, apa Quin sudah membalas pesan kamu?"
Mama Kesya saat ini sangat khawatir dengan keadaan Quin.
" Belum Ma, tapi Abi sudah memberikan kabar, jika Quin ada bersamanya."
Terlihat Mama Kesya menghela napasnya lega. Mama Kesya menatap kearah putranya itu.
" Veer, semua akkan baik-baik saja kan?"
" Iyaa ma. Mama tenang yaa, semua akan baik-baik saja. Quin tidak akan melakukan tindakan yang ceroboh."
Veer memeluk Mama kesya, dan mengecup pucuk kepala Mama Kesya. Nafi yang melihat itu, langsung berfikiran betapa beruntungnya Wanita yang menjadi pasangan hidup Veer.
Anadai saja wanita itu dirinya?, Ah, tidak mungkin. Veer membencinya, dan Nafi jauh dari kriteria wanita idamannya. Nafi sudah 2 bulan belajar masak, namun masakannya sampao sekarang belum juga membuahkan hasil. Haruskah Nafi menyerah?.
" Veer, sudah sore. Sebaiknya kamu bawa Nafi pulang. Mungkin Nafi juga sudah lelah."
Veer melirik kearah Nafi yang memegang terlihat lelah. Seharian ini mereka bolak balik antara rumah sakit, kantor Veer, dan juga kantor Nafi. Bahkan makan siang mereka juga sambil mengerjakan pekerjaan mereka yang sudah mendekati deadline.
" Iya Ma. Kalo begitu Veer permisi ya.. Mama kalo lelah pulang aja, biar Abash atau Arash yang menggantikan."
" Iyaa, Mama juga sebentar lagi mau pulang. Tadi Oma bilang, Anggel yang akan menginap menemani Oma malam ini."
" Iyaa, kalo begitu Veer pamit yaa.. "
" Iyaa, kamu hati-hati ya nyetirnya."
" Ma, Nafi pulang dulu yaa.." Pamit Nafi dan mencium punggung tangan Mama Kesya.
" Iya sayang, jangan terlambat tidurnya, mata kamu sudah mirip panda itu.."
Nafi memegang wajahnya dan tersenyum manis.
" Iya Ma, makasih yaa.."
Veer dan Nafi pun meninggalkan ruangan Kakek Farel. Tidak ada pembahasan pribadi antara Nafi dan Veer. Jika berbicara pun hanya seperlunya. Nafi sudah yakin, untuk menyerah merebut hati Veer.
Veer membukakan pintu mobil untuk Nafi.
Deg..
Nafi memandang Veer.
" Kenapa?"
" Tidak bukain pintu?"
Veer menaikkan alisnya sebelah. " Selama ini kamu selalu berjalan di depanku. Dan setelah aku membuka kunci mobilnya, kamu langsung masuk kedalam mobil, jadi aku tidak berkesempatan membuka pintu mobil untuk mu."
Nafi hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil. Bolehkah Nafi berharap kembali? tapi, Veer selalu bersikap manis kepada semua perempuan. Huffd, sepertinya Nafi harus menatap kembali hatinya.
" Veer, bangunkan aku jika sudah sampai." Nafi menutup matanya setelah mengambil posisi ternyaman.
" Hmm..."
Veer melajukan mobilnya, seringai tipis muncul di bibir Veer. Veer melirik kearah Nafi yang sudah tertidur.
" Baiklah, mungkin ini saat yang tepat." Gumam Veer dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh namun tak membuat Nafi terganggu.
Sudah 15 menit mobil Veer berhenti di baseman apartemen miliknya. Veer sengaja tidak membangunkan Nafi, atau pun menggendongnya masuk kedalam apartemen miliknya.
Veer memandangi wajah tenang Nafi. Veer sudah mencari tahu tentang Nafi, selama ini Veer salah menilai Nafi. Sifat angkuh Nafi terbangun karena orang yang berada di sekelilingnya yang hanya memanfaatkan kebaikannya.
Veer merapikan beberapa helai rambut Nafi yang jatuh ke wajahnya. Namun gerakan yang dibuat oleh Veer membuat Nafi mengernyit dan membuka matanya.
" Kita di mana?" Nafi menyipitkan matanya saat merasa ini bukan carport di rumah Veer.
" Baseman Apartemen ku."
" Apartemen?" Beo Nafi
" Hmm, malam ini kita akan tidur di sini. "
" Kenapa?"
" Karena lebih dekat dengan rumah sakit dan kantor."
Nafi menghela napasnya.
" Kamu keberatan?"
" Tidak, tapi aku hanya__"
Kriiukk..
Perut Nafi berbunyi sebelum Nafi menyelesaikan ucapannya. Veer terkekeh.
" Kamu lapar?"
" Hmm, jika banyak kerjaan, aku selalu merasa lapar."
" Baiklah, kamu mau apa?"
" Entahlah, sebenarnya aku ingin memakan masakan rumah. Tapi karena kamu membawaku ke sini, jadi sebaiknya pesan makanan dan cemilan juga."
__ADS_1
" Bagaimana jika kita masak "
" Kita?" Ulang Nafi.
" Hmm, kita masak. "
" Veer, kamu tau aku gak bisa memasak."
" Aku yang akan memasak, dan kamu yang membantu ku. Gimana?"
Nafi mengerjap. Apa dirinya tidak salah dengar? Memmasak bersama layaknya pengantin baru? Bersama Veer?. Ini bagaikan mimpi yang menjadi nyata.
" Naf.." Veer melambaikan tangannya di depan wajah Nafi.
" Hah? Eh, yaa?"
" Kamu mau?"
" Tentu.." Jawab Nafi cepat dan bersemangat.
Veer tersenyum, saat melihat Nafi mengulum bibirnya. Aah, bisakah Nafi tidak melakukan itu, Veer rasanya ingin mengecup bibir itu. Bibir yang membuatnya tidak bisa tidur, dan sering mencuri ciuman Nafi saat si pemilik bibir tertidur.
Nafi mengikuti Veer di belakangnya. Saat di dalam Lift, Nafi tiba-tiba saja grogi. Bayangan di film romantis yang pernah ditontonnya bersmaa Quin pun seketika melintas dalam benaknya. Memasak bersama sambil berciuman, kemudian makan bersama, dan berlanjut menghabiskan malam dengan berkeringat.
Nafi menggelengkan kepalanya, mengusir fikiran aneh yang ada di dalam benaknya itu.
" Kamu pusing?" Tanya Veer yang melihat Nafi menggeleng-geleng.
" Hah? tidak "
" Lalu ?"
" Itu, emm..tiba-tiba saja aku terfikir akan pekerjaanku. Jadi aku menggeleng, fikiranku lelah, dan butuh istirahat." Nafi tersenyum agar Veer yakin dengan alasannya.
Veer pun menganggukkan kepalanya.
Ting..
Pintu lift terbuka, Veer mempersilahkan Nafi untuk keluar duluan, dan di susul oleh Nya. Tak jauh dari lift, Pintu apartemen Veer pun di temukan.
" Kamu sering tinggal di apartemen?"
" Dulu, saat masih kuliah dan jadi anak magang"
Nafi menganggukkan kepalanya.
" Eh, kita mau masak apa?, kan belum belanja? Emangnya di kulkas kamu ada stock?"
" Enggak ada, tapi aku mau mandi dulu, gerah. Setelah itu kita pergi berbelanja."
Nafi melongo, yang benar saja. Dirinya juga merasa gerah, namun Nafi tidak membawa pakaian ganti.
" Aku tau, kamu juga merasa gerah. Kamu bisa mandi dan memakai pakaian ku."
Nafi terlihat berfikir. " Baiklah, berikan aku bajunya dulu."
'Sial.' Veer menggerutu di dalam hati.
Nafi berjalan duluan kearah kamar Veer, dan langsung membuka lemari pakaian Veer.
" Kamu bisa menggunakan kemeja putih atau hitam. Semuanya besar untuk ukuran tubuh mu."
Nafi tidak memggubris, dirinya masih fokus untuk mencari baju, dan dapat. Pilihan nya jatuh kepada jaket Hoodie dan celana training berwarna hitam.
" Baiklah, didekat dapur ada kamar mandi kan? Aku mandi di sana saja."
"Naf.." Panggil Veer, Nafi pun menoleh.
" Yaa?"
" Di dalam kamar mandi ini ada pemanas air ya. Kamu tidak suka mandi air dingin kan?"
" Jadi?"
" Mandilah di sini, biar aku yang mandi di luar."
" Baiklah."
Nafi pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Veer. Dalam hati Nafi memuji, Veer benar-benar orang yang sangat rapi. Segala letak susunan barang terlihat rapi, Nafi suka itu. Nafi pun menyiapkan air dalam bathtub, Nafi ingin merendam dan merelaks kan tubuhnya sesaat.
Veer sudah selesai dengan mandinya, tidak butuh waktu lama, karena Veer memang kurang suka mandi berlama-lama. Veer pun masuk kedalam kamarnya, dan memakai pakaiannya.
" Aaaa....."
Nafi berteriak saat melihat tubuh bagian atas Veer yang belum terbungkus dengan kain, sedangkan bagian bawahnya Veer sudah memakai celana. Nafi pun membalikkan tubuhnya.
Veer dengan cepat mengenakan kaos yang ada di tangannya.
" Apa kamu akan berdiri di situ?"
" Cepatlah gunakan bajumu."
" Sudah.."
Nafi pun perlahan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
" Kamu belum selesai mandi?"
" Eemm, itu.. aku.."
" Kenapa?"
" Eemm, bi-bisakah kamu menolongku?" Nafi menundukkan wajahnya yang sudah memerah.
" Katakan."
" To-tolong belikan aku Em.. Itu.."
Veer menanti ucapan Nafi dengan sabar.
" Emm, pem--pem--"
" Pembalut?" Jawab Veer, dan Nafi sontak membelalakkan matanya sambil mendongakkan kepalanya melihat kearah Veer. Nafi pun menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, yang bersayap atau tidak? "
" Ber-bersayap"
" Yang night atau day?"
Nafi kembali membelalakkan matanya, bagaimana Veer bisa tahu? Ah, mungkin Veer sering membelikan pembalut untuk Quin.
" Night "
" Baiklah, tunggu sebentar."
Veer melangkah keluar dan meninggalkan Nafi yang masih menahan napasnya.
" Huuff.." Nafi bernapas lega saat Veer keluar dari kamar.
" Bagaimana dia bisa tau malam dan siang, bersayap dan tidak bersayap?, bukannya pria tidak tahu yaa? "
Cekleek..
Nafi kembali di kejutkan dengan kehadiran Veer.
" Aku lupa, kamu biasanya pakai yang ber-gel atau yang kapas?"
Nafi membeku. Veer benar-benar membuatnya membeku, bagaimana Veer bisa sampai tahu ke isi dalam pembalut tersebut?. Ini sungguh memalukan.
" Terserah, apa aja. Bisakah kamu tak bertanya sedetail itu?" wajah Nafi sudah memerah.
" Baiklah, aku hanya bertanya karena untuk demi kenyamanan kamu juga."
" Oh yaa, yang mint atau yang biasa?"
" Veer.." Pekik Nafi.
" Oke.. okee.. Aku pergi.." Veer mengulum senyumnya saat melihat wajah Nafi memerah. Sungguh menggemaskan.
" Benar-benar si Veer, buat aku malu aja.. Bisa-bisanya dia tahu sampai sedetail itu.." Gerutu Nafi dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Sudah 20 menit Nafi di kamar mandi, dan Nafi pun selesai dengan kegiatan mandinya. Nafi keluar kamar, dan sudah mendapati pembalut di atas tempat tidur. Nafi menarik sudut bibirnya membuat sebuah lengkungan.
.
.
Quin berjalan gontai kembali kerumah sakit, tadi Papa Arka menghubungi Abi, dan mengatakan jika kakek ingin bertemu Quin dan meminta maaf.
" Qila.."
Langkah kaki Quin berhenti, saat mendengar suara yang sangat familiar. Mata Quin membesar saat menatap pria yang menegurnya.
" Jamal." Gumam Quin yang terdengar seperti bisikan.
" Apa kabar, lama tak bertemu."
Pria bernama Jamal itu mengulurkan tangannya, dengan senyum yang mereka. Quin menatap nanar wajah Jamal, sna beralih ke tangan Jamal yang masih terulur kearahnya
Quin menarik napasnya dan menghela nya dengan pelan.
" Aku baik" Jawab Quin tanpa membalas uluran tangan Jamal.
Pria bernama Jamal itu pun tersenyum kecut.
" Sayang, kamu di sini? Aku cariin ke mana-mana loh.." Wanita cantik dengan perut yang membesar menghampiri Jamal.
Wanita itu membelalakkan matanya saat melihat siapa wanita yang berdiri di hadapan Jamal.
" Qilaa.." lirihnya dengan wajah yang seakan ketakutan.
Quin tersenyum miring, sungguh takdir sedang mempermainkannya saat ini. Dua orang yang pernah berarti di hidupnya, dan juga orang yang paling tidak ingin Quin temui selama hidupnya.
' aku benci situasi ini' Batin Quin.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.