KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 86


__ADS_3

Cup ..


" Maaf, Mama masuk di waktu yang tak tepat." Ujar Mama Ayu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mama Ayu pun terlihat ngacir kembali kuat kamar.


Nafi dan Veer langsung memisahkan bibir mereka. Nafi menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi. Bayangan foto dirinya dan Veer berciuman pun berputar-putar dalam ingatannya.


Jantung Nafi berdebar dengan kuat. Ia tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Tanya sebelum ia kehilangan ingatannya, mungkin ia pernah merasakannya.


"Mama sudah keluar, kamu tak ingin menurunkan tangan mu?" Tanya Veer lembut.


Nafi menggeleng, "Aku malu." cicit nya.


"Kita sering melakukannya, kenapa harus malu?"


Perlahan tangan Nafi turun, dan hanya mata nya saja yang terlihat.


"Benarkah? apa kita pernah melakukan nya juga?" Tanya Nafi polos.


"Maksud kamu melakukan penanaman benih?"


Nafi mengerutkan keningnya, karena tak mengerti apa yang Veer katakan.


"Kita pernah melakukan lebih dari ciuman. Bahkan aku sudah menanam benih ku di dalam perut kamu. Dan saat itu, kita bersama-sama berdoa, agar benih ini cepat tumbuh dan menghadirkan buah cinta kita." Veer menyentuh perut Nafi.


Wajah Nafi semakin memerah, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Benarkah Nafi telah melakukannya bersama Veer? bersama suami nya?


Veer menarik pelan tangan Nafi, dan menggenggamnya dengan hangat.


"Aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu." Veer mengecup tangan Nafi yang berada dalam genggaman nya.


Hati Nafi semakin menghangat, ia sampai menjatuhkan air matanya.


"Hei, kenapa menangis?" Veer menghapus air mata Nafi.


"Aku gak tahu ..hiks ... aku merasa semua ini seperti tak nyata ..hikks... Awalnya aku merasa takut berada di dekat kamu.. tapi, hikkkss.. aku juga merasa aman di saat bersamaan."


Veer kembali mengecup punggung tangan Nafi yang masih di genggam nya.


"Itu karena aku mencintai kamu."


*


Quin melihat Abi yang sudah menunggunya di depan pintu ruang inap Nafi.


"Ada apa?" Tanya nya.


"Arumi mengamuk, dia ingin bertemu dengan kamu."


Quin melirik kearah Papa Arka yang sudah memberikan tatapan yang tak ramah. Quin kembali menatap kearah Abi.

__ADS_1


"Ada Jamal di dalam sana, dan itu bukan tempat yang aman untuk kamu."


Seorang pengawal berlari mendekati Papa Arka. Setelah membungkukkan tubuhnya sedikit untuk memberi hormat, pengawal tersebut pun menyampaikan pesan nya.


" Maaf Tuan besar, Nona Arumi semakin mengamuk, meminta bertemu dengan Nona Quin. Dan saat ini Nona Arumi sudah melukai pergelangan tangannya karena Jamal nekat mendekati nya."


Quin meremas jaket yang dipakai Abi. Di tatapnya mata Abi, seolah meminta izin untuk menemui Arumi.


"Aku mohon." Lirih nya dengan mata berkaca-kaca.


Abi menghela napasnya, ia memandang kearah lain dengan rahang mengeras.


"Abi .." Panggil Quin lagi.


Dan saat Abi menatap wajah Quin, air mata yang sudah menggenang pun jatuh mulus di wajah Quin.


"Aku ingin bertemu dengan nya." Lirih Quin.


Bagaimana pun, setelah Quin fikir-fikir, Arumi tidak lah bersalah. Ia juga terjebak oleh kenyataan. Dan bagaimana pun, Arumi berhak untuk memberikan penjelasan kepada nya.


Abi menangkup wajah Quin, dan menghapus air mata nya.


"Hanya sebentar, hmm?"


"Abi .." Bentak Papa Arka dan sudah menatap nyalang kepada Abi.


Abi menatap mata papa Arka tanpa takut.


Papa Arka mengerutkan keningnya. Kesalahpahaman apa sebenarnya?


"Apa maksud kamu?"


"Pa, Masalah yang terjadi antar Quin, Jamal, dan Arumi, menurut Abi ada suatu kesalahpahaman yang berujung dendam."


Papa Arka masih tidak mengerti dengan perkataan Abi. Abi menghela napasnya.


"Bagaimana keadaan Arumi saat ini?" Tanya Abi kepada pengawal yang baru saja memberikan laporan itu.


"Arumi saat ini sudah tertidur karena suntikan dari dokter, Tuan."


"Kita temui Arumi saat waktu yang tepat, ya!!" Abi menangkup wajah Quin. Quin manganggukkan kepalanya.


"Pa, Bisa kita bahas ini di tempat yang lebih pribadi?" Abi menatap kearah Mana Kesya. "Bersama Mama juga" Sambungnya.


Dan, di sinilah mereka. Di dalam ruang kerja Opa Bram.


"Apa yang mau kamu sampaikan?" Tanya Papa Arka.


Saat ini di dalam ruangan hanya ada Mama Kesya, Papa Arka, Opa Roy, Arash, Quin, dan Abi.

__ADS_1


Abi menatap satu-satu orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Kemudian dia menarik napas dalam dan di hembuskannya secara perlahan.


"Begini, Jamal mengatakan jika diri nya ingin membalas dendam kepada Mama Kesya dan Papa Arka, dengan menyakiti Quin."


Abi pun mulai bercerita tentang apa yang Jamal katakan kepada nya dan juga Quin. Papa Arka mengerutkan keningnya. Sebelumnya Papa Arka juga sudah mengecek keturunan dari wanita-wanita yang pernah di tolaknya dengan kasar.


"Pa, apa itu anaknya Paula?" Tanya Mama Kesya dengan wajah yang pucat.


"Bukan nya anak Paula sudah meninggal?" Tanya Papa Arka balik.


Mama Kesya terlihat mulai panik. Belum selesai masalah menantu nya, sudah di tambah lagi dengan masalah Quin.


"Mama sama Papa yakin jika anak yang meninggal itu beneran adalah anak Paula?" Tanya Abi memastikan.


Untuk pertama kali nya Papa Arka merasa ragu. Karena setelah Paula masuk penjara, Mama Kesya meminta kepada Papa Arka untuk tidak memperpanjang lagi masalahnya. Biarkan Paula menjalani hukumannya sesuai dengan perbuatannya.


"Papa tidak mengeceknya lagi, papa hanya mendapatkan kabar jika terjadi kecelakaan mobil, dan di dalamnya terdapat anak laki-laki Paula. Namun setau Papa namanya bukan Jamal."


"Jamal itu anak dari pembantu Paula." Ujar Abi yang mana membuat Papa Arka dan Mama Kesya menatap menantu nya itu.


Inilah guna nya punya uang banyak. Abi cukup merogoh kocek nya untuk mencari informasi. Bahkan Abi menemukan bukti yang pastinya sangat membuat orang terkejut, termasuk Jamal.


"Maksud kamu?" Tanya Papa Arka menatap keatas Abi.


Abi memberikan laporan yang sudah di terima nya. Papa Arka membaca dengan seksama, begitu pun dengan Mama Kesya. Mama Kesya menutup mulutnya saat mengetahui jika Paula tidak mengandung anak dari mantan tunangan Mama Kesya, yaitu Rian Setiawan. Itu tandanya, Rian berkata jujur saat itu kepada Mama Kesya.


"Lalu, siapa Jamal?" tanya Mama Kesya.


Abi pun mulai bercerita tentang informasi yang didapatnya tentang Jamal.


Jamal yang saat ini adalah Robert Setiawan. Sedangkan Jamal yang asli telah meninggal sejak dirinya berusia 6 tahun. Paula sengaja menuruh orang untuk mengubah identitas Robert menjadi Jamal. Agar diri nya bisa mencuci otak anak nya untuk membalaskan dendam nya kepada Kesya.


Paula ingin Jamal aka Robert membuat Quin hidup dengan menderita. Awal nya Paula merencanakan pernikahan untuk Robert, dan dalam pernikahan itu Paula mau Robert menyiksa Quin hingga tak ingin hidup lagi. Awalnya Robert setuju, namun ternyata menjalin hubungan cinta bersama Quin membuat Robert aka Jamal benar-benar jatuh cinta kepada Quin. Robert tak sanggup merusak cintanya kepada Quin. Namun Robert sudah berjanji kepada sang mama untuk membalaskan dendamnya.


Hingga akhirnya Robert memilih mempermalukan Quin dan menikahi Arumi, sahabat Quin. Robert tau, jika Arumi diam-diam menyukai nya, untuk itu Jamal aka Robert memanfaatkan hal itu untuk menyakiti Quin. Dan cara itu pun berhasil. Quin sampai hampir depresi karena cinta. Bahkan Quin sampai tak ingin kembali jatuh cinta.


"Lalu, kenapa Jamal ingin mencelakai Quin saat ini?" tanya Mama Kesya dengan keterkejutannya.


Abi menggenggam tangan Quin. Memberikan kekuatan dan kehangatan kepada Quin. Karena setelah ini,


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2